Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
114. Tamparan


__ADS_3

Raisya terdiam, mata hijaunya menatap Maria yang terlihat sangat serius di depannya itu. Berbagai pemikiran berkecamuk di kepalanya, membuat tubuhnya terasa semakin lemas.


Maria yang melihat wajah pucat Raisya merasa cemas, dengan lembut wanita tua itu memanggil. “Nak?”


Raisya hanya menunduk, rasa pusing tiba-tiba menyerangnya, membuat telinga berdengung dan pandangan semakin buram. Tanpa menunggu lama, wanita cantik itu ambruk seketika.


Mari yang melihat Raisya segera bangkit, dan menegakkan tubuh wanita muda itu yang terkulai. Sedangkan sang Asisten terlihat sama bingungnya.


“Nyonya, biar saya angkat Nona Raisya.” Tawar asisten itu.


Maria mendongak, dan mengangguk dengan cepat. Berbagai perasaan memenuhi rongga hatinya. Dari takut, cemas, dan khawatir.



Di dalam mobil hanya terlihat wajah-wajah tegang. Maria yang terus mengelus rambut coklat Raisya, dan asisten mudanya yang mempercepat laju mobil.


Ckit!


“Nyonya, biar saya angkat Nona Raisya.”


Maria yang mendengar itu segar mengangguk, membiarkan sang Asisten mengangkat tubuh Raisya dan membawanya ke dalam rumah sakit.



Para staf yang melihat kedatangan sang pemilik terkejut, terlebih melihat wajah penuh kekhawatiran wanita tua itu.


“Nyonya, apa yang terjadi?” direktur rumah sakit bertanya saat melihat Maria.


Maria yang melihat kedatangan stafnya itu menghentikan langkah kakinya, dengan cepat menjelaskan situasi yang terjadi saat ini. “Cepat tangani Cucu Menantuku, aku ingin yang terbaik.”



Direktur itu terkejut, dengan cepat memberikan kode untuk beberapa bawahannya agar menyiapkan segala kebutuhan dengan lengkap, nyaman, dan yang pasti tidak ceroboh.


“Baik Nyonya, sebaiknya anda Istirahat di tempat khusus.” Direktur itu memberikan usul, mengingat waktu yang menunjukan tengah malam itu.


Mari yang mendengar usulan itu menatap tajam, bagaiamana bisa ia beristirahat, sedangkan di dalam sana Cucu menantunya sedang dalam keadaan lemah.



Direktur yang melihat tatapan itu meneguk ludah, merasa gugup dan mencoba berpikir apa kesalahannya.


“Sebaiknya kau cepat tangani Cucuku, jangan biarkan satu kesalahan atau kelalaianmu membuat kesehatan cucuku terancam.” Maria menatap tajam lawan bicarannya.


“Maafkan saya Nyonya.” Direktur iu membungkukan tubuh beberapa kali. Kemudian pamit pergi untuk menyelesaikan segala tugasnya.


*****

__ADS_1


Farel melangkah dengan aura dinginnya. Matahari belum benar-benar terbit, tapi laki-laki itu dengan tidak tahu perasaan membuat kehebohan di rumah sakit yang terlihat tenang itu.


“Di mana ruangan Nyonya Wiratman?” Farel menatap tajam penjaga resepsionis.


“Beliau berada di ruang VVVIP 122 Tuan.”


Tanpa mengucapkan terimakasih, Farel meninggalkan pegawai itu yang terlihat ketakutan. Yang dipikirkan laki-laki itu saat ini hanyalah keadaan sang Istri. Rasa takut akan sang Istri yang memiliki penyakit serius, atau mendapatkan serangan fisik dari Maria membuat tangannya semakin terkepal.



Langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu. Mengeluarkan nafas berulang kali seakan mengeluarkan luapan emosi, Farel segera membuka pintunya.



Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Maria yang terlihat duduk sambil memegang tangan ramping Raisya dengan mata yang menatap datar.


“Apa yang kau lakukan terhadap Istriku?” Farel bertanya dengan nada datar dan tajam.


Rasa hormatnya menghilang saat melihat keadaan lemah sang Istri. Ingatan tentang bagaiamana sang Nenek lebih percaya dengan wanita ular itu membuat emosinya benar-benar tidak terkendalikan.



Maria yang menatap lurus Raisya memutar kepalnya, mencari suara dingin dan tajam yang tidak asing lagi untuknya. Melihat kemarahan sang cucu semakin membuat Maria ingin mencincang Farel.



Plak!


