Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
37. Seperti Hewan Liar


__ADS_3

Seminggu telah terlewati. Kini Farel dapat melihat langsung wajah cantik Raisya tanpa harus melihat lewat kamera. Tanganya sedari tadi tidak terhenti untuk mengelus surai coklat itu.



Jam sudah menunjukan tengah malam. Seharusnya ia baru bisa pulang besok pagi, tapi ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Raisya, maka dengan segera ia selesaikan seluruh tanggung jawabnya.


“Kenapa kau sangat cantik?” farel mengecup seluruh wajah Raisya.


Tanganya dengan gemetar berusaha menyentuh tubuh Raisya yang sudah menggoda imanya sedari tadi. Namun, sebelum tanganya sempat bersentuhan dengan tubuh Raisya, Raisya menjerit dalam tidurnya.


“Aku mohon, tolong lepaskan aku. Tidak!” Raisya berteriak dengan mata tertutup. Bahkan air mata terlihat jelas dari pojok matanya.


Farel menegang melihat semua itu. Bahkan Raisya tidak bisa merasakan tidur dengan tenang.


“Aku mohon berhenti! Ini sangat menyakitkan.”


Tangan Farel mengepal erat. Bahkan tanpa sadar matanya ikut memerah melihat apa yang terjadi dengan Raisya.


“Sutt! Tenanglah, semua akan baik-baik saja.” Farel mendekap pelan tubuh Raisya.


Raisya memberontak dalam pelukanya. Tangisan histeris terdengar dari gadis yang masih setia menutup matanya itu. Farel merasa dunianya hancur. Bagaimana caranya untuk menebus seluruh dosanya itu.



Farel hanya bisa mempererat pelukanya, membuat Raisya tanpa mampu melawan tetap berada di bawah kendalinya. Tangan kekarnya dengan setia mengelus lembut punggung yang masih bergetar itu, berusaha menenangkan.



Beberapa saat kemudian, Farel dapat merasakan tubuh ringkih itu sudah jauh lebih tenang. Dengan pelan ia longgarkan dekapanya dan memandang wajah penuh jejak air mata itu.



Dengan tangan kiri yang menjadi bantalan kepala Raisya, Farel menatap sendu wajah itu. Ia mencium setiap sudut wajah cantik itu yang terdapat jejak air mata. Seakan ingin menghapus kesdihan yang terpatri di wajah itu dengan ciuman.


“Apakah begitu menyakitkan? Maafkan aku. Aku akan melakukanya dengan lebih lembut lain kali.” Farel berucap dengan sungguh-sungguh.


Ia memilih mengatakan akan melakukan lebih lembut lagi di banding dengan mengatak tidak akan melakukanya lagi. Karena ia tahu, ia tidak akan sangup tidak menyentuh Raisya lebih lama lagi. Berdekatan dengan Raisya tanpa adanya sentuhan intim itu sama saja dengan membunuhnya secara perlahan.


“Tidurlah dengan nyenyak. Aku akan melindungimu, bahkan dari sikap kasarku.” Farel mencium lama kening Raisya. Membuat jejak basah di sana, kemudian ikut memejamkan mata.


****

__ADS_1


Maria menatap frustasi wajah Farel dalam foto yang ia pegang. Ia harus kembali ke negaranya sekarang. Tapi sampai sekarang ia masih belum melihat wajah Farel lagi. Dengan sangat terpaksa ia hanya meninggalkan pesan tanpa sempat berpamitan lagi.



Rumah besar itu terlihat sangat sepi. Pertama Tuan mereka, dilanjut Nyonya muda mereka, dan kini di susul Nyonya besar yang ikut meninggalkan rumah besar itu.


“Uh, lama-lama Mansion ini tidak bertuan.” Ucap salah satu pelayan yang di angguki pelayan lainya.


“Aku merasa rumah tangga atasan kita sedang dalam masalah besar. Lihat, selama hampir satu tahun ini pasangan itu terlihat jarang sekali bersama. Aku khawatir akan ada orag ketiga di dalam rumah tangga mereka.”


“eh, kau jaga mulutmu. Kalau sampai ada yang mendengarnya bisa mati kita.”


“Oh Tuhan, aku lupa. Ayo kita kembali bekerja. Kalau mengingat kembali temprament keluarga Atamaja, rasanya ingin sekali aku menyumpal mulutku.”


*****


”Ahhh Max, lebih cepat lagi.” Salsha mendongak dengan mulut terbuka. Matanya tertutup merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Max yang melihat wajah erotis Salsha dengan cepat menambah kecepatanya dan memperdalam gerakanya.


