Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
44. Sadar dari Koma


__ADS_3

Pagi itu suasana ruang makan terlihat luar biasa. Tarlebih sikap Farel yang luar biasa lembut dan perhatian membuat semua pelayan yang berdiri di ujung ruangan menganga melihatnya.



Raisya mencoba menahan rasa geram di hati akibat tingkah Farel yang luar biasa berbeda itu.


“Ayo, buka mulutmu sayang.” Farel mengangkat satu sendok yang berisi nasi goreng itu.


Raisya menutup mata, berusaha meredam amarah di dadanya.


“Farel, aku bisa makan sendiri. Tanganku tidak lumpuh!” Raisya memicing tidak suka. Tangan rampingnya mengangkat makanan yang ada di depanya, kemudian menyendokan langsung ke mulutnya, mengabaikan sendok Farel yang menggantung di udara.


Farel meletakkan sendoknya kembali, wajah cerahnya berubah menjadi lesu. Raisya yang melihat perubahan wajah Farel mendengus.


“Kenapa kau memasang wajah seperti itu?”


“Semalam kau bilang mau memberi ku kesempatan?”


Raisya mengangkat sebelah alisnya. “Lalu?”


Farel berdecak sebal. Sungguh wanitanya ini sangat tidak peka.


“Aku melakukan semua ini sebagai bukti cintaku.” Farel mengerucutkan bibirnya.


Para pelayan yang melihat ekspresi Farel yang terlihat lucu tersipu malu. Bahkan telinga mereka memerah. Mereka berpikir jika Tuan mereka sungguh romantis, dan imut. Sangat berbeda jauh saat bersama dengan Istri sahnya.



Raisya tertawa hambar mendengar ucapan polos Farel. Sebenarnya umur berapa laki-laki di depanya ini? kenapa tingkahnya seperti Abg.


“Jangan bersikap seperti itu! Aku jijik.” Raisya berucap dengan nada datar.


Farel menganga mendengar ucapan Raisya. Jijik? Sungguh? Jika ia bersikap seperti itu kepada wanita lain, ia yakin wanita itu akan tersipu malu dan terpesona. Tapi kenapa dengan wanitanya ini?


“Kau_” Farel bahkan tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia terlalu tercengang dengan fakta yang di ungkap Raisya.


“Kenapa?” Raisya mengangkat alis kirinya.


Farel menjilat bibir atasnya, kemudian berdahem canggung. “Tidak, lanjutkan saja makanmu.”


Raisya menatap aneh Farel. Bahkan sebelum laki-laki itu menyuruhnya makan, ia akan makan dengan sendirinya, karena ia sangat lapar.



Farel memakan makananya dengan lesu, beberapa kali matanya terlihat mencuri pandang Raisya. Sedangkan objek yang mejadi curianya memakan makananya tanpa beban sama sekali.



Beberapa menit kemudian, terlihat Raisya yang sudah bersiap untuk bangkit meninggalkan ruang makan itu. Farel yang melihatnya segera melancarkan aksi.


“Raisya, ayo kita jalan-jalan.” Farel menghadang jalan Raisya.


Raisya menatap Farel datar. Netra hijaunya menatap serius wajah laki-laki itu yang terlihat gugup, bahkan telinga dan leher kekar itu memerah.


“hmm.” Raisya melenggang pergi meninggalkan Farel yang masih bingung dengan jawabanya.


“Hay, kau mau?” Farel berteriak.

__ADS_1


Raisya tidak memberhentikan langkah kakinya, tapi ia mengangkat tanganya. Membuat bentuk O dengan menyatukan ujung jari jempol dan telunjuk.



Farel yang melihat tanda persetujuan itu tersenyum lebar. Tanganya dengan cepat mengambil gawai yang ia masukkan di dalam saku celana.


“Kau, siapkan semuanya.”


“.....”


“Iya.”


Tut!


Farel menatap gawainya puas. Kakinya melangkah menuju garasi, mempersiapkan mobil yang akan ia gunakan nanti.


*****


Raisya menatap serius Jesika yang berdiri di depanya. Jantungnya berdetk kencang mendengar ucapan Jesika tadi.


“Kau serius?”


Jesika tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


“Iya, Nyonya. Jhonatan sudah sadar.”


Jantung Raisya berpacu dengan cepat. Rasa bahagia, takut, dan cemas menjadi satu. Ia begitu bahagia mengetahui keadaan Jhonatan. Tapi ia takut melihat respon Jhonatan yang mengetahui keadaanya sekarang.


“Aku harus bagaimana?” Raisya menundukkan kepalanya.


Jesika menatap Raisya bingung. Kenapa dengan nyonya itu? bukankah seharusnya ia bahagia?


Raisya mendongak. Terlihat jelas mata hijau itu berkaca-kaca.


“Jesika, bagaimana aku bisa menemui Jhonatan dengan keadaan ku yang seperti ini?”


