Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
57. Percaya pada ku


__ADS_3

Farel menatap balkon kamar dengan pandangan kosong. Hamparan pohon yang mengelilingi air terjun membuat sedikit rasa tenang di dada.


“Bisakah kau mencintaiku, Raisya?” Farel bertanya dengan angin kosong.


Hening, hanya terdengar riak air dan suara kicauan burung. Perasaanya tidak tenang, beberapa kali matanya menatap jam dinding yang bertenggar indah di tembok kamar. Rasa khawatir akan kehilangan Raisya semakin hari semakin menguat, membuatnya semakin kehilangan logika.


“Kau harus bisa menahan perasaanmu, atau kau akan kehilangan Raisya,” ucap Farel pada dirinya sendiri. Tanganya mengempal, menunjukan seberapa besar ia menahan emosi di dada.


Bagaiman caranya agar ia tetap tenang di saat Raisya tidak dalam jangkauannya. Otaknya selalu memaksanya untuk segera menyeret Raisya, membawanya dan mengikatnya dalam genggamannya. Jika perlu, ia akan membuat dunia khusus untuk Raisya, agar wanitanya tidak memerlukan dunia luar dan pergi meninggalkanya.


“Argh!” Farel menjambak rambutnya kasar. Pikiran negativ mulai memasuki otaknya, membuat ia merasa takut dan khawatir secara berlebihan. Bahkan Farel dengan sekuat tenaga menggertakan giginya untuk mengembalikan kewarasanya.


Drt... Drt.... Drt...


Getaran gawai dalam sakunya mengalihkan pikiranya sejenak. Sekejap ia meraih gawai itu untuk melihat siapa yang mengganggunya itu.


“Tuan, kita kehilangan jejak Nyonya.”


Deg!


Jantung Farel terasa berhenti. Kekhawatiran membuatnya menggertakkan gigi kuat, menimbulkan bunyi yang memekikkan telinga.


“apa maksudmu?” Farel mendesis tajam.


“Maafkan kami Tuan, tapi kami sudah memantau Nyonya sedari tadi, dan semua terjadi tanpa bisa kami cegah. Nyonya menghilang dari jangkauan kami.”


“Breng**k, kau ku bayar untuk menjaga wanitaku! Bagaiamana bisa kau berkata dengan mudahnya seperti itu? Lihat saja jika sampai malam nanti wanitaku belum kembali, akan ku buat kau menyesal telah dilahirkan kedunia!”


Tut!


“Argh! Kau di mana sayang.” Farel meraung frustasi.


Netra coklatnya memerah, menatap skeliling dengan ketakutan. Kecemasan berlebihan membuat situasi semakin buruk.


“Aku harus membawamu kembali. Kini akan ku buat kau tidak bisa berjalan.” Farel menatap tajam hamparan pohon.


Kaki kekarnya dengan kaut melangkah, meninggalkan keheningan kamar. Setiap langkahnya membuat beberapa pelayan yang berpapasan menahan nafas. Aura pekat, dingin, dan menakutkan menguar dari dalam dirinya.



Farel dengan cepat membuka pintu mobilnya, bahkan tatapanya tidak teralihkan sama sekali, membuatnya tanpa sadar mengabaikan sosok yang di carinya dengan santai memasuki kamar.


Brak!


Farel membanting pintu mobil kasar, kakinya dengan kuat menekan gas mobilnya, membuat laju mobil dengan kecepatan luar biasa.


“Aku bersumpah tidak akan melepaskanmu!” Farel bergumam dengan tangan yang semakin erat mencengkram stir mobil. Jari-jarinya memutih, bahkan ia melupakan tangan kananya yang mengeluarkan darah kembali akibat tekanan yang ia lakukan.


Rasa perih di tanganya ia hiraukan, bahkan ia mengabaikan umpatan dari beberapa pengendara yang ia salip tanpa memperhatikan laju lalu lintas.



Farel tetap menjalankan mobilnya meskipun ada beberapa mobil polisi yang mengejarnya. Matanya melirik spion sejenak.


“Breng**k, apa yang dilakukan para polisi sia*an itu.”


