
“Apa kau kecewa?”
Raisya terlonjak, mata yang awlanya fokus menatap jendela kini teralih, mentap sosok tampan yan tak lain suaminya.
“Apa maksudmu?” Raisya mengernyitkan alis, merasa tidak paham dengan pertanyaan Farel.
Farel mendekat, wajah laki-laki itu terlihat datar, tapi siapa pun tahu, di dalam sana, laki-laki itu menyimpan sebuah kegusaran yang besar.
“Apa kau kecewa, karena tidak bisa langsung menemui tempat peristirahatan Jhonatan?” Farel meraih bahu Raisya lembut, berusaha membuat wanita yang kini mengalihkan pandangan menatapnya.
Raisya yang tidak bisa menghindar menatap wajah rumit Farel. Berdahem pelan, kemudian menjawb pertanyaan itu dengan lirih.
“Sedikit. Biar bagaiamana pun, Jhontan adalah Kakak ku juga.”
Farel terlihat menahan nafas, ada sedikit gejolak amarah di dada laki-laki itu, tapi ia berusaha dengan kuat menahannya.
“Maafkan aku. Tapi aku memilki alasan kuat untuk melarangmu pergi sekarang.”
“Ya, aku paham.” Raisya berusha melepaskan diri dari Farel. Wanita itu merasa tidak nyaman dengan pembahasan yang mereka angkat.
Sedangkan Farel yang paham bagaiamana perasaan Raisya hanya bisa diam. Ia paham, Raisya pasti tidak akan mudah melupakan Jhonatan. Terlebih, hubungan yang mereka jalani sekarang juga berdasarkan paksaannya. Meskipun seperti itu, ia tetap egois. Ia ingin, Raisya selalu bersamanya, apa pun alasannya.
Grep!
Pelukan hangat itu membuat Raisya yang sudah membalikkan tubuh terdiam. Wanita itu terlihat tidak menolak, tapi wajahnya tidak berubah sama sekali, tetap menunjukan kekosongan.
“Maafkan aku.”
Bisikan pelan itu membuat tubuh Rasya meremang, terlebih, Farel membisikan kalimat itu dengan lirih, dan terselip rasa bersalah di nada suaranya.
“Aku mencintaimu.”
Lagi-lagi pernyataan cinta itu membuat tubuh Raisya seperti tersengat listrik. Meskipun ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung, tapi ia tidak bodoh dengan apa yang dirasa. Ia juga mencintai sang suami.
***
Zakiel menatap Map hitam di depannya. Tangannya berusaha meraih, kemuian melirik tempat pembakaran sampah yang terdapat api yang menyala di dalam sana.
“Berhenti!”
__ADS_1
Teriaka itu membuat gerakan tangan yang hendak membuang map kedalm tong sampah terhenti. Matahitam Zakiel mengerjap, merasa bingung dnegan sosok pria paruh baya yang berjalan dengan tergesa-gesa, disertai nafas yang tidak beraturan.
“Maaf, anda siapa?” Zakiel bertanya dengan mengernyitkan alis.
Pria itu terlihat mengatur nafas dengan baik. Faktor umur yang udah tidak muda lagi membuat pergerakan laki-laki itu tidak leluasa. Di tambah perut yang terlihat sedikit membuncit.
“Hah hah, saya Hanry Potter, pengacara keluarga Atmaja.”
Jawaban dengan nada tidak beraturan itu membuat Zakiel mengangkat sebelah alisnya.
“Kenapa?” Zakiel bertanya dengan nada datar.
“Seharusnya saya yang bertanya, kenapa anda ingin membuang bukti-bukti tentang kecelakaan keluarga Atmaja?” Hanry menatap tajam.
Zakiel mengangkat sebelah alisnya, merasa sosok itu tahu tentang isi di dalam map ini.
“Apa anda tahu isi di dalamnya?” Zakiel memicingkan mata, menatap Hanry dengan tatapan penuh curiga.
“Pertanyaan bodoh! Jelas saya tahu, karena saya dan Tuan muda Jhonatan yang mengumpulkan seluruh bukti itu.” Hanry menatap sengit Zakiel, merasa sosok pria muda dengan wajah yang menyerupai Jhonatan itu meremehkanya.
Zakiel yang mendengar itu merasa terkejut. Bagaiamana bisa, hanya dia yang tidak tahu apa-apa. Bakan, ia tahu semua ini tepat satu jam sebelum kematian sang Kakak. Berusaha mengembalikkan keterkejutannya, Zakiel menatap datar sosok itu.
“Jika anda sudah tahu, berarti anda juga tahu apa alasan saya membakar bukti ini.”
“Tidak, mungkin aku akan berpikir sama sepertimu sebelum melihat secara langsung keadaan Raisy.” Zakiel tersenyum tpis, ingatana tentang Farel yang terlihat sangat menyanyangi Raisya membuat ia merasa lega.
“Apa maksudmu?”
