
“Bagaimana kau akan menjelaskannya.” Raisya menunjukkan anting-anting itu tepat di depan wajah Farel.
Farel menjilat bibir atasnya. Dengan perlahan laki-laki itu mendekat, mendudukkan dirinya tepat di samping Raisya.
“Aku akan menjelaskan semuanya, termasuk masalah anting-anting itu. Tapi sebelum itu suapi aku, aku lapar.” Farel menyodorkan kotak makan itu.
Raisya menatap datar kotak makan berwarna hijau itu. menghela nafas pelan, akhirnya ia menyambutnya.
Terlihat jelas beberapa olahan daging dengan sayuran yang menemaninya. Aroma sedap membuat cacing-cacing Farel semakin berdemo.
Raisya dengan telaten meletakan kotak itu di atas pangkuannya, memotong kecil-kecil daging domba itu dan membungkusnya dengan daun selada.
“Buka mulutmu.” Raisya menoyodorkan sumpit yang sudah mengapit bulatan selada.
Farel dengan senang hati membuka mulutnya. Menerima suapan itu dengan wajah penuh binar.
“Sangat enak.” Farel berbicara dengan mulut yang penuh.
“Telan dulu makanan di mulutmu, baru bicara.” Raisya memeperingati dengan tangan kanan yang membersihkan sudut bibir Farel yang terdapat sedikit noda akibat kunyahannya yang berantakan.
Farel menutup mulutnya, mengunyah dengan lebih baik lagi dan menganggukkkan kepalanya patuh.
“Pintar.” Raisya mengusap rambut Farel. Perilaku itu persis seperti seorang ibu.
Farel tersenyum lebar, bahkan matanya terlihat menyipit. Laki-laki itu membuka mulutnya lagi.
“Makanlah yang banyak, biar kau gendut.”
Farel menggelengkan kepalanya dengan cepat. Seakan memperotes ucapan Raisya itu. Dengan cepat laki-laki itu mengunyah dan menelan makanannya.
“Tidak, aku tidak mau gemuk. Nanti kalau aku gemuk, kau akan mencari suami baru.” Farel menatap Raisya serius.
Raisya memutar mata malas. “Aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena berat badanmu, tapi aku akan meninggalkanmu jika kau bertingkah di luar logika dan kasar seperti dulu,” Raisya berucap dengan serius.
Farel menegang. Mendengar kalimat pergi dari Raisya membuat ia ketakutan. Tanpa sadar laki-laki itu meremas kedua tangnnya kuat.
“Aku akan menjadi laki-laki manis, seperti yang kau inginkan. Maka dari itu, kau tidak aku izinkan pergi, apa pun alasanya.”
“Ya, ya. Terserah. Buktikan saja ucapanmu. Sekarang buka mulutmu lagi.”
__ADS_1
*****
Maria menatap Tamara dengan sinis. Meskipun Tamara Lawson adalah anak kandungnya, tapi wanita tua itu tidak pernah merasakan kedekatan sama sekali dengan anak kandungnya itu.
“Aku ingin harta warisan.” Tamara berucap dengan serius.
“Apa maksudmu? Harta warisan? Bukankah aku sudah memberi bagianmu, dan sekarang semua ini sudah menjadi miliki Farel anakamu.” Maria sengaja menekan kata ‘anakmu’ agar Tamara mengingat statusnya sebagai seorang ibu.
Tamara mendengus, merasa marah dengan ucapan Maria. “Anakakku hanya satu, dan dia sudah meninggal.” Wanita itu membuang muka, enggan menatap Maria yang terlihat tersulut emosi.
“Tamara, jaga mulutmu. Farel itu anak kandungmu. Kau seorang ibu, tapi kenapa kau bertingkah layaknya binatang.” Maria menatap geram Tamara. Wanita tua itu terlihat menyentuh dadanya yang terasa nyeri, sedangkan Tamara yang melihat itu hanya bersikap acuh.
“Anak itu hanya sebuah kesialan. Dan aku tidak ingin memiliki anak yang bernasib buruk seperti itu. Ibu, sebaiknya ibu segera menyerahkan semua aset ketanganku, aku takut anak pembawa sial itu akan membawa bencana bagi keluarga Wiratman.” Tamara berucap dengan sinis. Bahkan waita itu mengabaiakan raut kesakitan Maria.
“TAMARA!” Maria berteriak, bahkan wanita tua itu sampai bangkit dengan tangan menyentuh dadanya.
“Seharusnya kau membenci dirimu sendiri! Kau tahu, anak itu tidak akan pernah ada jika kau tidak melakukan hubungan terlarang dengan suamimu sebelum menikah. Yang sia*an itu kau. Kau sudah tidak menganggapnya anak! Maka kau juga sudah tidak bisa mengusik kehidupannya lagi, apalagi tentang warisan yang dimilikinya.” Maria menuding wajah Tamara yang terlihat memerah.
“Ya, aku yang melakukan kesalahan, dan ibu juga yang menyuruhku mempertahankan anak sialan itu. Andaikan aku menggugurkannya saat itu, maka aku masih bisa menikmati masa mudaku.” Tamara mengusap wajahnya kasar.
“Keluar!” Maria terduduk dengan wajah terlihat menahan amarah. Jari telunjuknya menunjuk arah pintu, menegaskan Tamara untuk cepat pergi meninggalkan kediamannya itu.
Tamara menatap tidak percaya Maria. “Ibu mengusirku hanya karena anak sialan itu?”