Farel tanpa basa-basi semakin memepercepat laju mobilnya. Bahkan ia mengemudi seperti pembalap internasional, membuat para polisi yang mengejarnya tertinggal jauh.

__ADS_1



Seringai jahat muncul di bibirnya ketika melihat mobil polisi sudah tidak terlihat lagi.


“Bagaimana bisa mereka melawan seorang Farel?” Farel berujar sisnis.


Ckit!


Farel dengan gesit memberhentikan mobilnya. Tanganya dengan cepat membuka mobil dan menutupnya dengan kasar. Terlihat di sana beberapa pengawal yang berjajar dengan menunduk ketakutan.


“Katakan?” Farel berucap dengan datar.


Lima pria dengan badan yang besar berubah nyalinya seperti seorang rusa yang sedang berhadapan dengan singa, sang pemangsa. Mereka semua menelan ludah gugup. Bagaiamana mereka harus menjelaskanya.


“Kalian tuli? Apa telinga kalian sudah tidak berguna?” Farel bertanya dengan tatapan penuh arti.


Mereka yang mengetahui makna tersirat dari perkataan Farel segera menelan ludah gugup.


“Maafkan kami Tuan. Kami tadi mengikuti Nyonya sampai di perempatan jalan XXX, tiba-tiba terjadi sebuah kerusuhan lalu lintas yang membuat kami terhenti di tengah jalan. Namun, setelah semua selesai, mobil Nyonya sudah tidak ada di tempat, dan kami kehilangan jejaknya,” Ucap salah satu dari lima pengawal itu.


Farel mendecih sinis. “Bagaiman bisa kalian kehilangan jejak satu wanita? Ingat, satu wanita? Apa perlu aku kebiri kalian satu persatu?”


Glek!


Ucapan itu membuat tubuh mereka meremang. Kebiri? Oh tuhan. Mengapa ada seorang laki-laki yang snggup mengucapkan hal yang paling menakutkan bagi kaum adam?


“Maafkan kami Tuan, kami akan berusaha mencari Nyonya sekali lagi. Berikan kami kesempatan.” Mereka semua menundukkan badanya mengharapakan pengampunan dari sang atasan.


Farel menatap malas mereka semua. Dalam kamus hidupnya, hanya manusia bergunalah yang layak untuk hidup, sedangkan mereka?


“Apakah manusia seperti kalian layak hidup?”


“Cih, aku beri waktu kalian satu jam. Cek CCTV segera.” Farel menatap mereka semua dengan tajam.


Mereka yang mendapatkan perintah seperti itu saling melirik. Sungguh mereka sudah meretas beberapa CCTV sebelum melapor, dan yang mengejutkan tidak ada tanda-tanda Raisya dalam CCTV yang mereka retas. Semua terlihat sudah di atur dengan baik.


“Maafkan kami Tuan, tapi kami sudah mencoba meretas CCTV, dan hasislnya kosong.”


Deg!


Farel terdiam mendengar penuturan itu. ‘jadi semua sudah direncanakan? Raisya benar-benar berniat untuk meninggalkanya, dan perhatian yang diberkanya tadi, semua hanya bualan semata?’



Para pengawal yang melihat wajah menyeramkan Farel saling menyikut, berharap tidak mendapatkan hukuman yang menakutkan seperti yang atasanya bilang tadi.


“Tuan, mengapa anda tidak mencoba menghubungi kepala pelayan. Mungkin saja Nonya sudah berada di Mansion.”


Farel mengangkat kepalanya, menatap pengawalnya yang berujar dengan nada gugup dan wajah penuh ketakutan. Ada sedikit harapan di hatinya.



Segera Farel membalikkan tubuhnya, melangkah sedikit menjauh dari para pengawal bayarannya itu. Tangan kekarnya menempelkan gawainya di telinga, wajahnya terlihat kosong menunggu panggilanya terjawab.



Jantungnya berdetak kencang mendengar sambunganya terjawab. Menguatkan hatinya segera ia tanyakan sesuatu yang membuatnya kehilangan akal itu.

