Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
46. Harapan


__ADS_3

Raisya ingin sekali menenggelamkan tubuhnya ke dalam laut. Bagiaman bisa ia melakukan hal yang memalukan seperti tadi.



Farel tersenyum menatap Raisya. Mengingat kejadian tadi membuat ia lebih bersemangat lagi. Ciuman itu, ahhhh sungguh membuat ia gila. Andai saja tidak ada bocah-bacah itu yang mengganggu mereka, ia yakin akan terjadi sesautu yang luar biasa di sana. Ah, sayang sekali.


“Kakak, apa yang tadi kalian lakukan?” bocah laki-laki yang terlihat berusia empat tahun bertanya dengan polos.


Raisya merasa tersedak ludah mendengar pertanyaan itu. Bagaiaman ia harus menjawabnya.


“Oh, kakak tadi sedang bermain.” Farel menjawab dengan tenang.


Raisya memejamkan matanya, wajahnya memerah.


“oh, main apa Kak? Kenapa tubuh besar Kakak berada di atas tubuh Kakak cantik.” Tunjuk bocah itu ke arah Farel.


Raisya menutup wajahnya karena tidak kuat menahan rasa malunya. Semua ini gara-gara Farel. Andai saja laki-laki itu tidak menciumnya semua itu tidak akan terjadi.


“Oh, kami sedang main kuda-kudaan.”


Bocah itu megernyitkan alisnya merasa tidak paham dengan ucapan Farel. Sedangkan Raisya menurunkan tanganya dari wajah dan menatap garang Farel.



Farel yang merasakan tatapan bahaya dari Raisya segera bedahem canggung. Ia menjilat bibir atasnya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Hay, kau Bocah, tidak akan paham masalah itu. Sudah sana pergi bermain sama teman-temanmu”


Bocah itu cemberut dan pergi meninggalkan dua manusia itu. Farel menatap Raisya takut-takut.


“Tidakkah kau ingin melanjutkan yang tadi?” Farel bertanya dengan polos.


“Melanjutkan apa hah?” Raisya menatap garang Farel.


Farel berjengit kaget mendengar nada garang Raisya. “Oh, maksudku melihat hamparan bunga.”


“lanjutkan saja sendiri! Aku mau bermain dengan mereka.” raisya berjalan meninggalkan Farel sendiri.


Farel mengelus dadanya. Wanita yang sedang marah sungguh luar biasa. Selam dia menikah dengan Salsha ia tidak pernah menghadapi sifat yang seperti itu.


******


Raisya menaikai ayunan yang di sudah dihias dengan indah. Beberapa anak mendorong ayunan itu membuatnya tertawa dengan lepas. Ia yang awalnya hanya ingin bermain bersama mereka malah medapatkan perlakuan yang luar biasa.



Mereka yang tidak pernah mengenal sosok ayah dan ibu membuat perasaan Raisya tersentuh. Ternyata ada yang lebih miris dari ada dirinya. Harusnya ia lebih bisa bersyukur.

__ADS_1


“Mama.” Mereka berteriak secara bersamaan.


Raisya tersenyum mendengar pangglan itu. Itu permintaanya, ia ingin memberikan kasih sayang untuk mereka, meskipun hanya satu hari. Biarkan mereka memiliki kesempatan untuk memanggil Mama.



Farel yang mendengar panggilan itu mengangkat alisnya, merasa bingung dengan panggilan baru itu. Kakinya mendekat ke arah Raisya yang di kelilingi anak-anak.


“Hay, kenapa kalian memanggil Kakak cantik dengan sebutan Mama?”


Pertanyaan itu membuat kegiatan mereka yang mendorong ayunan terhenti. Mereka menatap Farel takut. Raisya yang melhat tatapan takut itu mendengus.


“Hay, kau menakuti mereka.” raisya memicing tidak suka.


Anak-anak yang mendapat pembelaan dari Raisya tersenyum lebar. Mereka merasa senang.


“Apa salahku? Aku hanya bertanya.” Farel menatap Raisya tidak paham.


“Tidak ada yang salah dari pertanyaanmu. Tapi apa pun yang kau katakan itu pasti terlihat salah, karena kau memiliki wajah yang menyeramkan.” Raisya mencibir Farel.


“Hay, bagaiaman bisa kau berkata seperti itu?” Farel tercengang.


“Sudahlah! Untuk maslaah paggilan itu, aku yang menyuruh mereka memanggilku seperti itu.”


Farel mengangguk paham dengan ucapan Raisya. Tatapanya beralih untuk menatap anak-naka kecil yang terihat sudah tidak takut lagi itu.


Mereka saling melirik seakan mencari sebuah kesepakatan. Tak lama kemudian mereka serempak menganggukkan kepala.


