
“Apa aku salah?” Farel menatap kedua wanita itu dengan tangan yang menggaruk rambut belakangnya.
Sedangkan ekspresi kedua wanita itu semakin gelap, ditambah melihat wajah Farel yang terlihat tidak memilki dosa.
Bugh!
“Kau bodoh!” Maria memukul keras kepala Farel, membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
“Apa salahku?” Farel menatap Maria dengan raut kesakitan, kemudian mengalihkan pandangan untuk melihat wajah Raisya. Namun, tatapan sang wanita yang ia harapakan, tidak sesuai dengan bayangan.
“Kau-benar-benar bodoh,” timpal Raisya tanpa memperdulikan wajah sang suami yang semakin buruk.
“Hay, kenapa kalian berdua sekongkol untuk memojokanku?”
“Bukan masalah memojokan, tapi kita di sini berbicara sesuai fakta. Mana ada seoarang Papa yang mengatakan anaknya seperti Ipin?” Raisya menatap Farel garang. Tangan wanita itu merengkuh lembut sang anak, berusaha agar anakanya tidak terganggu dengan celotehan mereka.
Maria yang mendengar penuturan Raisya menganggukkan kepala tanda setuju.
“Apa yang salah. Hay, lihatlah, anak kita botak. Mirip siapa coba? Lihat rambutku lebat, rambutmu juga. Anak kita itu mirip Ipin.” Farel menunjuk kepala sang anak dengan wajah serius. Wajah tampan itu seakan mencari penyebab kebotakan anaknya itu.
“Kau benar-benar bodoh. Bagaiamana bisa aku memiliki Cucu sepertimu!”
“Hay, kenapa Nenek menyalahkan Farel?”
“Farel, dengarkan aku. Nenek tidak menyalahakanmu, tapi Nenek itu menyalahakn pemikiran absurdmu itu.” Raisya menatap gemas Farel.
Farel yang melihat itu mengerjapkan mata. Bagaiamana pun otaknya mencoba mencerna perkataan Raisya dan Maria, sekuat itu pula ia tidak paham.
“Ap_”
“Dengarkan aku. Tidak semua bayi lahir dengan rambut lebat, ada kalanya bayi lahir dengan kepala botak juga.”
“kenapa bisa seperti itu?” Farel bertanya dengan serius.
“Bisa jadi itu karena gen.”
“Hay, bagaiamana bisa, kau lihatkan, aku memiliki rambut yang bagus, dan kau juga.”
“Farel, apa kau tahu bagaiamana waktu bayi dirimu?”
Fare teriam, mencoba mengingat-ingat, tapi ia tidak mengingat sama sekali. Maria yang melihat cucunya berpikir kuat menggelengkan kepala.
“Kau juga dulu botak!” Maria memukul kepala Farel.
“Ish, kenapa Nenek hobi sekali memukul kepalaku? Dan apa tadi, aku botak? Bagaiamana bisa?”
“Cih, terserah kalau kau tidak percaya. Yang pasti, kebotakan anakmu itu turunan darimu.” Maria menatap sinis Farel yang masih terlihat tidak terima.
Raisya yang melihat perdebatan mereka yang pastinya tidak akan ada habisnya berdahem, mencoba memberi pengertian agar segera meyudahi perdebatan itu.
Namun, baru saja ia selesai berdahem, sang bayi menggeliat, kemudian menangis. Membuat Farel yang awalnya masih ingin mendebat sang nenek berwajah khawatir.
“Kenapa dengan anak kita? Apa dia kesakitan?” Farel menggosokkan tangan beberapa kali dengan mata yang meneliti seluruh tubuh sang anak. Khawatir akan sesautu yang membuat anaknya terluka hingga menangis.
__ADS_1
Maria yang melihat itu menggelengkan kepala. “Ck, ck, Anakmu itu lapar, bukan kesakitan.” Maria berkata dengan pelan, membuat Farel menatap dengan serius.
