Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
107. Siasat


__ADS_3

Salsha termenung melihat aksi percintaan panas dua pasangan itu. Hatinya teriris. Ingatan tentang pernikahannya, perselingkuhan, kemudiAn kebohongan-kebohongan kecil yang ia lakukan membuat ia mulai bimbang.


Sanggupkah ia memisahkan dua insan yang terlihat saling mencintai itu? atau ia akan tetap menutup mata dan terhanyut dalam dendam yang sebenarnya ia yang memulai semuanya.


“Kau bimbang?”


Salsha terlonjak, matanya menatap sosok laki-laki yang menyelamatkannya dengan pandangan rumit.


Alex tersenyum sinis, menatap Salsha yang terlihat bimbang saat ini. Tangan kekarnya menarik lengan Salsha, membawanya menjauh dari pantai agar tidak ketahuan keberadaan mereka oleh pengawal Farel.


Salsha yang ditarik hanya diam, membiarkan lengannya tercengkram dengan kaki yang mengikuti setiap langkah laki-laki itu.


“Dengarkan aku.” Alex menatap serius Salsha. “ Kau harus menyelesaikan semua yang sudah kau mulai. Selesaikan dendammu, dan akhiri semuanya.”


Salsha tetap terdiam, matanya mendongak menatap laki-laki itu dengan kosong. “Apa yang aku dapatkan dari balas dendam itu?”


Alex menyeringai, sepertinya wanita di depannya itu sudah sadar dengan perbuatannya, tapi ia tidak bisa membiarkan semuanya berjalan dengan benar.


“Kau bertanya kepadaku?”


“Apa yang aku dapatkan? Setelah menhancurkan mereka berdua apa yang aku dapat? Mereka terlihat saling mencintai?” Salsha menunduk, bergumam lirih di akhir kalimatnya.


Alex menatap perihatin Salsha, tapi tatapan itu hanya bertahan sekejap, tergantikan dengan tatapan murka.


“Kau bodoh? Kau ingat apa yang dilakukan Farel? Kau hampir gila jika aku tidak datang menolongmu.” Alex menggoncang bahu Salsha dengan kasar, membuat wanita itu tersentak kedepan dengan padangan rumit.


“Kau harus membalas mereka, minimal, buat mereka tidak bersama, buat mereka sadar jika apa yang dilakukan adalah kesalahan besar! Tertawa di atas tangisan orang lain, bahagia di saat kamu menjalani hidup dalam kesepian!”


Salsha terdiam. Mendengar kata kesepian sanggup membuat dadanya terasa sesak. Ia sadar, ia sendiri. Bahkan keluarganya tidak ada satu pun yang melihatnya, atau sekedar menanyakan kabar tentangnya.


Apa ia harus membalas dendam untuk mereka, Farel dan Raisya, saat kedua manusia itu hanya membalas apa yang sudah ia lakukan?


“Dengarkan aku, kau harus membalas mereka.” Alex menatap serius Salsha kemudian berjalan cepat meninggalkan wnita yang terlihat masih terpaku itu.


Salsha terdiam, otaknya sibuk memikirkan segala tindakannya. Dia sudah kehilangan semuanya, apa ia mampu membuat orang lain juga kehilangan?

__ADS_1


Tindakannya untuk menghasut Maria membuat ia senang, tapi kesenangan itu hanya bertahan beberapa jam saja. Setelah melihat aksi gila Farel, ia sadar. Sebenarnya ia tidak membutuhkan balas dendam, ia hanya butuh sebuah perhatian, cinta, dan ketulusan.


Apa ia akan mendapatakan semua itu setelah semua keburukan yang telah ia perbuat? Berselingkuh, menyakiti perasaan laki-laki yang tulus mencintainya, dan terakhir membunuh darah dagingnya? Siapa laki-laki yang mau menerimanya?


Max yang sangat tergila-gila pergi meninggalkannya. Farel yang selalu memaafkan kesalahannya memandangnya jijik, bahkan keluarga yang selalu ia doakan dan sayangi abai dengan keberadaanya.


Wanita itu terlalu lelah. Lelah dengan ambisi dan cintannya, lelah dengan obsesi dan kegilaannya, lelah dengan segala dendam dan sakit hati yang membelenggunya.


Tubuh ringkih itu terjatuh, tangan rampingnya terkepal, matanya mmerah, dan tangisan tidak bisa ia tahan lagi. Ia sadar, semua terjadi karea kesalahannya.


Andai ia bisa menerima semuanya tanpa bermain api, apa semua akan kembali seperti dulu? Apa memang ini sudah suratan takdir dari sang penggerak semesta?