“Baik Papa,” ucap mereka serentak.


Farel tersenyum lebar mendengar pangglan baru itu, sedangkan Raisya menggelengkan kepala melihat tingkah konyol Farel.



Mereka menghabiskan waktu bersama. Berperan menjadi orang tua yang perhatian dan penuh kasih sayang.


****


“Mama.”


Raisya menggertakkan giginya mendengar panggilan itu. Sedangkan Farel yang memanggilnya hanya menunjukan senyum lebar. Laki-laki itu sangat senang dengan panggilan baru mereka.


“Farel, dengar aku. Sekarang sudah tidak ada anak-anak lagi, jadi jangan kau teruskan panggilan konyolmu itu.” Raisya menatap geram Farel.


“Kenapa seperti itu? bukankah panggilan itu bagus? Kita seperti keluarga harmonis.”


Raisya memutar matanya malas. Bagiaman bisa laki-laki itu berubah menjadi bodoh? Apanya yang bagus? Mereka tidak punya hubungan apa pun selain hubungan simbiosis mutualisme.

__ADS_1


“Sekali lagi kau memanggilku seperti itu, lebih baik kau tidur di luar!” tepat setelah menyelesaikan ucapanya Raisya pergi meninggalkan Farel yang tercengang di tempatnya.


Farel menatap punggung Raisya horor. Bagaiaman bisa hanya karena panggilan ia harus tidur di luar. Hay, itu tidak boleh terjadi.



Dean cepat kakinya mengejar Raisya yang sudah masuk jauh di dalam Mansion. Tepat di depan pintu kamar mereka tangan kekarnya menarik tangan ramping itu.


“Hay, katakan sekali lagi?” Farel menatap lurus mata hijau itu.


“Silahkan tidur di luar!” Raisya menatap tajam netra coklat itu.


Mereka berdua slaing adu pandang, seakan berperang lewat tatapan itu. Tidak ada yang ingin mengalah dari perang mata itu, membuat beberpa pelayang yang lewat kebingungan.


“Kau_” Farel merasa kesal melihat Raisya yang keras kepala.


“Apa?”


“Apa salahnya dengan panggilan itu?”


Raisya menyentak cekalan tanganya dan mendengus. “Panggilan itu hanya cocok untuk keluarga yang harmonis, sedangkan kita?”


Farel menatap tidak suka mendengar ucapan Raisya. “Kita akan!” tekan Farel


Raisya terkekeh sinis. Bagaiaman bisa ada orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang luar biasa seperti itu?


“Ingat perkataanku. Aku memberimu kesempatan membuktikan CINTA, bukan menjadi keluarga bahagia!” Raisya meninggalkan Farel yang terdiam mendengar penuturanya. Tangan rampingnya dengan pelan meraih handle pintu untuk membukanya, kemudian masuk dan menutup pintu kembali.


Farel menatp pintu kamar yang tertutup itu dengan wajah sendu. Apakah itu artinya ia tidak akan petnah bisa membangun keluarga kecil dengan Raisya? Tidak, itu semua tidak boleh terjadi. Apa pun akan ia lakukan, asalkan ia bisa bersatu dengan Raisya.



Kakinya melangkah menjauhi kamar yang sudah tertutup rapat itu. Tujuanya kali ini adalah taman belakang. Di sana ia bisa mendapatkan ketenangan. Hatinya terlalu sakit mendengar pernyatan Raisya.



Farel yang sedari dulu merasa tidak butuh kasih sayang, nyatanya ia sangat mengaharapakan kasih sayang dari seseorang yang baru ia kenal. Perlakuan kejam yang ia terima sejak kecil membuatnya merasa tidak membutuhkan kasih sayang lagi, dan menganggap kasih sayang itu hanya semu.



Jika kasih sayang itu memang ada, mengapa ia tidak pernah merasakannya dari orang tuanya, ia hanya mengenal rasa sakit dari mereka. Bahkan Salaha yang terang-terangan mengaku mencintai dan menyanyanginya bisa membuat kesalahan fatal, dan membuatnya semakin tidak percaya dengan arti kasih sayang itu sendiri.



Bolehkan ia berharap untuk terakhir kalinya. Ia hanya menginginkan kasih sayang dari Raisya. Bolehkan ia egois kali ini untuk mendapatkan kasih sayang itu?


_______

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca,, unyuk Crazy up, Author usahakan entah kapan, tapi satu minggu ini kayaknya Author belum bisa deh, dukunganya ya biar Author tetep semangat nulisnya, kalau ada typo atau gk nyambung ceritanya langsung komen aja biar Author revisi langsung 😘😘😘


__ADS_2