
Raisya menatap tajam Farel yang dengan kurang ajaranya mencekoki mulutnya dengan cairan bening di dalam botol kecil itu.
Farel yang melihat raut wajah Raisya menatapnya dengan dingin, masih dengan tangan yang berusaha membuka celananya, Farel menajamkan matanya.
“Apa yang kau berikan padaku?” Raisya berteriak panik. Rasa takut mulai menjalar di sekujur tubuhnya.
Bayangan Farel yang memasukan cairan aneh di dalam tubuhnya, dan membuat ia tidak sadarkan diri, bahkan terangsang memenuhi pikirannya.
Farel hanya menatap datar Raisya. Tangan yang berusaha melepaskan celananya terhenti. Matanya menyorot Raisya dengan tatapan penuh arti. Selang beberapa detik, laki-laki itu menghembuskan nafas panjang dan menubrukkan tubuhnya di atas kasur, tepat di samping Raisya.
Raisya yang melihat tindakan Farel yang sangat tiba-tiba memundurkan tubuh takut. Pikirannya tentang cairan yang masuk ke tenggorokan membuatnya menatap Farel horor.
Farel yang tengkurap dengan bertelanjang dada segera menyampingkan kepalanya untuk memudahkan laki-laki itu menatap Raisya.
“Menurutmu?” Farel mengangkat sebelah alisnya.
“Kau memberikanku obat aneh, semacam obat perangsang?” Raisya memeluk tubuhnya ketakutan.
Farel tertawa kencang, kemudian menghentikan tawanya. “Apa itu yang kau pikirkan?”
“Apa maksudmu?” Raisya memcingkan mata.
“Aku mencintaimu, jadi aku tidak akan bertindak kurang ajar seperti itu.” Farel bangkit mensejajarkan tubuhnya untuk menghadap Raisya.
Raisya mengernyit, otaknya berusha mencerna maksud dari perkataan Farel.
“Kau, tidak memberikanku obat macam-macam?”
“Tidak, aku tidak memberimu obat macam-macam yang akan membahayakan tubuhmu.” Farel berucap dengan serius.
__ADS_1
Ya, laki-laki itu tidak akan membrikan obat seperti itu. Mengingat tubuh Raisya yang memiliki alergi obat. Laki-laki itu terlalu trauma melihat kedaan Raisya yang kritis.
“Terus, apa maksud perkataanmu tadi, dan mengapa kau bertingkah seakan ingin melecehkanku. Dan apa juga dengan tindakan melepas pakaianmu itu?” Raisya bertanya dengan sengit.
Farel mengangkat bibirnya sebelah, menambah kesan misterius sekaligus seksi.
“Kenapa? Kau takut?”
“Siapa wanita yang tidak akan takut kalau mau dilecehkan? Hah?” Raisya menatap garang Farel.
“Oh, begitu? Bukankah kau tadi bilang kalau kau pelacur seorang Farel Wiratman? Bukankah seharusnya seorang pela*ur sudah terbiasa melakukan hal seperti itu?” Farel memicingkan matanya. Laki-laki itu sengaja memancing Raisya dengan mengulang perkataan wanita itu lagi.
“Kau___ brengs*k.” Raisya menggeram marah. Perempuan itu merasa malu karena dengan mudahnya mengakui staus hina itu.
“Jangan mengumpat.” Farel menyipitkan matanya merasa tidak suka dengan umpatan yang dikeluarkan Raisya.
“Terserah aku. Ini mulutku, dan aku punya hak sepenuhnya untuk mengendalikan segala sesuatu dari bibirku.” Raisya mengalihkan pandanganya, enggan menatap wajah Farel yang seakan-akan menertawakannya itu.
“Oh, begitu. Kalau begitu kita lihat apa kau masih bisa mengendalikan bibir manismu itu setelah ini.” Farel dengan cepat menyambar wajah Raisya, memberikan kecupan singkat.
Raisya melotot marah. Bagaiaman bisa laki-laki sinting itu bersikap semuanya.
“Apa?” Farel menatap Raisya menantang.
“Sudahlah, berbicara denganmu membuat ku capek.”
“Oh, padahal kita belum melakukan apa pun, tapi kau sudah bilang capek.” Farel mengerlingkan mata genit.
Raisaya menggertakkan giginya. Wanita tu merasa setiap berbicara dengan Farel, ia selalu menggunakan urat.
“Oh, ya. Kalau cairan yang kau minumkan itu tidak memiliki efek apa pun, terus cairan apa itu?”
“Oh, itu. Itu hanya air putih biasa.” Farel menggaruk tengkuk.
Raisya melotot. Air putih? Dan laki-laki itu bertingkah seakan cairan itu cairan yang sangat berbahaya.
