Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
86. Istri


__ADS_3

Farel menenggelamkan kepalanya ke dada Raisya, mencari kenyaman dan kehangatan dari sana. Posisi mereka saat ini, persisi seperti seorang bayi yang meginginkan belaian dari seorang ibu.



Raisya yang terlelap merasa terganggu dengan rambut yang mencuat tepat di hidungnya, membuat wanita itu harus menahan rasa gatal di sana.



Dengan pelan, tangan ramping itu berusaha menyingkirkan rambut-rambut nakal itu. Rambut hitam yang lembut saat di belai namun, sangat mengganggu saat bersentuhan dengan kulit wajah, terutama hidung.


“Enghh.” Farel melenguh, merasa terganggu dengan gerakan Raisya yang menjauhkan kepalanya dari dada.


Raisya yang merasa kesulitan segera membuka matanya. Netra hijaunya langusung di suguhkan oleh warna hitam legam yang berasal dari rambut Farel.



Selalu seperti ini pemandangan yang wanita itu lihat saat membuka matanya. Menghela nafas sejanak, wanita itu berusaha membebaskan tubuhnya dari rengkuhan Farel. Melihat matahari yang mengintip malu-malu di ufuk timur, membuatnya tergugah untuk melakukan ritual paginya.



Farel yang merasakan hawa dingin karena pelukannya yang merenggang merengut kesal. Tangan kekarnya berusaha megais kembali tubuh Raisya. Namun, Raisa dengan cepat menghindar dan turun dari ranjang.



Farel dengan cepat membuka matanya. Netranya menatap punggung Raisya yang terlihat menjauh memasuki kamar mandi. Mendengus sebal, Farel membenamkan seluruh wajahnya ke dalam bantal, menghirup rakus aroma Raisya yang tertinggal di sana.



Raisya menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajah cantiknya terlihat mempesona saat ia bangun tidur. Dengan sedikit miyak di wajah, membuat ia seperti para model yang melakukan perawatan hingga milyaran rupiah.



Tangan rampingnya mengambil peralatan, seperti sikat, pasta gigi, dan sabun. Bergerak dengan pelan, menungkan pasta gigi di atas sikat, dan menggosok pelan dan penuh ketelitian di dalam mulutnya.



Farel yang merasa Raisya terlalu lama di dalam kamar mandi mendongak, menatap pintu yang tertutup itu. Laki-laki itu terlihat bangkit, dan berjalan dengan sedikit sempoyongan dan mata yang menyipit.



Tagan kekarnya meraih handle pintu, merasa tidak terkunci, segera laki-laki itu membuka pintunya.



Farel berjalan dengan pelan, menatap Raisya yang terfokus berkumur dan menatap pantulan wajahnya itu membuat ia terkekeh. Dengan pelan dan pasti, laki-laki itu sampai tepat di belakang Raisya.

__ADS_1



Raisya yang sedang menunduk, membuang bekas kumuran di mulutnya terlonjak kaget saat matanya bersitatap dengan sosok laki-laki tampan yang tersenyum di belakangnya lewat pantulan kaca.


“Kau cantik,” Farel berujar dengan senyum lembut di wajahnya. Mata hitam itu menatap pantulan wajah Raisya dengan cermat.


Raisya memutar mata malas, dengan pelan ia menjawab. “Sudah pasti aku cantik, karena aku wanita. Kalau aku tampan itu yang bermasalah.” Raisya melanjutkan kegiatannya, menuangkan sabun wajah di telapak tangannya, dan menggosok hingga berbusa.


Farel terkekeh. “Uh, manisnya Istriku ini.” Tangan kekarnya melingkar erat di pinggang ramping Raisya. Hatinya terasa hangat saat menyebutkan status Raisya saat ini.


Raisya yang mendapatkan rengkuhan itu merasa risih, karena kesulitan untuk mengusap wajahnya. Wajah cantik itu terlihat cemberut.


“Farel, lepas tanganmu itu, Aku kesulitan untuk membasuh wajahku.”


Farel terkekeh. Tangan rampinya ia tarik kembali. Kini laki-laki itu berpindah posisi, dari di belakang Raisya, menjadi di sampingnya.



Raisya yang mendapatkan kebebasan segera melakukan ritual paginya yang tertunda. Sedangkan Farel hanya diam, menatap Raisya yang terlihat fokus membasuh dengan sedikit memberikan pijatan di wajah cantik itu.


“Apa yang kau pakai?” Farel bertanya dengan tangan mengarah ke wajah Raisya yang tertutup dengan busa.


Raisya mengernyit, mencoba memahami maksud pertanyaan Farel. Hingga beberapa detik kemudian ia paham. Tangannya menunjuk kewadah botol sabun itu.




