Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
94. Kesalahan indah


__ADS_3

Max menatap datar beberapa bawahannya.


“Bagaiamana?”


“Sesuai dengan perminataan Tuan. Semua sudah dipersiapkan.” Roy menjawab dengan tegas, yang diangguki oleh beberapa laki-laki yang ada di belakangnya.


“Bagaimana dengan sepuluh anjing liar yang saya pesan?”


“Sudah Tuan, kami sudah memasukan anjing itu di dalam kamar khusus.”


“Bagus, selesaikan semuanya.” Max meninggalkan mereka tepat setelah itu.


****


Farel menggertakkan gigi marah. Bagaiamana bisa Salsha dengan kejam memberikan obat perangsang di tubuh Raisya.



Di depannya Raisya terlihat sudah berantakan. Gaunnya yang sudah lepas memperlihatkan dalaman warna merah. Jakun Farel naik turun, kabut gairah terlihat jelas di sana. Namun, laki-laki itu dengan sekuat tenaga menahan gairahnya. Ia tidak ingin membuat Raisya membencinya.


“Sayang.” Farel menyentuh bahu Raisya pelan.


Raisya bernafas dengan tersengal-sengal. Tubuhnya sungguh mendamba sentuhan, tapi ia tidak bisa melakukan itu semua. Mendapat sentuhan tiba-tiba di bahunya, membuat intinya berndenyut dan tubuhnya semakin bergetar.


“Jangan sentuh aku.” Raisya menyentak tangan kekar itu dengan mata yang masih tertutup.


Farel menghela nafas, meskipun obat perangsang apa pun tidak akan berpengaruh di tubuhnya, tapi ia tahu bagaiamana efek dari meminum obat itu.


“Sayang, buka matamu, aku Farel, suamimu.” Farel berucap dengan nada lembut. Kini laki-laki itu tidak menyentuh apa pun, ia paham, sentuhan sangatlah sensitif untuk tubuh Raisya saat ini.


Raisya yang mendengar ucapan itu dengan cepat membuka matannya dengan lebar. Mata hijau yang berkaca-kaca dengan wajah penuh peluh membuat Farel menekan kuat hasrat binatangnya.


“Farel tolong aku.” Raisya bangkit, mendekat tanpa menyentuh Farel. Bahkan wanita itu sudah tidak menghiraukan tubuhnya yang hanya berbalut pakaian dalam.


Farel bingung, apa ia harus menyentuh Raisya saat ini. Meskipun ia ingin, tapi ia tidak ingin mengambil kesempatan di saat seperti ini.


“Apa yang harus aku lakukan?” Farel bertanya dengan pelan.


“Hilangkan efek dari minuman sia*an itu, tanpa menyentuhku.” Raisya mengepalkan tangannya erat.


Farel membuka matanya lebar. Bagaiamana carannya ia membantu Raisya tanpa menyentuh. Bukankah obat itu akan hilang efeknya setelah yang mengkonsumsi menyalurkan hasratnya.


Ceklek!


Farel mengalihkan pandangannya dari Raisya. Netra coklatnya menatap pintu yang tertutup itu dengan alis menyatu.


“Seperti bunyi kunci yang diputar.” Gumam Farel. Untuk meyakinkan, Farel beranjak meninggalkan Raisya yang gelisah di sana.

__ADS_1


Tangan kekarnya mencoba meraih hendle pintu itu untuk memastikan.


“Terkunci.” Farel berucap dengan nada tidak percaya.


Jika seperti ini, bagaiamana bisa ia membantu Raisya. Ia tidak tahu carannya menetrlkan obat perangsang, mungkin dengan bantuan dokter bisa, tapi pintu kamarnya tiba-tiba terkunci.


“Raisya kita terkunci, aku tidak bisa memanggil dokter untuk menetralkan obat perangsang di tubuhmu.” Farel berucap dengan wajah kalut.


Gigi Raisya semakin bergemeletuk. Hasrat di tubuhnya semakin melonjak. Ia harus bagaiamana? Oh, ia tahu.


“Farel, rendam aku di dalam air dingin.” Raisya berucap dengan nafas yang tersendat-sendat.


Mendengar permintaan itu, Farel tanpa menunggu lebih lama lagi segera membawa tubuh Risya ke dalam kamar mandi, meletakkan tubuh ramping itu dengan pelan di dalamnya.



Tangan kekar Farel menyentuh tombol yang akan mengeluarkan air dingin. Namun, sudah berulang kali tanganya menekan tombol itu, air dingin tidak kunjung keluar.


“Raisya, sepertinya keran di sini rusak.” Farel berucap dengan putus asa.


Raisya menggertakkan gigi. Jika seperti ini, tidak ada lagi jalan keluarnya. Mungkin sekarang sudah waktunya. Sudah waktunya ia memberikan hak Farel.


“Sentuh aku Farel, ambil hakmu sekarang.” Raisya menatap Farel dengan serius.


Farel tercengang. “Apa kau serius?”


Farel menelan ludah gugup. Baru kali ini ia melakukan hubungan intim dengan Raisya tanpa paksaan. Meskipun semua ini terjadi karena rencana jahat Salsha, tapi ia patut bersyukur. Karena kejadian ini, ia bisa melakukan hal yang sudah lama ia damba tanpa memaksa Raisya dan membuat wanita itu membencinya.


