Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
84. Tanda tangan


__ADS_3

Terlihat di sana sosok Andres sedang meringkuk kesakitan dengan keadaan yang menyedihkan. Di samping tubuhnya tak kalah jauh, Jesika dengan tangan dan mulut tersumpal dan rambut acak-acakkan terlihat hampir sama namun, dengan keadaan sedikit baik-baik saja.


“Bagaiamana bisa kau menghianatiku?” Farel menatap tajam mereka berdua.


Jesika menggigil ketakutan. Rasa sakit di wajahnya tidak ia hiraukan, mata sipitnya mengalihkan pandangan dan menatap Andres dengan wajah bersalah.


“Katakan, apa yang kalian rencanakan?” Frel menggeram marah.


Mereka berdua tetap diam. Mereka takut, juga bingung untuk menjawab pertanyaan dari Farel. Sedangkan Farel yang melihat keterbungkaman mereka menjadi semakin barang. Tangannya mengambil pisau kecil, kemudian menggoreskannya di sekitar dinding.



Suara yang memekikan telinga memenuhi ruang gelap nan pengap itu. Para pengawal yang berjaga di depan ruangan bergidik ngeri.



Jesika yang melihat Farel berjlan ke arah Andres yang sudah terkulai berteriak dengan mulut tersumpal. Membuat sumpalan di mulutnya hmpir masuk kemulut untuk memudahkannya berbicara.


“Tuan, aku mohon jangan sakiti Andres, d tidak bersalah, dia tidak berkhianat. Jika ada yang salah di sini, itu saya, mohon hukum saya dan lepaskan Andres.” Jesika memohon dengan wajah yang penuh air mata dan suara yang sedikit tidak jelas karena sumpalan itu.


Farel terkekeh sinis. “Dari awal aku sudah tidak percaya denganmu, dan sekarang, kau berani sekali menghasut orang kepercayaanku?” Farel memutar langkahnya, berjalan mendekat ke arah Jesika.


Andres yang masih memiliki sedikit kesadaran berusaha merangkak, meraih kaki Farel. “Tuan, aku mohon jangan sakiti Jesika. Anda boleh memukul saya, menusuk saya, tapi jangan melukai Jesiak. Cukup luka yang diterima Jesika, jangan tambah lagi.” Andres merangkul erat kedua kaki Farel.



Farel mendengus, merasa kesal karena tubuhnya disentuh orang lain. Terlebih seorang penghianat. Dengan kekuatan penuh, Farel menyentakkan kakinya, membuat Andres terpental dengan kepala membentur dinding.



Andres tergeletak mengenaskan, dengan kepala yang bercucuran darah. Jesika yang melihat tindakan anarkis Farel, memekik tertahan karena mulutnya yang tersumpal.



Farel yang melihat mereka, tersenyum sinis. Kini dapat laki-laki itu simpulkan, jika mereka memiliki hubungan khusus.


“Oh, ada drama yang menyedihkan. Merangkaklah Jesika, bantu kekasihmu yang sekarat itu.”


Jesika mengalihkan pandangannya dari Andres. Mata sipitnya semakin sipit karena lamanya menangis. Mata itu menyorot Farel dengan tajam. Laki-laki di depannya benar-benar iblis, terlepas dari masa lalunya yang memperihatinkan.


“Apa? Kau mau marah?” Farel menantang Jesika. “Bahkan untuk bangkit pun, aku yakin kau butuh kekuatan yang sangat banyak.” Farel tertawa jahat.


Tok... Tok...


Farel mengalihkan pandangannya, menatap pintu kayu yang terketuk.


“Masuk.”


Beberapa detik kemudian, muncullah sosok laki-laki dengan badan besar menunduk dan membisiskkan sesuatu.


“Tuan, Tuan Ricard sudah ada di depan.”


