Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
31. Rasa Bersalah


__ADS_3

Zakiel terdiam mendengar nada sambung terputus. Badanya kaku mengetahui fakta mengejutkan itu.


“Apa lagi yang kau sembunyikan Raisya?” Zakiel bergumam lirih.


Azriel yang sedari tadi melihat kakanya mengerutkan alis, merasa bingung. Dengan pelan ia mendekat.


“Kak, bagaimana?”


Zakiel membalikkan tubuhnya untuk melihat Azriel. Bahkan ia melupakan keberadaan adiknya.


“Bagaimana?” Azriel menatapnya penuh tanda tanya.


“Kak Raisya sedang tidak dirumah. Jadi malam ini kita nggak bisa kesana.” Zakiel tersenyum menatap adiknya. Ia menutupi rasa getir di dada dengan senyuman.


Azriel yang mendengar pernyataan itu mengerucutkan bibirnya. Ia merindukan Raisya, bersamanya seperti menemukan sosok ibu yang sudah lama ia rindukan.


“apa besok Riel bisa main ke sana?” Azriel menatap Zakiel dengan wajah sendu.


Zakiel terdam, bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Azriel. Jika ia mengatakan iya, bukanya itu sama saja ia memberikan harapan palsu untuk adiknya? Tapi jika mengatakan tidak, ia tidak bisa melihat adiknya bersedih.


“Kita lihat besok ya. kalau di rumah Kak Raisya gak ada, berarti Kak Raisya masih di luar.”


“Hmm, baiklah. Sana Kak Kiel keluar. Azriel mau Bogan.”


Zakiel menatap aneh adiknya. Bogan? Bahasa apa itu?


“Bogan itu apa?”


Azriel mendengus melihat wajah bodoh kakaknya. “Dasar manusia purba! Bogan itu, Bobok Ganteng!”


Zakiel melongo mendengar penuturan Azriel. Adiknya benar-benar salah pergaulan. Apa perlu ia memberikan pelajaran untuk temanya itu.



Azriel yang melihat Zakiel membuka mulutnya seperti ikan, memutar bola mata malas. Segera ia mendorong tubuh kekar Zakiel dan menutup pintu kasar.



Zakiel yang mendapat perlakuan seman-mana berteriak di balik pintu yang sudah tertutup itu. Sedangkan Azriel hanya mengangkat bahu acuh. Ia tetap melangkah menuju ranjang empuknya untuk tidur.


“Dasar, Adek durhaka. Kakak kutuk kau jadi belut.”


*****


Farel memasuki ruangan Raisya dengan wajah pias. Di sana, hampir seluruh tubuh Raisya dibalut dengan kasa. Tangan, kaki, dan lehernya tertutup kasa tebal. Bahkan masih terdapat warna merah di sana.


__ADS_1


Farel menggenggam tangan yang terbalut kasa itu. Hatinya nyeri melihat keadaan Raisya yang menyedihkan.


“Maafkan aku. Aku mohon kembalilah. Hukum aku, tapi jangan kau hukum aku dengan kepergianmu.”


Farel menunduk. Ingatan tentang penjelasan mengenai keadaan Raisya membuatnya takut. Termasuk diagnosa yang ia dengar. Raisya mengalami alergi obat-obatan, dan hal itu semakin membuat tubuhnya lama dalam proses penyembuhan. Ia hanya bisa menerima obat herbal saja, atau obat tertentu.


“Bangunlah! Hukum aku!” Farel merasa tubuhnya kaku.


Rasa bersalah mulai merongrong hatinya. Ia bahkan mengabaikan semua orang yang kelimpungan mencarinya, terutama Salsha dan Maria.


****


Maria menggeram marah, lagi-lagi suara operator yang ia dengar. Dimana cucunya sekarang? kenapa ia tidak pulang selama dua hari ini.



Salsha menunduk, otaknya sibuk memikirkan keberadaan Farel saat ini. Ia merindukan sosok itu. Sudah lama ia pergi untuk mengobati rasa kecewanya terhadap sikap Farel di Cafe tempo lalu. Ia ingin memperbaiki semuanya.


“Salsha, apa kalian bertengkar?”


Salsha menegang mendengar pertanyaan Maria. Bagaimana ia harus menjawab? Melihat wajah gusar itu membuat Maria mendengus. Kecurigaanya benar, mereka sedang tidak baik-baik saja.


“apa yang terjadi?” Maria bertanya dengan nada tegas.


Salsha menelan ludah gugup, matanya melirik kesana sini, mencoba mengelak dari pertanyaan yang sulit itu.


“Hanya kesalahpahaman Nek.” Salsha meremas kedua tanganya tanpa sepengetahuan Maria.


Maria menghela nafas dan memutar matanya malas. Ia tidak habis pikir dengan pemuda zaman sekarang.


