Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
38. Mengambil Hati


__ADS_3

Raisya mengerjap merasakan berat di perutnya. Hembusan nafas hangat terasa jelas di puncak kepalanya. Matanya terbuka menatap sekeliling, tatapanya terpaku melihat sosok yang terlelap dengan tenang di belakangnya.



Tanganya tanpa bisa dikendalikan bergetar. Rasa takut dan waspada tiba-tiba menyergap dadanya. Sekuat tenaga ia melepas tangan yang melingkar erat itu. Ia butuh udara segar untuk mengembalikan kewarasanya.



Dengan pelan ia meletakkan tangan kekar itu. Perlahan ia bangkit dan berjalan ke arah balkon. Hawa dingin meresap kepori-pori membuat tubuhnya menggigil.



Raisya memejamkan matanya mencoba menetral rasa trauma yang tiba-tiba menghampirinya.


“Ayo, kamu bisa.” Raisya menghembuskan nafas kasar.


Tangan ramping itu terkepal kuat, menahan gejolak yang ingin keluar dari dada. Sekuat tenaga ia mencoba mengalihkan perasaan takutnya.



Farel yang merasakan hawa dingin menggelitik kulitnya merapatkan selimut di tubuhnya. Merasa ada yang janggal segera ia membuka matanya dengan cepat. Tempat di sampingnya terlihat kosong dan dingin.



Rasa takut mulai menjalar kesuluruh sarafnya. Farel dengan cepat melonjak dari kasur mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Jantungnya terasa berdetak cepat, membuat hawa dingin di sekitarnya semakin dingin dengan tatapan tajamnya.



Matanya membola melihat pintu balkon yang terbuka lebar. Berbagai pikiran buruk mulai merasuki pikiranya. Dengan cepat kakinya melangkah ke arah balkon. Rasa takut yang melanda perlahan menyusut ketika pandanganya tertuju pada punggung wanita yang sangat ia kenal.



Dengan senyum tipis ia melangkah pelan ke arah wanita itu. Tepat di belakanganya, ia merengkuh tubuh ramping itu. Membuat wanita yang mendapat serangan tiba-tiba membeku.


“Kenapa kau berdiri di sini? Kau tidak kedinginan?” Farel mengeratkan pelukanya dan menelusupkan wajahnya di ceruk leher jenjang itu.


Raisya menegang, semakin menegang lagi merasakan nafas hangat di lehernya. Sekuat tenaga ia mencoba melawan rasa takut dan traumanya.



Tangan rampinya terkepal erat di sisi tubuh. Matanya terpejam erat dengan bibir atas yang digigi kuat.



Farel merasa aneh dengan keterdiaman Raisya. Selama seminggu ia memantau keadaan Raisya lewat CCTV keadaanya cukup dibilang memuaskan. Raisya sudah bisa tersenyum, berintraksi dengan orang lain dan bertindak seperti biasanya. Tapi kenapa saat bersamanya, ia merasa keanehan ditubuh wanitanya itu.



Dengan pelan ia balikkan tubuh Raisya untuk menghadapnya secara langsung. Tangan besarnya menata letak rambut yang terlihat berantakan karena terusik oleh hembusan angin.


“Kau, kenapa?” Farel bertanya dengan nada lembut.


Raisya menegang mendengar ucapan lembut itu. Kepalan tanganya semakin menguat.

__ADS_1


“Hay, aku tidak akan melukaimu. Tatap aku.” Farel merangkum wajah Raisya. Kedua tangan besaranya berada di kedua sisi wajah Raisa dan membuat wajah itu mendongak.


Melihat mata Raisya yang terpejam erat dengan bibir atas yang digigit, membuatnya merasakan nyeri di ulu hatinya.


“Hay, buka matamu.” Farel membelai lembut mata Raisya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kananya setia mengelus pipi kiri Raisya.


“Maafkan aku.” Farel mengecup kedua mata terpejam itu.


Raisya yang mendapat ciuman di kedua matanya menegang. Rasa asing menjalar di hatinya, tapi ia dengan sekuat tenaga mencoba menghalau rasa itu. Ia tidak boleh terpedaya dengan kelembutan itu. laki-laki di depanya bukanlah laki-laki baik.



Farel menyatukan keningnya sesaat setelah mencium kedua mata itu. Tanganya dengan terampil membawa Raisya kedalam pelukanya.


“Ayo kita masuk, di sini dingin. Aku tidak mau kau sakit.” Farel mengangkat Raisya. Membawanya memasuki kamar mereka dan mengunci pintu balkon kembali.


Ini terlalu pagi, dan udara terlalu dingin untuk Raisya yang baru sembuh. Farel dengan lembut meletakkan Raisya di atas ranjang.



Raisya yang merasakan tubuhnya sudah berada di ranjang segera mengatur posisi tidurnya menjadi membelakangi Farel. Farel tersenyum melihat itu.



Farel berjalan ke sisi ranjang, meletakkan tubuhnya tepat di belakang Raisya. Tangan besarnya dengan lembut menyingkiran rambut coklat yang menutupi separuh wajah Raisya.



“Jangan lakukan ini lagi.” Farel berkata di sela-sela kegiatanya mencium leher jenjang itu.


Raisya menegang merasakan ciuman basah di lehernya. Rasa takut mulai menjalar. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melawanya. Ingatanya kembali pada perkataan Jesika dulu, ia bisa menolak jika ia tidak menyukainya.



