
Sudah satu minggu penuh Raisya setia menutup matanya. Farel terlihat brantakan, melihat tidak ada kemajuan sama sekali mengenai keadaan sang wanita. Gairah hidupnya seakan menguap dengan sendirinya. Bahkan ia mengabaikan semua orang yang mencoba menghubunginya.
“Cepatlah sadar. Aku merindukanmu.” Farel mencium kening Risya lama. Menyalurkan rasa rindu bercampur rasa bersalah dihatinya.
Farel bangkit, meninggalkan Raisya yang terdiam kaku diatas brangkar dengan mata terpejam. Kakinya terasa berat untuk melangkah pergi. Namun, kali ini ia tidak bisa mengabikan Salsha lagi.
Ceklek!
Farel menatap dua pria berbadan besar yang berdiri di depan pintu kamar rawat Raisya. Matanya menatap mereka dengan datar, membuat mereka menunduk.
“Jaga baik-baik wanitaku. Jangan biarkan satu orang pun masuk, selain Perawat, dan Dokter. Satu lagi pastikan keamanan di sini."
“Siap laksanakan Tuann.” Mereka mengangguk serempak.
Farel menatap mereka dengan puas. Ia berencana menemui Salsha hari ini, tapi segera mungkin ia akan kembali ke rumah sakit.
Hampir dua jam Farel berkendara, kini mobilnya berhenti tepat di depan gerbang besar miliknya. Sebenarnya perjalanan itu bisa memakan waktu lebih dari dua jam, tapi ia ingin segera menemui Salsha dan meminta ijin kepadanya untuk tidak pulang beberapa hari.
Farel memasuki Mansion yang sudah seminggu ini tidak ia singgahi. Rasa bersalah mulai merayap di dadanya mengingat ia masih memiliki istri sebagai tanggung jawabnya. Ia seperti bajingan yang menyakiti dua wanita sekaligus.
*****
Salsha yang termenung di kamar merasa kesal. Bagaimana bisa ia tidak pernah bertemu sekalipun dengan Farel. Bahkan ia sudah mendatangi kantornya, dan di sana juga tidak ada sosok yang ia cari.
“Kau dimana Farel?” Salsha mendesah frustasi.
Ceklek!
Suara itu menarik perhatian Salsha. Segera ia tatap siapa yang berani membuka kamar pribadinya dengan Farel?
“Siap_”
Klimat itu terhenti ketika matanya menatap siapa sosok yang berdiri di sana. Rasa bahagia membuncah di hatinya. Tanpa membuang waktu, segera ia bangkit dan menubruk sosok yang sangat ia rindukan itu.
“Kau kemana saja? Aku merindukanmu?” Salsha berujar di dada bidang farel.
Farel tertegun merasakan pelukan tiba-tiba itu. ia mengingat kembali, kapan terakhir ia berpelukan dengan Salsha? Rasanya itu sangat lama sekali, sampai-sampai ia tidak bisa merasakan apa pun saat mendapatkan pelukan itu kembali.
“Farel?” salsha mendongak menatap Farel yang tidak membalas pelukanya.
Farel dengan canggung melepas pelukan itu, entah mengapa ia merasa tidak nyaman. Salsha menatap sedih respon yang di berikan Farel. Batinya mulai membandingkan antara sikap Max kepadanya.
“Maafkan aku, aku lelah.” Farel berjalan memasuki kamar mandi.
Salsha yang melihat Farel meninggalkanya mendengus. Sampai kapan hubungan mereka seperti ini? Salsha beranjak menuju ranjang, berusaha menenangkan hatinya dengan berbaring.
__ADS_1
Netra hitamnya tidak sengaja menatap gawai Farel yang tergeletak di atas nakas. Rasa penasaran mulai muncul di benaknya. Dengan penuh keberanian, tanganya dengan pelan meraih gawai itu.
Drt... Drt... Drt...
“Rumah sakit?” Dahi Salsha mengernyit merasa bingung.
Gawai itu terus berbunyi membuatnya meneguk ludah kasar. Ia ingin sekali mengangkat panggilan itu. Melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup tanganya dengan berani menekan tombol hijau.
“Hal_ Akh” Salsha terkejut melihat kedatangan Farel yang tiba-tiba. Lebih terkejut lagi melihat Farel yang menatapnya tajam.
“lancang sekali kau!” Farel mendesis tajam.
Salsha menelan ludah gugup. Ia merasa takut dengan tatapan dan nada tajam Farel. Tatapan itu sama persis seperti tatapanya sebelum mereka menikah, dan saat ia masih mengejar cinta Farel.
Farel melangkah menuju balkon untuk menerima panggilan itu. Jantungnya berdebar kencang melihat siap yang memanggilnya. Ia berharap ia mendapatkan kabar bahagia.
“Hallo.”
“Hallo Tuan. Saya ingin membri kabar, bahwa Nona Raisya sudah sadar.”
