
Raisya merasa Farel berubah. Setelah percakapan tadi malam, Farel terlihat sedikit menjaga jarak darinya.
“Ekhm, kau kenapa?” Raisya bertanya dengan canggung.
Farel yang fokus dengan makananya mengangkat kepalanya. Matanya menatap lurus Raisya. Wajah yang biasanya terlihat penuh binar, kini terlihat sendu.
“Aku tidak apa-apa.” Farel tersenyum tipis kemudian melanjutkan makannya.
Raisya merasa aneh dengan sikap Farel, tapi ia berusaha tetap tenang. Bayangan wajah terluka Farel semalam membuat ia tidak bisa tidur, ditambah Farel yang tidak tidur bersamanya tadi malam semakin membuatnya resah.
“Aku sudah selesai.” Farel bangkit meninggalkan Raisya yang mentapnya aneh.
Para pelayan yang melihat semua itu saling tatap. Merasa aneh dengan wajah tuanya yang terlihat sendu itu.
Raisya mendengus kesal, entah mengapa selera makannya hilang melihat sikap Farel pagi ini. Segera ia bangkit, meninggalkan ruang makan itu yang masih menyisakan puluhan hidangan yang masih terlihat rapi, tak tersentuh.
“Apa Tuan dan Nyonya sedang bertengkar.”
“Oh, jangan sampai itu terjadi. Aku sangat suka melihat ekspresi lucu Tuan saat bersama Nyonya.”
“Iya, aku juga berharap, mereka jangan pernah bertengkar dan selalu akur seperti kemaren.”
“Iya, wajah Tuan yang sedang menggoda Nyonya terlihat sangat menggemaskan.”
“Hust, awas! nanti kalo ada yang mendengar perkataan kita bisa gawat. Kalian mau kita dipecat masal?”
“Oh, Tidak! Itu sangat menakutkan. Kadang aku sangat menyesal memiliki mulut yang tidak memiliki akal.”
“Hay, bukan mulutmu yang harusnya punya akal. Tapi otakmu! Sudah ayo kita bersihkan meja itu sebelum Tuan kembali.”
Mereka semua dengan cepat berhambur untuk menyelesaikan tugas masing-masing. Tidak membutuhkan waktu lama, meja itu terlihat sanagt bersih dan rapi.
****
Farel memasuki ruang kerjanya dengan ekspresi muram. Ia merasa lelah, ditambah ia tidak tidur sama sekali tadi malam. Ucapan Raisya membuatnya tidak sanggup untuk sekedar menutup mata, sehingga ia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam ruang kerjanya itu setelah kembali dari taman.
Matanya menatap figura kecil yang berdiri tepat di samping Laptop. Terlihat di sana fotonya dengan Raisya dengan posisi yang sangat intim. Foto itu diambil Ricard pada saat mereka di taman.
Di sana terlihat tubuh Ramping Raisya yang terjatuh di atas tubuhnya dengan bibir mereka yang saling berpagut mesra. Jangan lupakan hamparan bunga yang menambah kesan romantis, membuat foto itu terlihat seperti foto *prewedding*.
Senyum tipis terlihat di wajah tampan Farel. Tangan kekarnya mengambil foto itu dan membawanya mendekat. Jempol besarnya mengelus lembut gambar itu.
__ADS_1
“Andaikan kebahagian kita senyata foto ini.” fael terkekeh miris.
Farel membawa foto itu ke dadanya, seakan menyatukan antara detak jantungnya yang menggila dengan foto di dalam sana. Matanya terpejam, mencoba menikmatai rasa sakit di dada.
“Haruskah aku menyerah?”
****
Raisya menatap balkon kamar dengan pandangan rumit. Tatapanya tertuju pada Danau dengan hamparan bunga yang menjadi pemanis. Senyum tipis terlihat jelas di wajah cantiknya. Ingatanya kembali pada saat Farel menyatakan perasaanya.
Hatinya sedikit tersentuh, tapi ia tetap harus kembali pada tujuan utamanya. Ia adalah perempuan dengan harga diri tinggi. Cukup sekali ia merendahkan diri dengan menyerahkan kesucianya. Ia tidak ingin mengahancurkan harga dirinya dengan menjadi istri kedua, atau perusak rumah tangga orang lain.
Raisya mengusap wajahnya kasar, mencoba membuang secuil perasaan yang tiba-tiba datang tanpa di undang. Matanya terlihat kosong.
Tok... Tok... Tok...
Raisya menatap pintu yang diketuk itu. Alisnya terangkat mencoba menebak siapa gerangan yang mengetuk pintu itu.
Kaki rampingnya melangkah mendekati pintu. Ia yakin sosok di balik pintu itu bukan Farel. Farel tidak akan mengetuk pintu jika ingin masuk.
