Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
87. Kecupan


__ADS_3

Raisya menatap sinis sosok laki-laki yang tersenyum lebar itu. Tangannya dengan kasar menyendokkan bubur ke mulut laki-laki itu.


“Farel, apa kau senang?” Raisya bertanya dengan senyum terpaksa.


Farel tanpa ragu menganggukkan kepalanya dengan mulut yang penuh dengan bubur. Laki-laki itu meminta Raisya untuk menyuapinya, dengan alasan, ia tidak pernah merasakan bagaiamana rasanya disuapi seorang ibu. Hal ini tidak berlaku pada saat kejadian tangannya yang terluka.


“Anak pintar,” Raisya berujar dengan wajah kesal. Namun, tangannya dengan telaten menyupkan bubur itu.


Para pelayan mengintip dari beberapa sudut. Mereka saling bingung dengan situasi Mansion. Kadang terlihat harmonis, dan tak jarang terlihat mencekam. Perubahan suasana itu membuat mereka takut.


“Raisya, aku ingin minum itu.” Farel menunjuk segelas susu putih dengan jari telunjuknya.


Raisya mencoba tersenyum, menutupi wajah tertekannya dengan senyuman. Mungkin, kini ia merasa menyesal, karena telah memberikan tawaran kepada Farel. Ia berpikir cukup membangunkan pagi, membantu mencuci wajah laki-laki itu. Tapi, laki-laki tu sangat pintar memanfaatkan kondisi, dengan berdalih ingin merasakan kasih sayang seorang ibu, laki-laki itu meminta banyak hal.


“Raisya.” Farel memanggil Raisya dengan bibir mengerucut.


Raisya menggertakkan gigi, merasa gemas dengan ekspresi lucu Farel.


“Iya, iya. Sabarlah. Kenapa kau bertingkah seperti ini.” Raisya menggerutu kesal. Tak ayal tangannya tetap meraih gelas susu da menyodorkan ke arah Farel.


Farel hanya terdiam melihat gelas yang disodorkan itu. Raisya yang melihat keterdiaman Farel mengangkat sebelah alisnya. ‘jangan bilang Farel minta disuapi juga?’


“Apa?” Raisya bertanya dengan dongkol.


Farel melipat bibirnya kedalam, menatap Raisya dengan wajah lucu. Raisya yang sudah menyimpulkan keinginan Farel hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Tangannya dengan pelan mendekatkan gelas itu ke bibir Farel.



Farel yang melihat itu tersenyum dan meminum susu itu dengan mata terpejam, seakan menikmati momen langka itu.


“Terimakasih,” Farel berujar dengan wajah tersipu.


Raisya hanya menatap datar wajah Farel yang terlihat memerah itu. Kenapa laki-laki itu bisa berubah dengan cepat. Mana laki-laki yang mengancamnya itu?


“Hmm, kau tidak berangkat kantor?” Raisya bertanya dengan mata melirk arloji.


“Iya, aku akan segera berangkat. Kau, mau mengantar makan siang ku nanti?”


Raisya terdiam, mencoba memikirkan pertanyaan Farel. Farel yang melihat wajah berpikir Raisya segera menjelaskan.


“Aku ingin makan siang bersama Istriku. Kau tidak perlu takut masalah para karyawan, aku yang akan menjamin keselamatanmu.” Farel menyentuh tangan Raisya yang tergeletak di atas meja.


“Baiklah.”


Farel tersenyum lebar. Dengan cepat laki-laki itu berdiri dan mendekat ke arah Raisya. Kemudian tubuh besarnya melingkupi tubuh ramping Raisya, mengungkungnya dan memberika ciuman bertubi-tubi di pucuk kepalanya.


“Aku mencintaimu.” Farel berujar di sela-sela kegiatannya mencium puncak kepala Raisya.

__ADS_1


“Hmm, aku tahu. Sudah sana berangkat.”


Farel melepas pelukannya dengan wajah berbinar. “Aku ingin ciuman selamat pagi,” Farel berujar dengan wajah polos. Berdiri tegak, dan menatap Raisya dengan binar di matanya.


Raisya menatap Farel tidak percaya. Apa lagi ini?


Wajah berbinar Farel terlihat megikis ketika melihat wajah Raisya. “Kau tidak mau?” Farel menunduk.


Raisya membuang mukanya. Pasti seperti itu! kenapa laki-laki itu harus memasang wajah seperti itu?


Menghela nafasa pelan, Raisya menatap Farel lembut. “Sini, menunduk.”


Farel tersenyum girang, dengan cepat laki-laki itu menunduk, mengikuti perintah Raisya.


Cup!


Raisya membubuhkan ciuman di kening Farel. Farel yang mendapatkan ciuman di kening memberengut tidak suka.


“Kenapa?” Raisya bertanya setelah melihat wajah tidak enak Farel.


“Kenapa di kening.”


Cup!


Raisya membubuhkan ciuman di pipi kanan Farel, tapi Farel tetap cemberut.


“Kenapa tidak di sini.” Farel menunjuk bibirnya.


Raisya yang mengetahui kemana cara berpikir Farel tercengang. Laki-laki itu sedang memanfaatkannya.


