Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
110. Pertemuan


__ADS_3

Maria menatap kopi panas yang ada di depannya. Suasana sunyi membuat waita tua itu merasa tenang. Berbagai pemikiran mulai muncul di otak tuanya.


“Maaf, saya datang terlambat.”


Maria mendongak, wanita itu menatap wanita bermata hijau yang terlihat memasang wajah tenang, dan tidak ada kegugupan sama sekali.


“Hmm, tidak apa-apa, silahkan duduk Raisya.”


Raisya tetap menjaga ketenangannya, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, wanita itu merasa tidak karuan.


“Terimakasih.” Raisya tersenyum formal.


Maria yang merasa suasana berubah menjadi canggung segera memberikan kode Asistennya agar memesankan minuman.



Sedangkan Raisya hanya diam, menunggu maksud dari Nenek Farel mengundangnya diam-diam untuk bertemu. Bahkan ia yakin, Farel tidak tahu menahau masalah pertemuan ini.


“Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk bertemu dengan wanita tua sepertiku.” Maria tersenyum lembut.


Raisya mendongak, netra hijau itu terlihat sedikit terkejut, lebih terkejut lagi mendengar dan melihat senyum tulus yang diberikan wanita tua itu.



Masih teringat jelas di kepalanya, panggilan jal\*ng yang disematkan wanita tua itu untuknya. Tapi mengapa, wanita tua di depanya itu seperti orang yang berbeda. Di mata tuanya berpancar kelembutan, dan sikap penuh kasih. Sebenarnya ada apa?


“Ekhm, bukan masalah besar.” Raisya tersenyum canggung.


Beberapa saat kemudian, asisten Maria masuk ruangan itu dengan beberapa pelayan yang membawakan makanan.


“Silahkan dinikmati Nyonya.”


Maria mengangguk, begitu pula dengan Raisya. Maria menatap Raisya, memberikan kode wanita cantik itu agar segera makan. Rasya yang melihat itu dengan patuh memulai makannya.



Hening, hanya terdengar suara dentingan pisau, garpu, dan piring yang saling beradu. Beberapa kali terlihat Maria yang mentap Raisya, wanita tua itu seakan tidak melepaskan Raisya dari pandangannya barang sedetik.


__ADS_1


Raisya yang ditatap hanya diam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang menggila. Ia sudah memutuskan untuk menerima tawaran bertemu, dan ia juga sudah menyiapkan mental jika sewaktu-waktu Maria akan menghinannya lagi. Biar bagaiamana pun, ia tahu, ia salah. Tidak dibenarkan sebuah hubungan terlarang di antara hubungan suci, yaitu pernikahan.



Beberapa menit kemudiam, mereka berdua terlihat menyelesaikan makan malamnya. Maria dengan anggun mengelap ujung bibirnya dengan sapu tangan, sedangkan Raisya dengan ringan mengambil air putih untuk menyegarkan tenggorokannya.



Akhir-akhir ini, wanita bernetra hijau itu merasakan perbedaan di tubuhnya. Seperti mudah lelah, dan mengantuk, seperti sekarang ini. Setiap selesai makan, ia selalu ingin rebahan. Bahkan Farel sering mengejeknya seperti kerbau, yang kerjaanya, makan tidur, makan tidur. Ish, benar-benar mengesalkan. Lebih mengesalkan lagi, wanita itu terlihat tidak bisa menahan rasa kantuknya dan menguap.



Maria yang melihat tingkah Raisya tersenyum kecil namun, senyum wanita tua itu lenyap ketika sau pemikiran muncul di otaknya. Semua belum boleh terjadi, setidaknya sampai semua bisa wanita tua itu selesaiakan.


“Apa kamu hamil?”


Raisya yang mengantuk sontak menegakkan tubuhnya. Mata hijaunya terlihat membola, menatap penuh keterkejutan atas pertanyaan yang Maria lontarkan.


“Aku___ tidak.” Raisya menggelengkan kepala dengan wajah yang masih terkejut.


Sedangkan Maria menghela nafas, sepertinya semua harus dipercepat.


“Baiklah, saya sebagaia Nenek Farel ingin meminta maaf.” Maria menatap Raisya dengan wajah sendu.



Wanita bernetra hijau itu dengan cepat menguasai dirinya dari rasa terkejut. Biar bagaiamana pun, ia tidak boleh langsung percaya dengan wanita tua itu. Setelah menghinannya, dan sekarang wanita tua itu meminta maaf? Kenapa semua yang berhubungan dengan Farel tidak ada yang beres?


“Maaf, bukankah anda membenci saya?”


“Ekhm, saya tidak pernah membencimu.”


Raosya diam, wanita itu masih mencerna segala sesuatu yang terjadi saat ini. Tidak pernah membenci tapi mencaci maki?