Ceklek!
Jesika menganggukkan kepalanya, matanya berkilat aneh membuat Raisya segera mempersilahkannya masuk.
“Duduk di sana.” Raisya menunjuk bangku ang terletak di pojok kamarnya. Tangan rampingnya dengan lembut menutup kembali pintu kamarnya.
“Ada apa?” Raisya bertanya dengan serius.
Jesika menggigit bibirnya. Wajah cantik itu terlihat gelisah.
“Nyonya, saya memiliki dua kabar.”
“Dua kabar?”
“Iya, Nyonya. kabar buruk dan kabar baik.”
Raisya menatap Jesika serius. Apa yang terjadi? Kabar buruk? Pikiranya langsung tertuju pada surat yang ia titipkan Jeska untuk Jhonatan. Menelan ludah gugup Raisya mencoba mempertahankan wajahn tenangnya.
“Katakan!”
“Nyonya ingin mendengarkan kabar yang mana dulu?”
Raisya terdiam, mencoba mempertimbangkan hatinya. “Kabar baik.” Raisya menjawab dengan mantap.
__ADS_1
“Jhonatan menerima semuanya, dan dia ingin segera bertemu Nyonya.” Jesika tersenyum dengan lembut.
Raisya menahan nafas. Hatinya terasa sangat lega, bahkan ia merasa beban yang ia pikul semua hilang dalam sekejap. Apakah artinya ia akan bisa bersatu kembali dengan Jhonatan?
“Kabar buruknya, dia sepertinya memiliki hubungan gelap dengan orang lain.”
Raisya mengangkat sebalah alisnya merasa bingung dengan ucapan Jesika.
“Apa maksudmu? Semua itu tidak mungkin! Dia itu orang yang setia, dan setahuku tidak ada skandal apa pun.” Raisya menatap tajam Jesika.
Jika semua yang dikatakan Jesika benar, maka semua yang ia rencanakan sia-sia saja.
“Maaf Nyonya, kita bisa membuktikanya sore nanti.”
Raiya menegang mendengar ucapan Jesika. Rasa takut mulai menjalar di hatinya. *Dia* satu-satunya orang yang ia harapakan bisa memabantunya terbebas dari jeratan Farel. Jika semua yang dikatakan Jesika benar, maka semua akan sia-sia.
“Hubungan seperti apa yang kau maksud?”
“Aku kurang tahu secara pasti Nyonya, tapi aku beberapa kali menemukan CCTV yang menunjukan mereka bersama.”
Raisya menghela nafas mendengar penuturan Jesika. “Jika hanya seperti itu bukti yang kau miliki, kita tidak bisa membuat kesimpulan dengan cepat.”
Jesika menunduk merasa salah telah memberikan informasi seperti itu dengan cepat tanpa mencari bukti yang lebih kuat lagi.
“Maafkan aku Nyonya.”
“Hmm, tidak apa-apa. Setidaknya kalau perkataanmu tidak benar, kita masih memiliki kesempatan untuk melakukan rencana kita.”
“Iya Nyonya, aku harap semua informasi yang aku punya tidak benar, dan Nyonya bisa segera bebas.” Jesika tersenyum tipis. Jauh di dalam hatinya ia merasakan keraguan yang cukup kuat. Ia yakin dia memiliki hubungan gelap.
“Oh ya, Jesika, kita itu teman, tapi mengapa kau masih memanggilku Nyonya. Sudah berapa kali ku bilang, panggil aku Raisya.” Raisya mencebikkan bibir sebal.
Jesika tersenyum lembut. Sudah beberapa kali Raisya menegurnya, tapi ia tidak bisa menghilangkan panggilan itu. Ia bisa menggantikan ‘saya’ dengan ‘aku’ dan ‘anda’ menjadi ‘kau’ tapi tidak dengan Nyonya.
“Maafkan aku Nyonya. tapi semua itu sebagi pengingat kalau kau tetap atasanku.”
“Ah, kau sangat menyebalkan. Kau itu bekerja untuk Farel bukan untukku, bahkan yang menggajimu juga Farel!” Raisya berucap dengan nada kesal.
“Semua itu benar, tapi aku disini khusus untuk menjaga Nyonya.” Jesika tersenyum lembut.
Hening, mereka berdua terhanyut dengan pemikiran masing-masing.
“Aku akan menemui Jhonatan besok. Untuk dia kau atur sesuai dengan perintahku dulu, masalah izin dari Farel aku yang akan bertanggung jawab.”
“Baik Nyonya.”
“Jangan lupa hapus jejak kita setelah pertemuan itu.”
_________
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca,,,
Jangan lupa Vote, komen, dan follow ya 😍😘😘