Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
116. Terkejut


__ADS_3

Raisya merasa terusik, usapan di perut datarnya dan ciuman basah yang di rasakan di tangan membuat tidur wanita cantik itu terganggu. Dengan perlahan mata itu mengerjap, kemudian memperlihatkan netra hijau indah.



Terlihat sosok laki-laki tampan yang tak lain Farel sedang sibuk sekali mengelus perutnya. Dahi wanita itu berkerut, merasa bingung dengan posisinya saat ini.


“Farel.” Raisya memanggil dengan lemah.


Farel yang masih terharu dengan kabar yang didengarnya segera mendongak saat mendengar suara wanitanya.


“Sayang.” Farel denan senyum lebar mengelus pipi Raisya.


“Ada yang sakit? Mana? cepat katakan padaku, sayang.” Farel mencoba meneliti setiap inci tubuh Raisya yang memang baik-baik saja.


Raisya mengerjapkan mata, bingung dengan respon berlebihan Farel. Ia sendiri tidak tahu bagaiamana bisa sampai di rumah sakit. Tak perlu banyak drama, dengan sekali lihat pun wanita itu langsung tahu di mana dirinya saat ini.


“Aku tidak apa-apa.” Raisya mencoba mengukir senyum di wajah pucatnya.


Farel menggeleng, merasa tidak terima dengan perkataan Raisya “Tidak, kau pingsan, dan itu tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Apa wanita tua itu melakukan hal buruk?” Farel bertanya dengan wajah penuh khawatir. Laki-laki itu masih kesal dengan ucapan Maria yang menjuluki wanitanya pelakor.



Sedangkan Maria yang sedari tadi memang memperhatikan tingkah Farel menggeram marah mendengar panggilan kurang ajar itu. terlebih, cucunya itu seakan menilai buruk dirinya.


“Hay, dasar cucu kurang ajar! Apa maksudmu?” Maria menjewer kuping Farel kuat. Wanita tua itu merasa sangat jengkel.


Raisya yang awalnya terkejut dengan panggilan ‘wanita tua’ semakin terkejut ketika melihat aksi mengejutkan sosok anggun itu.


“Aduh Nek, apa yang kau lakukan, kau menganiyaya cucu tampanmu ini.” Farel berkilah, berusaha terlepas dari tarikan maut yang diberikan Maria di kupingnya.


Jujur, Farel merasa ada letupan bahagia melihat Maria yang terlihat sangat geram itu. Cara Maria menarik kupingnya dan menatapnya tajam membuat laki-laki itu mengenang kembali saat masa-masa remajanya dulu.



Sedangkan Maria tanpa ampun masih menarik kuping cucunya itu. Bahkan sekarang tidak hanya menjewer, wanita tua itu juga mencubit pinggang kekar Farel, membuat laki-laki itu bak cacing kepanasan yang melonjak kesana sini, berlari dari amukan sang Nyonya besar Wiratman.

__ADS_1


“Kau mau kemana? Sini! Kau mau lihat apa saja yang wanita tua ini bisa lakukan? Hay, jangan menghindar, berhenti!” Maria berlari dengan mencincing sedikit roknya. Wanita tua itu terlihat kepayangan.


Sedangkan Farel semakin menjadi, berlari dengan sesekali menjulurkan lidah seakan mengejek sang Nenek.



Raisya hanya bisa menatap mereka terperangah. Mereka berdua seakan melupakan umur, terlebih saat melihat Maria yang berlari dengan sepatu yang memilki hak yang lumayan runcing dan tinggi membuat Raisya tidak tahan untuk tertawa.


“Ha ha ha ha ha.” Raisya terpingkal dengan keras, bahkan tawa itu membuat pasangan cucu nenek itu berhenti, seakan tersadar dari kelakuan yang sangat memalukan itu.


Raisya yang merasa tawanya menggangu aktifitas menyenangkan mereka berdua menghentika tawa dan menata mereka canggung. Begitu pula Maria yang kembali menurunkan roknya dan mulai berjalan anggun ke arah Raisya.



Farel yang melihat itu menutup muka dengan malu. Wajah laki-laki tampan itu sudah merah padam.


“Nak, apa ada yang sakit?” Maria bertanya dengan lembut yang di sambut gelengan dan senyuman Raisya.


Sedangkan Farel yang melihat itu membuka mulut terkejut. Neneknya bersikap lembut, bahkan terlihat sangat menyanyangi Raisya, jauh dengan sikap saat pertemuan pertama mereka.


