Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
104. Mantan cucu


__ADS_3

Salsha melangkah dengan dagu terangkat. Matanya memerah menatap dua pasangan yang menjadi penyebab kehancurannya. Namun, ia dengan sekuat tenaga menahannya.



Pandangan matanya teralih pada sosok wanita tua yang terlihat memperhatikannya. Dengan cepat ia mengubah wajahnya menjadi sayu. Langkahnya terhenti, tepat di antara mereka bertiga.


“Apa yang kau lakukan di sini?” Farel mendesis tajam. Mata coklatnya menyala melihat sosok wanita ular itu. Bahkan, Laki-laki itu sudah berusaha berdiri untuk memberi pelajaran terhadap wanita itu. Namun, elusan di bahunya membuat ia terhenti.


Sedangkan Maria yang melihat kemarahan Farel mengangkat sebelah alisnya, merasa bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.


“Apa salahku? aku ke sini untuk berkunjung ke rumah Nenek.” Salsha mentap datar Farel.


Sedangkan Raisya yang sedari awal diam, tanpa mengeluarkan suara sama sekali merasakan firasat buruk. Ia yakin kedatangan salsha di sini ada maksud tertentu.”


“Sudah, jangan ribut di sini. Salsha duduklah.” Maria menepuk sofa di sampingnya yang terlihat kosong.


Melihat itu membuat salsha tersenyum sedangkan Farel semakin mengetatkan rahangnya.


“Bagaiamana kabarmu?” Maria bertanya dengan lembut ketika matanya menatap keadaan salsha yang jauh dari kata baik.


Wanita di depanya itu terlihat sangat pucat. Kecantikan yang biasanya terpancar kini tertutup mendung .



Salsha menyeka air mata yang tiba-tiba terjatuh. Wanita itu terlihat menyedihkan, mengundang rasa simpati Maria. Sedangkan Farel semakin membenci wanita yang penuh drama itu.


“Cih, tidak usah kau tunjukan air mata buayamu itu.” Farel mendesis tajam.


Maria yang mendengar ucapan kasar itu mendongak, menatap tidak percaya Farel yang dengan beraninya berucap kasar di depannya. Meskipun ucapan itu tidak ditunjukan untuknya, tapi di mana letak sopan santun cucunya itu?


“Farel, jaga bicaramu. Kalau kau masih tidak bisa menjaga ucapanmu, lebih baik keluar dari sini, sekalian bawa Jal*ngmu itu.” Maria menatap tajam Farel.

__ADS_1


Salsha yang mendengar pembelaan serta cemooh untk selingkuhan Farel menyeringai. Sepertinya langkah untuk menghancurkan mereka berdua semakin mudah. Ia harus mengambil simpati Maria, dan semua akan selesai sesuai dengan keinginannya.


“Nenek!” Farel meninggikan nada suaranya. Mendengar makian untuk Istrinya membuat emosinya benar-benar terpancing.


Maria yang mendengar nada tinggi itu semakin menatap Farel tidak percaya. Cucunya benar-benar berubah, dan semua ini karena ulah wanita bernetra hijau itu.



Wanita yang pernah ia temui di rumah sakit dulu, dan wanita yang ia yakin memilki energi posisitif. Nyatanya wanita itu hanya membawa aura negatif, terlebih untuk cucunya.


“Kenapa? Kau tidak terima Nenek menyebut wanitamu itu Jal*ng? Lantas, sebutan apa yang tepat untuk wanita itu?” Maria menatap tajam Farel, lalu tatapannya teralih ke arah Raisya. “Dan kau, di mana tunanagnmu itu? bukankah kau dulu menangisinya, dan sekarang kau datang ke sini dengan status baru, status Istri dari laki-laki bersuami?” Maria menatap Raisya penuh cemooh.


Sedangkan Raisya yang mendengar itu hanya terdiam, mencoba mengingat siapa wanita paruh baya itu. Mengapa wanita tua itu bisa tahu semua? Apa ia pernah bertemu sebelumnya?


“Tidak usah tunjukan wajah polosmu. Kau tahu, kau telah menghancurkan sebuah pernikahan! Di mana hati nuranimu sebagai wanita? Apa kau tidak berpikir perasaan seoarang Istri yang ditinggal suamainya ini.” Maria memeluk tubuh Salsha yang sudah bergetar itu.


Sedangkan Raisya masih terdiam dengan nafas yang tercekat. Ya, semua benar. Semua orang akan menilanya seperti itu saat megetahui fakta yang tidak lengkap.