Jesika kini paham apa yang menjadi penyebab Raisya seperti itu. Ia dekatkan tubuhnya, mendudukan dirinya tepat di samping Raisya.


“Nyonya, apa yang perlu kau khawatirkan? Kau hanya perlu berkata terus terang. Jelaskan semuanya.”


Raisya menjilat bibir atasnya, matanya menatap lurus Jesika. “Apa ia akan tetap menerima ku?”


Jesik tersenyum tipis. “Nyonya, kau tidak berselingkuh, kau juga tidak melakukan semua ini dengan sengaja, tapi kau melakukan semua ini karena terpaksa. Aku yakin, Jhonatan akan tetap menerima Nyonya.”


“Tapi aku sudah tidak suci lagi.” Raisya menutup kedua wajahnya.


“Nyonya, cinta yang tulus tidak dilihat dari selaput dara!”


“Kau yakin, dia akan menerimaku dan memaafkan ku?”


“Nyonya, kau yang paling mengenal Jhonatan, seharusnya kau juga yang paling paham bagaimana sikap Jhonatan tentang semua ini.” Jesia tersenyum menenangkan.


Raisya merasa lebih tenang mendengar ucapan itu. Ya, ia tidak perlu khawatir dengan sikap Jhonatan nanti. Jhonatan sangat mencintainya, ia yakin dia akan menerimanya apa adanya, bahkan laki-laki itu akan merasa bersalah dengan keadaanya sekarang.



Meskipun Jhonatan menerima dia apa adanya, tapi Raisya akan berusaha sadar diri. Ia akan membebaskan Jhonatan nanti. Apa pun keputusan itu, ia harap semua itu yang terbaik.

__ADS_1


“Iya, aku yang paling mengenalnya.” Raisya berucap dengan tegas.


“Oh ya, bagaiman dengan penyelidikanmu tentang dia?”


Wajah Jesika yang awalnya penuh dengan rona bahagia seketika berubah menjadi serius.


“Nyonya, ternyata dia masih berada di Negara ini. Selama ini kabar tentang keperginya ke luar Negri hanya kebohongan.”


Raisya menegang mendengar penuturan itu. Seperti ada yang janggal.


“Apa kau yakin?”


“Aku sangat yakin Nyonya.”


“Sebenarnya aku bingung, siapa Informan mu itu?” Raisya bertanya dengan penuh curiga.


Jesika berdahem canggung. Tanganya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


“Sebenarnya aku sedikit paham tentang IT. Jadi aku membobol beberapa CCTV dan mengetahui keberadaanya saat ini.”


Raisya tercengang dengan penuturan Jesika.


“Kau serius?”


“Iya Nyonya.” Jesika menunduk takut.


Raisya menghela nafas gusar. Bagiaman bisa Jesika menyembunyikan bakat yang luar biasa itu.


“Kenapa kau tidak bilang sejak dulu! Jika kau bilang, aku akan memintamu untuk membobol CCTV mansion ini. kau tahu aku selalu merasa jijik ketika memasuki kamar mandi.” Raisya mnggertakkan gigi. Mengingat tentang CCTV kecil yang berada di pojok kamar mandi membuat wajahnya merah padam. Bagaiamana bisa ada laki-laki se bajin*an itu?


“Maafkan saya Nyonya. Jika saya membobol CCTV di Mansion ini, maka semuanya akan ketahuan, dan rencana kita akan gagal. Tuan pasti curiga jika ada penghianat di dalam Mansion ini.”


Raisya menghela nafas, ya semua yang diucapkan Jesika benar.


“jadi dimana dia sekarang?”


“dia ada di......”


Mata Raisya melotot mendengar ucapan itu. Bagaiaman bisa?


“Aku akan mengatur waktu untuk bertemu dengan dia.”


Jesika terdiam mendengar ucapan Raisya. Otaknya sibuk berpikir kemungkinan berapa persen suksesnya rencana itu dan bagaiaman caranya Raisya bisa bertemu dengan *dia* tanpa adanya halangan.


“Nyonya, bagaiaman cara mu untuk bertemu dengan dia?”


“Aku akan meminta sedikit bantuanmu tentang masalah itu.” Raisya tersenyum misterius.


Jesika mengernyitkan alis, merasa tidak paham dengan maksud Raisya.


“Sebelum itu Jesika, bisakah kau mengirim surat ini untuk Jhonatan.” Raisya menyodorkan kertas merah yang sudah ia lipat.


_______


Maaf ya, untuk komentarnya belum sempat aku balas, tapi aku baca kok komentar dari kalian, i. Allah kalo nanti malam jadwal q kosong aku akan balas komen kalian 😘😘😘😘


Terimakasih sudah membaca,,

__ADS_1


Kira2 ada yg tahu gk "dia" itu siapa?


__ADS_2