
Farel menatap Raisya yang bergelayut manja di lengannya. Wanita hamil itu terlihat lebih manja, dan hal itu membuat hati Farel berbunga-bunga.
“Sayang,” Farel memanggil lirih.
Raisya yang asyik bermain dengan lengan kekar Farel mendongak lucu. Mata hijau itu terlihat berkedip, dan membulat.
“Hmmmm.”
Farel yang tidak kuat lagi menahan rasa gemas segera memberikan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah Raisya.
Cup .... Cup .... Cup ....
Raisya yang merasakan wajahnya basah, dan bibirnya kebas segera mendorong dada bidang Farel, sedangkan Farel semakin menguatkan sesapannya.
“Hmpppp.”
Dug! Dug!
Farel yang asyik mencum\*u bibir Raisya terhenti. Tendangan yang hampir menyerupai gerakan diperut Raisya membuat mata coklat itu membola, sedangkan Raisya tersenyum lebar.
“Sayang ..... itu ...?” Farel menatap Raisya dengan mata yang berkaca-kaca.
Raiya memberikan senyum dengan tangan yang mengelus perut buncitnya itu. Memang di usia kandungan ke lima yang hampir memasuki enam, ia sudah beberapa kali merasakan gerakan dari sang bayi.
“Iya, ini anak kita. Sepertinya dia tidak suka Papanya memonopoli sang Mama,” Raisya menjawab dengan tangan yang tetap mengelus lembut perut itu.
Farel yang awalnya berkaca-kaca langsung mencebik sebal. “Mana bisa? Baby bergerak pasti karena merasakan kehadiran Papanya. Mungkin Baby juga ingin dijenguk.” Farel mengedipkan mata, membuat wajah semenggoda mungkin.
Raisaya yang awalnya fokus ke perut buncitnya mendongak, matanya memicing ke arah Farel dengan penuh curiga.
“Jangan macam-macam!” peringatnya dengan mata melotot garang.
Farel yang melihat wajah itu semakin tergoda. Wajah Raisya bukan terlihat menyeramkan, tapi terlihat semakin lucu. Bayangkan, dengan pipi yang semakin cabi, ia pelototkan mata dengan mulut yang dijepit atas bawah.
“Ahh, tidak. Aku hanya ingin satu macam.” Farel semkain gencar menggoda Istrinya itu.
“Farel, ahhh.”
Raisya menggeliat bahkan mengeluarkan desa\*an kecil saat tangan Farel tanpa permisi masuk kedalam dres longgarnya itu, bahkan tangan laki-laki itu dengan tidak tahu malu mengelus lebut puncak dad\*nya.
__ADS_1
Farel tersenyum lebar, tangannya semakin aktif. Namun, gerakan yang menyerupai tendangan itu membuat gerakannya terhenti. Matanya mengedip beberapa kali saat merasakan gerakan itu.
“Kenapa ia selalu bergerak?” Farel menatap polos perut buncit itu.
Raisya yang masih terengah-engah menatap sebal Farel. “Lihatlah, anakmu sepertinya tidak suka berdekatan denganmu. Jadi, sekarang minggirlah!”
“Hei, mana bisa seperti itu. Aku yakin Baby sudah tidak sabar bertemu Papanya, makanya dia bergerak setiap aku berada didekatnya.”
“Sudah! Minggir, aku lapar.” Raisya tetap berusah mendorong tubuh kekar itu. Jujur, ia juga tidak tahu kenapa sang anak menendang sepert itu. Kalo boleh jujur, anaknya itu jarang bergerak di dalam perut, bahkan ia sempat berpikir jika anaknya nanti akan jadi pemalas. Tapi sekarng, si Baby bahkan sudah bergerak dua kali dalam jangka waktu yang relatif singkat.
Farel yang mendengar itu melototkan mata. “ Kau lapar? Kenapa tidak bilang dari tadi. Kasian bayi kita, sudah tergencat di dalam perut, sekarang malah kelaparan.”
Raisya yang mendengar itu mendelik sebal. “Hay, kau yang tidak sadar diri. Dari tadi aku memanggil Andres untuk membawakan makanan, tapi kau membuat semuanya kacau, lebih-lebih bibir dan tanganmu yang tidak mau tinggal diam.”
Farel menggaruk tengkuk, wajah laki-laki itu terlihat lucu, ditambah dengan cengiran yang baru pertama kali ia tunjukan, bahkan Raisya yang melihat pun ikut terperangah.
“Kau .... Kenapa?”
