Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
85. Resmi menikah


__ADS_3

Farel menatap Raisya. “Berarti kita sama-sama orang ketiga, bagaimana kalau kita menikah saja?” Farel menatap dalam Raisya.


“Farel, menikah tidak semudah itu.” Raisya menatap Farel serius.


“Siapa yang bilang menikah tidak mudah? Kau hanya tinggal tanda tangan dan kita risme menjadi pasangan suami istri.” Farel menyodorkan dua akte nikah yang perlu di tandatangani Raisya.


Rasiya menutup mulut tidak percaya, merasa tercengang dengan akte nikah dan berkas yang ia terima.


“Bagaiaman bisa?”


“Ku mohon, menikahlah denganku.” Farel menatap Raisya dengan pandangan tulus.


Raisya membuang muka, merasa bingung dengan permintaan Farel. Jika ia menerima pernikahan ini, berarti ia harus menerima konsekuensinya. Ia yakin, tidak akan baik-baik saja kedepannya.


“Kalau kau bimbang karena pernikahanku dengan Salsha, kau harus tahu, kalau aku sudah resmi bercerai dengan wanita ular itu.” Fare menggertakkan giginya. Menyebut nama Salsha, sama saja mengingatkannya dengan rencana busuk wanita itu.


Raisya masih terdiam. Bingung, bagaiamana harus menjawab. Mungkin orang lain akan dengan mudah menerima lamaran atau di sebut paksaan dari Farel ini. Tapi untuknya yang selalu takut dengan karma, hal ini sangatlah susah.


“Kalau kau tidak bisa menerima ku sebagai suamimu, maka kau harus memikirkan keadaan Jhonatan, Jesika, dan Andres,” Farel berucap dengan datar.


Raisya mengubah tatapannya menjadi fokus ke wajah Farel. Menyebut nama orang-orang yang sekuat tenaga ia indungi, membuat ia menggigil.


“Apa maksudmu?”


“Akan ku hancurkan mereka, kalau kau tidak tanda tangan dan menerima status barumu,” Farel berucap tegas.


Raisya menatap Farel tidak percaya. Bagaiamana bisa laki-laki itu mengancamnya seperti ini?


“Kau__”


“Apa? Kau mau mengatakan kalau aku jahat, licik, atau apa? Apa pun itu, ya, memang aku seperti itu. Akan aku lakukan apa pun untuk mengikatmu. Meskipun harus melenyapkan orang lain,” Farel menatap Raisya penuh obsesi.


Inilah yang paling ditakutkan Raisya. Obsesi dan sikap Farel yang terkadang di luar nalar. Bahkan laki-laki itu akan dengan mudahnya menghilanglan nyawa seseorang untuk kepentingan pribadinya.



Bagaiamana bisa ia hidup bersama laki-laki seperti itu. Selama Farel tidak bisa menahan perasaanya, dan memahami makna cinta dengan benar, maka ia akan selalu takut bersamanya. Ia takut, Farel hanya terobsesi, bukan mencintai.


“Ayo, tanda tangan, Raisya.”Farel menyodorkan bolpoin dan berkas-berkas itu. tinggal satu langkah, dan Raisya bisa menjadi miliknya, selamanya. Akan ia singkirkan siapa pun yang berusaha menghalangi.


Raisya dengan mata terpejam meraih bolpoin yang disodorkan Farel. Mungkin ini memang takdirnya. Dengan pelan, tangan ramping itu mulai mengukir di atas kertas yang sudah tertera namanya.


__ADS_1


Farel tersenyum. Melihat berkas itu sudah sesuai, membuat ia lega dan bahagia. Meskipun harus dengan paksaan, tak apa. Ia akan membuat Raisya tidak terpaksa menjalani pernikahan ini nanti.


“Aku mencintaimu, Istriku.” Farel merengkuh tubuh Raisya. Memeluknya erat, tanpa mengetahui sosok dalam pelukannya hanya menatap datar.


“Akan aku terima apa pun karmanya. Harapanku, semoga saat karma itu datang, aku tetap menjadi wanita kuat.” Batin Raisya meminta.


****


Salsha menerima surat keputusan dari pengadilan dengan wajah memerah. Tanganya menggenggam kertas itu dengan erat, meremas kertas itu lebih dalam, membuat kertas yang terlihat apik itu tidak berbentuk lagi.


“Bren**sek! Bagaimana bisa secepat itu?” Salsha melempar selembaran kertas itu di depan pengacara yang terlihat menunduk itu.


“Maafkan saya Nyonya, tapi pengacara Tuan Farel lebih dari satu, dan mereka membawa bukti akurat tentang perselingkuhan anda.”