Rasa hampa dan putus asa membuat ia frustasi. Kehilangan yang mengahantamnya bertubi-tubi sanggup membuatnya kehilangan akal.


Wanita itu sibuk berandai-andai, dan yang paling ia sesali saat ini adalah kehilangan anaknya karena obsesi gilanya.


****


“Bagaiamana?” Maria menatap serius asisten laki-lakinya yang terlihat berkutat dengan beberapa dokumen.


Maria dengan dagu terangkat mengambil map itu, membacanya dengan teliti, mmbiarkan wajah keriputnya semakin mengkerut karena terlalu serius.


“Bagaiamana bisa dia mendapatkan info ini?” Maria bertanya dengan serius.


Asisten itu menegakkan tubuhnya, siap menjelaskan segala informasi yang sudah ia dapatkan.


“Sepertinya, dia mendapatkan semua ini tanpa di sengaja Nyonya. beberapa hari yang lalu, dia mendapatkan kiriman video beserta beberapa data dari orang yang tidak di kenal.” Asisten itu menjelaskan dengan menyerahkan bukti CCTV.


Dalam video itu terlihat jelas ada kurir yang mengantar kotak dengan gelagat yang lumayan mencurigakan. Bukan hanya itu, kurir itu seperti di pantau dari kejauhan.


“Kau tahu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini?” Maria bertanya dengan mata tetap menatap fokus pada layar kaca.


“Menurut penyelidikan saya, pengirimnya sama dengan sosok misterius yang mengirimkan data kepada Nyonya.”


Maria terdiam, wanita tua itu berfikir dengan keras, mencoba memahami siatuasi yang sedang terjadi.

__ADS_1


“Kau harus menjaga wanita itu, jangan biarkan siapa pun berani menyentuhnya,” Maria berucap dengan nada tegas.


Asisten itu mendongak, menatap penuh rasa terkejut ke wajah yang sudah keriput itu. Maria yang menyedari perubahan asistennya menatap datar.


“Kenapa?”


“Ah, maafkan saya Nyonya. Saya hanya terkejut, bukankah anda membenci wanita itu?” Asisten itu bertanya dengan takut-takut.


Maria terdam, wanita tua itu terlihat menerawang jauh, entah apa yang sedang wanita itu pikirkan. Sedangkan asisten itu yang menyadari perubahan sikap Maria berdahem canggung, merasa telah melakukan kesalahan.


“Aku tidak membencinya, tapi aku merasa kasihan,” Maria berucap degan lirih.


Asisten itu mendongak, merasa bingung dengan maksud ucaan atasannya itu Kasihan? Apa yang perlu di kasihani?


“Kau ingat, putriku juga bernasib sama dengan wanita itu, dan dia berakhir menyedihkan.” Maria mengepalkan tangan erat, mencoba membuang perasaan sesak yang tiba-tiba merambat di dadanya.


“Maafkan saya Nyonya.” Asisten itu menunduk.


“Hmm, tidak apa-apa.”


“Apa anda mendukung wanita itu, Nyonya?”


“Tidak, aku tidak pernah mendukung kesalahan, tapi aku juga tidak bisa menutup mata jika dia hanya korban dari keegoisan cucuku.”


Hening, mereka berdua berkutat dengan pikiran masing-masing. Maria terlihat fokus pada dokumen di depannya, tapi pikiran wanita paruh baya itu terlihat jelas tidak di sana.


“Kau awasi wanita ular itu.” Maria berceletuk di tengah-tengah keheningan, membuat asisten itu yang mencoba mencerna segala yang terjadi mendongak, menatap Maria penuh serius.


“Baik, Nyonya. Apa saya harus melakukan kekerasan?”


“Tidak, jangan lakukan itu, aku ingin dia berpikir jika kita berada di pihaknya, dan tidak tahu menahu, dan satu lagi, awasi cucu bodohku itu.” Maria menggertakan gigi kesal.


Ingatan tentang Farel yang bertindak kurang ajar membuat ia murka. Meskipun semua yang dilakukanya terpaksa, ia tetap sakit hati.


Paling tidak, ia harus memberi sedikit pelajaran untuk cucu tersayangnya, karena kesalahan yang di perbuat. Pertama, membentak dan bertindak tidak sopan. Kedua, mempertahankan wanita ular itu meskipun sudah tahu kesalahan fatalnya. Dan ketiga, menjadikan wanita baik-baik sebagai pelampiasan nafsu bejatnya.

__ADS_1


__ADS_2