
Salsha menatap nanar video yang berputar di dalam layar datar itu. Terdegar jelas ******* keras dari sana. Tanpa mampu dicegah, butiran kristal mulai berjatuhan dari wajahnya.
“Ha ha ha, lucu sekali hidupku, ternyata selama ini aku mencintai sosok laki-laki yang tidak pernah mencintaiku, bahkan aku sanggup membunuh darah dagingku sendiri dan mencampakkan laki-laki yang tulus mencintaiku.” Salsha menutup mulutnya dengan raut tidak percaya. Tawa hambar dengan wajah yang penuh air mata membuat ia terlihat sangat menyedihkan.
Bagaimana bisa, Tuhan sangat kejam dalam menghukumnya. Jika semua takdir yang menimpanya ini karma dari dosa-dosanya selama ini, maka ia akan menuntut keadilan juga. Bukan hanya dia yang sudah melakukan dosa besar, tapi Farel juga. Maka, ia akan dengan senang menunggu karma yang akan menimpa laki-laki itu.
Di sisi lain, Max menatap layar yang menampilkan dua tempat sekaligus. Pertama, tempat Raisya dan Farel, dan kedua tempat Salsha.
“Waw, ternyata Farel luar biasa gagah.” Max berkomentar tidak percaya.
Tayangan di depannya membuat Max meragukan informasi yang ia dapat dulu. Jika Farel benar-benar impotent, hal yang ada di dalam sana sudah pasti tidak benar.
“Bagaiamana bisa orang buas seperti itu Impotent?”
Roy yang juga ikut melihat tayangan itu memejmakan mata. Wajah laki-laki itu sudah merah padam, tayangan dewasa secara live di sana sungguh membuat lututnya lemas. Biar bagaiamana pun, ia laki-laki normal, dan hal seperti itu sungguh menggugah sisi binatangnya.
Ditambah pertanyaan frontal Max membuat wajah Roy semakin merah. Ia seoarang perjaka yang terpaksa menonton video dewasa dan sekarang harus mendengar segala pertanyaan dan pernyataan yang dilontarkan Max tanpa beban.
“Hay, kau lihatlah bagaiaman Farel bermain, apa kau percaya laki-laki seperti itu Impotent?” Max menatap Roy dengan raut tidak percaya,
Sedangkan Roy yang mendengar pertanyaan gila itu hanya mampu berdahem canggung. Bagaiaman ia harus berkomentar.
“Kau tuli? Jawab pertanyaanku?” Max menggeram kesal dan menatap dingin Roy.
Roy menelan ludah kasar. Ujian terberat jika mempunyai atasan yang setengah gila. Bukan gila yang butuh perawatan intensif, tapi gila karena sifat dan kelakuannya.
“Iya, Tuan.” Roy menjawab apa adanya.
Max memcingkan mata tidak suka. “Apanya yang iya, dasar perjaka lapuk. Cepat kau gunakan senjatamu sebelum senjatamu berubah berkarat.” Max menatap remeh selangka*gan Roy.
Roy yang mendengar penuturan dan lirikan Max mendengus dalam hati. “ Maaf, Tuan. Tapi saya hanya akan memberikan keperjakaan saya untuk Istri saya nanti,” Roy berucap dengan sedikit nada bangga di dalamnya.
Max terdiam, mendengar penuturan Roy, membuat dirinya berpikir. Ah, andai saja ia bisa menjaga burungnya, mungkin ia tidak akan mengalami hal seperti ini. Tapi, ia tidak harus menyesalinya, setidaknya, ia hampir memilki anak.
__ADS_1
“Ya, kau benar. Jangan lakukan hal berdosa, meskipun tidak ada yang tahu kita masih perjaka atau tidak, tapi kita tetap harus menjaga diri. Seperti halnya kita yang ingin mendapatkan seorang Istri yang masih perawan, perempuan juga menginginkan seorang Suami yang masih perjaka.” Max menerawang jauh di sana.
Roy terdiam, ucapan Max sungguh luar biasa. Baru kali ini, ia mersa Max berada di jalan yang benar.
“Baik, Tuan. Saya akan mengingat nasehat anda.” Roy menganggukkan kepala tegas.
Max mengerjap, ia berbicara seperti itu tanpa kesadaran. Kalimat panjang dan bijaksana itu terlontar dengan sendirinya.
“Hay, saya tidak sedang menasehatimu.” Max mendengus kesal.
Roy tergagap. Baru saja dia memuji tingkah Max, namun, laki-laki gila itu sudah membuatnya ingin cepat-cepat menarik pujiannya.