“Baiklah, akan aku lakukan. Aku harap kau tidak menyesali keputusanmu nanti.”


Raisya yang merasa Farel terlalu banyak bicara dengan cepat bangkit. Tangan rampingnya meraih tengkuk Farel dan menyatukan bibir mereka.



Raisya memagut bibir itu dengan beringas, bahkan suara decapan terdengar jelas di sana. Membuat siapa pun yang mendengar dan melihat tingkah erotis mereka ternganga dan ikut terangsang pula.



Farel yang mendapatkan serangan tiba-tiba terkejut. Namun, rasa terkejutnya tidak bertahan lama, semua terganti dengan gairahnya yang telah lama terpendam.


“Engh.” Raisya melenguh di sela-sela ciuman yang di berikan Farel di lehernya.


Farel dengan cepat mengangkat tubuh Raisya, membawanya dengan tergesa-gesa. Tepat di depan ranjang, Farel segera membaringkan Raisya dengan bibir yang masih bercumbu mesra di atas tulang selangka indah itu.


“Ahh.” Raisya mendesah saat merasakan Farel yang menyesap dan menggigit gemas tubuhnya.


Farel seperti orang kalap, menggigit, menghisap, menjilat apa pun yang ia temui. Tanganya meraba sana-sini, seakan menyapa dan mengabsen tubuh itu dengan perinci.

__ADS_1



Tangan kekarnya berhenti sejanak, membuat Raisya menatap Farel barang.


“Kenapa? Kau membutuhkan sentuhanku?” Farel bertanya dengan seringai mesum di wajahnya. Tangannya dengan cepat melepas kancing jas yang melekat di tubuhnya satu persatu.


Raisya yang mendengar penuturan itu menggeram marah. Segera wanita itu tarik tangan Farel, dan membanting tubuh kekar itu di atas ranjang.



Farel yang melihat sikap agresf Farel tercengang. Apa benar wanita di depanya itu wanitannya? Kenapa wanita itu berubah menjadi agresif?



Raisya dengan tidak sabar merobek baju Farel, memperlihatkan otot-otot kuat yang terpahat sempurna di sana. Tangan ramping itu dengan pelan mengelus dan membelai otot-otot itu, membuat sang empu mengerang dan menggeram.


“Ahh, Raisya jangan menggodaku.” Farel memejamkan mata kuat. Laki-laki itu tetap membiarkan Raisya yang tengah melucuti pakainnya dan membelai setiap inci tubuhnya, bahkan membiarkan tangan ramping Raisya menggoda tanpa ampun asetnya.


“Ahhhh.” Farel melenguh kuat saat Raisya memainkan pusatnya.


“Kau nakal sekali, tapi aku suka.” Farel menatap Raisya dengan mata yang berkabut gairah.


Raisya mengabaikan ucapan Farel. Kali ini, ia hanya ingin menggoda Farel, membuat laki-laki itu sama kehilangan akal sepertinya. Sekali lagi tangannya memainkan pusat Farel yang terlihat sangat menantang.


“Ahh, cukup Raisya, ahhh, aku tidak kuat, siapakan dirimu, akan ku hukum kau.” Farel membalikkan tubuh Raisya, membuat wanita tu terpekik.


“Ahh,” Raisya melenguh kuat saat Farel membelai tubunya, seakan mengkomando jika permaianan akan segera di mulai.


“Kau siap untuk bertempur?” Farel bertanya dengan seringai di wajahnya dan tangan yang tetap melakukan tugasnya.


Raisya hanya terdiam dengan mulut terbuka. Suaranya tidak mampu keluar, hanya \*\*\*\*\*\*\* saja yang mampu ia keluarkan. Farel terlalu pandai menggoda tubuh wanita. Bagaiaman laki-laki seperti itu memilki penyakit aneh.


Jlep!


“Ahhh.” Desah mereka secara bersamaan.


Farel terdiam sebentar, mencoba menyesuaikan dirinya dengan tempat yang hangat, lembut, basah, dan menggoda itu. Sungguh ia merindkan rumahnya ini.


“Kau siap?”


Raisya mengangguk. Kedua wajah mereka memerah, petanda gairah yang sudah memumbung tinggi. Farel dengan pelan memulai permainannya. Tubuhnya bergerak seirama sesaui peraturan yang sudah ia terapkan. Namun, perasaan yag membuncah membuat laki-laki itu melupakan peraturannya sendiri.



Farel bermain dengan kasar, membuat sang lawan terpekik namun, tetap menikmati permainan mereka. Mereka seakan berlomba untuk meraih kemenangannya dengan bertindak di luar kendali masing-masing.


__ADS_1


Sedangkan di depan layar kaca, Salsha menutup mulutnya tidak percaya. Harapan untuk melihat percintaan Raisya dengan bawahannya lenyap sudah. Hatinya hancur, terlebih melihat Farel yang menikmati bahkan terlihat sangat mendamba tubuh Raisya membuat matanya terbuka. Farel tidak pernah mencintainya!


__ADS_2