Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
102. Alex


__ADS_3

“Bagaiamana persiapannya?”


“Semua sudah sesuai dengan perinta anda Tuan.”


“Bagus! Pastikan tidak ada kegagalan atau pun sedikit kesalahan.”


“Baik Tuan.”


****


Farel menggengam erat tangan Raisya. Mereka sudah memutuskan untuk berangkat ke tempat Maria sore itu juga.


Farel sempat menolak, melihat kondisi Raisya yang baru saja sehat, membuatnya khawatir. Laki-laki itu berencana membawa wanitannya besok.


“Apa kau serius?”


Raisya menghentikan langkahnya, menatap Farel yang terlihat sangat khawatir. “Kau sudah bertanya dua puluh kali, dan kau pasti tahu apa jawabanku, Farel.”


“Aku hanya khawatir, kau baru saja sembuh. Bukankah lebih baik kita berangkat besok pagi saja?”


“Tidak, lebih cepat lebih baik Farel. Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan kondisi Nenekmu.” Raisya menatap serius Farel. Wanita itu tidak ingin membuat Farel cemas memikirkn kondisi neneknya. Biar bagaimana pun, ia tahu betapa berartinya wanita tua itu bagi Farel, ia tidak ingin egois.


“Aku memang khawatir dengan kondisi Nenek, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan kesehatanmu.” Farel memegang pundak Raisya, membuat langkah wanita itu terhenti dan mnghadapnya lurus.


“Farel, aku baik-baik saja. Lihatlah, aku sudah bisa berjalan normal, bahkan aku juga bisa loncat.” Raisya meloncat kecil sebagai bukti jika ia benar-benar sehat. Sedangkan Farel yang melihat tngkah Raisya membolakan mata.


“Apa yang kau lakukan, kau baru saja sembuh, jangan melakukan hal yang akan membuatmu terbaring di rumah sakit lagi.” Farel mencekal tangan Raisya, menghentikan aksi bar-bar wanita itu.


“Cih, menyebalkan.” Raisya mendengus sebal, entah mengapa wanita itu tiba-tiba bertindak seperti anak kecil.


Farel yang melihat Raisya meninggalkannya dengan wajah cemberut kelabakan. Rasa takut akan ditinggalkan membuat tubuhnya menegang.


“Raisya, tunggu aku.” Farel berlari mengejar langkah Raisya yang cepat.


Raisya yang mendengar seruan Farel hanya melanjutkan langkahnya semakin cepat. Namun, cekalan di tangannya membuat ia harus berhenti.


“Raisya, jangan berjalan sendiri. Kau harus selalu menggandeng tanganku, kemana pun kau pergi, kau dilarang di depanku, atau pun di belakangku. Tempatmu itu di sini, di sampingku.” Farel merangkul bahu Raisya, membuat tubuh mereka berdempetan.


Raisya yang ingin memuntahkah amarah terhenti. Perkataan yang bernada rayuan itu membuat wanita bernetra hijau itu mengerjapkan mata dan tersipu malu. Hari ini wanita itu benar-benar sensitif.


“Kau! Kenapa merayku?” Raisya menatap garang Farel dengan pipi yang memerah.


“Eh? Aku tidak merayumu, aku berbicara fakta ini.” Farel terkekeh.


“Jangan pasang wajah seperti itu, kau membuatku mual.” Raisya menutup wajahnya dengan kedua tangan, enggan melihat wajah Farel yang terkesan menggodanya itu.


“Hay, kenapa kau menutup wajahmu? Kau tersipu?” Farel semakin terkekeh, tangannya mencoba membuka wajah wanita itu yang tertutup.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?” Raisya bersungut tidak terima. Wajah merahnya benar-benar terlihat jelas sekarang.


Farel tertawa lantang, mengundang tatapan semua orang yang kebetulan berada di bandara. Dua pasangan dengan postur tubuh yang menawan dan menggunakan masker membuat semua orang penasaran.


****


“Apa semua informasi ini benar?” Maria mentap tajam asistennya itu.


“Benar Nyonya.”


Jawaban itu membuat Maria menggertakan gigi. Wajah tua itu terlihat memerah dan tidak percaya.


“Kau sudah menyelidiki semuanya?”


“Sudah Nyonya.”


“Siapa yang mengirimkan semua ini?” Maria menatap foto-foto yang berserakan serta dokumen di atas meja.


“Kami belum bisa menyelidiki identitas orang misterius itu Nyonya.”