“Itu pelajaran untuk cucu kurang ajar sepertimu!”


Plak!


“Itu pelajaran untuk laki-laki-baj*ngan sepertimu!”


Farel terdiam, dua tamparan, dan dua-duanya ia tidak bisa menghindar. Manik coklatnya menajam, menatap Maria yang menatapnya dengan mata yang memerah hebat.



Amarah yang hendak di keluarkan Farel seketika hilang saat melihat tubuh tua Maria yang ambruk dengan wajah yang sudah berderai air mata. Kebingungan tiba-tiba melanda hatinya. Sebenarnya apa yang terjadi?


Farel mencoba menyentuh bahu yang bergoncang hebat itu. “Nek__” namun, tepisan kasar ia terima.


Farel dengan nanar menatap tangan kanannya, matanya terlihat kosong. Terlepas rasa kesalnya terhadapa sikap Maria yang telah menghina Raisya, dan lebih mempercayai wanita ular itu, ternyata saat Maria menolak sentuhannya ia merasa sakit.


“Jangan sentuh saya, bukankah anda sudah memilih untuk meninggalkan wanita tua yang merawatmu ini?” Maria bangkit. Wajahnya terlihat mengeras, bahkan bagi siapa pun akan terkejut melihat perubahan yang terbilang sangat cepat itu.


Farel tercekat, melihat wajah Maria membuat laki-laki itu tidak bisa bernafas atau pun mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


“Pergilah!” Maria berujar dengan datar.


Farel yang mendengar itu menatap Maria tajam. Pergi? Yang artinya ia harus meninggalkan Raisya bersama Maria? Itu tidak akan ia biarakan.


“Tidak, Farel tetap akan di sini. Di mana Istri Farel berada, di situ harus ada Farel.” Farel berucap dengan tegas.


Maria terkekeh sinis. Mata tuanya menatap remeh Farel. Meskipun Farel terkenal bengis dan licik, tapi kebengisan dan kelicikannya masih tidak ada apa-apanya dibanding dirinya itu.


“Istri?” Maria bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya.


Rahang Farel mengeras, ia merasa seperti dipermainkan oleh wanita tua itu. “Iya, dia Istriku.” Farel beranjak pergi, hendak menyentuh tangan lema Raisya sebagai bentuk kepemilikannya. Namun, cekalan di tangan kananya membuat langkahnya terhenti.


“Jika memang dia Istrimu, apa kau sudah melamarnya dengan layak. Menikahi wanita itu dengan normal, dan memberikan kebahagaian tanpa paksaan?”


Deg!


Farel menegang. Perkataan yang memang benar adanya itu menamparnya talak. Sedangkan Maria yang melihat keterdiamana Farel tertawa.


“Lepaskan wanita itu.” Maria menatap serius Farel.


Netra coklat Farel menajam, menatap Maria penuh peringatan, seakan mengingatkan wanita tua itu menjaga batasannya.


“Kenapa? Kau tidak terima?”


“Mengapa aku harus melepaskan Istriku?”


“Ha ha ha, apa kau sudah menikahi wanita itu dengan benar?”


Farel terdiam. Ingatan tentang ancaman sebelum Raisya menerima pernikahan mereka membuat laki-laki itu kehilangan bagaiamana cara berbicara dan melumpuhkan lawan.


“Kau benar-benar membuat Nenek kecewa.” Maria menundukkan kepala, bergumam dengan sangat lirih.


Farel mendongak, laki-laki itu bingung dengan sikap Maria yang terkesan berubah-ubah itu.


“Biarkan wanita itu pergi.”


“Tidak, tidak akan ku biarkan. Dia Istriku, dan tempatnya di sisiku.” Farel menajam.


“Dengarkan__”


“Nek, jika Nenek ingin aku memilih antara Raisya dan Nenek, jujur itu terlalu berat untukku. Tapi aku memang harus memilih. Maafkan aku, aku akan memilih Raisya, meskipun harus kehilangan Nenek.” Farel berucap dengan serius. Laki-laki itu menatap Maria penuh keputus asaan. Di hadapkan dengan dua orang yang sangat di cintainya, membuat laki-laki itu hancur.


______


Terimakasih Sudah membaca,,, jangan lupa vote, komen, dan like ya,,,


Ada yang minta visual tokoh wanita simpanan???

__ADS_1


Jujur ya, Author gak nemu visual yang bener² cocok buat mereka,, mungkin kalian punya gambaran siapa yang cocok, boleh komen 😍😍😍


__ADS_2