Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
74. Pelac*r


__ADS_3

Farel berlari dengan nafas memburu. Menurut informasi dari bawahannya yang sudah ia tempatkan di beberapa rumah, Raisya sedang berada di sektarnya.



Mata coklatnya mengedar, menatap tajam sosok wanita yang terlihat sangat intim dengan laki-laki yang tidak bisa ia lihat wajahnya.



Farel berjalan dengan mengeluarkan hawa dinginya, matanya menatap tajam punggung laki-laki itu yang terlihat merengkuh tubuh Raisya dari belakang.



Rahangnya mengeras, terlebih melihat laki-laki itu semakin menunduk seakan ingin mencium wanitanya. Kesabarannya sudah habis, dengan cepat Farel berlari, tanganya menarik kasar tubuh Raisya yang terlihat terkejut dengan tindakannya itu.



Raisya menahan nafas, mendapatkan tarikan kuat di tubuhnya, kemudian rengkuahn yang sanggup membuatnya kesulitan bernafas sungguh membuatnya sesak.



Farel menatap punggung laki-laki itu yang masih tetap mempertahankan posisinya, membelakanginya. Bahkan dorongan yang diberikan Fare saat menarik tubuh Raisya seakan tidak memberikan efek samping untuk laki-laki itu, sosok itu hanya terlihat bergeser sedikit.


“Kau kenapa?” Raisya bertanya denga tangan yang berusaha melepaskan belitan di tubuhnya.


Farel yang berencana untuk memarahi laki-laki itu mengalihkan pandangan. Ia merasa tidak percaya dengan pertanyaan Raiya yang terkesan sedang marah.


“Kau bertanya aku kenapa? Harusnya kau paham mengapa aku seperti ini!” Farel menggeram marah. Kepalanya menunduk kebawah, menatap tajam Raisya dari atas.


Raisya membuka mulut tidak percaya. Apa yang dikatakan laki-laki sinting di depannya ini. Bagiamana bisa laki-laki itu memutar balikkan pertanyannya.


“Dasar sinting. Lepaskan tanganmu, aku harus mengucapkan terimakasih untuk dia.” Raisya mengangkat dagunya, mengarahkan tepat pada posisi laki-laki yang membuat Farel marah. Namun, di sana terlihat kosong, laki-laki itu menghilang, mungkin karena merasa bingung dengan pertengkaran tiba-tiba mereka.


Farel melotot tajam, dadanya menahan amarah melihat Raisya yang terlihat sangat perduli dengan laki-laki tidak jelas itu. Lebih marah lagi mendengar penuturannya yang ingin mengucapkan terimakasih.


Raisya yang melihat tempat itu kosong mendengus kesal. “Lihat, di pergi, bahkan seblum aku sempat mengucapkan terimakasih.” Raisya menggertakkan gigi.


Farel tertawa hambar. “Ucapan terimakasih untuk apa? Apa ucapan itu karena dekapan geratis dari laki-laki sialan itu? hah?” Farel menggertak marah. Laki-laki itu membalikkan tubh Raisya mebuat tubuh Raisya terperangkap dengan punggung menghantam pohon besar dan bahu yang di cengkarm erat Farel.

__ADS_1


Raisya menatap Farel tidak percaya. Bagiaman bisa laki-laki itu berpikir sepicik itu.


“Apa maksud ucapanmu?” Raisya bertanya dengan dingin.


“Kau merasa senang mendapatkan pelukan hangat di pagi-pagi yang dingin ini, itu kan maksud ucapan terimakasih mu. Kalau kau membutuhkan pelukan hangat, larilah kepadaku, jangan mencari kehangatan dari orang lain. Aku masih sanggup melakukan apa pun untukmu, apa pun itu aku sanggup,” Farel berucap dengan serius.


Raisya merasa hatinya berdenyut. Perkataan itu seakan menggambarkan kalau dia adalah wanita murahan, yang akan dengan senang hati mendapatkan kehangatan dari pria asing.


Raisya tertawa hambar. “Oh, jadi itu penilaianmu tentang diriku. Baiklah! Tuan Farel yang terhormat, bukankah anda mengatakan jika akan melakukan apa pun untukku? Jika seperti itu bisakah anda melepasku supaya aku bisa mendapatkan kehangatan dari pria lain yang lebih dari anda?” Raisya menatap Farel dengan wajah berkobar.


Farel menggertakkan giginya. “Raisya tarik kembali kata-katamu.” Laki-laki itu mendesis tajam.


“Ha ha ha, kenapa aku harus menarik kata-kataku. Bukankah anda mengatakan akan melakukan apa pun. Ah, apa anda igin menarik kata-kata anda?”


“Raisya, jangan mempermainkan kesabaranku.” Farel menekan tubuh Raisya semakin kuat. Membuat wanita itu meringis kecil merasakan ranting pohon yang tidak sengaja menusuk punggungnya, bahkan wanita itu yakin punggungnya berdarah.