“Maafkan saya Tuan.” Roy mengalah. Lebih baik ia mengakhiri percakapan yang menurutnya hanya akan membawa emosinya terombang-ambing dengan meminta maaf.
“Hmm, kau lakukan tugasmu selanjutnya.” Max berucap dengan seringai di wajahnya dan mengetuk ujung jarinya di atas meja.
Roy merinding. Bagaiamana bisa Tuannya membuat rencana gila seperti itu. Tapi apa boleh buat, ia hanya seorang babu yang hanya memilki pilihan untuk menuruti segala keputusan dan perintah Tuannya.
“Baik, saya sudah memerintah bawahan saya untuk menjalankan semuanya Tuan. Anda hanya perlu memantau semuanya lewat CCTV.”
****
Salsha meraung dengan keras. Suara tangisannya bersahutan dengan suara ******* dari layar CCTV. Berualang kali tangan rampingnya menekan tombol of untuk menghentikan video di dalam sana. Namun, video itu tak kunjung mati.
Setiap matanya menatapa tayangan di dalam sana, dan kupingnya mendengarkan ******* yang luar biasa itu, sebesar itu pula ia merasakan hatinya tercabik-cabik.
“Argh, sia*an.” Raisya membanting gelas yang berisi minuman di depannya.
Pengawal yang berada di ujung pintu segera mengkode bawahannya untuk mengambil minuman baru. Dengan cepat datanglah minuman baru yang sudah bertenggar manis di atas meja itu.
“Nona, sebaiknya anda tenangkan diri anda, minumlah.” Pelayan itu berujar dengan menunduk dan gugup.
Salsha memejamkan mata untuk menahan rasa emosi akibat kinerja bodoh bawahannya.
__ADS_1
“Kalian! Kalian aku gaji mahal untuk melakukan tugas ini, tapi apa hasilnya? Hah, kalian sangat tidak berguna. Keluar!” Salsha berteriak nyaring.
Mereka yang mendengar teriakan itu menunduk takut. Meskipun yang berteriak seorang wanita, tapi kekuasaan dan uang wanita itu tidak bisa di anggap remeh. Sekali tepuk, mereka yakin tidak akan selamat.
Tanpa menunggu lama, mereka dengan cepat berlari, menjauh, dan keluar dari ruangan Salsha. Meninggalkan wanita itu dengan keadaan yang luar biasa kacau.
Salsha menatap dingin punggung bawahannya yang terliha semakin mengecil. Suara pintu tertutup membuat ia memejamkan mata.
“Sebaiknya aku sudahi semua ini,” Salsha berujar degan wajah putus asa.
Salsha dengan cepat membanting laptop di depannya, dan membuang tanpa beban. Setelah itu tangan rampingnya dengan cepat mengambil minuman dan menegaknya dengan sekali tegak.
“Ah, aku menyerah. Aku tidak akan menggangu kalian, aku harap Tuhan memberi karma seperti aku yang mendapatkannya.” Salsah tersenyum miris.
Beberapa saat kemudian, wanita itu merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Rasa gerah dan perasaan tidak nyaman membuat ia mengernyitkan dahi dalam. Tubuhnya tiba-tiba panas dan membutuhkan sesuatu yang sangat ia pahami.
Matanya melotot ketika menyadari apa yang terjadi dengan tubuhnya. Apa ini yang dinamakan senajata makan tuan?
“Tidak, ahhh, ishhh.” Salsha menggelengkan kepalanya dan menahan rasa yang mulai merambat dari kaki sampai ke inti tubuhnya.
Sepertinya dosis obat yang ia konsumsi lebih besar, terbukti dengan wanita itu yang sudah terlihat berantakan, padahal jarak waktu ia minum dan merasakan efeknya sangatlah cepat.
“Brengs*k, apa ini ulah Farel?” Salsha bergumam ditengah-tengah rasa yang tak tertahan itu.
Dengan cepat wanita itu berlari keluar, sekedar meminta bantuan bawahnnya untuk memanggil dokter. Namun, baru saja tangannya menyentuh handle pintu, pintu itu terkunci.
“Ahh, bagaiamana ini? Farel kurang ajar!” Salsha terjatuh dengan wajah yang sudah penuh peluh.
_______
Author mengucapkan selamat hari raya Idul fitri, mohon maaf lahir dan batin teman² ya 😘😘😘
Terimakasih untuk seluruh pembaca setia Wanita Simpanan,,, terlebih bagi yang sudah memberi semangat dukungan dan lainnya,,,,
__ADS_1
Salam cinta dari Author untuk kalian semua,,
Part selanjutnya kayaknya adegannya menjijikan deh,, jadi tahan mualnya ya 👻