
“Bagiamana jika aku yang menolak?” Raisya menatap Farel dengan tatapan menantang.
Farel terdiam mendengar ucapan Raisya. Ia tidak pernah berpikir Raisya akan menolak ajakan menikahnya. Rasa takut mulai menjalar di hatinya, membuat tangannya semakin erat menggenggam tangan ramping itu.
Raisya meringis merasakan eratnya genggaman di tangan. Tapi ia mencoba tetap mempertahankan wajah datar dan menantangnya.
“Apa kau akan menolak ajakan menikahku?” Farel bertanya dengan nafas tercekat.
Raisya mengangkat alisnya. Tanganya dengan cepat melepas paksa tangan kekar yang menggenggamnya itu. ia berbalik badan meninggalkan Farel yang setia menatap punggungnya. Dengan gesit tubuhnya masuk kedalam air,menyelami kedalaman dan segarnya danau buatan itu.
Farel merasa gusar melihat Raisya yang meninggalkanya tanpa menjawab pertanyaannya.
“Raisya tunggu aku.” Farel berenang mengejar Raisya yang sudah jauh di depanya.
Raisya mengabaikan teriakan Farel. Ia tetap fokus menikmati segarnya air. Beberapa kali ia menjulurkan kepalanya untuk mengabil nafas.
Farel mempercepat gerakan tangan dan kakinya, netra hitamnya menatap kaki jenjang Raisya yang terlihat bergerak indah di dalam air. Sekilas muncul ide untuk menggoda wanitanya. Dengan cepat ia berenang lebih dalam lagi, berusaha mengimbangi gerakan Raisya.
Raisya terllu fokus menatap keindahan yang tertata apik di depanya. Bahkan indranya seakan mati.
“Argh.” Raisya terkejut ketika mendapati seseorang di bawah tubuhnya menyembulkan kepala tepat di depan wajahnya. Netra coklat dan hijau itu saling beradu.
Tangan Farel bertenggar indah di perut Rata Raisya. Raisya mencebikkan bibir, berusaha keluar dari jerat lak-laki bermata coklat itu.
“Farel, lepaskan aku.”
Farel yang melihat usaha Raisya untuk lepas dari dekapanya semakin bersemangat untuk mengungkung tubuh indah itu. Dengan cepat ia bungkam mulut seksi itu yang hendak mengeluarkan rengekanya lagi.
Cup!
Raisya melotot mendapat serangan tiba-tiba di bibirnya. Matanya menatap Farel garang, membuat Farel terpingkal, tapi tetap tidak melepaskan dekapanya.
“Kau.” Tunjuk Raisya tepat di depan wajah Farel.
Farel yang melihat jari telunjuk Risya yang teracung di depanya segera memberikan gigitan denagn sedikit \*\*\*\*\*\*\*. Membuat ujung jari Raisya terdapat busa dari saliva Farel.
Raisya mengernyit jijik melihat jarinya. Tanpa basa-basi ia mengoleskan jari telunjuknya tepat di dada Farel.
Farel melotot melihat Raisya yang menyentuh dadanya. Bukan karena marah, tapi ia bergairah. Sentuhan di dadanya membuat jiwa hewanya mengaum keras.
“Raisya.” Panggil Farel dengan sedikit geraman di akhir kata.
__ADS_1
Raisya mengangkat alisnya mendengar suara Farel.
“Kenapa? Kau tidak terima aku mengembalikan air liurmu!” sentak Raisya jengkel.
Farel mendesah frustasi melihat Ketidak pekaan Raisya, Bagaiman bisa wanitanya tidak menyadari gelagat anehnya itu.
Riasya yang melihat ada celah untuk terbebas segera meninggalkan Farel. Tanganya bergerak dengan lincah, menyelam semakin dalam dan menjauh dari sosok predator yang mengintainya.
Farel berdecak melihat Raisya yang lagi-lagi kabur darinya. Gairah yang sudah di ubun-ubun ia redam kembali. Persis seperti tadi. Sungguh ujian kali ini luar biasa.
Farel berenang ke arah bebatuan besar. Tangannya dengan cepat bergerak agar sampai dengan cepat. Tepat di depan batu besar itu alisnya terangkat melihat Raisya yang berada di sebrangnya. Jarak mereka hanya di pisahkan oleh batu besar di tengah.
Raisya menghela nafas, mencoba mengabaikan tatatpan Farel. Tubuhnya lelah, dan ia sudah cukup puas berkeliling menyelami kedalaman air. Ia butuh istirahat. Dengan gerakan santai ia membaringkan tubuhnya dengan kaki yang menggantung tersapu air.
