Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
35. Awal Perjuangan


__ADS_3

Farel mengelus surai Raisya dengan lembut. Matanya tenpa henti menatap wajah teduh wanitanya itu.


“Apakah tidurmu nyenyak?” Tangan Farel membelai lembut wajah Raisya yang terdiam dengan menutup mata.


Matahari terlihat di ujung sana, membuat angkasa menjingga. Suara burung-burung dan gemuruh air terjun terdengar jelas di tengan sunyinya pagi itu. Hawa dingin membuat siapa pun lebih memilih untuk bergelung di dalam selumut lagi. Tapi tidak untuk Farel, ia memiliki tugas yang tidak bisa ditinggal kali ini.


“Maafkan aku, aku harus meninggalkanmu beberapa hari.” Farel mencium kening Raisya lama. Kemudian bangkit menuju kamar mandi.


Setengah jam berlalu. Kini Farel sudah terlihat rapi dengan jas berwarna hitamnya itu. Tangan kekarnya sibuk memasang jam tangan dengan percampuran warna hitam dan silver itu.



Farel berjalan mendekat ke arah ranjang yang terdapat sosok wanita cantik yang masih setia menutup matanya. Senyum lembut ia sunggingkan.


“Ah, sebenarnya aku tidak ingin meninggalkanmu, tapi apa boleh buat. Tunggu aku, aku akan kembali.”


Farel beranjak meninggalkan kamar mewah itu. Berjalan menyusuru setiap lorong yang terlihat sepi itu. Matanya menatap beberapa bodyguard yang berjajar rapi di depan pintu dengan wajah menahan kantuknya.



Mereka yang berdiri di depan pintu tersentak secara bersamaan saat mendengar suara langkah kaki. Lebih tersentak lagi ketika mata mereka menatap sosok atasan yang sangat menyeramkan itu. Rasa kantuk dan dingin yang mereka rasakan segera hilang tanpa bekas.


“Saya harap kalian tidak lalai sampai waktu jaga kalian habis.” Farel berucap tegas. Melihat mereka yang terlihat mengantuk membuat ia ingin marah. Bagaimana jika ada penyusup yang masuk ke sini.


Mereka menggigil mendengar penuturan atasanya itu. Rasa dingin ditempat itu tidak bisa mengalahkan rasa takut mereka terhadap sikap dingin Farel. Dengan cepat mereka mengangguk dan berdiri tegak.


“Baik Tuan. Maafkan kami. Kami akan menajaga tempat ini dengan aman.”


Farel mengangguk melihat wajah serius mereka semua. “Jika ada kesalahan kecil yang kalian lakukan, siap-siap saja, nyawa kalian yang menjadi jaminanya.” Farel melenggang pergi. Meninggalkan bawahanya yang tercekat dengan penuturannya itu.


“Hah! Punya atasan kejamnya luar biasa.”


******


Farel menatap para investor dengan datar. Permasalahan tentang penarikan saham keluarga Balawel menjadi perdebatan mereka semua. Banyak dari mereka tidak setuju dengan apa yang sudah ia lakukan.


“Maafkan kami Tuan. Bukanya kami ingin lancang, tapi dengan anda menarik semua saham itu, perusahaan akan memiliki krugian yang cukup besar,” ucap pria dengan kemeja biru laut.


“Betul Tuan.” sahut mereka semua yang menghadiri rapat itu.


Ricard yang duduk di samping Farel merasa merinding. Dalam hati, ia mengumpat mereka semua. Bagaiman bisa mereka dengan bodohnya memprofokasi atasan kejam itu.


“Sudah! Hanya itu alasan kalian?” Farel bertanya dengan nada sarkas.


Mereka semua yang mendengar jawaban Farel mengernyitkan alis, merasa tidak paham dengan maksud ucapan atasanya itu.

__ADS_1


Brak!


Mereka semua terlonjak melihat Farel yang tiba-tiba berdiri. Farel menatap tajam mereka satu persatu.


“Kalian berani mempertanyakan keputusanku? Berapa lama kalian bekerja di sini?” Farel mendesis tajam.


Mereka menggigil ketakutan mendengar nada tajam dari Farel.


“Kalian pikir saya tidak memikirkan konsekuensi dari keputusan saya. Ricard.” Farel menatap Ricard.


Ricard yang faham dengan maksud Farel segera berdiri dan membagikan map ke seluruh orang yang hadir dalam rapat. Mereka menegang melihat apa isi dari map itu. Sebuah rencana briliant yang dapat menghasilkan pundi-pundi uang. Mereka menelan ludah gugup.


“Maafkan kami tuan.” Pria yang sempat memprotes keputusan Farel membungkuk. Membungkuk tepat di belakang Farel karena posisi atasanya yang membelakangi mereka semua.


