Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
51. Bimbang


__ADS_3

“Kau yakin?” Raisya menatap Jesika serius.


“Saya yakin Nyonya, bahkan saya melihat sendiri pertemuan mereka berdua. Dan saya juga memiliki bukti nyata.” Jesika menatap tegas Raisya. Seakan membuktikan bahwa ia tidak membual.


Raisya memejamkan matanya, merasa tertekan dengan kabar yang ia dengar. Harapan satu-satunya yang bisa menyelamatkanya dari genggaman Farel kini hilang sudah.



Bagaimana bisa Salsha Dawal, yang ia kenal sangat setia dengan Farel bisa melakukan hal yang begitu menjijikan. Andai saja Salsha tidak memiliki hubungan gelap dengan patner modelnya, semuanya akan lebih mudah baginya.



Raisya akan meminta pengampunan dan meminta bantuan Salsha untuk membebaskanya. Ia yakin tidak ada seorang istri yang rela suaminya memiliki simpanan, Sang istri akan melakukan berbagai cara untuk memisahakan suaminya dengan simpanannya itu, pikir Raisya.


“Bagaiaman sekarang?” Tubuh Raisya meluruh.


Jesika dengan sigep membantu Raisya untuk duduk di sofa yang ada di balkon. Tangan ramping Jesika mengelus lembut pundak rapuh itu.



Mata sipit itu memicing kala melihat bekas gigitan di bahu kiri Raisya, dan semakin memicing melihat tanda merah yang terukir indah di kedua pergelangan itu.


“Nyonya, apa yang terjadi.” Jesika bertanya dengan serius. Tangan rampingnya meraih kedua pergelangan yang memiliki luka itu.


Raisya membuang muka, merasa malu untuk menceritakan kemalangan yang menimpanya itu. Cukup, hanya ia saja yang tahu!



Jesika menghela nafas kasar. Tangan rampingnya mengelus lembut pergelangan tangan yang terluka itu. Meskipun Raisya tidak menceritakan apa yang terjadi, tapi ia yang pernah menjadi psikolog dan melihat beberapa bekas luka, serta *kissmark* di tubuh Raisya, ia bisa menyimpulkan sendiri. Raisya dilecehkan kembali.


“Tuan sebenarnya orang yang lemah.” Jesika berbicara dengan menerawang langit.


Raisya yang mendengar penuturan Jesika menatap wajah wanita bermata sipit itu dengan alis terangkat. Laki-laki lemah? Bagaiamana bisa?


“Kau tahu Nyonya? hidup Tuan ternyata tidaklah mudah.” Jesika berucap dengan menatap lurus depan. Ingatanya kembali pada pencarianya tentang hubungan Farel dan keluarganya.

__ADS_1


“Siksaan, cacian, dan penghianatan sering membuat kita menutup hati kita. Membuat kita seperti manusia yang tidak memiliki hati, tapi semua itu kita lakukan hanya untuk menutupi luka dan kelemahan kita.”


“Bahkan, mereka cendrung tidak mengerti bagaimana cara menunjukkan cintanya. Karena mereka hanya tahu bagaiaman rasanya menerima luka.”


Raisya merasa bingung dengan ucapan Jesika. Apa maksud semua itu? tidak tahu bagaiaman cara menunjukan cintanya?


“Tuan, hanya terlalu mencintai Nyonya. Cintanya membuat ia kehilangan akal.”


“Kadang kita juga perlu melhat sekililing kita, tidak hanya merasakan rasa sakit kita sendiri sehingga menyalahkan penyebab kesakitan itu. Kita perlu tahu alasan dibalik semua perlakuan itu.”


Raisya terdiam. Kini ia paham siapa yang dimaksud Jesika. Apa selama ini pandanganya salah tentang Farel?


“Apakah kau membenarkan perbuatan Farel?” Raisya menatap datar Jesika.


Jesika tersenyum lembut. “Tidak ada tindakan kejahatan yang patut dibenarkan Nyonya. Tapi alangkah baiknya kita mencari sebab dari semua tindakan itu. Nyonya, saya mau tanya, berapa kali Nyonya dilecehkan Tuan, dan kenapa Nyonya sampai mengalamai itu?”


Raisya terdiam, terasa sulit mengingat kembali luka lamanya itu. “Dua kali. Pertama saat aku kabur, dan akhirnya dia menemukanku. Dan tadi, saat dia melihatku hanya memakiai handuk.”


“Nyonya, kadang cinta dapat membutakan akal dan menghilangkan hati nurani. Terlibah orang itu tidak pernah merasakan bagaiman rasanya di cintai, dan bagaimana caranya mencurahkan kasih sayang. Sehingga mereka memilih mengikuti emosi.”


