Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
105. Bulan madu


__ADS_3

Raisya menatap Farel yang duduk di sampingnya dengan pandangan kosong. Wanita itu tahu bagaiamana perasaan Farel saat ini.



Mendengar dan melihat orang yang terkasih lebih percaya dengan perkataan orang lain tanpa mencarai tahu kebenarannya membuat siapa pun pasti sakit hati.



Tangan rampingnya dengan perlahan meraih tangan kekar itu yang terkepal. Farel yang terdiam dengan segala kecamuk di dadanya menoleh. Rasa hampa seketika menguap, tergantikan dengan kehangatan ketika melihat senyum indah dari wajah wanitanya.


“Apa kau tidak apa-apa?” Raisya melontarkan pertanyaan yang sudah pasti siapa pun sudah tahu jawabannya.


Farel tersenyum, balas menggengam tangan Raisya lebih erat lagi. “Bohong kalau aku bilang tidak apa-apa. Tapi aku akan baik-baik saja selama kau tetap di sampingku.” Farel membawa tangan ramping itu ke bibirya, mengecup lembut dengan tempo panjang.


Raisya tersenyum, melihat wajaha Farel yang sendu membuat hatinya terusik. Biar bagaiamana pun semua terjadi karena kesalahannya. Meskipun bukan sepenuhnya, tapi ia sadar, mereka semua salah.



Kesalahan dengan porsi masing-masing yang harusnya mereka tanggung sendiri atas kesalahan itu tanpa membebankan atau pun melemparkan pada pihak lain.


“Apa kau rela melepaskan Nenekmu?”


Farel yang sibuk mengecup tangan itu terhenti, matanya menatap Raisya dengan rumit namun, tak lama kemudian senyum lembut tersungging di wajah tampan itu.


“Aku tidak pernah melepaskan Nenek, tapi Nenek yang melepasku.” Farel menjawab dengan menatap lurus netra hijau itu.


“Apa kau akan membuka seluruh kedok Salsha?”


“Aku bukan orang baik Raisya, akan ku balas segala perbuatan wanita ular itu.” Farel mendesis dengan tajam dengan tatapan diselmuti kabut amarah.


Raisya yang merasakan perbedaan hawa merinding. Nada itu, tatapan itu persisi seperti pertama kali ia melihat Farel. Arogant, kasar, licik, dan tidak mau kalah.



Bahkan supir yang fokus mengatur laju kendaraan merasakan merinding di sekujur tubuh. Bagaimana bisa manusia memeiliki hawa seperti itu. Mencekam, suram, dan penuh dendam.


“Farel, tenangkan dirimu, kau tahu auramu membuat suasana menjadi seram!” Raisya berdecak sebal, berusaha mengembalikan aura di dalam mobil.


Farel yang masih di selimuti aura hitam seketika terkekeh mendengar ucapan Raisya. Menyeramkan? Sungguh lucu Istrinya itu.

__ADS_1


“Hay, aku manusia, mana bisa memiliki aura menyeramkan.” Farel menatap Raisya dengan senyum tak percaya di wajahnya.


Sedangkan Raisya dan supir yang mendengar ucapan Farel terdiam, memutar mata malas. Memang laki-laki itu manusia, tapi laki-laki itu memiliki sifat persisis seperti iblis.


“Ya, ya, terserah. Sekarang kita mau kemana?” Raisya bertanya dengan mata menatap kaca mobil, mengamati beberapa pejalan kaki dan kendaraan yang berlalu lalang.


“Sudah ku bilang, kita akan pergi berlebur sekaligus bulan madu.” Farel mengedipkan mata genit.


Raisya yang melihat itu membuka mulut tidak percaya. Ia kira ucapan Farel tentang bulan madu itu hanya untuk memanasi Neneknya, tapi ternyata semua salah.


“Kau yakin ingin melakukan bulan madu di saat seperti ini?” Raisya bertanya dengan nada ragu.


“Apa maksudmu? Bukankah sekarang waktu yang tepat? Kita berada di tempat yang bersalju, bukankah di tempat yang dingin paling enak kita saling menghangatakan__ auch apa yang kau lakukan?” Farel mengelus pinggangnya yang dicubit kuat Raisya.


Raisya menatap garag Farel dengan wajah yang memerah. Bagaiamana bisa laki-laki itu berbicara tanpa disaring terlebih dahulu, terlebih mereka saat ini tidak sendiri, ada supir yang terlihat memerah wajahnya.