Farel mengerjap, merasa bingung dengan pertanyaan Raisya yang menurutnya aneh. “Aku ...” Farel menunjuk dadanya yang dibalas anggukan tegas Raisya. “Aku tidak apa-apa?”
Farel memasang wajah cengo. Jadi hanya kerana ia yang nyengir?
“Ya mpun, aku kira kenapa? Apa wajahku terlihat aneh?”
“Eh, tidak, wajahmu terlihat tampan, tapi untukmu yag tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu, aku seperti melihat orang lain,” Raisya menjawab dengan pelan, wanita itu takut jika ucapannya itu menyinggung Farel.
“Eh, memang bagaiamana wajahku biasanya?”
Farel menyentuh wajah tampanya dengan mata yang lurus menatap Raisya. Raisya yang ditatap seperti itu merasa gugup.
Kruk!
“he he he, sepertinya bayiku sudah benar-benar lapar.” Raisya tersenum lebar. Dalam hati wanita itu bersyukur, masih bisa menghindari pertanyaan Farel. Meskipun ia harus sedikit malu, tapi tak apa.
“Wah, ayo kita ke dapur, kita lihat, Baby mau makan apa.” Farel menggandeng pelan tangan Raisya, menuntun wanita itu untuk berjalan.
***
Jesika terlihat lemas. Wanita itu duduk di atas kursi dengan wajah yang ditelungkupkan di atas meja. Mendengar suara kaki yang mendekat, anita itu sedikit mendongak. Dalam sekejap mata sipit itu terlihat melotot, bahkan sedikit gemetar.
__ADS_1
“Oh Jesika. Kau sudah baik-baik saja?” Raisya bertanya dengan tangan yang menggandeng lengan Farel, sedangkan Farel tetap memasang wajah datar.
Wanita bemata sipit itu terlihat menelan ludah gugup. Sepertinya, ia terlalu trauma dengan kejahilan si jabang bayi. Terlihat jelas dengan kaki wanita itu yang terlihat lemas, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
Raisya yang melihat itu merasa bingung. Kenapa dengan pelayannya itu. “Kau kenapa?”
“Tidak, saya tidak apa-apa Nyonya. Saya izin kemabali ke kamar.” Jesika dengan cepat berdiri. Meskipun kakinya masih terasa lemas, dan perutnya masih terasa di aduk-aduk, ia tetap memaksa untuk pergi. Menurut wanita itu, lebih baik menjauh dari ibu hamil satu itu, dibanding harus berdekatan dan menjadi korabn kejahilan sang jabang bayi.
Raisya yang melihat itu mengerjapkan mata. “Jesika!”
Kaki wanita bermata sipit itu sudah mengeluarkan cairan bening. Panggilan itu seperti panggilan maut itu. Bahkan kakinya yang berhenti melangkah terlihat bergetar, dengan sangat terpaksa, ia membalikkan tubuh.
“Iya, Nyonya.”
Raisya yang hendak membuka mulut mengerjapkan mata. Wanita hamil itu merasa terkejut dengan wajah sang pelayan yang sudah mengeluarkan air mata.
“kau kenapa menangis?” Raisya bertanya dengan kaki yang mulai mendekat.
Jesika yang melihat itu melotot horor, bahkan air mata wanita itu semakin banyak. “Ampun, Nyonya. Jangan suruh saya melakukan hal-hal aneh lagi.” Jesika dengan cepat menangkupkan kedua tangannya di dada.
Raisya yang melihat itu tertegun. Apa yang terjadi dengan pelayannya itu? kenapa ia seperti tertekan?
“Jes_”
“Hua ... Nyonya, saya sudah tidak kuat jika harus menuruti ngidam Nyonya yang luar biasa itu.” Jesik menjatuhkan dirinya, membuat Raisya semakin terperngah, sedagkan farel yang melihat itu memutar mata malas. Laki-laki itu tidak suka kehadiran jesika. Ia menganggap, Jesika sebagai saingan untuk mengambil perhatian wanitanya.
“Ck, jangan mencari perhatian Istriku!”
Raisya mengalihkan tatapan, mata hijaunya melotot, menatap Farel penuh ancaman. Benarkan, Jesika selalu membuat apa pun yang dilakukan Farel salah di mata wanitannya itu.
“Diam, atau kau tidur di luar!”
_________
Terimakasih sudah membaca,, maaf kemaren author gk up, soalnya Author migren parah,, apalagi klo buat ngetik,, gk kuattt
Hari ini Author kasih double sebagai permintaan Maaf,,,
__ADS_1
jangan lupa vote, komen, like, favorite, dan yang pasti kasih ranting 5