Farel yang mendengar bisiskan itu tersenyum cerah. Rasa marahnya terhadap dua penghianat itu lenyap seketika. Dengan langkah tegas, ia berjalan keluar, meninggalkan tiga sosok dengan keadaan yang sangat berbeda. Dua dengan kondisi yang mengerikan, dan satu dengan wajah yang penuh perihatin.


__ADS_1


Sebelum benar-benar pergi, Farel membalikkan badanya, menatap mereka bertiga dengan pandangan rumit.


“Kau.” Tunjuk Farel ke arah sosok besar itu. “Obati luka mereka berdua, jangan sampai mereka mati.” Tepat setelah mengucapkan itu, Farel berjalan meninggalkan mereka ang membeku.


Farel terkenal manusia tanpa ampun. Mendengar perintah mengobati mangsanya membuat mereka bertanya-tanya.


****


Ricard menatap tempat yang ia masuki dengan ngeri. Laki-laki itu tidak menyangka, Andres akan melakukan hal yang sangat bodoh, berkhianat.



Ia tahu dengan jelas siapa Andres itu. Andres teman satu fakultasnya dulu, mungkin tidak bisa dikatakan teman, karena mereka hanya saling mengenal tanpa menyapa, tapi ia tidak pernah meragukan kesetiannya.



“Bagaiamana?”



Suara itu membuat Ricard yang menerawang jauh di sana terlonjak. Mata hitamnya menatap Farel yang terlihat sedikit kacau, ah, tidak sedikit tapi sangat kacau.


“Semua sudah selesai Tuan. anda sudah resmi cerai, dan Anda tinggal menandatangani berkas terakhir. Dan ini akte pernikahan anda.” Ricard menyerahkan dua buku nikah dengan waran hijau dan merah.


Farel tersenyum. Kini, ia hanya membutuhkan tanda tangan dari Raisya saja, dan semua selesai. Untuk maslah selanjutnya akan ia selesaikan sampai tuntas.


“Bagaiaman dengan pergerakan Salsha?”


“Pengecara Nona Salsha terlihat tidak menerima keputusan terakhir itu namun, tetap pengacara itu kalah. Dan saya mendapatkan laporan jika Nona Salsha sedang merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Nyonya Tuan.”


“Apa yang wanita ular itu rencanakan?”


“Nona Salsha berencana menjebak Nyonya, dan akan meggilir Nyonya untuk para bawahannya.” Ricard menunduk takut.


Farel mengepalkan tangannya erat. Otot tangannya terlihat menyembul keluar. Rahangnya mengeras, begitu pula dengan nafasnya yang mulai memberat.


“Wanita siala*n itu, beraninnya dia!” Farel menggertakkan giginya. “Ricard, kau tahukan apa yang harus kau lakukan.” Farel menatap Ricard tajam.


“Ya, saya tahu Tuan. Anda tidak perlu khawatir.”


“Bagus.” Farel menyeringai.


****


Raisya merenung, matanya menatap langit yang bertabur bintang di atas sana. Rengkuhan di pinggangnya membuat ia terperanjat kaget. Dengan cepat ia mencoba memberontak, tapi aroma parfum yang tidak asing membuatnya terhenti.


“Farel?”


Farel yang mendengar Raisya memanggilnya lirih semakin mengeratkan pelukannya. Laki-laki itu menghirup rakus aroma Raisya yang sudah menjadi candunya itu.


“Hmm.” Farel bergumam di antara kegiatannya mengendus leher Raisya.


“Kau dari mana saja?” Raisya bertanya dengan mencoba menahan rasa gelinya.


Pertanyaan itu mebuat kegiatan Farel mengendus leher Raisya terhenti. Rasa bahagia tiba-tiba menyeruak di hatinya.

__ADS_1


Farel membalikkan tubuh Raisya. “Apa kau merindukanku?” Mata coklat itu menatap dalam wanita bermanik hijau.


Raisya menelan ludah gugup. Mungkin benar ia merinduka Farel, tapi ia terlalu malu mengungkapkannya.


“Tidak.” Raisya menundukkan kepalanya.