Farel menelan ludah kasar. Jakunya bergerak dengan liar melihat tubuh basah Raisya yang bersinar di bawah senja. Ia menggigit bibir dengan kuat, dan mengangkat tubuhnya, mendudukanya tepat di samping Raisya yang terbaring dengan mata terpejam.
Hening, hanya terdengar suara dari air terjun buatan itu, dan kicauan burung yang menggema indah sebagai pertanda waktu sudah mendekati malam.
“Raisya.”
“Hmm.” Raisya menjawab dengan tetap memejamkan mata.
Farel menjilat bbir atasnya yang sudah basah. Ia berdahem sebentar mencoba mengumpulkan keberanianya.
“Apa kau tidak mau menikah dengan ku?” Fael menatap Raisya serius.
Mata Raisya yang awalnya tertutup dalam sekejap terbuka lebar. Ia mendudukan tubuhnya dan menatap lurus manik coklat yang menatapanya lekat.
“Kenapa aku harus menikah denganmu?” Raisya bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya.
“Karena aku sudah menyentuhmu dan mengambil kesucianmu.” Farel berucap dengan tegas.
Dalam hati Raisya tertawa. Bagaiaman laki-laki itu membuat alasan yang sangat konyol. Ia seakan berubah menjadi laki-laki suci dan baik, yang tidak ingin menodai wanita polos.
“Bukankah kau membayarku untuk itu?” Raisya menatap dengan datar. Namun jauh di dalam sana ia memendam kesakitan.
Fatel menundukkan pandanganya. Nafasnya tercekat melihat nada dan ekspresi Raisya. Rasa bersalah merundung hatinya.
__ADS_1
“Maafkan aku, sekarang aku menyadari kesalahanku. Dan aku ingin memperbaiki semuanya.”
Raisya terkekeh sinis. Apakah dengan maaf ia bisa mengembalikan kesucianya. Jika Farel meminta kembali tiga milyar itu, ia akan dengan mudah mencari uang dan mengembalikanya. Tapi untuk kesucianya?
“Hilangkan niatmu untuk menikahiku karena rasa bersalahmu.” Raisya menatap ke atas. Enggan melihat wajah laki-laki yang menurutnya sangat baji**an itu.
Farel terperangah mendengar penuturan Raisya. Bagaiaman bisa wanita itu berkata seperti itu.
“aku mencintaimu.” Farel berucap dengan mata yang menatap dalam Raisya.
Raisya terperangah mendengar pernyataan cinta itu.
“Terus, apa hubunganya denganku?”
“Aku mencintaimu. Jadi menikahlah denganku!”
“Kau tahu, aku tidak mencintaimu!” Raisya berucap dengan datar.
Syut!
Rasa nyeri tidak dapat Farel hindari ketika mendengar ucapan gamblamg Raisya. Bagiamana bisa wanita itu menolak cintanya tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Aku akan berusaha membuatmu mencintaiaku,” Farel berucap dengan sungguh-sungguh.
Raisya terkekeh mendengar ucapan Farel. Berusaha? Semua itu hanya sebuah omong kosong.
Farel merasa tersinggung dengan tanggapan Raisya. Tanganya dengan cepat meraih kedua bahu ramping itu, memaksa pemilknya untuk menghadapanya.
“Kenapa? Kau tidak percaya?” Farel mendesis tajam.
“Kau bertanya tentang kepercayaan?”
Farel mengernyit mendengar pertanyaan itu. Raisya tidak menjawab pertanyaanya, dan kini ia bertanya tentang kepercayaan.
Raisya terkekeh sinis menatap tajam Farel. “Kau tidak pernah berpikir, jika hubungan kita akan membuat hati wanita lain sakit. Dan wanita itu istrimu, ingat ISTRIMU.”
Farel terdiam, tanganya meluruh ke bawah mendengar penuturan Raisya.
“Jika Istrimu saja bisa kau khianati, apalah aku yang baru mengenalmu beberapa bulan ini. Ingat kau sudah menghianati kepercayaan istrimu! jadi beri aku jawaban bagaimana bisa aku mepercayai orang yang sudah menghilangkan kepercayaan Istrinya?”
Farel menelan ludah kasar, tenggorkanya terasa kering. Bagaiamana ia harus menjelaskan semua ini. Haruskah ia menceritakan tentang kekuranganya itu. Tapi apakah Raisya akan percaya?
“Sebaiknya kita pulang!” Raisya bangkit meninggalkan Farel sendiri.
______
Gimana, kita bikin Raisya terima ajakan nikah Farel atau tolak mentah²?
Terimakasih semangat dan doanya ya,, alhamdulillah sekarang Author udah enakan,,,
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca 😘😘
Jangan lupa Vote, komen ya 😍😍😍