“Diam, sekarang kau bukan cucuku lagi! Bukankah kau lebih memilih Raisya?” Maria menatap tajam Farel.


Farel tergagap, merasa bingung dengan sikap Neneknya yang terlihat kurang wajar itu. “Nek__”


“Diam, sekarang cucuku Raisya bukan kau! Kalau kau berani macam-macam dengan Raisya, aku tidak akan segan memberi pelajaran untuk bocah tengik seperti dirimu!” Maria mendengus melihat wajah terkejut Farel.


Farel yang mendengar penuturan Maria merasa terhenyak. Ada rasa senang saat melihat ketulusan aari mata Maria, namun mendengar Maria yang sudah tidak menganggap dirinya cucu membuat ia cukup terpukul. Tapi, satu pemikiran licik membuat laki-laki itu menyeringai.


“Ekhm, baiklah Raisya Cucu Nenek, tapi Nenek harus ingat, Raisya itu Istri Farel, bahkan Raisya mengandung anak Farel.” Farel menyeringai lebar, membuat Maria yang awalnya lupa dengan kekurangan Farel seketika teringat kembali.


Sedangkan Raisya yang mendengar kabar kehamilannya tidak bisa menutupi keterkejutannya.


“Sebenarnya kau benar-benar Impotent atau tidak?” Maria menghampiri Farel, menatap tajam Cucunya itu dengan telunjuk yang menuding tepat di wajah tampan itu.


Farel memutar mata, bingung bagaiamana untuk menjelaskannya. Apa Neneknya akan percaya jika mengatakan, ia hanya bisa berereksi saat bersama Raisya.

__ADS_1


“Apa Nenek percaya, kalau Farel hanya bisa melakukan itu dengan Raisya.” Farel mencicit lemah.


Maria masih terdiam, penjelasan yang di sampaiakan Farel membuat otak tuanya dengan cepat berpikir, namun tetap tidak bisa diterima oleh akal sehat.


“Apa kau terkena sihir?” Maria bertanya dengan alis yang bertaut.


Farel ang mendengar itu terkejut. Bagaiamana bisa Neneknya membahas tentang sihir? Apa wanita tua itu percaya mengenai hal-hal seperti itu. Dan yang pasti ia yakin tidak ada sihitr di dunia ini.


“Tidak ada sihir di dunia ini Nek. Jadi Nenek tak perlu menyangkut pautkan keanehan Farel dengan sihir.” Farel membuang muka, merasa kesal dengan Maria yang tiba-tiba membahas tentang sihir.


“Eh, tapi bagaiamana bisa kau hanya bisa berereksi dengan Raisya?” Maria menatap Farel dengan tatapan tidak percaya. Dalam otaknya ia tidak bisa menerima fakta itu, selain karena sihir. Tapi benar apa kata Farel, sihir itu tidak ada, maka yang harus ia lakukan sekarang mencari tahu kebenarannya.


“Farel juga tidak tahu Nek, tapi yang Farel katakan semua itu benar.”


Maria masih diam, mencoba mencerna baik-baik pernyataan yang sangat tidak masuk akal itu. namun, ingatan tentang anak yang dikandung Raisya membuat wanita tua itu langsung menghapus segala hal yang di luar logika itu.


“Ya, terserah mau bagaiamana, yang jelas sekarang nenek akan punya Cicit.” Maria tersenyum, membalikkan badan untuk menatap wajah Raisya.


Farel tercengang melihat perubahan Maria yang tidak terduga itu. Dari marah, baik, lembut, marah lagi, lembut lagi, marah, dan sekarang terlihat sumringah. Apa semua itu faktor umur?



Mereka berdua terlalu asyik dengan perdebatan tidak bermutu, sampai-sampai menghiraukan sosok wanita cantik yang masih terlihat terpaku dengan fakta yang baru di terima.


Farel yang melihat wajah tercengan dan takut Raisya mengernyitkan alis. Meresa bingung dengan respon yang di berikan wanita cantik itu. berbeda dengan Maria, saat melihat perubahan wajah itu, wanita tua itu dengan cepat mengerti apa kegundahan cucunya itu.


“Nak, apa kau khawatir?” Maria bertanya dengan lembut, membuat Raisya yang masih sibuk dengan pemikirannya mendongak, menatap Maria dengan wajah pucat.


Farel bingung dengan maksud Maria, sedangkan Raisya menatap Maria dengan pandangan rumit.


_______


Terimakasih sudah membaca,, maaf telat up lagi,, Author usahakan up lebih cepet


Jangan lupa like, vote, dan komen ya

__ADS_1


__ADS_2