Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
93. Kesalahan


__ADS_3

Salsha menatap Raisya yang berjalan menuju kamar mandi. Wanita cantik itu mengeluarkan seringai kejam di balik topeng yang menutupi wajahnya.


“Selamat datang di nerakamu,” Salsha berucap dengan tangan yang meletakkan kembali gelas yang ia pegang.


Dengan menatap sekeliling, Salsha mula berjalan mengikuti setiap langkah yang di lalui Raisya.



Sedangkan Raisya tidak dapat merasakan bahaya yang sedang mengintainya di belakang. Wanita bernetra hijau itu terlalu fokus menahan kenginannya untuk mebuang air kecil. Rasa panas bercampur dengan rasa yang tak tertahan, membuat Raisya menghentikan langkahnya beberapa kali sekedar untuk menetralkan tubuhnya.


“Uh, kenapa rasanya sangat tidak nyaman.” Raisya menggerutu dengan kaki yang siap-siap untuk melangkah lagi.


Salsha yang mendengar gumaman Raisya tersenyum, suasana lorong yang sepi sangat menguntungkan untuknya.



Salsha terhenti, tepat di ujung lorong. Netra hitamnya melihat sekitar lorong itu untuk memastikan jika tidak ada siapa pun lagi. Mengingat depannya sudah menunjukkan toliet, membuat Salsha harus benar-benar memastikan tidak ada satu pun orang di dalam sana, atau pun orang yang akan memasuki toilet.


“Kali ini, kau tidak akan bisa lepas dari dendamku, bahkan Farel tidak akan mampu menolongmu.” Salsha berujar dengan bangga. Wanita itu bersiap-siap untuk memasuki toilet dengan tujuan memantau Raisya di dalam sana.


Raisya mendengus kesal. Sudah berulang kali wanita itu mengeluarkan air seni, tapi ia selalu menginginkan lagi, dan lagi. Bahkan tubuhnya sekarang sudah di penuhi peluh.


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku.” Raisya menempelkan keningnnya tepat di tembok.


Tubuhnya terasa lemas, berkeringat, dan panas. Ditambah rasa ingin buang air kecil yang tidak pernah surut membuat kesadarannya mulai terpengaruh.


“Uh, kenapa rasanya sangat gerah.” Raisya mengipasi tubuhnya dengan tangan. Bahkan wanita itu sudah melepaskan topeng emas yang menutupi wajah cantiknya.


Wajah cantik itu terlihat penuh dengan peluh. Mulut yang sedikit terbuka dan mata yang terpejam membuatnya terlihat sangat menggoda. Tanpa bisa ditahan, Raisya berusaha keluar dari kamar mandi namun, kakinya terasa seperti jeli.



Salsha yang melihat toilet terbuka menyeringai. Matanya menatap sosok wanita yang tak lain Raisya yang terlihat tidak baik-baik saja itu dengan penuh binar.


“Nona, anda tidak apa-apa?” Salsha bertanya dengan mengeluarkan suara penuh khawatir.


Raisya mendongak, matanya menatap sosok wanita yang tertutup wajahnya dengan alis mengernyit. Tubuh yang tidak stabil, membuat wanita itu tidak bisa berpikir dengan jernih,bahkan sekedar mengenal musush di depannya.


“Terimakasih, saya tidak apa-apa.” Raisya berusaha melepaskan tangan wanita asing itu dari bahunnya. Namun, baru ingin melangkahkan kakinya, Raisya merasa tubuhnya sulit di gerakkan.


Salsha tersenyum di balik topengnya. Kinerja obat itu sangat bagus. “Biar saya bantu Nona. Mungkin anda memperlukan kamar.” Salsha mencoba menuntun Raisya.

__ADS_1



Raisya memejamkan matanya erat. Giginya mengetat, menahan rasa aneh akibat sentuhan yang ia rasakan di bahunnya.


“Bisa lepaskan tanganmu dari bahuku.” Raisya berucap dengan mata yang tetap terpejam.


Salsha tersenyum. Bahkan hanya dengan menyentuh bahunya saja efeknya sudah luar biasa.


“Oh, maafkan aku.” Salsha dengan pelan melepaskan tangannya dari bahu Raisya.


Raisya merasa lega karena terbebas dari sentuhan itu namun, rasa leganya tidak bisa bertahan lama, tubuhnya sulit menopang berat badannya.


“Ahh.” Raisya berteriak merasakan tubuhnya yang akan oleng di depan.


Salsha tetap diam, membiarkan Raisya terjerambat di depan. Tidak ada niatan untuk membantu sama sekali.