“Oh.” Angguknya dengan wajah serius.
“Kalau begitu, Nenek keluar dulu. Raisya, Asimu sudah keluarkan?”
“Emmm, sepertinya sudah Nek.” Raisya tersenyum malu.
“Baguslah, Nenek tinggal ya.” Maria tersenyum, kemudian melenggang pergi meninggalkan keluarga kecil itu.
Raisya yang melihat kepergian Maria tersenyum tipis, perhatiannya kini teralih kepada sang bayi yang terlihat menduselkan kepala di dada.
“Farel, tolong ambilkan bantal kecil itu.” Raisya menunjuk bantal berwarna hijau di sofa.
Farel yang mendepatkan perintah segera beranjak, mengambil bantal itu dengan wajah serius.
“Terimakasih.” Raisya tersenyum. Tangan wanita itu sibuk mengatur posisi nyaman untuknya dan si bayi.
Farel yang melihat tindakan itu berdecak kagum, tidak menyangka sang istri bisa melakukan hal yang menurutnya sulit.
“Ya ampun, anak Mama lapar ya, sini minum Nak.” Raisya mengarahkan put*ngnya ke mulut sang bayi. Membuat bayi merah itu dengan cepat melahap habis makanannya, bahkan Farel yang melihat itu merasa takjub.
“Wah, ternyata bukan Papanya saja yang menyukai gunungmu.” Farel berceletuk pelan, membuat Raisya yang awalnya senantiasa menatap sang bayi melototkan mata, kemudian memberikan tatapan penuh peringatan untuk sang suami.
Farel yang melihat itu hanya menyengir, kemudia mendudukan diri tepat di samping sang istri.
Jakun Farel naik turun, melihat benda bulat, putih, dengan ujung berwarna pink itu dilahap abis sang bayi, membuat jiawanya meronta, ingin merasakan bagaiamna rasanya menyesap benda itu di saat bisa mengeluarkan asi. Pasti menyenangkan.
Mencoba memeperoleh peruntunga, laki-laki itu mengelus lembut kepala ang bayi, kemudian dengan sedikit snegaja menyenggol benda putih itu, membuat Raisya yang tidak sadar dengan perbuatannya hanya diam.
Raisya yang mendengarnya hanya tersenyum, tangan ramping itu sibuk menggosok pelan punggung sang bayi, berharap bayinya segera terlelap.
“Anak ganteng Mama.” Puji Raisya saat melihat snag bayi menutup mati, tapi tetap tidak melepaskan bibirnya dari dada.
Farel yang melihat itu tersenyum lebar. Harapan untuk merasakan nikmatnya asi secara langsung meletup di otak dan dadanya.
“Sayang, ayo aku letakkan bayi kita di ranjang.”
Raisya yang mendengarnya tersenyum, tangannya berusaha menarik dirinya dari mulut sang bayi. Namun, sang bayi terlihat tidak ingin berpisah dengan sumber makanannya, membuat Raisya terkekeh pelan, dan Farel menjatuhkan rahang.
Dalam benak laki-laki itu sibuk mengumpat sikap anaknya yang tega mengambil jatahnya. Bahkan ketika sudah tertidur pun, bayi itu terlihat enggan melepaskannya.
“Sayang.”
Cicitan dengan nada pelan itu membuat Raisya yang awlanya terfokus menatap wajah sang anak mendongak. Alisnya terangkat sbelah saat melihat wajah lesu Farel.
“Kenapa?” tanyannya lembut.
“Aku haus.”
“Minum sana, di atas nakas ada air putih.” Raisya menunjuk gelas berisi air dengan dagunya, membuat Farel semakin mencebikkan bibir.
“Ck, kenapa kau tidak peka sih?”
__ADS_1
“Eh? Apa maksudmu?”
“Aku ingin seperti Ipin.”
“Eh, Ipin? Maksudmu siapa?”
