
Farel tertawa dengan lebar, di depannya berdiri sosok Tuan Lawson dengan rok berwarna pink dengan beberapa renda di bawahnya. Sedangkan Ricard yang berdiri di samping hanya mampu menahan tawa.
Terlihat wajah memerah Lawson, laki-lai tua itu terpaksa melakukan perintah Farel dengan jaminan pembersihan nama baik. Setidaknya, biarlah perusahaannya hancur, tapi ia tidak ikut hancur.
Tubuh tua itu meliuk ke kanan dan ke kiri, gerakan kaku itu mengundang galak tawa dari beberapa sudut, terutama tawa dari cucu kandungnya sendiri, Farel.
“Ha ha ha ha.” Ricard kali ini tidak bisa menahan tawa, melihat laki-laki tua itu berputar, dan memperlihatkan paha tua yang penuh bulu sungguh membuat tawanya meledak seketika.
Beberapa pasang mata menatap asisten itu, terutama Farel. Wajah sumringah Ricard dengan seketika berubah mejadi datar. Rasa takut akan masalah yang ditimbulkan karena suara tawa itu membuat ia membungkam habis mulutnya, meskipun tubuhnya masih bergetar karena menahan tawa.
Farel menatap datar asistennya itu. Asisten yang ia kira tidak memilki ekspresi apa pun, ternyata bisa tertawa juga.
“Ricard,” Farel memanggil dengan wajah tetap datar.
Ricard semakin ketar ketir, wajah laki-laki itu menunjukan kepanikan tersendiri. Panik, jika Farel akan memberikan perintah yang akan membuatnya malu, atau bahkan perintah yang akan membuatnya kencing di celana.
“Iya, Tuan.” ricard menegakkan tubuhnya, memasang tubuh siap sedia seperti seorang tentara.
“Hmm, duduklah di sini.” Farel menepuk sofa yang terlihat kosong di sebelahnya.
Ricard meneguk ludah gugup. Kebaikan yang terlalu tiba-tiba itu membuat ia merinding. Ia takut, tuannya hanya ingin mengujinya saja.
“Tapi, Tuan .....”
“Duduk, atau kau ingin ikut menari bersama orang tua itu?” Farel bertanya dengan dagu menunjuk ke arah Lawson yang masih bergerak dengan kaku.
Ricard dengan cepat mendudukan tubuhnya, bahkan gerakan laki-laki itu seperti berlari.
“Oh, bagus ...” jeda sejank, Farel mengetuk bibirnya beberapa kali. “Sekarang aku ingin kau tertawa keras setiap orang tua itu bergerak.”
Ricard mengerjapkan mata, meras tidak percaya dengan perintah Farel itu. Hanya tertawa kan, ahh, itu perkara mudah.
__ADS_1
“Baik, Tuan.” Ricard menjwab dengan sungguh-sungguh.
Beberapa jam kemudian, galak suara tawa Ricard masih terdengar keras. Namun, ada beberapa perbedaan dari galak tawa itu.
Ricard terlihat membuka mulut lebar dan mengeluarkan tawa keras. Namun, wajah laki-laki itu sungguh tidak terlihat berbinar sama sekali.
Farel menganggukkan kepala sekali setiap mendengar tawa keras Ricard, mengabaiakan raut tertekan Lawson, dan asisten itu, Farel tetap setia memantau mereka dengan tangan yang memegang minuman, dan pop corn rasa caramel di meja. Laki-laki bernetra coklat itu seperti melihat pertunjukan teater.
Dalam hati Ricard menyesali keputusannya untuk menerima perintah Farel. Tertawa hampir tiga jam lebih membuat bibirnya tersa pegal dan perut datarnya semakin kaku. Rasanya laki-laki itu kini benci dengan suara tawa, dan berjanji tidak akan tertawa lagi.
Bagaiamana bisa sebuah tawa menjadi bencana? Ya, jawabannya saat kau melakukan tawa berulang kali dengan waktu panjang sekali. Sungguh hal seperti itu sangat menjengkelkan dan melelahkan.
Prok.... prok.... prok....
Farel menepuk tangannya dengan keras, membuat beberapa pelayan dan pengawal yang berjajar di ruangan mewah mengikuti gerakannya. Mereka semua seakan memberikan apresiasi untuk penampilan Lawson dan Ricard.
“Sudah ..... sudah .... kalian sungguh menghiburku,” Farel berucap dengan wajah penuh binar.
