Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
132. Pergi


__ADS_3

Suasana kamar itu terlihat mencekam, Max menatap sosok laki-laki yang terlihat bergelung di dalam selimut dengan malas.


“Sampai kapan kau seperti ini?” Max bertanya dengan nada datar.


Laki-laki itu yang memang sedari awal tidak tidur bangun seketika, wajah bantal tapi masih terlihat sangat tampan terlihat jelas di wajahnya.


“Kenapa? Bukankah kita sudah terbiasa seperti ini?”


“Ck, sekarang kita tidak bisa lagi bersama! Kau tahu, ada yang mengetahui rahasia kita.” Max menggeram marah. Ingatan laki-laki itu terjun bebas saat mendatangi rumah Farel. Bukannya ia mendapatkan apa yang ia mau, ia malah harus kena serangan jantungan akibat rahasia kelamnya yang terungakp.


Laki-laki itu membuka matanya dengan lebar. Mata sejernih lautan menyorot Max dengan tajam, seperti mempertanyakan kesungguhan ucapan dari perkataan Max.


“Apa maksudmu?”


Max mengusap wajahnya kasar. Dengan penuh geram, laki-laki itu menarik kerah sang laki-laki kemudian mendesis tajam.


“Dia tahu kalau aku memiliki hubungan gelap denganmu!” Max menatap tajam.


“Oh.”


Mendengar jawavan yang terkesan singkat dan meremehkan itu membuat Max menggeram marah. Bagaiaman bisa laki-laki itu masih bisa terlihat santai, saat aib mereka terbongkar.


“Kau!”


“kenapa? Bukankah semua itu benar? Apa kau masih tidak bisa melupakan dia?”


Max terdiam, tangan yang mencengkram erat kerah laki-laki itu mengendur. Dengan gontai, Max berjalan meninggalkan sosok yang menertawakan dirinya itu.


“Kau ternyata masih sama seperti dulu, lemah!”


Max yang mendengar cibiran itu berhenti, dengan cepat ia membalikkan badan dan menatap sosok itu dengan sorot rumit.


“Ya, aku tidak pernah berubah! Aku hanya sosok lemah di matamu, Damian.”


Tepat setelah mengatakan itu, Max melenggang pergi meninggalkan laki-laki yang bernama Damian.


“Ck ck, sudah ku bilang, jangan pernah berhubungan dengan wanita. Wanita itu hanya menyusahkan!”


****


Max termenung. Laki-laki itu menatap kosong pintu berwarna putih yang masih setia tertutup. Mata laki-laki itu menatap hampa, seakan telah kehilangan arah dan tujuan hidup.


“Tuan.”


Panggilan itu membuat Max dengan cepat memasang wajah datar dan tegas. Mata hitamnya menatap Roy yang terlihat sangat berantakan.


“Bagaiamana?”


“Semuanya tidak terkendali Tuan. pemasokan barang-barang gagal, dan beberapa barang yang kita kirim tertangkap,” tertangkap.


Max mengepalkan tangannya kuat. Ia yakin, semua ini ulah Farel.


“Hmm, biarkan saja,” jawab Max dengan nada lemah.


Roy yang mendengar itu mengerjakan mata. Matnya melihat sosok Tuannya dengan bingung. Bagaimana bisa Tuannya menjawab dengan enteng tanpa beban, sedangkan hal yang dibahas bukanlah hal enteng.

__ADS_1


“Tuan_”


“Turuti peritahku. Sudah waktunya kita kembali ke jalan yang lurus.” Max membuang muka. Meskipun ada sedikit rasa sesal, tapi ia berusaha ikhlas.


Roy terdiam. Sebenarnya ia juga lelah menjalni pekerjaan kotor ini. Tapi apa boleh buat, ia sejak lahir sudah berada di lingkungan seperti itu.


“Baiklah Tuan. Bagaiaman dengan mereka yang tertangkap?”


“Beri kompensasi untuk seluruh keluarganya.” Max menatap lurus kedepan.


Roy terdiam sejenak, kemudian mendongak dan menatap Max ragu-ragu. “Tuan, apa anda benar-benar yakin?”


“Sangat yakin. Kita tidak bisa selamanya hidup dalam dunia seperti itu. Terutama aku memilki adik yang masih kecil, aku bertanggung jawab penuh untuk keselamatanya,” Max menjawab dengan tenang.


“Baik, Tuan,” Roy dengan tegas menjawab, kemudian membalikkan tubuh untuk segera melakukan perintah atasannya itu.


Max menatap punggung Roy yang terlihat semakin jauh, kemudian tertelan tembok putih di depan sana. Laki-laki itu merasa semua sudah selesai, terlebih saat Farel mengetahui fakta yang sangat memalukan tentang dirinya. Semuanya telah berakhir, mungkin, ia harus pergi jauh, meninggalkan semuanya. Termasuk cintanya yang entah ampai kapan akan setia menutup mata.


“Maafkan aku, semoga kau tetap bahagia.” Max menatap pintu putih itu dengan tatapan kosong.


Keputusannya sudah bulat, ia akan pergi meninggalkan negara ini. negara yang memberinya cinta serta luka.



Sedangkan di dalam sana, sosok wanita dengan beberapa alat penunjang kehidupan terlihat meneteskan buliran bening di sudut mata Tangannya sedikit bergerak namun, itu hanya sebentar.