“Jika kalian memiliki kesalahpahaman, sebaiknya kalian selesaikan baik-baik. Bukanya menjauh! Bukanya selesai, malah semakin rumit. Sekarang lihat, di saat kamu sudah di rumah, Farel malah pergi tanpa jejak.”


Dalam hati Salsha membenarkan ucapan Maria. Ia akui ia salah, tapi ia juga tidak bisa terima Farel tidak menganggapnya dan membuat ia malu. Harga dirinya terlalu tinggi.


“Maafkan aku Nek. Akan aku ingat nasehat Nenek.” Salsha menunduk.


Maria menatap Salsha curiga.


“kau tidak berselingkuhkan?”


Salsha terkejut, bahkan matanya membola mendengar pertanyaan menohok Maria. Bagiaman ini?


“Tidak mungkin aku berselingkuh dari Farel Nek. Nenek tahukan, betapa besar cinta Salsha untuknya. Selingkuh? Itu termasuk hal yang mustahil Salsha lakukan.” Salsha bersilat lidah.


Maria menghela nafas mendengar ucapan Salsha. Ia tidak ingin cucunya tersakiti. Siapa pun itu, akan ia hancurkan sedalam-dalamnya jika berani menyakiti cucu tersayangnya.


__ADS_1


Salsha yang merasa canggung, dan tidak ada yang ingin ia bahas segera bangkit, pamit pergi ke atas.


“Nek, Salsha ke atas dulu ya. Untuk masalah Farel, tolong jangan terlalu dipikir. Salsha yang akan mencari keberadaa Farel, Nenek istirahat saja, ini sudah malam.” Salsha tersenyum.


Maria mengangguk. Melihat kepergian Salsha, Maria menghela nafas lirih. Ia bersyukur, Farel menikah dengan wanita yang dicintainya juga mencitainya. Jika pernikahan dilandasi dengan cinta, ia yakin tidak akan ada perselingkuhan atau pun perceraian di sana. Meskipun belum ada anak di dalam pernikahan itu.


****


Salsha menatap kamarnya sendu. Kamar yang sudah dua bulan lebih ia tinggalkan. Kenangan manis mulai bermunculan di otaknya, membuat ia senang sekaligus merasa bersalah secara bersamaan.


Kenangan manisnya berubah menjadi kenangan panasnya dengan Max. Wajahnya memerah, merasa malu dan merindukan Max sekaligus.


“Tidak! Apa yang kau pikirkan Salsha. Hilangkan pikiran anehmu.”


Salsha berusaha menghilangkan bayang-bayang percintaan panasnya dengan Max, tapi sekuat apa pun ia berusah, sekuat itu pun bayangan itu muncul. Ia mendengus merasakan gejolak gairah yang tiba-tiba muncul.


“Sialan!”


Salsha mengguyur tubuhnya dengan air dingin, entah mengapa kini ia sulit mengontrol gairahnya. Jika seperti ini, ia tidak akan bisa lepas dari cengkraman Max.


“Max, apa yang kau berikan padaku.”Salsha mendesah frustasi.


Merasa suhu tubuhnya mulai menurun, segera ia beranjak dari kamar mandi. Langkah kakinya membawa ke ruangan yang terdapt ratusan baju mahal yang berjajar. Matanya terpaku pada gaun malam berwarna merah marun.



Senyum miris terlihat jelas di wajahnya. Gaun itu, gaun yang ia beli satu tahun yang lalu. Gaun yang sangat seksi. Ia berharap, Farel dapat terangsang jika melihat ia berpakaian seperti itu. Tapi raealita terlalu menyakitkan. Farel hanya menatapnya datar, tanpa ada tatapan memuja di sana.



Tangan rampingnya menyentuh gaun malam itu. Halusnya kain menyentuh tanganya, dengan yakin ia ambil gaun itu dari gantungan dan memakainya.



Mata hitamnya menatap pantulan tubuhnya di cermin besar. Ia menelusuri seluruh tubuhnya, dari kaki sampai ke wajah.


“apa kurangnya aku? Kenapa kau tidak bisa terangsang ketika melihatku Farel?” Salsha bertanya pada bayangan dirinya dengan nada lirih.


Matanya berkaca-kaca, ia merasa lelah selalu mengharapkan sentuhan Farel. Apakah ia harus menyerah?


Sedangkan di tempat lain, terdapat laki-laki yang masih tertidur dengan keadaan telanjang bulat. Ia terhanyut dalam mimpinya, sehingga tanpa sadar telah kehilangan sang kekasih hati. Malam semakin larut, dan ia semakin terlelap.


____________


Selamat menjalankan ibadah tarawih bagi yang menjalankan, terimakasih untuk vote, komen kalian,,,, tiap baca komen kalian aku seneng banget,,,,


Terimakasih sudah baca karya Author 😍😍😘

__ADS_1


__ADS_2