Farel terdiam mendengar kabar yang sudah lama ia nanti. Jantungnya berdetak cepat, senyum lebar tersungging di wajahnya. Dengan cepat ia matikan panggilan itu dan beranjak menuju rumah sakit.
“Farel, kau mau kemana?” Salsha bertanya ketika melihat Farel yang meraih kunci mobilnya lagi.
Langkah Farel terhenti mendengar pertanyaan Salsha. Ia tidak sadar dengan keberadan Salsaha, bahkan ia tidak sadar telah berbuat kasar tadi. Dengan pelan ia berjalan mendekat, dan meraih tangan Salsha lembut.
“Maafkan perilaku kasarku tadi. Aku harus pergi malam ini.” Farel menatap Salsha dengan raut wajah bersalah.
Salsha terdiam mendengar perkataan Farel. Apa-apaan Farel itu? ia baru saja tiba di rumah, tapi ia sekarang meminta izin untuk pergi lagi? Sebenarnya ada apa?
“Farel, kau mau kemana? Bisakah aku ikut?”
Deg!
Farel terkejut dengan permintaan Salsha. Ia tidak bisa membiarkan Salsha ikut bersamanya. Bisa runyam semuanya nanti. Mencoba menutupi rasa terkejutnya, Farel tersenyum.
“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa membawamu ikut serta. Ini masalah penting, jadi sebaiknya kau di rumah saja.” Farel mengelus pelan surai hitam Salsha. Kemudian beranjak pergi meninggalkan wanita itu yang menatapnya dengan pandangan rumit.
Salsha hanya bisa menatap punggung tegap Farel yang menghilang seiring dengan pintu kamar yang tertutup. Rasa curiga mengenai Farel yang main serong memenui otaknya, tapi perasaan itu terhempas seketika mengingat kekurangan Farel.
“Aku yakin kau tidak akan selingkuh. Untuk apa kau selingkuh jika kau tidak bisa melakukan sesuatu yang berhubungan dengan nikmat dunia.” Salsha tersenyum sinis.
__ADS_1
****
Farel dengan cepat memasuki rumah sakit. Wajahnya menunjukan binar kebahagian. Ia bersyukur rumah Sakit ini sudah diatur sesuai dengan permintaanya. Tidak akan ada yang tahu keberadaanya, karena ia sudah menyewa satu gedung ini.
Keringat sebesar biji jagung terlihat jelas di pelipisnya, pertanda perjuanganya berlari dari tempat parkir menuju gedung ini.
“Tuan.” Sapa dua pria berbadan kekar itu dengan membungkuk.
Farel menatap sekilas mereka, kemudian tanganya dengan tidak sabar membuka pintu kamar itu. langakahnya terhenti melihat Raisya yang berdiri memunggunginya dengan tangan kiri yang memegang tiang infus.
Jantungnya berdetak kencang seiring langkahnya membawa mendekat ke arah sosok yang sangat ia rindukan. Tepat satu langkah darinya nafasnya tercekat. Netra hijau dan coklat itu saling beradu ketika Raisya tanpa aba-aba membalikkan tubuhnya.
Farel menlan ludah kasar. Ia takut jika Raisya histeris seperti dulu.
“Raisya, sayang, maafkan aku.” Farel menunduk tidak berani melihat respon Raisya.
Ia bahkan tidak sadar memanggilnya Sayang. Kalimat itu keluar sendiri dari hatinya. Ia tidak bisa mengingkari perasaanya lebih lama lagi. Hening, Farel yang merasa aneh mengangkat kepalanya.
Di sana terlihat Raisya yang memandangnya dengan pandangan kosong. Hatinya semakin sakit melihat tatapan itu. Dengan berani ia langkahkan kakinya untuk mendekat.
“Kau baik-baik saja?” Farel menyentuh bahu Raisya.
Namun respon yang ia dapat tetap sama. Raisya masih menatapnya kosong. Bahkan ia hanya berdiri seperti patung cantik.
Farel menggigit bibirnya menahan gejolak di dadanya. Ia sedih melihat kondisi Raisya saat ini. Dengan pelan tanganya meraih Raisya, menuntunya untuk berbaring ke ranjang kembali.
Raisya hanya terdiam, otaknya kosong. Ia terlalu mati rasa dan terlalu putus asa untuk hidup. Bahkan kematian pun tak sudi menyambutnya.
________
Alhamdulillah,, akhirnya bisa Up. Berhubung besok bulan puasa, Author mau kasih bonus buat kalian,,, mulai besok Author akan Up 3 bab dalam satu hari sampai hari senin, seneng gk????
Harus seneng dong 😘😘😘
Jangan lupa Vote, Komen ya biar Author lebih semangat nulisnya.
Kalo ada yg minta up 3 bab dalam sehari lagi, Author akan pertimbangkan 😍
__ADS_1
Terimakasih semangatnya, dan terimakasih sudah membaca karya Author,,, cium jauh buat kalian semua. 😘😘😘😘