Raisya yang sedang membasuh wajahnya bingung dengan prilaku Farel. Terlebih melihat wajah imut Farel.


“Kau kenapa?”


“Pakaiakan.” Farel menunduk dengan tangan yang masih teracung di depan Raisya.


Raisya tercengang, bagaiaman bisa Farel bertingkah imut seperti itu. Bahkan wanita itu bisa melihat telinga Farel yang memerah.


“Pakai sendiri, kau kan punya tangan,” Raisya berucap datar dengan tangan yang menata kembali letak peralatannya.


Farel mendongak, menggeleng dengan kuat dan menatap wajah Raisya persis seperti seekor anjing lucu.


“Tidak, aku tidak mau. Aku ingin kau memakaikanku ini di wajah, terus nanti kau pijat wajahku seperti tadi.” Farel memperaktekkan gerakan memijat di wajahnya, persis seperti Raisya tadi.


Raisya membuka mulut tidak percaya. Suara protes yang hendak di keluarkannya tertelan melihat wajah sendu Farel. Dengan berat hati, wanita itu mengambil botol sabun di tangan Farel, dan menuangkannya di atas telapak tangannya. Mengulang kembali kegiatannya namun, di wajah yang berbeda.


__ADS_1


Farel yang melihat Raisya, tersenyum lebar. Laki-laki itu membungkukkan sedikit wajahnya, agar Rasiya bisa menyentuh wajahnya dengan mudah tanpa kesulitan.



Raisya dengan pelan mengusap dan memijit pelan wajah Farel. Di mulai dari kening, pipi, hidung, dan dagu. Terlihat Farel yang memejamkan mata dengan senyum di wajah tampannya. Laki-laki terlihat sangat menikmati.



Setelah di rasa sudah merata, Raisya menarik tangannya dari wajah Farel. “Tunggu beberapa detik, tunggu sampai sabun itu meresap.” Raisya mengintrupsi Farel.



Farel yang mendengar perintah Raisya menganggukkan kepalanya dan tersenyum cerah. Kelakuan laki-laki itu persis seperti seorang anak kecil.



Raisya yang melihat tingkah Farel terkekeh. Dengan gemas, wanita itu mengusap rambut Farel, membuat rambut yang sudah berantaka semakin berantakan.



Farel tertegun. Usapan lembut dan senyum Raisya, sungguh pemandangan yang luar biasa baginya. Akan ia kenang senyum itu selama-lamanya.


“Sudah, sekarang kau kemari.” Raisya menarik tangan Farel, memberikan perintah untuk menunduk. Dengan pelan Raisya membasuh wajah tampan itu. membilas sampai bersih.


Farel yang merasakan rasa segar di wajahnya tersenyum cerah, wajahnya menatap Raisya yang juga mentapnya.


“Kau seperti anak kecil saja. Aku merasa seperti ibumu sekarang, bukan Istrimu.” Raisya mencibir.


Senyum Farel surut. Pernyataan itu membuat hatinya sakit. Bukan, ia tidak sakit dengan perkataan Raisya, tapi ia sakit dengan masa kecilnya.


“Apakah anak kecil akan berperilaku seperti itu? apa seorang ibu juga akan sealu membasuh wajah anaknya?” Farel menatap Raisya penuh tanya. Terlihat sedikit binar keingintahuan di dalam sana.


Raisya tertegun mendengar pertanyaan itu. Ingatan tentang masa kelam Farel membut nafasnya tercekat. Ia ingat, Farel tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua.


“Apa kau tidak pernah merasakannya?” Raisya bertanya dengan pelan.


Farel menunduk, jemarinya terlihat memilin. Laki-laki itu persis seperti anak kecil yang ketahuan mencuri. Dengan pelan terlihat kepala laki-laki itu mengangguk.


Raisya terdiam, kemudian berucap dengan nada serius. “Kalau begitu, mulai sekarang aku akan melakukan beberapa hal yang tidak pernah kau rasakan dulu, seperti membantumu mencuci muka setiap pagi, dan membangunkanmu.” Raisya menyentuh pundak Farel lembut.


Farel mendongak, menatap Raisya dengan mata berkaca-kaca. Dengan cepat, laki-laki itu merengkuh tubuh Raisya, menempelkan tubuhnya di sana dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Raisya.



Raisya terdiam, lehernya terasa basah. Wanita itu tersenyum manis. Meskipun ia melakukan semua awalnya hanya untuk drama, tapi satu hal yang pasti. Wanita itu akan memberikan kenangan manis untuk Farel, sebelum takdir memisahkan mereka. Terutama memberikan kenangan, bagaiamana rasanya menjadi seorang anak yang berlimpah kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2