“Kau manusia atau bukan, cepat keluar. Dan mulai sekarang kau bukan anakku. Cukup sekali aku memaafkan kesalahanmu yang telah menganiyaya cucuku itu, tapi tidak untuk sekarang! kau dilarang untuk menginjakkan kakimu di sini, bahkan di seluruh tempat yang di miliki keluarga Wiratman!”
Maria hanya menatap sendu Tamara yang memberontak. Putri kecilnya yang imut, kini berubah menjadi seorang monster. Apa yang harus wanita tua itu lakukan agar putrinya kembali seperti dulu. Semua karena harta dan pergaulan kalangan atas yang kurang baik.
Maria menyesal, menyesal telah mengenalkan putri kecilnya dengan dunia luar tanpa pantaun. Andai waktu bisa ia putar, maka ia akan senantiasa memantau pergerakan dan pergaulan putrinya itu.
***
“Sekarang ceritakan!” Raisya menatap lurus Farel.
Farel menjilat bibirnya, kemudian mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman.
“Saat itu.....
Farel yang sedang berkutat diengan berkasnya mendengar suara tapak sepatu yang mendekat. Ingatan tentang Raisya yang akan datang saat itu membuat laki-laki itu tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas itu.
__ADS_1
“Kemarilah sayang, aku sudah menunggumu.” Farel melambakan tangannya menyuruh sosok yang memasuki ruangnnya untuk mendekat dan duduk di pangkuannya.
*Sentuhan di bahunya membuat Farel tersenyum lembut. Namun, senyum itu lenyap setelah hidungnya menghirup aroma yang tidak asing itu. Aroma memuakkan*.
*Dengan cepat Farel berdiri, dan mendorong sosok itu dengan kasar. Bahkan kursinya terlihat mundur beberapa langkah dan menabrak tubuh seseorang yang tak lain, Salsha yang kebetulan tepat berada di belakang kursinya*.
“Brengse*! Apa yang kau lakukan di sini.” Farel menggeram marah.
*Netra coklatnya menatap tajam Salsha yang terjatuh dengan raut kesakitan. Tidak ada rasa iba sama sekali di wajah Farel, hanya ada jejak kemarahan yang terlihat*.
“Kau! Kenapa kau mendorongku.” Salsha mencoba bangkit sendiri dengan sedikit tertatih.
“Harusnya aku yang bertanya! Kau, kenapa kau datang ke sini?”
Salsah tertawa lebar, wanita itu terlihat berjalan menuju sofa dan mendudukkan tubuhnya dengan sedikit berbaring. Berpose menggoda agar Farel terpikat.
Farel yang melihat gelagat Salsha menahan rasa mual. Ingatan tentang bagaiamana Salsha bercinta dengan selingkuhannya dengan liar membuat laki-laki itu mengernyit jijik.
Seharusnya wanita itu menikah saja dengan selingkuhannya, dengan begitu, ia yakin tidak ada yang terluka di sini. Mengapa wanita itu malah mendatangiku, dan bersikap seolah-olah tidak ingin kehilanganku dan mencintaiku?
“Aku hanya mengunjungi suamiku, apa tidak boleh?” Salsha memasang wajah menggemaskan.
*Farel mengusap wajah kasar. Matanya menatap arloji yang terpasang apik di tangan kirinya. Rasa takut akan kedatangan Raisya yang tiba-tiba membuat laki-laki itu semakin geram degan tingkah Salsha*.
“Ingat, kita sudah bercerai!”
“Oh, ya? tapi semua orang tidak mengetahui perceraiann itu, bahkan keluargamu,” Salsha menyeringai.
...... lalu aku mengusirnya. Aku takut kau akan datang, dan terjadi salah paham. Untuk msalah anting-anting, mungkin wanita itu tidak senagaj menjatuhkannya.” Farel menunduk.
Raisya diam, entah mengapa ia merasa ada yang janggal dari cerita Farel. Ia merasa Farel menutupi sesuatu.
Farel merasa gugup. Tatapan penuh selidik dari raisya membuat ia berkeringat. “Kau percaya kan?”
Raisya terdiam, kemudian mengangguk. Farel yang melihat itu segera merengkuh tubuh Raisya. Menenggelamkan wajahnya di sana, kemudian menatap pntu yang tertutup itu dengan tajam.
Sebenarnya bukan itu saja. Laki-laki itu melakukan banyak hal dengan Salsah. Bukan melakukan sesautu yang berbau perselingkuhan, lebih tepatnya seperti kekerasan.
Insiden lepasnya anting-anting itu, karena Farel yang sudah tidak bisa menahan emosinya ketika Salsha mengancam akan melukai Raisya. Tanpa pikir panjang Farel mendorong kasar tubuh Salsha dengan mencekik lehernya dengan kuat.
__ADS_1
Andaikan Salsha bukan wanita, mungkin sudah ia habisi sejak laki-laki itu tahu tentang rencana busuk wanita itu. Bukan hanya mencekik, Farel juga menyeret Salsha keluar dari ruangnnya dengan mmenarik kuat rambutnya. Ia persis seperti laki-laki brengs*k, maka dari itu, ia tidak akan membiarkan Raisya tahu perbuatan kejamnya itu.
Apakah ia menyesal telah berperilaku seperti itu dengan Salsha? Jawabannya tidak! Ia tidak menyesal sama sekali. Sudah ia katakan, ia akan melaukan apa pun untuk kelangsungan hubungan pernikahan itu, meskipun harus melenyapkan nyawa seseorang, akan ia lakukan.