“Seperti ini?” Max bertanya tepat di kuping kiri Salsha.


Salsha kehabisan kata-kata. Mulutnya seakan tercekat merasakan kenikmatan bertubi-tubi yang ia rasakan. Bahkan ia dengan tanpa malu ikut bergerak dengan liar. Mereka sama-sama berlomba meraih kepuasan masing-masing.




Mereka seperti manusia dengan kekuatan baja. Bahkan saat manusia sibuk bekerja, sampai manusia akan bekerja kembali mereka masuh adu kecepatan. Berteriak dengan gamblang menyeruakan keinginan dan kepuasaan dari permainan mereka.


“Max, ahh... Kita ... ha..rus berhenti ahh sejenak.” Salsha berucap dengan tubuh yang masih bergoncang.


Seakan tuli Max tetap mempercepat gerakanya. Ia menatap Salsha dengan wajah yang merah penuh gairah.


“Kau yakin untuk berhenti?” Max bertanya di sela-sela permainanya.


Salsha dengan yakin menganggukkan kepalanya. Ia merasa cukup lelah. Permainan yang luar biasa ini membuatnya kehilangan akal dan lupa waktu.



Melihat keseriusan Salsha membuat Max tergoda membuat Salsha memohon untuk dipuaskan. Dengan trampil tanganya bermain di area yang sangat ia damba. Salsha menjerit mendapat serangan tiba-tiba. Matanya menatap max nyalang.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan ahhh.”


“aku hanya ingin tahu, seberapa besar kau ingin permainan ini berhenti.”


Max semakin gencar memainkan permainan di area itu. Membuat Salsha kelagapan menahan gairah. Tanganya mencengkram erat bahu Max, meninggalkan jejak cakaran diantara jejak permainan yang luar biasa ia ukir di tubuh kekar itu.


“Max, ahhh.”


Max mendongak dengan wajah penuh kepuasan. “Kenapa sayang? Kau ingin aku berhenti?” Max menghentikan permainanya tiba-tiba. Membuat Salsha murka menatapnya.


“kau sialan! Setelah memancingku, kau ingin menghentikan permainan ini di tengah jalan.” Salsha menatap Max dengan dada yang naik turun.


Max memasang tampang polos yang sangat tidak cocok dengan posisi intimnya itu.


“terus, apa yang kau inginkan. Tolong beritahu aku biar aku bisa melakukannya dengan baik dan memuaskan.” Max mengedipkan sebelah matanya. Tanganya dengan pelan kembali bermain di area itu, membuat Salsha menggeram.


“Ahhh, lanjutkan sampai selesai.” Salsha menjambak rambutnya sendiri. Ia merasa bodoh karena terkalahkan oleh gairahnya.


“Baik, sesuai keinginamu.”


Max melanjutkan permainan yang sempat ia tunda itu. Mengundang sorakan dari dua pemain handal itu. Bagaimana bisa meraka puas dengan melakukan sekali permainan saja. Bahkan jika mereka melakukan permainan itu sehari penuh, mereka tetap merasa tidak puas. Mereka merasakan candu yang luar biasa, candu yang akan menghancurkan merka berdua nantinya.


*****


Max mengelus lembut kepala Salsha yang bersandar di dadanya. Sesekali ia berikan kecupan lembut di sana. Salsha tidak terusik sama sekali dengan kecupan itu. Ia masih menikmati tidurnya.



Matahri sudah tidak terlihat lagi. Terhitung hampir empat puluh delapan jam mereka bergelut dengan permainan menyenangkan itu. Memang mereka bisa dikategorikan sebagai hyper.


“aku mencintaimu Salsha. Sampai kapan kau akan menutup hatimu untukku?” Max bertanya dengan wajah sendu. Hening, tidak ada jawaban yang ia peroleh. Salsha tetap memejamkan matanya.


Ia marah ketika mengetahui Salsha yang meninggalkanya kemaren sendiri di apartemen dengan keadaan telanjang. Bagimana bisa perempuan itu hanya meninggalkan pesan jika mereka sudah tidak memiliki hubungan apa pun. Tapi lihat sekarang, Salsha sendiri yang mendatanginya, bahkan menggodanya untuk bermain bersama.



Kita lihat saja, seberapa jauh ia bertahan dengan menutup mata hatinya. Jika ia mencintai Farel, bukankah seharusnya ia tidak pernah menerima sentuhanku, bahkan lebih parahnya memintaku untuk menyentuhnya. Ia harap salsha segera sadar dengan apa yang ia lakukan, dan mengambil keputusan yang tepat.


________


Terimakasih sudah membaca karya Author

__ADS_1


Gimana part ini?


__ADS_2