Siapa pun yang membuat wanitanya sakit hati, tidak perduli apa pun, ia tidak akan terima. Akan ia balas.


“Nenek, jaga ucapanmu. Dia Istriku! Jangan hanya mendengarkan fakta dari sebelah pihak. Jika ada yang perlu di salahkan, di sini hanya aku yang pantas di salahakan, bukan Raisa.”


“Oh, benar. Di sini memang kau yang paling salah. Laki-laki yang tega meninggalkan Istrinya saat masa terpuruknya. Lebih parahnya menceraikannya hanya untuk wanita yang tidak jelas asal usulnya serta tidak memilki harga diri.”


“Cukup! Nenek sudah keterlaluan. Kami kemari dengan maksud baik, tapi Nenek malah memberikan makian untuk Istriku. Lebih baik aku pergi!” Farel bangkit. Tangannya menarik lembut tangan Raisya.


“Sekali kau pergi dari Mansion ini, jangan harap kau akan ku anggap menjadi cucuku!” Maria berteriak penuh murka.

__ADS_1


Langkah kaki Farel terhenti, tubuhnya terlihat menegang namun, itu hanya bertahan beberapa saat saja.


“Ha ha ha, terserah Nenek. Nenek lebih percaya orang lain dari pada cucunya sendiri. Oh, apa perlu aku sebut mantan Cucu?”


Maria terdiam, matanya memerah menatap Farel penuh kecewa. Cucu yang ia sayangi, ia berikan apa pun, kini lebih memilih wanita yang tidak jelas itu.


“Kau berubah! Kau bukan cucku lagi.” Maria menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, menutup mulutnya agar isak tangis tidak terlalu terdengar.


“Aku tidak berubah, aku tetap Farel cucumu yang dulu. Yang berubah itu Nenek, kepercayaan Nenek yang sudah tidak sama lagi. Ayo sayang kita pergi dari sini. Sekalian kita bulan madu.” Farel mengecup lembut kening Raisya, membuat dua wanita yang berada di sofa menatap penuh amarah.


Setelah kepergian Farel dan Raisya, Salsha hanya diam, menunggu Maria yang menyelesaikan tangisannya karena kecewa dengan pilihan sang cucu.


“Nek, Nenek sudah tenang?” Salsha mengelus pundak Maria.


Maria mendongak, menatap Salsha penuh rasa salah. “Maafkan Cucu Nenek.” Maria memegang tangan Salsha lembut.



Salsha terdiam, matanya menerawang jauh di sana. Memaafkan? Apa bisa?


“Maafkan aku Nek. Mungkin aku bisa memaafkannya, tapi aku tidak bisa melupakan semuanya. Farel mennggalkanku saat aku kehilangan anakku. Mungkin Farel tidak menginginkan seorang Istri yang tidak bisa memberi keturunan. Padahal aku sudah rela di madu. Aku terima jika Farel menikah lagi, tapi laki-laki itu tanpa perasan lebih memilih menceraikanku.” Salsha menutup wajahnya yang memerah, isak tangis wanita itu terdengar membuat Maria semakin geram dengan Farel.


“Dan lebih parahnya, ternyata Farel sudah menjalin hubungan dengan wanita itu sejak lama. Farel yang mengatakan mencintaiku, nyatanya membagi cinta dan menghancurkan kepercayaanku.” Salsha semakin tergugu dalam tangisan.


Maria mengepalkan tangan kuat. “Nenek akan memberikan pelajaran untuk mereka, kau tenang saja. Meskipun kalian sudah brcerai, tapi Nenek hanya ingin cucu menantu sepertimu. Hanya kau cucu menantuku, bukan wanita ****** itu.”


Sasha menangis, tapi di tengah tangisannya terlihat senyum lebar di dalam sana. “tidak Nek. Biarkan mereka bahagia, wanita sepertiku yang tidak mampu memberikan anak memang tidak layak untuk siapa pun.” Salsha mendongak engan mata memerah.


“Omong kosong. Kau tidak mandul, hanya kesulitan memiliki anak. Jangan putus asa, ayo kita buat mereka menyesal. Akan ku buat wanita itu pergi dari hidup Farel, dan kau bisa kembali bersama Farel lagi.”


“Tidak Nek, aku tidak ingin bersama Farel. Hidup bersama laki-laki yang tidak mencintai kita itu menyakitkan.”

__ADS_1


“Oh, Tuhan! Kenapa wanita sebaik dirimu harus menerima ketidak adilan seperti ini. Tenang saja, Nenek akan memberikan keadilan untukmu.”


__ADS_2