Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
50.Rencana


__ADS_3

Jesika memasuki Mansion besar itu dengan alis megkerut. Suasana yang mencekam membuat bulu kuduknya berdiri. Sebeneranya apa yang terjadi?



Mata sipitnya memandang para pelayan menunduk ketakutan. Kakinya dengan cepat melangkah mendekat untuk mempertanyakan kejanggalan yang di rasakanya.


“Maaf, ini kenapa ya, kok suasana di Mansion jadi aneh?” Jesika bertanya dengan pelayan wanita yang memakai jepit rambut berwarna biru.


“Itu Dokter, sepertinya Nyonya dan Tuan sedang bertengakar.”


Mata Jesika melotot mendengar penuturan Pelayan itu. Apa yang terjadi? Bukankah hubungan atasanya baik-baik saja.


“Oh, terimakasih. Kalo boleh tahu di mana Nyonya sekarang?”


“Nyonya diunci di dalam kamar.”


Jesika menatap tidak percaya mendengar penuturan Pelayan itu. Sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi.


“terimakasih infonya.” Jesika pergi meninggalkan pelayan itu.


Kakinya dengan cepat melangkah menuju kamar pribadinya. Ia harus segera melakukan sesuatu.


*****


Raisya menagis di dalam selimut tebal itu. Ia sendiri, terkunci dalam kamar mewah dengan segela rasa sakit di dadanya.



Keinginan untuk bunuh diri mulai timbul, tapi mengingat Jhonatan yang sudah sadar membuatnya tersadar. Sekarang bukan waktunya untuk bersedih meratapi nasib, ia harus bangkit.



Sedangkan di sisi lain, terlihat Farel yang membanting seluruh barang mahal yang tertata apik di ruang kerjanya. Ruang kerja yng awalnya terlihat rapi berubah menjadi mengerikan. Tetesan darah terlihat dari sela-sela jarinya. Ia menghancurkan barang-barang itu menggunakan tanganya sendiri.



Apakah selama ini ia tidak berarti sedikit pun bagi Raisya. Kenapa wanita itu dengan mudahnya meminta pergi dari kehidupanya. Lebih baik ia mengahadapi rasa benci dan caci maki wanita itu, dari pada kepergianya.



Jika kebencian, ia akan berusaha sekeras tenaga untuk meluluhkanya kembali. Jika dengan cacian ia akan mencoba menebalkan hatinya dari rasa sakit. Tapi jika wanita itu pergi dari hidupnya, apa yang harus ia lakukan?


“Argahhhh.” Farel memukul guci besar di sudut ruangan itu. Tanganya semakin terluka parah, mengeluarkan cairan merah yang kental dan banyak.


“Kenapa cinta sesakit ini.” Farel menjambak rabutnya frustasi.


Tubuh kekar itu meluruh, jatuh di anatara serpihan kaca yang langsung menembus kulitnya. Tubuhnya mengeluarkan banyak darah, tapi tak sedikit pun laki-laki itu merasa kesaitan.


“Aku bersalah, tapi jangan pernah kau memiliki niat sedikit pun untuk meninggalkan ku.” Farel berteriak histeris. Matanya menatap seluruh ruangan yang hancur itu seperti orang gila.


Rasa takut kehilangan Raisya membuncah, membuatnya kehilangan akalnya. Dengan cepat ia bangkit, menghiraukan seluruh tubuhnya yang memiliki luka cukup serius.

__ADS_1


Brak!


Para pelayan yang menunggu di depan ruang kerja berjengit kaget mendengar pintu yang terbuka keras. Lebih tercengang lagi melihat Farel yang keluar dengan tubuh penuh darah dan serpihan kaca yang menempel. Mereka mengernyit ngeri melihatnya.



Farel berdiri menjulang dengan tangan yang memegang sisi pintu, mencoba mencari kekuatan untuk berdiri. Kehilangan banyak darah membuat penglihatannya sedikit buram dan kepalamya berkunang.



Pria paruh baya yang menjadi kepala pelayan melihat keadaan Farel segera mendekat, berusaha membantu atasanya itu untuk berdiri.


“Tuan_”


“Menyingkir.” Sentak Farel.


Kepala pelayan itu tersentak mendapat penolakan Farel. “Anda terluka Tuan, biarkan saya membantu anda untuk berdiri.” Kepala pelayan menatap sendu Farel.


Farel menutup matanya merasa pendengaranya berdengung kencang. Bahkan tubunya semaki goyah termakan oleh kegelapan, kemudin terjatuh. Namun, sebelum benar-benar terjatuh ia bergumam dengan jelas.


“Raisya.”


Para pelayan yang melihat Farel yang tidak sadarkan diri menjerit ketakutan. Kepala pelayan berusaha membuat mereka tanang dan meminta bantuan pelayan pria yang bekerja di dalam mansion besar itu.