Raisya terdiam, hatinya tersentuh mendengar penuturan Jesika. Bagaiamana seharusnya ia bersikap dengan Farel?


“Aku harus bagaiamana?” Raisya menarik tanganya dari genggaman itu. Memilin setiap jari, sebagai bentuk keresahannya.


“Bantu Tuan Farel Nyonya. Dia butuh Nyonya, hanya Nyonya yang bisa menyembuhkannya. Jika kau tidak bisa menua bersamanya, paling tidak bantu dia sampai ia bisa benar-benar sembuh.”


“Bagiamana aku harus membantunya?” Raisya menatap Jesika sendu.


“Berikan perhatian, kasih sayang, dan pengertian tentang mencintai yang benar. Berikan Tuan contoh.”


“Kalau aku tiba-tiba pergi, apakah ia akan baik-baik saja?”


“Tidak akan ada orang yang baik-baik saja saat ditinggalkan orang terkasih, tapi jika anda pergi setelah menyembuhkan Tuan, aku rasa Tuan masih memiliki akalnya. Kalau anda pergi saat Tuan belum sembuh total, aku takut Tuan akan seperti kehilangan dunianya, dan membuatnya terpuruk.”


“Bagaimana dengan Jhonatan?” Raisya bertanya dengan nada berat.

__ADS_1


Jesika tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia melihat bagaiamana perubahan yang muncul akhir-akhir ini. Dan ia merasa jika Raisya mulai memliki rasa dengan Farel. Namun, perasanya tertahan karena sikap buruk Farel dan rasa cintanya dengan Jhonatan.


“Bagaiaman dengan perasaan Nyonya sendiri? Apakah tidak ada secuil pun perasaan untuk Tuan?”


Deg!


Jantung Raisya berdetak dengan kencang. Farel? Apakah ia mencintainya?


“Aku__ Tidak! Aku tidak akan pernah mencintai suami orang!”


Jesika tersenyum. Ia paham bagaiamana sulitnya menjadi Raisya. Memiliki hubungan gelap dengan suami orang, sama saja dengan menghancurkan harga diri seorang wanita. Wanita baik tidak akan mau memiliki hubungan seperti itu, apalagi merebut kebahagiaan wanita lain.


“Apakah anda tidak penasaran mengapa Tuan memilih anda sebagai wanitanya?”


Raisya terdiam mendengar pertanyaan Jesika. Iya, ia sangat ingin tahu.


“Apakah anda juga tidak penasaran bagaiaman awal mula hubungan Tuan dengan Nyonya Salsha?”


Lagi-lagi Raisya hanya bisa terdiam.


“Dan juga bagaiaman awal mula hubungan Salsha dengan laki-laki itu?”


*******


Di sisi lain Jhonatan membaca ulang surat yang ditulis sang kekasih. Tanganya terkepal erat membaca setiap goresan tinta di dalam sana. Bagiaman bisa kekasihnya mengalami hal yang begitu buruk hanya untuk menyelamatakanya. Ia merasa tidak berguna, ditabah keadaanya yang sekarang. ia mengalami kelumpuhan.


“Raisya, sayang, aku mencintaimu. Jangan khawatir aku membencimu karena kau yang sudah tidak suci lagi.”


Otaknya memutar beberapa memor kebersamannya dengan sang kekasih. Rasa rindu membuncah di dadanya. Ia sangat merindukan Raisya, tapi ia tidak bisa melakukan apa pun untuk berjumpa dengan belahan jiwanya.


“aku akan membalas semua orang yang menjadi penyebab dukamu.” Jhontan menggengam erat surat itu.


Giginya bergemeletuk mengingat kejadian yang menewaskan orang tua angkatnya itu. Semua sudah direncanakan dengan matang, dan dia lengah.


“Maafkan aku, Mommy, Deddy. Andai saja aku lebih kuat dan lebih teliti, kita tidak akan mengalami nasib yang seperti ini. Terlebih Raisya. Gadisku itu tidak akan mengalami ketidak adilan.”

__ADS_1


Jhonatan menutup kedua matanya erat, membuat setiap pojok matanya mengalir cairan bening, air mata. Terbayang wajah bahagia mereka saat masih bersama. Meskipun orang tua Risya bukanlah orang tua kandungnya, tapi ia mencintai tulus mereka berdua. Terlebih mereka juga menerima dan memilihnya sebagai pasangan putri tercintanya tanpa memandang asal usulnya yang tidak jelas.


__ADS_2