Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
123. Fakta baru


__ADS_3

“Ricard!” Farel memanggil asistennya yang berdiri di samping sofa yang ia duduki.



Ricard dengan cepat membungkukan tubuh, menyerahkan map yag sudah ia siapkan jauh-jauh hari.



Tamara yang melihat itu merasakan firasat buruk. Entah apa itu, terlebih melihat wajah penuh binar Farel.


Farel dengan gaya arogant melempar map berwarna kuning di atas meja. Tamara yang melihat tindakan tidak sopan sang anak mendengus, tapi tangannya tetap mengambil dokumen itu.



Mata tuanya membaca dengan seksama, wajah itu tetap terlihat biasa. Namun, setelah beberapa saat terlihat wajah penuh keterkejutan di sana.


“Kau!” Tamara menatap tidak percaya Farel.


Bagaiamana bisa anaknya mendapatkan semua ini? apa semua sudah terbongkar?



Farel terkekeh. Ia juga merasa terkejut saat mendapatkan fakta itu, tenyata perlakuan buruk yang ia terima itu ada alasannya, dan semua itu karena keluarga Lawson.



Tamara menunduk, ingatan tentang suaminya yang terbaring dengan keadaan sangat memperihatinkan membuat ia tidak leluasa.


“Kenapa kau bertahan dengan keluarga yang seperti ini? kenapa tidak kau biarkan aku mati di tangan mereka agar kalian terbebas?” Farel bertanya dengan nada tajam.


Tamara membuang muka. Semua perlakuan buruk yang diberikannya dulu hanya untuk menyelamtkan sang anak. Tidak ada orang tua yang menginginkan kehancuran sang anak. Bahkan, ia lebih memilih menjadi sosok ibu buruk, dibanding membiarkan anak satu-satunya itu meregang nyawa akibat ketidak patuhannya.


“Maafkan aku.” Tamara membuang muka. Wanita itu merasa tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Semua yang dilakukannya sudah terpampang jelas di dalan sana.


Farel terkekeh, ingatan tentang semua perlakuan buruk yang diterimanya saat kecil menari di otak. Membuat rasa sesak, kecewa, dan marah bercampur jadi satu. Amarah menguap di dadanya, mengingat bagaiamana keluarga Lawson dengan liciknya membuat anak kecil menanggung penderitaan yang tidak pantas.


“Apa maafmu bis membuat luka di sini sembuh?” Farel menunjuk dada kirinya.


Siapa bilang maaf bisa menyelesaikan semuanya. Tidak, kata maaf saja tidak cukup. Kita memerlukan sebuah bentuk pertanggung jawaban atas luka yang di berikan seseorang. Jika dengan hanya meminta maaf semua selesai, maka semua orang akan dengan mudahnya saling menyakiti, dan yang pasti nilai maaf itu sendiri akan tidak berarti sama sekali.

__ADS_1



Tamara membuang muka, ia sadar, apa yang dilakukannya sudah sangat keterlaluan. Tapi, ia tidak bisa apa-apa. Ia terlalu pengecut. Takut kehilangan anak membuat ia menutup mata.


“Kau ingat, kau dengan tega memaksa anak kecil seprti ku untuk menelan kecoak hidup-hidpu!”


Tamara diam, ingatannya kembali pada masa ia yang memaksa Farel memakan kecoak itu. Ia ingat dengan betul, mereka sengaja membuat ia memilih. Antara memberi racun, atau memberikan serangga menjijikan itu.


“Kau ingat, dengan teganya kau membiarkan para pelayan menyiksaku?”


Lagi-lagi ingatan tentang kekejamannya menyeruak. Ia masih ingat betul, tidak pernah melupakan sama sekali. Nyawa Farel selalu terancam jika ia tidak melakukan semua itu.


“Makanan busuk, tamparan, cacian, selalu ku terima!”


Tamara menitikan air mata. Paksaan keluarga lawson membuat ia harus melakukan semuanya.


“Dan yang paling parah, kau membiarkan anakmu sendiri melihat hal yang tidak senonoh di depan mata.” Farel menggeram, bahkan tangan laki-laki tu terkepal kuat. Ingatan tentang kejadian paling buruk di hidupnya menyeruak, membuat akal sehatnya seakan menghilang.


Tamar semakin tergugu, terdengar tangisan pilu yang menyayat dari wanita paruh baya itu. ingatan tentang kematian anak bungsunya yang mengenaskan membuat ia hancur. Bukan hanya itu, bahkan belum sempat ia berkabung, ia harus mendapatkan ancaman. Ancaman yang membuat akal sehatnya hilang.