“Memepermainkan seperti apa? Bukankah hal seperti itu wajar ketika anda menilaiku seperti itu, dalam artian aku tidaklah lebih dari wanita murahan, atau lebih tepatnya pela*ur.” Raisya tersenum sinis.


Wajah Farel menggelap. Mendengar Raisya yang menyebut dirnya sendiri dengan sebutan hina menyulut emosinya.


“Kau benar-benar menguji kesabaranku.”


“Raisya! Cukup! Kalau itu yang kau inginkan, maka kau akan lihat bagaiamana Farel Wiratman bertindak terhadapa pela*ur nakalnya ini.”


“Apa yang akan kau lakukan? Kau akan melecehkanku? Atau kau akan menjualku, atau lebih parah kau akan membuatku di gilir oleh para pengawalmu.” Raiaya menatap tajam Farel. Netra hijau itu terlihat memerah. Dadanya bergetar, antara emosi dan sakit hati.


Farel mengetatkan rahanganya. Dengan sekali hentak ia angkat tubuh Raisya. Memanggul tubuh ramping itu dengan kuat, bahkan mencekal kedua kaki jenjang itu yang terlihat memebrontak untuk di lepaskan.


*****


Max berdiri di depan layar komputer. Matanya menatp beberpa kumpulan gambar yang terlihat jelas di sana. Senyum menjijikan tersungging dari wajah tampan itu.


“Benar-benar pasangan yang menjijikan.” Max mendesis tajam. Mata hitamnya menyorot tajam gambar di dalam layar segi empat itu.


“Roy, kumpulkan semua data-datanya. Jadikan satu file. Jika sudah waktunya, maka kau harus tahu apa yang kau lakukan.”


Roy yang berdiri di depan Max segera menganggukkan kepalanya, kemudain berjalan dengan cepat menuju ruang kerja khusus untuknya.

__ADS_1


Max menatap datar foto kecil yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Tanganya dengan pelan mengambil foto itu. Terihat jelas, makam kecil yang di penuhi bunga di sana.


“Bukankah bagus kalau kita berpura-puar menjadi pahlawan namun, nayatanya kitalah antagonis sebenarnya.” Max tertawa dengan lebar.


Netra hitam itu tertutup saking kuatnya tawa yang di keluarkan. Bahkan terlihat jejak air mata yang merembas keluar dari setiap pojok matanya.



Tangan kekar itu memegang kuat pojok foto, menempelkan di dadanya dengan mata yang masih terpejam.


“Jangan khawatir Nak. Papa akan membalas mereka semua. Papa tidak akan melukai orang yang tidak bersalah. Papa hanya ingin membebaskan korban selanjutnya yang akan bernasib sama seperti kita nanti. Jadi jangan takut dengan Papamu ini, dan tunggu Papa.” Max menatap foto itu sendu.


Ya, lak-laki itu tidak ingin menghancurkan orang yang tidak bersalah. Namun, ia hanya ingin memberikan pelajaran untuk mereka yang dengan sengaja atau pun tidak sengaja telah menorehkan luka, dan menjadi sebab kehancuran dan kehilangannya.


“Raisya, kau gadis baik. Tidak semestinya kau berada di anatara dua manusia menjijikan itu. Aku akan membantumu keluar dari sana.” Max menerawang jauh. Mengingat kembali pertemuan yang sengaja ia atur pagi tadi.


*****


Raisa memberontak dengan kuat. Rasa takut dengan tindakan Farel selanjutnya membuat ia gemetar. Ia sadar tindakan Farel itu termasuk hasil pancingannya. Tapi ia mengatakan semua itu juga keran ucapan kurang ajar pria itu.


Brak!


Farel memabanting tubuh Raisya di atas kasur. Matanya menatap nyalang wanita bermata hijau itu yang terlihat beringsut mundur. Ia terkekeh.


“Kenapa? Kau takut? Di mana keberanianmu saat mengatakan kata-kata sialan itu.” Farel berucap dengan nada datar. Tanganya dengan pelan mengangkat kaosnya, membuat laki-laki itu bertelanjang dada.


Raisya semakin takut. Bayangan tentang pelecehan memenuhi otaknya.


“Apa yang aka kau lakukan, kau akan melecehkanku?” Raisya menata nyalang Farel yang dengan santainya melepas pakaian laki-laki itu satu persatu.


Farel menyeringai. “Tidak, aku tidak akn melecehkanmu. Tapi aku akan menghamilimu.”


Deg!


“Apa yang kau maksud? Itu sama saja dengan pelecehan!” Raisya berteriak kuat.


“Hanya bisa dikatakan pelecehan jika terjadi sebuah pemaksaan. Tapi kali ini aku yakin kau juga akan menikmati sentuhanku, bahkan kau akan memulai terlebih dahulu.” Farel menyeringai. Tangan kekarnya mengambil satu botol keci dari laci.

__ADS_1


Raisya menatap horor botol kecil itu. Tatapan terkejut dan takut tidak bisa ia sembunyikan, terlebih saat Farel memaksanya untuk menegak habis cairan di dalam sana.


__ADS_2