“Tuan Farel terlihat benar-benar mencintai Raisya. Apa kau tega membuat kebahagaian itu hancur karena rahasia ini terbongkar?” Zakiel menatap serius Hanry, tangan kananya mengangkat tinggitinggi map hitam.
Hanry terlihat tediam, mata tuanya terlihat berpikir dnegan keras. “Apa kau yakin?” pertanyaan dengan nada sedikit ragu itu membuat Zakiel terkekeh.
“Ya, aku yakin. Aku seorang lelaki, aku paham arti tatapan kaumku saat melihat lawan jenis. Mana tatapan yang tulus, dan mana tatapan yang palsu. Dan aku yain, Kak Jhonatan juga sudah menyelidiki smeuanya, sebelum memberikan pesan untuk menghancurkan bukti ini.”
“Sebuah hubungan harus dilandasi dengan kejujuran. Kau tahu, semua akan semakin runyam saat Nona Raisya mengetahui semuanya dari orang lain. Dia akan merasa terkhianati.” Hanry menatap dalam Zakel, berusaha membuat laki-laki di depannya paham apa yang ia maksud.
Zakiel terdiam, ia juga berpikir sama dengan Hanry, tapi melihat Raisya yang akan hancur untuk kedua kalinya, ia tidak sanggup.
“Tidak. Semua tidak akan ketahuan selama kita tutup mulut.” Zakiel menatapa tegas Hanry.
__ADS_1
“Ha ha ha, kau tahu Anak Muda? Sepandai-pandainya tupai melompat, ia pasti akan jatuh ke tanah.” Hanry menatap Zakiel dengan remeh.
“Hmmm, ya kau betul. Tapi semua ini bukan salah Farel.” Zakiel menjawab dengan lirih.
“Maka dari itu, ayo kita bongkar. Aku yakin, Nona Raisya tidak akan merasa terkejut, ataua pun hancur. Bukan Farel yang melakukannya.”
“Ha ha ha, kau bodoh pak Tua. Memang bukan Farel yang melakukannya. Tapi, apa kau bisa hidup bersama orang yang memilki darah pembunuh keluargamu?” Zakiel memicingkan mata, menatap Hanry dengan serius.
Hanry terlihat diam. Laki-laki itu paham apa maksud dari Zakiel, tapi ia juga idak bisa membiarkan Raisya hidup dlam kebohongan. Sebuah hubungan harus dilandasri dnegan kejujuran.
“Tapi__”
“Ingat Pak Tua. Farel tidak mengetahui semua ini. Jika kita tiba-tiba datang, dan membongkar semuanya, apa kau pikir ini tidak kan menggangu hubungan mereka?”
“.....”
“Hubungan mereka pasti akan merenggang. Raisya akan merasa menghianati keluarganya, dan Farel pasti akan merasa sudah menghancurkan Raisya sedalam-dalamnya.”
Hening, tidak da suara lagi di antara mereka berdua. Hanya terdengar suara angin malam yang mengisi kekosongan itu.
“Raisa sedang mengandung. Dan aku takut, jika sampai hal ini terdengar langsung olehnya, akan memperngaruhi kendaungan Raisya. Sudah cukup ia terguncang dengan kematian Kakakku, jangan kita tambah dengan kabar buruk lainnya.” Zakiel menunduk, matanya menatap rumput-rumput yang terlihat sedikit tertutup salju.
Hanry yang mendengar penuturan itu menerjapkan mata, merasa kaget dengan kabar bahaga sekaligus menyedihkan itu.
“Tuan Muda sudah pergi?” Hanry mentap tidak percaya Zakiel. Tujuannya datang ke sini ingin mendatangi Raisya, bahkan ia belum sempat melihat Jhonatan setelah pertemuan terakhir mereka.
Zakiel menatap Hanry bingung. Bagaiaman bisa laki-laki tua itu tidak tahu. “Iya. Kenapa kau tidak tahu? Bahkan pemakamaan Kakak ku sudah berlangsung dua hari kemaren.”
“Maaf, saya tidak tahu. Kita hanya bertemu beberapa kali, dan setelah itu kita hanya berkomunikasi lewat onlien.” Hanry menundukkan kepalanya, berusaha menekan rasa bersalah dan kehilangan yang mendalam di dada.
Zakiel membuang muka, ia pasti akan merasa sedih saat ada seseoarng yang mebahas tentang kematian sang Kakak.
“Dan tepat sebelum Kakak ku meninggal, ia berpesan agar kita menghapus semua bukti ini. Menutup rapat, dan menjaga kebahagian Raisya.” Zakiel menatap tempat pembakaran itu dengan sendu. Tangannya dengan mantap melempar map itu, membuat isi di dalmnya berhamburan, dan dalam sekejap hangus terbakar.
_____
Hallo teman² pembaca setia wanita simpanan,, banyak yg tanya tentang nasib Salsha ya,,
Mungkin Author akan bahas masalah Salsha di karya baru author,, nanti akan Authir konfirmasi klo sudah terbut di sini,,,
__ADS_1
Jangan lupa, vote, komen, like, dan bintang 5 ya,,,
Jangan k