Farel menghela nafas panjang. Ah, pasti Raisya tidak merindukannya. Bagaiamana bisa wanita itu rindu dengan laki-laki sepertinya, sedangkan dia memiliki tambatan hati yang sempurna dengan perangai lembut, seperti Jhonatan.



Raisya yang merasa Farel terdiam mendongak. Matanya menatap Farel yang terlihat putus asa. Rasa tidak senang tiba-tiba memasuki perasaanya.


“Farel?”


Farel mengerjap, mengulas senyum tips, dan menatap Raisya lembut. “Kenapa?” Tangan kekar itu membenarkan letak rambut coklat itu yang tidak tertata rapi.


“Kenapa kau terlihat sedih?”


“Aku? Hmmm bagaiaman ya menjelaskannya?” Farel memainkan lidahnya di dalam mulut.


Raisya yang melihat ekspresi Farel bertambah bingung. Mungkin ini saatnya ia menjelaskan semuanya. Wanita itu yakin, Farel sudah mengetahui tentang Jhonatan.


“Farel ada yang ingin aku katakan.” Raisya menarik tangan Farel ke arah ranjang.


Sedangkan Farel yang ditarik hanya terdiam mengikuti Raisya dengan pandangan rumit.


“Farel, mungkin aku terlambat untuk jujur. Sebenarnya .......” Rasiya menjelaskan semua. Dari awal ia menerima tawarannya, sampai di mana i memutuskan hubungan dengan Jhonatan.


Farel yang mendengar itu tertegun. Ia yakin Raisya sangat mencintai Jhonatan. Tidak akan ada wanita yang rela berkorban seperti itu tanpa alasan.


“Maafkan aku, selama ini aku diam-diam menemui Jhonatan. Tapi aku berjanji, minggu lalu adalah terakhir aku bertemu dengannya.” Raisya menatap Farel serius.


“Aku sudah tahu, bahkan aku melihat sendiri kau berciuman dengan laki-laki itu.” Farel berucap dengan datar.


Raisya tertegun. Jadi alasan Farel selama ini, karena itu. Oh, Tuhan, Bagaiamana bisa ia bersikap biasa saja setelah semua ini?


“Farel, aku tidak berciuman.” Raisya menatap Farel serius.


Farel membuang muka. “Bukankah itu wajar, kau mencintainya, dan dia mencintaimu. Di sini, akulah orang ketigannya.” Farel mengepalkan kedua tangannya erat.


Raisya terdiam tidak bisa menampik tentang fakta itu. Namun, semua tidak hanya salah Farel. Farel memberi ia tawaran, dan ia menerimanya.


“Jangan bahas masalah itu. Jika kau orang ketiga, maka aku juga orang ketiga dalam hubungan mu dengan Istrimu.” Raisya membuang wajah, enggan menatap Farel ketika mengingat statusnya.


Farel menatap Raisya. “Berarti kita sama-sama orang ketiga, bagaimana kalau kita menikah saja?”


____


sejujurnya part ini masih panjang banget,, terus Author potong,, soalnya kalau digabung kepanjangan 😢😢


Mungkin banyak yang mikir alurnya lama,, gimana lagi ya,, emang aku udah buat kerangka ceritanya kayak gini,, jadi kalian sabar ya 😉😉😉


Untuk proses perceraian yang bener jujur Author gk terlalu paham,, pernah ngerti sih, cuma udah lupa.. Terus masalah pengajuan nikah, Author nulis gitu bukan dari pengalaman, tapi Author pernah baca novel yang di sana protagonis pria bisa ngajuin pernikahan diam-diam dan dalam waktu singkat,,, entahlah, bener apa gk itu,, kalo ada yang tahu bisa kasih jawaban ke Author ya, biar Author revisi lagi nanti 😊😊😊


Terimakasih sudah membaca,,,

__ADS_1


Untuk kakak² yang udah kasih semangat dan dukungan,, lope lope sekebun 😍😍😍😍


__ADS_2