“Ayo kita bawa tuan masuk ke kamar. Dan kau, panggilkan Dokter Jesika.”


*****


“Maafkan saya Nyonya, bisakah anda sedikit memberikan tempat untuk Tuan.” Kepala pelayan bertanya dengan menundukkan kepalanya.


Raisya yang terkejut segera bergeser. Meskipun ia membenci perlakuan Farel, tapi hatinya tetap sakit melihat keadaan Farel saat ini.


“Maaf Nyonya, bisakah anda mengganti pakaian Tuan.”


Raisya menatap kepala pelayan dengan mengangkat sebelah alisnya.


“Mengapa harus aku? Kau laki-laki, dan kau yang lebih pantas menggantikan pakaian Farel.” Raisya membuang muka.


Kepala pelayan itu terlihat kikuk mendengar penuturan Raisya. Mereka semua tahu hubungan Raisya dan Farel sudah seperti hubungan suami istri, jadi mereka menganggap yang lebih pantas menggantikan pakaian Farel, ya Raisya.


“Maafkan saya Nyonya tapi Tuan tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk menyentuh tubuhnya mau pun barang-barang penting miliknya.”


Raisya tercengan mendengar penuturan mereka.


“Maaf Nyonya, kita pamit undur diri. Sebentar lagi Dokter Jesika akan membantu mengobati luka Tuan.”


Mereka semua pergi, meninggalkan Rasiya yang tidak bisa berkata apa pun. Matanya beralih menatap tubuh Farel yang terlihat menyedihkan.


“Seharusnya aku yang seperti ini bukan kau.” Raisya mencibir kelakuan Farel.


Ia bangkit untuk membantu membuka pakaiana Frael yang sudah tidak layak itu. Wajahanya terlihat menahan ringisan setiap mencabut benda tajam yang menempel pada tubuh kekar itu. Darah segar membasahi tanganya.

__ADS_1


“Aku melakuakan semua ini bukan berarti aku memaafkanmu. Semua ini bentuk keperdulianku sesama makhluk hidup.”


Raisya bangkit membawa pakaian yang tidak layak itu ke dalam tong sampah. Ia membuang seluruh pakaian itu tanpa beban.



Ia masih merasakan sakit atas perlakuan kejam Farel, tapi melihat keadaan Farel saat ini entah mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya.


Tok... Tok...


Raisya menatap pintu kamarnya yang terketuk. Akinya dengan santa melangkah mendekati pintu untuk membukanya.


Ceklek!


Jesika menatap Raisya cemas. Raisya yang melihat tatatapan itu tidak bisa meneymbunyikan kepedihannya. Mata hijaunya tiba-tiba memerah, tapi sekuat tenaga ia menahannya.


“Cepat kau periksa laki-laki itu.” Raisya melenggang pergi menuju balkon kamar. Membiarkan Jeska memasuki kamarnya lebih dalam untu memeriksa keadaan Farel.


Jesika menatap sendu punggung Raisya. Setelah melihat fakta baru tentang dia entah mengapa Jesika semakin meras tak tega dengan kedua pasangan dengan hubungan rumit itu, Raisya dan Farel.



Mencoba menahan semua yang bergelut di otaknya, Jesika mendekat ke arah ranjang. Tanganya menyentuh luka-luka yang ada di tubuh kekar itu. Dalam hati, wanita bermata sipit itu menghela nafas lega, Farel tidak memiliki luka serius kecuali di tangan kananya.



Raisya menatap kosong depan, suara langkah kaki dari belakang tubuhnya tidak ia hiraukan.


“Nyonya.”


Hening, Raisya tidak memiliki keinginan untuk menatap lawan bicaranya. Jesika yang melihat respon Raisya menghembuskan nafas gusar. Setelah melihat keadaan Farel, wanita bermata sipit itu lebih memahami kondisi mereka. Nyatanya mereka, Raisya dan Farel hanyalah dua manusi yang memiliki luka masing-masing.


Jesika mendekat, membisikkan sesauatu yang membuat Raisya tertegun dan membalikkan tubuhnya untuk menatap lurus Jesika.


“Dia benar-benar berselingkuh. Dia Salsha Dawal, istri sah dari Tuan Farel memiliki hubungan gelap dengan patner modelnya, bahkan hubungan mereka sudah sampai tahap ranjang.”


_________


Akhirnya tahu juga dia yang dimaksud Raisya sama Jesika,,,


Kaget gk, ternyata dia yang jadi pembahasan dari awal itu Salsha?


Gimana?


Apakah Raisya akan memebongkar penghianatan Salsha, atau memebiarkanya saja seakan² tidak tahu apa²?


Ada yang kasihan sama Farel?


Atau seneng lihat Farel kayak gitu?


Terimakasih sudah membaca 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2