“Jadi kau mempermainkanku?” Raisya melotot tajam. Rasa takut yang sempat membelenggu hatinya menguap dalam sekejap.
__ADS_1
“Aku__”
“Aku apa, hah? Dan apa-apa_an tadi, kenapa kau melepaskan pakaianmu seperti itu di depanku?”
“Aku membuka pakaian karena pakaianku penuh keringat. Kau tahu, aku mencarimu seperti orang gila, dan saat bertemu, kau malah bermesraan dengan laki-laki asing itu.” Farel menggeram di akhir kalimatnya.
Raisya menatap Farel dengan tatapan rumit. “Kau tahu, aku tidak melakukan apa pun dengan laki-laki itu. bahkan aku tidak tahu siapa dia. Kami bertemu pun atas dasar ketidak sengajaan. Dia hanya berniat memebantuku yang hampir terjatuh, bahkan kakiku juga terluka akibat tersandung batu.” Raisya menunjuk jempol kakinya yag terlihat memar, bahkan berwarna biru.
Farel yang mendengar penuturan Raisya merasa sangat bersalah, terlebih netra coklatnya yang melihat luka di jari jempol Raisya. Dengan pelan tangan kekarnya menyentuh jempol itu.
“Maafkan aku, apa ini sakit.” Farel mengelus jempol itu lembut.
Raisya menahan ringisannya. Sumpah demi apa pun, jempolnya terasa sangat nyeri, terlebih mendapat sentuhan dari Farel. Meskipun sentuhan itu tergolong lembut, tetap saja terasa menyakitkan.
“Tidak apa-apa. Ada yang lebih sakit dari ini.” Raisya bergumam pelan di akhir kalimat. Wanita itu berharap Farel tidak mendengar gumaman terakhirnya. Namun, Farel yang memang memiliki pendengaran yang cukup sensitif, mendengar gumaman itu dengan jelas. Terlebih jarak di antara mereka yang sangat dekat.
Farel mendongak, tangan yang awalnya memberikan elusan terhenti. Mata coklatnya menatap wajah Raisya yang terlihat sendu.
“Apa yang lebih sakit dari ini? bicaralah! Aku akan membantumu untuk mencarikan obat agar kau tidak merasakan rasa sakit.” Farel berucap dengan serius.
Raisay terkejut. Mendengar penuturan Farel, membuatnya tersadar jika lak-laki itu mendengar guamamannya.
“Tidak, bukan apa-apa.” Rasya mengalihkan pandangannya.
“Raisya, jujurlah padaku. Katakan apa pun yang membuatmu kesakitan. Bukankah, kau pernah bilang, kalau sebuah hubungan itu bisa terjalin lantaran sebuah kejujuran dan kepercayan. Aku serius ingin menjalin hubungan dengan mu, terlepas bagaiamana kita memulai hubungan ini, tapi aku serius.” Farel menggengam kedua tangan Raisya lembut.
Raisya terdiam, selang beberap detik helaan nafas panjang wanita itu keluarkan.
“Saat kau meninggalkanku di jalan, dan saat kau mengatakanku seakan aku wanita murahan,” Raisya berucap dengan nada datar. Namun, di dalam matanya tersimpan beribu emosi.
Nafas Farel tercekat. Ia merasa menjadi laki-laki yang breng**k, sialan, pecundang, dan masih banyak umpatan buruk lagi untuk dirinya sendiri. Jika seperti ini, apa masih pantas ia berharap mendapatkan hati Raisya?
“Maafkan aku, aku bersalah.” Farel menundukkan pandanganya.
Melihat tatapan datar dan terluka Raisya membuatnya ingin memukul wajahnya sendiri. Bahkan kalau bisa akan ia buat dirinya tenggelam dan enggan menatap matahari. Namun, ia masih ingin bersama Raisya. Jika ia membuat dirinya tidak bisa lagi menatap matahari, artinya Raisya akan pergi dan hilang dari jangkauannya.
“Sudahlah, semua sudah berlalu.” Raisya membuang pandanganya. Wajah bersalah Farel membuat hatinya tersentuh. Namun, sekuat tenaga ia mencoba menghalau perasanya. Kini ia harus mengambil keputusan tegas, semua itu demi kenyamanan perasaanya.
__ADS_1
“Tidak, jangan seperti itu. hukum aku. Pukul aku. Apa pun itu, lakukanlah semua yang kau mau untuk menghukumku. Bahkan kau bisa menampar mulut kurang ajarku yang telah mengeluarkan kata-kata laknat itu. Dan juga, kau bisa memukul kakiku yang dengan kurang ajarnya meninggalkanmu di tempat sepi.” Farel menagkupkan kedua tangannya memohon. Matanya menyiratkan banyak luka. Luka akibat tindakan yang ia ambil, tindakan yang membuat wanita pujaannya merasakan rasa sakit.