Sedangkan Raisya yang sudah mencium lantai dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya mengernyit merasakan rasa nyeri yang menyengat. Bahkan, ia lupa jika masih ada satu wanita yang berada di belakangnya itu.



Salsha masih menunggu sosok Raisya yag tak mampu untuk bangkit.


“Hallo.” Salsha menempelkan gawainya tepat di telinga kiri.


“Nona, Tuan Farel berjalan menuju toilet.”


Salsah membuka matanya lebar. Dengan cepat ia mematikan panggilan itu, dan membantu Raisya untuk berdiri.


“Nona, mari saya bantu, sepertinya anda memerlukan kamar untuk Istirahat.”


Raisya hanya mampu terdiam, bahkan saat wanita asing itu mulai menuntunnya keluar dari kamar mandi itu. Wanita bernetra hijau itu tidak mampu lagi mengontrol tubuhnya.


****


Farel dengan cepat memasuki seluruh ruang toilet. Kondisi hotel yang ramai dan besar, membuat laki-laki itu kesulitan mencari Raisya.



Sudah toilet ke tiga yang laki-laki itu masuki. Namun, tidak ada tanda-tanda Raisya di dalam sana.

__ADS_1


“Sh*t! Kau di mana sayang?” Fare mengusap wajah frustasi.


Kakinya tetap melangkah, mengabaikan tatapan para wanita yang menatapnya aneh. Bagaimana tidak, laki-laki gagah dengan tidak tahu malunnya memasuki Toilet wanita.


“Ini Toilet terakhir, aku harap, aku tidak terlambat.” Farel mempercepat laju larinya, membuka setiap pintu yang terlihat di mata.


Semua kosong, tinggal satu pintu lagi yang perlu laki-laki itu cek. Namun, hasilnya tetap sama, kosong.


Brak!


“Breng*ek! Salsha, akan aku beri pelajaran yang setimpal untukmu.” Farel menggeram murka.


Mata hitam itu terlihat memerah, ditambah tatapan matanya yang terhenti ketika melihat topeng emas yang terlihat teronggok di ujung sana. Dengan cepat tangan kekarnya meraih topeng itu.


Ting... Ting...


Farel yang mendengar dering gawainya dengan cepat meraih dan membuka dengan tidak sabaran. Tertera nomer asing di sana. Dengan alis mengernyit, laki-laki itu membuka gawainya. Kernyitan semakin dalam.


“Kenapa nomer ini mengirimkan alamat kamar?” Farel bertanya dengan nada tidak percaya.


Ting... Ting....


Muncul pesan lagi dari nomer itu. Namun, kali ini bukan pesan Taxt, melainkan foto wanita yang sedang ia cari. Di sana terlihat wajah berantakan Raisya yang sedang dituntun wanita bergaun merah yang tak lain Salsha memasuki kamar.


“Breng*sek! Tidak akan ku biarkan.” Farel berlari dengan kencang.


Laki-laki itu melakukan bebarapa panggilan untuk memberikan tugas untuk pengawalnya. Melihat tempat semakn dekat, membuat laju laki-laki itu kian melambat.


“Akan ku hancurkan dirimu.” Farel menggeram marah melihat pemandangan di depannya.


***


Salsha menghembuskan nafas kasar. Dengan kasar wanita itu membanting tubuh Raisya di atas ranjang.


“Ck ck ck, ternyata menyusahkan membawa orang seperti ini.” Salsha bergumam dengan jengkel.


Netra hitamnya menatp Raisya yang menggeliat dengan tubuh yang terlihat basah keringat.


“Aku akan membantumu,” Salsha berucap dengan penuh arti.


Raisya mengabaikan wanita asing di depannya. Ia harus mengucapkan terimakasih, karena wanita itu telah membawanya ke tempat yang aman. Setidaknya di dalam kamar, ia yakin tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


Raisya mulai memahami apa yang terjadi dengan tubuhnya. Semua yang ia rasakan bukan karena ia yang ingin kencing, tapi tubuhnya yang sudah terkontaminasi dengan obat perangsang. Sungguh sial\*n. Jadi seperti ini rasanya, sungguh menyiksa.


“Kau, tunggu di sini, sebentar lagi akan ada orang yang membantumu menuntaskan permasalahanmu.” Salsha menyeringai. Dengan senyum yang terlihat jelas di wajahnya, wanita itu meletakkan satu kamera di sudut ruang, yang mana, kamera itu akan merekam kegiatan bercinta Raisya nanti dengan beberapa pria yang sudah ia persiapkan.


__ADS_2