“Tapi, anda menghina saya, bahkan mengatakan saya wanita ja_”


“Sudah, jangan lanjutkan. Saya juga meminta maaf atas perkataan saya yang sudah pasti menyakiti hatimu.”


“....”

__ADS_1


“Bagaiamana jika kita jangan memakai bahasa formal, bukankah kita sudah pernah bertemu, jauh sebelum pertemuan yang tidak menyenangkan bulan lalu.”


Raisya mengernyit. Sudah pernah bertemu? Sejak kapan? Oh ya, kalau memang mereka sudah pernah bertemu, berarti tidak salah jika Maria mengetahui tentang mantan tunangannya


Maria tersenyum. “Mungkin kau sudah melupakan pertemuan kita, tapi tidak untuk wanita tua sepertiku. Aku sudah bertemu ribuan orang di hidupku, melihat matamu entah mengapa membuat aku tertarik, dan sejak saat itu aku tidak pernah bisa melupakan tatapanmu.” Maria tersenyum, matanya menerawang kembali ke masa lalu.


Mata Raisya mengingatkannya dengan mendiang anak pertamanya. Mata yang sanggup menghipnotis siapa pun untuk terus mengingat dan membuat ia enggan berpaling. Tapi mata itulah yang akan menghancurkannya, sama seperti putrinya dulu.


“Apa anda tidak membenciku?” Raisya bertanya dengan penuh kehati-hatian.


“Sudah ku bilang jangan terlalu formal, panggil aku Nenek.”


Raisya meringis. Bagiamana bisa ia bersikap biasa saja dengan orang yang telah menghinannya terang-terangan, meskipun semua hanya kebohongan, tetap sakit rasanya.


“Kau menanyakan tentang benci? Tidak, aku tidak membencimu. Tapi aku lebih membenci Cucuku Farel.”


Suasana terasa dingin sektika saat Maria mengeluarkan aura dingin. Bahkan beberapa pelayan yang berjajar rapi tak jauh dari tempatnya ikut merinding. Meskipun sudah berumur, tapi darah Wiratman mengalir kental di tubuh Maria.



Maria yang menyadari emosinya yang sudah keluar mencoba menetral perasaanya, berusaha terlihat tenang, dan menarik aura dingin itu perlahan.


“Aku tidak pernah memafkan sebuah perselingkuhan, terlebih perselingkuhan itu terjadi akibat paksaan sebelah pihak.” Maria menatap serius Raisya.


Raisya yang ditatap merasa tidak nyaman. Entah mengapa, tatapan itu mengingatkan nasib buruknya dulu. Tentang Breng\*knya Farel yang menjadikannya sebuah pemuas nafsu, bahkan saat Farel dengan tegannya memperko\*anya.


“Raisya, izinkan Nenek menebus semua kesalahan Nenek.”


“....”


“Izinkan Nenek membawamu pergi menjauh dari Farel, paling tidak, kita harus memberikan pelajaran untuk laki-laki itu agar lebih menghargaimu sebagaia Istri, menyelesaiakan semua masalah yang belum selesai, dan memberikanmu pernikahan yang layak.”


Raisya terdiam, mendengar kata pergi menjauh entah mengapa membuat ia tidak nyaman. Meskipun dulu wanita itu merasa ingin sekali rasanya menjauh dari sosok laki-laki bernama Farel, tapi tidak dengan sekarang. Ada rasa sesak saat membayangkan akan meninggalkan sosok rapuh yang tertutup sikap arogantnya itu.


“Maaf__”


“Degarkan aku dulu, Nak. Farel belum benar-benar selesai dengan Salsha. Perceraian itu tidak cukup dengan kita mengajukan surat-surat kepengadilan, masih ada kedua pihak keluarga yang harus di selesaiakan juga. Percaya dengan Nenek, ayo pergi, bairkana Farel menyelesaiakan yang seharusnya sudah laki-laki itu selesaikan sejak dulu. Jangan biarkan Farel membawamu dengan status tidak hormat.”


“Farel harus melamar dan memberikan pernikahan yang layak untukmu, bukan pernikahan atas dasar ancaman,” Maria berucap dengan serius.

__ADS_1


Raisya yang mendengar semua itu merasa bimbang. Apa sudah dibenarkan jika ia meninggalkan Farel. Apa dengan ia pergi laki-laki itu akan baik-baik saja? Apa laki-laki itu akan menggila seperti yang diucapkannya dulu?


“Cucuku telah membuat wanita baik sepertimu di posisi yang sangat buruk. Bukan hanya itu, cucu bajinga*ku itu sudah memberika pernikahan yang tidak layak untukmu.” Maria menatap serius Raisya, tangan rapuhnya menggengam erat telapat tangan Raisya yang dingin.


__ADS_2