Farel diam tidak bergeming sama sekali. Ia sangat kesal dengan mereka semua. Karena mereka waktu bersamanya dengan Raisya harus berkurang. Seharusnya hari ini ia masih bisa bersama Raisya. Tapi mereka semua membuat rencana yang sudah ia susun rapi hancur berantakan.


“Jika kalian sudah tidak minat bekerja di sini, silahkan pergi!” Farel melenggang pergi tanpa menatap mereka satu persatu.


Mereka semua terkejut mendengar ucapan Farel. Dengan cepat mereka berdiri untuk mengerumuni Ricard. Berusaha meminta bantuan dari asisten kepercayaan atasanya itu.


“Pak Ricard, kami mohon_”


“stop! Itu semua kesalahan kalian. Harusnya kalian belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Hanya memiliki saham tidak lebih dari lima persen sudah bergaya, sekarang lihat hasilnya.” Ricard melenggang pergi meninggalkan mereka semua yang memasang wajah pucat.


“Bagaimana ini?”


Raisya terdiam. Matanya sibuk mengamati langit-langit kamar yang terasa asing baginya.


Ceklek!


“Nyonya, anda sudah bangun?” Jesika memasuki kamar atasanya itu dengan membawa nampan di kedua tangan.


Raisya menoleh sebentar, kemudian tatapanya kembali lurus ke atas. Jesika yang melihat respon datar itu menghembuskan nafas lirih. Bagaimana pun ia dulu seorang Psikolog. Sedikit banyak ia mengetahui kondisi nyonya saat ini. Dalam hati ia berjanji untuk membantu menyembuhkan nyonya itu.



Jesika melangkah mendekat ke sisi ranjang. Tangan rampingnya menaruh nampan yang berisi makanan di atas nakas kecil itu.


“Nyonya, saya bantu anda untuk bersih-bersih.” Jesika mnatap Raisya lembut.


Raisya hanya terdiam, enggan menjawab atau melihat siapa pun.



Jesika yang memahami keadaan Raisya saat ini berusaha untuk sabar. Tanganya dengan terampil membantu Raisya untuk berdiri. Dalam hati ia bersyukur, Nyonya tidak melakukan pemberontakan.

__ADS_1



Di dalam kamar mandi, Jesika menyeka seluruh tubuh Raisya. Tanganya dengan hati-hati mengganti perban yang masih melekat di leher jenjang itu. Luka mengerikan terlihat di sana.



Tanpa bantuan obat-obatan membuat luka itu terlihat jauh mengerikan di banding luka biasanya. Tangan rampingnya dengan pelan membasuh luka itu, membersihkanya dari obat herbal yang menempel di sana dan menggantinya dengan baru.



Raisya menggertakkan giginya merasakan rasa perih di lehernya. Meskipun wajahnya terlihat sama saja, tapi rasa sakit yang ia rasakan akibat luka itu tetaplah sama.


“Nah, sudah selesai. Sekarang ayo kita pilih pakaian yang akan anda kenakan.” Jesika membawa Raisya ke dalam ruang khusu pakaian.


Mata Jesika melebar melihat ratusa baju wanita tergantung apik di sana. Bukan baju murahan yang sering ia lihat, melainkan baju seharga miliaran. Oh Tuhan, kapan ia bisa memilik pakaian seperti itu.



Raisya yang melihat Jesika yang terdiam bangkit. Tanganya dengan terampil memilih pakaian yang berada di pojok ruangan itu. pakaian dengan warna hitam menjadi pilihanya. Seperti hidupnya.



Jesika yang melihat warna yang dipilih Raisya mengernyit. Pemilihan warna baju itu juga menjadi standar penilainaya tentang kondisi mental seseorang. Matanya melotot saat pikiran buruk terlintas di otaknya. Dengan perlahan ia mendekat, dan memegang bahu Raisya.


“Nyonya, apakah anda kehilangan sosok yang paling anda cintai?”


Raisya membeku mendengar pertanyaan itu. tanganya yang membenarkan letak kerah di leher terhenti. Matanya yang datar kini terlihat bergetar.



Jesika yang melihat tatapan itu menghela nafas pelan. Tebakanya benar. Kini ia harus membantu Raisya bangkit dari keterpurukanya. Ia pernah merasakan kehilangan sosok yang paling ia cintai, dan rasanya sangat menyakitkan. Ia tidak ingin ada orang lain yang merasakan itu.


Tangan Jesika dengan pelan membawa bahu raisya untuk menghadapanya. “Nyonya, aku akan membantu anda untuk bangkit!” ucapnya tegas.


Raisya menatap mata yang terlihat serius itu. Sedikit harapan terlintas di hatinya. Apakah ia bisa meminta bantuan dengan wanita ini?


“Apa kau bisa membantuku untuk menemui Jhonatan?”


Jesika menatap Raisya dengan bingung. Siapa Jhonatan itu?


______


Terimakasih sudah membaca,,, Bagaiamana Part ini?


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan😍😍😍

__ADS_1


Jangan lupa selalu kasih dukungan ya


__ADS_2