****


Damian menatap Max yang terlihat mengemasi pakaian dengan lemah. Bibir merah itu terlihat menyeringai.


Max menghentikan gerakannya. Matanya menyorot sosok yang berdiri dengan santai di depan sana.


“Hmmm, aku akan mengikuti seluruh keinginanmu, tapi kau harus ingat_”


“Ya, aku tidak akan melupakan itu. kau hanya perlu patuh, maka semua akan berjalan sesuai dengan keinginanamu, dan yang pasti terpantau olehku.” Damian menatap Max dengan penuh kelicikan.


Rahang Max terlihat menggeram, laki-laki itu benar-benar merasa marah. Semua kembali seperti dulu, ia akan dijadikan boneka, dan ia akan kembali menjadi Max yang pecundang. Tapi tak apa, selama mereka bisa bahagia, aku akan berusaha rela.


“Hmmm.”


“Kau harus siap di sana, sesuai dengan perintahku.”


Max mengepalkan tangannya kuat. Namun, sekuat hati laki-laki itu menahan tangannya agar tidak melayang, memberikan bogeman mentah di wajah yang bisa dibilang sangat tampan itu.


****


Farel menatap kesal ke arah sang wanita. Wanitanya itu terlalu baik hati. Kenapa ia tetap menerima tamu yang sudah pasti tujuannya hanya ingin melukai.


“Silahkan diminum Tuan.” Raisya tersenyum dengan anggun.


Berbeda dalam hatinya. Jika di luar wanita itu terlihat santai dan biasa saja. Namun, dalam hati ia sudah ingin menjerit, kalau bisa wanita itu lebih memilih berkutat di kamar.


“Terimakasih, tapi saya di sini tidak akan lama.”


Farel menatap tidak suka laki-laki tua di depanya itu. Sudah salah, tapi tidak ada keinginana meminta maaf sekalipun.

__ADS_1


“Langsung saja, apa tujuan Anda ke sni Tuan Dawal.” Farel mentap datar Laki-laki tua itu, yang tak lain ayah dari Salsha.


Tuan Dawal terlihat diam, kemudian helaan nafas terdengar jelas dri sana. Mata yang tadi terlihat sombong, kini berubah berkaca-kaca.


“Tolong temui Salsha.”


Deg!



Raisya memicing mata tidak suka. Bagaiaman bisa, laki-laki tua itu meminta sesauatu yang pasti akan membuat hubungan seseorang hancur dengan mudah.


“Apa maksud anda?” Suara dingin itu membuat ruangan semakin menegang.


Raisya mencari asal suara itu, ternyata di sana berdiri sosok Maria dengan pakaian formal berwarna hijau muda.



Beberapa detik hanya ada keheningan. Tuan Dawal yang terlihat menunduk, mungkin laki-laki itu malu, karena yang membuka seluruh fakta tentang anaknya adalah Maria. Sedangkan Farel tersenyum lebar, merasa kedatangan Neneknya saat ini sangat membantu.


“Raisya, bagaiamana kabarmu dan Cicit Nenek?” Maria bertanya dengan tangan yang sudah mengelus lembut perut buncit itu.


Raisya yang masih bingung dengan situsi yang tiba-tiba berubah itu mengerjap, kemudian memberikan senyuman hangat sebagai jawaban.


“Jaga kesehatan. Jangan pikirkan hal-hal yang tidak penting.” Maria mengelus pundak Raisya lembut, kemudain matanya menyorot Tuan Dawal dengan sorot tajam, seakan kata ‘tidak penting’ itu tertuju untuknya.


“Jadi, istrimu hamil?”


Pertanyaan itu mengundang tatatapan aneh dari semua orang yang berada di sana. Maria yang memang dari awal kurang suka dengan keluarga Salsha tersenyum sinis, dan mendecih.


“Kau tidak lihat perut Cucu menantuku? Kau kira ini masuk angin atau gumpalan lemak? Orang bodoh saja tahu kalo di dalam sini ada seoarang bayi.”


Farel yang mendengar itu menahan tawa, sedangkan Raisya melongo tidak percaya, dan terakhir Tuan Dawal yang semakin menundukkan kepala.


______


Kira kira Max punya hubungan apa sama Damian? trus siapa Damian itu,, penasaran gk?


hihihi


I.Allah Author bakal buat cerita khusus buat kehidupan Damian dan Max,, Apa Max jadi pemeran utama? hmmmm tebak aja ya,, Author jamin,, cerita mereka gk kalah seru,,


Nasib Salsha gimana?


nanti bakal di bahas di novel baru 😍😍


apa Farel Raisya bentar lagi end? hmmm aslinya masih ada beberap hal yg masih misterius, tentang paman hanry, trus kematian kedua ortu Raisya, dan yang pasti tentang Jhonatan,, tapi klo Author masukin mereka dalam satu cerita ini nanti bakal panjang bangetttt, dan Author takut kalian bakal kesel sendiri,, jadi kayaknya Author bakal milih buat nyelesaiin cerita Raisya aja dan untuk misteri lainnya mungkin akan Author jawab di novel baru.


Thor, apa novel baru itu sequel?


hmmm entahlah, tapi yg pasti novel Author yang baru itu gk fokus sama cerita kehidupan Raisya lagi, tapi bakal ada pemeran utama baru,,,


pokok tunggu kelanjutan cerita Author ya,,


Terimakasih atas dukungan kalian semua,,

__ADS_1


__ADS_2