“Tidak ada seorang ibu yang mencium bibir anaknya yang sudah dewasa,” Raisya berucap dengan mengingatkan Farel, jika ia melakukan semua ini karena ingin memberikan kasih sayang seorang ibu.


“Tapi, kau Istriku.” Farel mengerucutkan bibir sebal.


Lagi-lagi Raisya tercengang dengan ucapan Farel. Laki-laki ini sungguh bisa mengambil kesempatan di segala situasi.



Dengan menahan geraman, Raisya berdiri, tangan rampingnya menarik tengkuk Farel dengan kuat. Mendaratkan kecupan panjang di bibir Farel tanpa aba-aba.



Farel tercengang, beberapa detik laki-laki itu terlihat tidak merespon kecupan itu. Namun, saat Raisya ingin menyudahi kecupan itu, tangan kekarnya menahan tengkuk Raisya, untuk memperdalam ciuman itu, bahkan memberikan \*\*\*\*\*\*\* di sana.



Raisya melenguh, merasakan \*\*\*\*\*\*\* lembut yang Farel berikan itu. Gigitan lembut dapat ia rasakan di bibirnya, bahkan ia merasakan rasa bubur dan susu dari bibir Farel itu. Merasa oksigen di paru-parunya mulai menipis, tangan Raisya menarik dengan kuat rambut Farel, membuat tautan bibir itu terlepas.

__ADS_1



Farel tersenyum dengan lebar. Matanya menatap bibir bawah Raisya yang terlihat sedikit bengkak, bahkan ada sedikit tanda di bibir wanita itu. Jempolnya mengusap lembut bibir Raisya.


“Kau harus ingat, meskipun kau ingin memberikanku kasih sayang seorang ibu, tapi kau tetap Istriku.” Farel mendaratkan kecupan panjang di kening Raisya.


Raisya terdiam, bingung bagaiamana harus merespon ucapan Farel. Semua yang diucapkan Farel benar. Ia sekarang seorang Istri.


“Ya, cepat sana berangkat.” Raisya mendorong tubuh Farel.


Farel mengusap rambut Raisya. Tersenyum lembut dan membalikkan tubuhnya.


“Farel, jangan lupa janjimu.”


Ucapan Raisya membuat langkah kaki Farel terhenti. Binar di wajahnya perlahan terganti dengan raut dingin. Perkataan itu mengingatkannya, jika Raisya menerima semuanya bukan karena mencintainya, tapi karena menjamin keselamatan seseorang.



Farel menormalkan wajahnya sebelum berbalik untuk menatap Raisya. “Aku tidak pernah ingkar janji Istriku.” Farel mengedipkan sebelah matanya. Kemudian berjalan meninggalkan Raisya untuk memasuki mobilnya.



Ricard yang sedari tadi meliat intraksi Farel dan Raisya tercengang. Farel terlihat sangat berbeda, bahkan laki-laki itu mirip se ekor anjing.



Farel menatap lurus jalanan dengan pikiran yang menarawang jauh. Laki-laki itu bersikap seperti itu bukan tanpa alasan. Ia tahu, Raisya tidak menyukai sikap kasar, arogant, dan sikap buruk lainnya itu. maka, ia dengan senang hati memerankan karakter lemah, manja, bahkan cengeng, asalkan Raisya tetap bersamanya dan tidak menolak segala permintaanya. Semua laki-laki itu lakukan untuk membuat wanitanya selalu berada di genggamannya.


*****


Raisya menatap dua sosok dengan gender berbeda itu dengan tatapan nanar. Andres dan Jesika. Mereka berdua datang ke Mansion tepat setelah Farel pergi.



Andres yang terduduk di kursi roda dengan tubuh hampir keseluruhan penuh perban itu membuat Raisya meringis ngilu. Sedangkan penampilan Jesika bisa di bilang cukup baik-baik saja. Wanita itu hanya memilki luka di kening, dan beberapa memar di tubuhnya. Namun, tetap saja Raisya merasa bersalah.


“Maafkan aku.” Raisya menundukkan wajahnya. Wanita itu merasa sangat bersalah, dan menganggap semua yang menimpa mereka berdua, karena dirinya.


Jesika segera menatap Raisya dengan ekspresi sendu. Sedangkan, Andres hanya menatap lurus. Wajah yang hampir tertutup perban itu membuat Raisya tidak bisa menebak ekspresi apa yang di keluarkan Andres.


“Tidak, semua bukan salahmu. Ini pilihan kita, jadi kita harus menerima apa pun resikonya,” Jesika berucap dengan serius yang diikuti anggukan oleh Andres.


“Terimakasih.” Raisya menatap mereka dengan wajah terharu.


“Tidak, jangan katakan itu. Apa yang kau korbankan kali ini untuk membebaskan kita?” Jesika menatap curiga Raisya. Wanita bermata sipit itu sudah mengenal sifat luar dalam Raisya.


Raisya yang mendengar pertanyaan itu terdiam, menatap sendu dengan senyum lembut di bibirnya, seakan mengatakan bukan apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2