“Ya, anak kita lah.”
“Kau serius memberi nama anak kita Ipin?” Raisya menatap serius Farel.
“Emmm, bukan Ipin sih lebih tepatnya Givin Wiratman, dan kita bisa memanggilnya Ipin.”
“Haaaa?”
“Iya, Givin, singkatan dari Give dan Win. Artinya pemberian, dan kemenangan.” Farel tersenyum lebar. Bahkan laki-laki itu seakan melupakan keinginannya untuk mencicipi asi.
Raisya yang mendengar itu membuka mulut tidak percaya. Bagaiamana bisa sang suami memliki ide yang di luar akal manusia. Umumya orang tua akan memberikan singkatan dari nama mereka, lah, ini. Sang suami malah memberikan sngkatan yang aneh, tapi tidak terlalu buruk.
“Ekhm, baiklah. Nama Givin juga bagus, meskipun terdengar aneh. Selamat datang bayi Givin.” Raiay tersenyum menatap bayinya yang menutup mata.
Farel yang melihat itu ikut tersenyum. Bibir laki-laki itu terbuka dengan lebar, memperlihatkan deretan gigi putih yang indah.
“Ya, selamat datang Ipin.” “Sayang, bagi asi ya.” Farel menatap penuh iba sang bayi, berharap bayinya itu paham dengan keinginannya yang sudah mencuat di atas ubun-ubun.
Duuutttttt!
Namun, bukannya kata setuju yang dikeluarkan sang bayi, tapi suara kentut yang keras dan panjang yang menjadi sambutan, membuat Farel membuka mulut terkejut, dan Raisya tertawa lepas.
“Ya ampun, kenapa kau bersikap tidak sopan Ipin? Aku Papamu loh, tapi kau beraninya kentut di muka Papa?”
“Maafkan aku Papa, habisnya, Papa mau mengambil jatahku, Papa harus puasa dulu ya, sampai aku umur dua tahun.” Raisya menjawab dengan suara yang dibuat sekecil mungkin, seakan menggantikan anaknya menjawab gerutuan Farel.
“Baiklah. Papa tunggu. Untung kau anak Papa, kalau tidak__”
“Apa?” Raisya menata garang sang suami, membuat Farel yang ingin mengatakan hal yang tidak-tidak dalam sekejap menutup mulut.
“Tidak sayang, maksudku, kalau tidak, emmm aku akan mencium Mamamu sampai kehabisan nafas.”
“Ap__”
Grep!
“Aku mencintai kalian.” Farel dengan cepat merengkuh tubuh dua manusia yang paling berharga dalam hidupnya. Raisya yang mendengar pernyataan tulus itu tersenyum lembut, kemudian membalas pelukan itu dengan tangan sebelahnya.
“Aku juga mencintaimu.”
Pernyataa cita dari Raisya membuat degup jantung Farel menggila, dengan pelan, laki-laki itu melepaskan pelukan, kemudian menatap wajah lembut sang wanita.
Perlahan, wajah laki-laki itu terlihat mendekat, bahkan bibir mereka sedikit lagi akan menyatu. Namun, aroma tidak sedap, disertai suara keras dan panjang membuat adegan 21+ yang akan terjadi itu terhenti.
Duuuttttt!
Farel dengan segera menjauh, kemudian menatap sang anak yang terlihat masih terlelap.
__ADS_1
“Ya Tuhan, kenapa Ipin suka sekali mengerjai Papa?” Farel menatap kesal sang anak, membuat Raisya lagi-lgi tertawa.
Sepertinya sekarang waktunya dia menerima. Menerima kebahagiannya, menerima perasaan yang berulang kali ia sangkal. Sekarang ia bukan lagi wanita simpanan, tapi ia adalah ibu dari anak laki-laki di depannya, seorang istri dari Farel Wiratman, dan ibu dari Givin Wiratman. Semoga kebahagian selalu melingkupi keluarga kecilnya.