“Cepat selidiki semuanya, saya curiga orang itu memilki maksud tertentu, terutama untuk menghancurkan cucuku.” Maria menatap tajam asistennya.


“Baik Nyonya.” Asisten itu menunduk, kemudian pergi meninggalkan ruang megah itu.


Maria termenung, matanya menatap foto yang terlihat paling intim.


****


Salsha menatap kosong laki-laki yang menyelamatkannya itu. Mentalnya terguncang, mengingat hewan yang paling ia takuti menyentuhnya dengan kasar dan tanpa belas kasihan membuat traumanya semakin parah.



Berdekatan dengan hewa itu sanggup membuat ia sesak nafas, terlebih melampiaskan hasrat bersama mereka? bayangkan bagaiamana perasaanya saat ini. Mungkin kata hidup segan, mati pun enggan itu yang paling cocok untuknya.



Untuk hidup ia harus melawan ketakutan dan rasa traumanya itu, sedangkan mati, ia pun tidak rela. Dendam di hatinya mengharuskannya untuk tetap hidup.


“Kau harus bangkit! Selama kau masih terpuruk dengan rasa trauma mu, mereka yang telah membuatmu seperti ini akan semakin senang.” Laki-laki itu menatap serius Salsha.


Salsha tetap diam, bibirnya kelu, tapi pendengrannya masih berfungsi sangat baik.



Fakta tentang Farel yang menjadi dalang semuanya membuat ia benar-benar tergoncang.


__ADS_1


Ia melakukan semua ini hanya untuk mendapatkan cintanya kembali, dan haknya selama menjadi Istri yang tidak terpenuhi.



Semua ia korbankan untuk cintanya. Meninggalkan laki-laki yang tulus mencintainya, dan membunuh anak kandungnya sendiri. Bahka saat ini, ia juga terancam tidak bisa memilki anak lagi.



Dengan kejamnya sang pemilik cinta itu membuat ia tertampar. Tertampara akan fakta yang baru ia tahu. Sejujurnya setelah ia melihat sendiri adegan Farel dan selingkuhannya itu, ia ingin mundur, tapi perlakuan kejam yang diterima membuat sisi jahatnya mendominasi.



Tidak akan ia biarkan mereka tertawa di atas penderitaanya. Tidak akan ia biarkan mereka membangun keluarga bahagia di atas hancurnya keluarga kecilnya.


“Kenapa kau menolongku?” Salsa mendongak, menatap laki-laki itu dengan tatapan putus asa.


Laki-laki itu tersenyum, menagakkan tubuhnya. “Sejahat apa pun dirimu, kau tetap manusia, dan tidak pantas menerima balasan seperti itu.”


Salsah terdiam. Ya, dia akui, dia jahat. Tapi ia melakukan semua itu hanya kerana cinta. Dan balasan yang diterimanya sungguh sudah melewati batas.


“Bantu aku.” Salsga berucap dengan lirih.


Laki-laki yang awalnya menunduk itu mendongak, menatap Salsha dengan senyum lebar.


“Apa yang bisa aku bantu?”


“Sebarkan bukti perselingkuhan mereka, buat seoalah-olah Farel meninggalkanku karena jala*g itu.”


Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya. “Kau serius, bukankah wanita itu tidak salah. Yang menghancurkanmu Farel.”


“Farel melakukan semua itu karena jal*ngnya. Andaikan jal*ng itu tidak ada di rumah tangga kami, kami akan tetap bersama,” Salsha berujar dengan berapi-api.


“Oh, seperti itu. Aku akan membantumu dengan satu syarat.” Laki-laki itu tersenyum misterius.


Salsha mendongak, menatap laki-laki yang menolong itu dengan alis terangkat sebelah.


“Apa itu?”


“Akan ku beritahu nanti. Bagaiamana?”


Salsha terdiam, mencoba mempertimbangkan keputusannya. Wanita itu tidak mengenal jauh laki-laki itu, apa nanti persyaratan yang diberikannya akan merugikan? Ah, tapi apa yang perlu dikhawatirkan lagi. Hidupnya sudah hancur.


“Baiklah. Aku setuju apa pun sayaratnya.”


Laki-laki itu tersenyum, kemudian mengulurkan tangan sebagai tanda kesepakatan.


“Senang bekerja sama denganmu Salsha Dawal.”

__ADS_1


“Senang bekerja sama denganmu Alex.”


__ADS_2