__ADS_1


“Apakah Raisya di Mansion?” Farel melontarkan pertanyaan itu tanpa basa-basi.


“Iya Tuan, Nyonya sudah kembali tepat pada saat Tuan keluar dari Mansion.”


Tut...


Farel segera mematikan panggilan itu. Rasa lega menyeruak di dadanya, membuat bibirnya tanpa sadar melengkung ke atas.



Para pengawal yang merasakan aura Farel berkurang menghela nafas lega. Dalam hati mereka berharap jika Raisya ditemukan, dan mereka tidak mendapatkan hukuman. Meskipun mendapatkan paling tidak hukuman mereka masih batas wajar.



Farel berjalan dengan cepat, menatap pengawal satu persatu mengisayratkan mereka untuk mendengarkan baik-baik.


“Kalian ke markas, terima hukuman kalian seperti biasa.” Setelah mengatakan kalimat sakral itu, Farel dengan cepat pergi menuju mobilnya, meninggalkan para pengawal yang mendesah lega.


*****


Raisya membaringkan tubunya, sungguh perasaanya terasa kacau. Di sisi lain ia merasa lega namun, ia juga merasa takut.


Ceklek!


“Raisya.”


Raisya terkejut mendengar suara yang terkesan dingin dan tajam itu. Segera ia bangkit untuk melihat sang pemilik suara.



Farel menatap Raisya dengan mata bergetar. Rasa takut kehilangan membuat emosi di dadanya menyeruak keluar. Dengan langkah tegas, Farel berjalan ke arah Raisya.


“Kau kenapa?” Raisya bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya.


Farel mengabaiakan pertanyaan itu, tanganya menarik kasar tubuh Raisya, mendekapnya erat membuat sang pemilik tubuh terkejut bukan main.


“Aku sungguh takut. Kenapa kau menghilang dari pengawasanku.” Farel semakin mengeratkan pelukanya.


“apa maksudmu? Menghilang seperti apa? Aku sudah meminta izin dan kau mengizinkanya.” Raisya melepaskan rengkuhan itu secara kasar. Matanya menatap Farel seakan kebingungan dengan pernyataan itu namun, ia sangat tahu apa yang dimaksud Farel.


“Kau_ Kau pergi. Para pengawal menagatakan kalau kau menghilang.” Farel bercicit pelan bahkan kepalanya sudah tertunduk.


“Kau, Kau mengawasiku?” Raisya menutup mulutnya tidak percaya. Wajahnya terlihat mengetat. ‘akhirnya kau mengaku juga’ ucapnya dalam hati.


“Maafkan aku.” Farel menundukkan kepalanya.


“Kenapa kau mengawasiku? Apa kau tidak percaya dengan ku?” Raisya bertanya dengan tegas.


Farel semakin gugup. Sungguh bukan karena ia tidak percaya, tapi ia hanya meras takut jika sewaktu-waktu Raisya memiliki keinginan untuk pergi darinya.


“Bukan seperti itu, aku hanya__”


Raisya menyela. “Hanya apa? Hah? Farel, sebuah hubungan bisa berjalan lancar itu ketika mereka saling percaya dan terbuka. Kau boleh memberikan pengawasan, tapi kau tetap harus memberikan pasanganmu privasi.”


“Maafkan aku. Aku hanya takut.”


“Apa yang kau takutkan? Jika ada sesuatu yang mengganjal atau mencurigakan kau bisa langsung bertanya, jangan bertindak seperti itu. Bahkan jika kau ingin memberiku pengawasan, alangkah baiknya kau meminta izin kepadaku terlebih dahulu.”

__ADS_1


“Apa kau akan jujur jika aku bertanya?”


“Tergantung pertanyaanmu. Ingat kita masih tahap pendekatan, aku belum bisa menerimamu sepenuhnya jadi ada beberapa hal yang belum bisa aku jawab, aku akan menjawab semuanya di saat hubungan kita sudah jelas. Jadi aku mohon, tolong mulai sekarang belajar percaya padaku, dan kurangi rasa takutmu. Kadang ketakutanmu lah yang membuatku menjauh.”


__ADS_2