Lawson yang mendengar ucapan Farel segar menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Jika bukan demi nama baik, ia tidak akan pernah sudi melakukan hal memaluka seperti ini. Bahkan tulang tuanya ikut merasakan ngilu luar biasa.
Sedangkan Ricard segera kembali ke mode datar. Wajanya terlihat sangat kaku, bahkan ia seperti seorang robot. Otot-otot wajahnya seakan tidak bisa bergerak lagi, karena terlalu aktif membuka dan menutup agar meghasilakn suara tawa besar dan menggelegar.
“Untuk Tuan Lawson, sesuai kesepakatan, aku akan membantumu membersihkan nama baik, tapi kau harus siap kapan pun, jika sewaktu-waktu aku ingin melihat penampilanmu.” Farel terseyum lebar, matanya menatap Lawson penuh kebahagian.
Lawson hanya bisa mengangguk dengan lemas. Ia tidak bisa melakukan apa pun, semua berjalan sesuai perintah Farel, bukan peritahnya lagi. Itulah alasan laki-laki tua itu menginginkan harta banyak, karena di negara ini, siapa yang berkausa akan mampu melakukan apa pun. Dan siapa yang berkuasa, ia bebas melakukan kesalahan tanpa takut untuk di hukum. Hukum kebal bagi orang berkuasa, dan hukum kejam untuk orang di bawah rata-rata.
__ADS_1
“Dan untukmu Ricard, aku akan menaikan gaji mu dan menambah bonus. Akhirnya kau bisa tertawa lebar juga.” Farel menatap Ricard penuh kekaguman yang di balas dengan senyum kaku dari Ricard.
Bagi Farel, tawa keras Ricard adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Selama ini, belum pernah sekalipun, ia melihat Ricard tertawa seperti itu. ah, mungkin waktu TK Ricard pernah tertawa, tapi ia tidak melihatnya.
Asistennya itu terlalu sibuk dengan yang namanya pekerjaan, penyelidikan, keuangan, dan hal-hal yang menghasilkan uang. Bahkan di umur yang hampir berkepala tiga, ia tidak pernah melihat sistennya itu dekat dengan seorang wanita. Apa jangan-jangan Ricard seorang gay?
“Ricard.” Farel menatap Ricad dengan aneh.
“Iya, Tuan.” Ricard menjawab dengan mode super datar, bahkan ekspresi laki-laki itu semakin di luar wajar manusia. Laki-laki itu persis seperti seorang robot, bahkan tubuhnya juga ikut kaku saat bergerak.
“Apa kau seorang gay?” Farel bertanya dengan wajah horor.
Ekspresi kaku Ricard semakin berubah kaku dengan mata melotot. Oh, lebih tepatnya tegang.
“Maaf, Tuan Saya lebih menyukai sesauatu yang berbeda. Kenapa saya harus menjadi seorang gay, jika apa yang di miliki laki-laki lain, juga saya miliki.”
Farel mengangkat sebelah alisnya, menyukai sesautu yang berbeda? Gay juga berbeda?
“Iya atau tidak? jangan memberikan jawaban yang panjang seperti itu.”
“Tidak Tuan. Saya bukan Gay. Dan yang pasti, saya masih menyukai seorang wnaita.” Ricard menjelaskan dengan wajah kaku.
“Tapi kenapa selama ini kau tidak pernah berkencan, atau pun dekat dengan seorang wanita?”
Ricard hanya tersenyum masam. Bagaimana bisa ia berkencan jika tugas yang diberikan sang atasan tidak pernah berhenti. Katakan?
“Kenapa wajahmy seperti itu?” Farel bertanya dengan wajah jengkel.
“Maaf Tuan, bukan masalah tidak berkencan atau tidak dekat dengan wanita. Tapi masalah terbesar saya adalah tidak memiliki waktu.” Ricard menjawab dengan tegas, bahkan laki-laki itu mengangguk kuat, meskipun anggukan yang diberikan terlihat kaku sekali.
Farel diam, mencerna apa maksud ucapan Ricard, entah kenapa ia merasa tersindir. Seakan-akan yang menjadi penyebab kejombloan asistennya itu dia.
“Maaf Tuan, ada Tuan Maxim Alexis. Dia memita waktu untuk bertemu anda.”
Farel menatap pengawal yang ditugskan menjaga depan dengan alis mengernyit. Seorang Maxim Alexis? Si dalang dari permasalahan ini datang ke sini? Bahkan sebelum ia memberikan pelajaran untuk laki-laki itu.
__ADS_1