Dengan perlahan Raisya membalikkan tubuhnya, memberanikan diri untuk menatap Farel. Farel yang melihat itu hanya terdiam, menunggu apa yang akan Raisya lakukan.


“Bisakan kau tidak melakukanya lagi?” Raisya bertanya dengan tatapan memohon.


Farel yang melihat tatapan itu terenyuh. Nafasnya tercekat, dengan berat hati ia menganggukkan kepalanya, membawa Raisya kedalam pelukanya.


“Aku tidak akan melakukanya sekarang. tapi jika aku melakukanya nanti, aku berjanji untuk melakukanya dengan lembut. Jangan pernah khawatir, aku tidak akan kasar kepadamu. Tapi bisakah kau berjanji satu hal kepadaku?”


Raisya mendongak menatap Farel yang sudah menatapnya itu. Dengan pelan kepalanya mengangguk, Ini semua ia lakukan agar terselamat dari sentuhan Farel.


“Jangan pernah meninggalkanku, apa pun yang terjadi.” Farel menatap Raisya serius. Terlihat jelas rasa takut di mata itu membuat Raisya terdiam.


“Aku tidak akan meninggalkanmu. Saat ini,” Raisya mengucapkan kalimat terakhir itu di hatinya.


Farel yang mendengar ucapan Raisya tersenyum senang. Rasa takut yang sempat melanda kini hilang seketika. Dengan cepat ia cium puncak kepala Raisya dan membenamkan wajah cantik itu di dada bidangnya.


“Terimakasih. Terimakasih telah berjanji kepadaku. Aku tidak akan mengecewakanmu.”


Raisya enggan menjawab ucapan Farel. Ia dengan cepat menutup matanya, berharap rasa kantuk segera datang. Meskipun matahari sebentar lagi menunjukkan wujudnya, ia lebih baik tidur di banding mendengarkan ucapan penuh kepalsuan itu.

__ADS_1



Farel mengelus lembut rambut coklat itu, rasa bahagia membuatnya lupa akan segalanya. Bahkan ia lupa bagaiman cara ia membahagiakan Raisya, jika kebahagian sebenarnya adalah berpisah dengannya, apakah ia siap jika harus memberikan kebahagian itu?


****


Farel menatap tajam beberapa koki yang ia pekerjakan dirumah barunya. Baru satu minggu ia pergi, tapi mereka sudah bersikap tidak di siplin.


“Bagaiman bisa kau menyiapkan makanan seperti ini?” Farel menunjuk makanan yang sudah tertata rapi di atas meja.


Mereka semua menggigil ketakutan. Mereka menyiapkan makanan yang selalu nyonya minta saat tuanya tidak ada.


“Maafkan kami tuan, tapi semua ini permintaan Nyonya.”


Farel terdiam mendengar penuturan mereka. Ia yang terbiasa dengan kemewahan kini melihat makanan sederhana dengan jumlah terbatas, dan semua itu keinginan wanitanya.



Mengingat kembali kehidupan masa lalu wanitanya yang menjadi anak semata wayang dari pengusaha terkenal, makanan ini termasuk hal yang mustahil.



Persiapakan semuanya seperti biasa. Aku tunggu sampai sepeuluh menit. Jika dalam waktu itu kalian belum menyelesaikan tugas kalian, maka siapkan diri kalian baik-baik.



Mereka semua mengangguk dan berjalan cepat ke dalam dapur. Farel yang melihat itu hanya mendengus. Kakinya membawanya kembali menaiki tangga untuk melihat keadaan wanitanya saat ini.



Di dalam sana terlihat Raisya yang masih bergelung manja di bawah selimut. Farel tersenyum melihat itu. Matahari sudah bersinar terang di bawah sana, sedangkan wanitanya masih belum menunjukan tanda-tanda bangun.



Jika bukan karena sarapan, Farel enggan membangunkan wanitanya itu. Tapi, Raisya membutuhkan asupan bergizi untuk memeprcepat penyembuhanya.


Tanganya dengan pelan menepuk pipi Raisya. “Sayang, bangun. Sudah pagi loh”


Raisya terperanjat mendengar suara halus itu. Matanya dengan cepat terbuka dan bertatapan langsung dengan netra coklat itu. Rasa tidak percaya muncul di permukaan hatinya. Apa ini nyata?



Farel tersenyum melihat wajah terkejut itu. Ini belum seberapa, akan ia tunjukan sikap lembut lainya, sebagai bukti ucapan dan janjinya itu.


Ia akan berusaha membuat Raisya mencintainya seperti ia mencintai dirinya itu. Dalam hati ia bertekat akan merebut hati Raisya secepatnya, agar Raisya tidak sanggup sekedar untuk mengalihkan pandanganya. Jadi Raisya, siapakan hatimu untukku.


________


Hahahahahaahha kita akan lihat di bab-bab selanjutnya, perjuangan Farel naklukin hati Raisya,,, mana pendukung Raisya Farel? Kasih semangat dong buat Farel.


Enaknya kita bikin Raisya hati baja ya, biar gk gampang luluh 🤔 kalian setuju apa gk?


Terimakasih buat semangat kalian untuk membaca karyaku,,, 😘😘

__ADS_1


__ADS_2