Mungkin awal cerita semua akan menghujatnya, tapi adakah diantara kalian yang berpikir perilaku kejamnya terlihat tidak manusiawi dan tidak masuk akal. Sekejam-kejamnya orang tua, mereka tidak akan melakukan hal buruk, kecuali untuk keselamatan sang anak.


“Maaf,” Tamara berucap dengan lirih di sela-sela tangisannya.


Farel membuang muka. Fakta tentang ancaman yang diberikan keluarga sang ayah untuk menyakiti hatinya, membuat ia teroncang. Selam ini, ia sudah memupuk kebencian atas perilaku kedua orang tuanya, dan fakta ini sungguh sulit ia terima.



Tamara semakin menangis. Bahkan setelah kepergian Farel, ia tetap tidak bebas. Ia masih harus mengikuti segala perintah keluarga bia\*ab itu. Dan sekarang, bukan mengancam keselamatan Farel saja, keselamatan sang suami juga dipertaruhkan saat ini.



Awalnya wanita itu meras lega saat Maria membawa pergi Farel, meskipun ada rasa tidak rela, tapi ia lebih merasa lega. Setidakyna, ia tidak akan melihat nyawa Farel yang terancam sewaktu-waktu. Namun, sepertinya rasa lega yang ia dapatkan tidak bertahan lama. Mereka juga mengincar kebahagaian sang anak.


“Maaf...” lagi-lagi hanya itu yang bisa dikatakan Tamara.

__ADS_1


“Kenapa kalian hanya membenciku?” Farel bertanya dnegan nafas memburu.


Tamra terdiam, bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya. Sedangkan Farel yang melihat keterdiaman wanita paruh baya itu mendengus kesal.


“Katakan!”


Tamra menghela nafas, matanya menatap sekitar dengan lidah yang menjilat bibir atasnya yang terasa kering.


“Semua karena harta.” Jeda sejenak, terlihat wanita paruh baya itu berusaha menekan rasa bersalahanya.


“Mereka menginginkan harta Wiratman, bahkan aku sudah menyerahkan seluruh warisanku untu mereka agar tidak mengusikmu lagi. Tapi mereka tidak puas, mereka ingin menguasai seluruhnya. Mereka menginginkan kematianmu, agar seluruh warisan jatuh ke tanganku.” Tamara mengusap pipinya yang semakin basah.


Wanita itu terlalu lama menahan semua perasaanya. Membuat ibu kandung membencinya, dan kehilangan kesempatan untuk memberikan kasih sayang untuk sang anak. Meskipun ia akui, sempat merasa kesal saat mengandung Farel, tapi ia tetap mencintai sang anak.



Mungkin semua tidak akan berubah, Farel tidak akan pernah bisa menermanya lagi. Tak apa, ia merasa tidak pantas jika anaknya memaafkan dirinya yang gagal menjadi seorang ibu secepat itu. Setidaknya, akan ia tunggu, Farel menghancurkan hidupnya. Biarlah hidupnya hancur di tangan sang anak, dari pada hancur di tangan keluarga Lawson yang biad\*b.


“Bagaiaman kabar laki-laki itu?” Farel bertanya dengan nada bergetar.


Tamara menatap Farel dengan tatapan sendu. Ia paham siapa yang dimaksud laki-laki itu.


“Keadaannya tidak baik-baik saja. Setelah kau pergi bersama Ibu, ayahmu itu selalu memikirkan keadaanmu, tapi dia tidak bisa bertindak apa pun.” Tamara menutup kedua wajahnya.


Farel terdiam, ia ingat. Ayahnya memang tidak pernah melakukan kekerasan fisik, tapi ayahnya juga tidak pernah membelanya saat ia menerima kekerasan. Lakai-laki paruh baya itu tetap diam.


“Tak apa, kau tidak perlu cemas memikirkannya. Aku akan berusaha menyelamatkan dia dari tangan Lawson,” Tamara berucap dengan serius.


Farel menatap datar Tamara. Ia tahu, ayahnya selama bebebrapa tahun ini sudah tidak sadarkan diri, tapi yang membuatnya kaget, ternyata selama ini ayahnya ada dicengkraman keluarganya sendiri. Benar-benar keluarga gila!”


“Aku akan.....”


______


Selamat membaca,,, jangan kupa tinggalkan jejak ya kk,,,


Aku double up, sebagai permintaan maaf gara2 sering telat up, dan sering bikin kalian merasa digantung


Semoga kalian suka part ini

__ADS_1


__ADS_2