“Kau! Kenapa kau harus berbicara seperti itu?” Raisya menggeram gemas.


“Apa salahaku? Aku berucap sesuai fakta. Bukankah memang lebih nikmat untuk__ auch, ok ok, aku tidak akan melanjutkan perkataanku, tapi tolong lepaskan cubitanmu di pinggangku.” Farel meringis menatap Raisya dengan wajh penuh kesakitan.


Raisya menutup matanya, mencoba menghalau rasa malu yang hinggap di seluruh sarafnya, terlebih pandangan matanya tidak sengaja bersitatap dengan supir yang terlihat juga memerah wajahnya.



Farel mengusap pinggangnya dengan wajah penuh kesakitan, bibirnya mengerucut sebal. “Ish, kenap kau suka KDRT. Dari pada kau cubit pinggangku, lebih baik kau gigit saja, pasti aku akan mendesah.” Farel berujar lagi dengan wajah yang sudah penuh binar itu. Bayangan tentang Raisya yang agresif membuat libidonya naik.


Ingatan tentang malam panas mereka di hotel dulu terlintas, berputar dengan indah. Raisya yang idak malu membuka pakaiannya dengan kasar, meninggalkan jejak di setiap tubuhnya, bahkan bergerak dengan aktif tanpa menunggunya untuk memulai.



Melihat Farel yang sudah kelewat batas, Raisya tanpa segan langsung memukul keras bahu Farel, kini wanita itu tidak hanya memberikan cubitan dan juga tatapan garang, melainkan pukulan yang luar biasa, bahkan ia juga ikut merasakan ngilu di tangannya.


“Sekali lagi kau bicara hal yang tidak perlu, tidur di luar!”


Farel yang masih menghindar dari pukulan Raisya segera berhenti bergerak, mata laki-laki itu terlihat melotot dengan tatapan tidak terima.


“Hay, apa maksudmu, kau tidak suka melakukan itu di kamar?”


“Apa maksudmu?”

__ADS_1


“Kau bilang aku tidur di luar, artinya kau ingin kita berdua melakukan itu di luar kamarkan?” Farel menaik turunkan alisnya, berniat menggoda Raisya.


Raisya semakin geram, laki-laki satu ini memang luar biasa bebalnya. “Sudahlah, berbicara denganmu membuatku mual.”


Farel mengerjapkan mata, mendengar kata mual membuat otaknya memikirkan yang iya, iya.


“Kau hamil?”


“Apa maksudmu?”


“Bukankah gejala orang hamil salah satunya itu mual?”


Raisya terdiam, menatap tercengang wajah Farel yang terlihat berbinar. “Kau gila!” Rasya segera membuang muka, enggan menatap kembali wajah Farel yang hanya menguji kesabarannya saja.


“Hay, aku bertanya dengan serius? Kau hamil?”


Raisya semakin memejamkan matanya, mengepalkan tangan kuat untuk menambah kesabaran yang sudah sangat menipis itu.


“Terserah!”


“Apa maksudmu terserah? Pak, ayo kita ke rumah sakit.” Farel memerintah supir dengan wajah penuh binar.


Raisya yang mendengar perintah itu memutar kepala, menatap Farel dengan rahang semakin mengetat.


“Farel, jangan lakukan itu. Ku mohon kembalilah normal.” Raisya mengiba dengan wajaha yang meringis dan kedua tangan yang ditangkupkan di depan dada.


****


Max menatap hamparan salju dengan senyum lebar. Mata laki-laki itu terlihat berkilat, seakan merencanakan sesuatu yang sudah luar biasa ia rancang.


“Kau sudah melakukan semuanya kan?” Max menatap Roy yang menunduk.


Roy mendongak, menatap Max yang terlihat menatap sekliling dengan mata yang berkilat.


“Sudah Tuan, sesuai dengan permintaan anda.”


“Bagus, kita akan buat wanita itu bahagia, merasa rencannya telah sempurna, dan ketika sudah waktunya, mari kita hancurkan wanita itu dalam sekejap.” Max menyeringai.


Roy yang mendengarkan penuturan Max merinding. Atasannya memang luar biasa dalam hal kekejaman. Jangan pernah meremehkan seorang yang sakit hati, bahkan orang itu akan melakukan segala cara untuk menghancurkan siapa pun yang menghalanginya dan orang yang menjadi penyebab kehancurannya.

__ADS_1


__ADS_2