“Mengapa tidak ada jalur mediasi?” Salsha menggeram marah.


“Saya sudah mengajukan jalur itu, tapi pihak sana menolak karena bukti yang sudah ada, dan pihak pengadilan menerima permintaan mereka.”


Salsha terdiam. Mata hitamnya terlihat memerah, begitu pula dengan wajah putihnya. Rasa sakit akibat perselingkuhan yang dilakukan Farel belum pulih, kini ia dikagetkan dengan kabar tentang perceraiaanya.


“Keluar.” Salsha berucap dengan pasrah.


Pengacara itu yang memahami keadaan atasannya sedang tidak baik-baik saja segera pergi meninggalkan apartemen.




Wanita itu terlalu takut jika skandal perselingkuhannya terkuak dan akan mempengaruh karirnya nanti.



Bukan hanya itu, tanggapan keluargannya tentang sekandal itu pula menjadi pertimbangan. Ia tidak ingin di bilang bodoh, karena telah menghianati sosok sempurna seperti Farel, hanya untuk laki-laki biasa, Max.


“Bagaiaman sekarang?” Salsha mengusap wajahnya kasar.


Biar bagaiaman pun, ia tidak akn membiarkan Farel hidup tenang setelah menceraikannya. Ia harus membalas rasa sakit hatinya itu.


Drt... Drt...


Salsha meatap gawainya yang berkedip. Terlihat jelas nama seseorang di sana. Tangannya dengan cepat meraih gawainya, dan menempelkan di telinga kiri.


“Hmm.”

__ADS_1


“....”


Senyum lebar terukir indah di wajah Salsha.


“Bagus, segera laksanakan.”


Tut!


Salsha mentap gawaianya dengan berbinar. Kini terlihat kilatan benci, bercampur dendam di sana.


“Kita lihat, apa kau akan selamat kali ini. Kau membuangku karena menganggap aku jala*g. Apa kau akan membuang simpananmu, saat dia menjadi jala*g sungguhan?” Salsha menatap tajam kedepan.


Beberapa detik kemudian, terdengar galak tawa dari wanita itu. Wanita itu dengan tidak tahu malunya tertawa terbahak-bahak, dan meloncat bebarapa kali. Persis seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.


“Aku bersumpah akan membuat hidupmu lebih buruk lagi Raisya.” Salsha berteriak kesenangan.


***


Max menatap layar CCTV di depannya dengan datar. Matanya menajam melihat Salsha yang meloncat seperti orang gila.


“Dasar wanita gila.” Desisnya tajam.


Roy yang berdiri tepat di sebrangnya hanya menundukkan kepala. Dalam hati menggerutu. Jika wanita itu dibilang gila, maka predikat gila selanjutnya harus disematkan untuk pria dengan nama Maxim Alexis.


“Roy, kau awasi pergerakan wanita itu,” Max berujar dengan mata yang masih fokus pada layar.


“Baik Tuan.”


Hening, hanya terdengar suara gaduh dari layar CCTV itu, ditambah suara tawa Max yang menggelegar.


“Lihat, kau seperti cacing kepanasan. Bagaiamana kalau kita ubah rencana Salsha. Salsha ingin Raisya di gilir ole bawahannya kan, maka akan ku buat Raisya tidur dengan Farel di depan matanya sendiri?” Max mengusap dagunya pelan. Wajahnya terlihat berpikir.


Roy hanya diam, bingung bagaiamana harus menanggapi perkataan Max.


“Hay, kau kenapa diam? Aku tanya pendapatamu?” Max melirik tajam Roy.


Roy yang mendapatkan teguran dan lirikan tajam meneguk ludah kasar. Tangannya dengan pelan menggaruk rambutnya sendiri.


“Oh, itu_ bagus Tuan. Anda memang luar biasa.” Roy tersenyum dengan lebar, membuat wajahnya terlihat menyeramkan.


Max menatap Roy dengan datar. Merasa kesal dengan tanggapan bawahannya yang terkesan terpaksa itu.


“Ah, kau memang tidak berguna. Seharusnya, aku buat Salsha meminum obat perangsang, dan aku kunci wanita itu di dalam kamar bersama kawanan anjing liar. Bukankah wanita itu sudah terlihat seperti binantang? Tidak berperasaan dan memilki akal.” Max menyeringai dengan lebar. Bayangan Salsha yang harus menahan hasratnya atau melampiaskannya dengan para sekumpulan hewan membuat ia semangat.

__ADS_1


Roy yang mendengar ide mengerikan Max bergidik ngeri. Sudah ia bilang, Max itu gila dalam membuat rencana, dan hal itu dapat kita lihat secara langsung nanti.


__ADS_2