Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
109. Sebuah kebohongan


__ADS_3

Salsha Terdiam, di depannya berdiri wanita paruh baya yang tak lain ibu kandungnya itu.


“Apa yang kau lakukan anak sia*an? Bagaiamana bisa Farel menarik semua infestasinya?”


Salsha menunduk, ia tidak tahu Farel akan menyerangnya lewat keluarganya sendiri. Sedangkan Wanita paruh baya itu yang melihat keterdiaman Salsha semakin geram.


“Kau memang tidak berguna. Seharusnya kau itu jadi anak berbakti. Kita suah menghidupimu dengan layak, tapi suamimu malah menghancurkan perusahaan keluarga kita.” Wanita paruh baya itu mencengkram rahang Salsha dengan kuat.


Salsha mendongak dengan mata yang beraca-kaca. Netra itu mengeluarkan cairan bening, bukan karena sakitnya cengkraman yang ia rasakan, api sakitnya saat mengetahui orang tua sendiri lebih memilih mengkhawatirkan harta dari pada pernikahan anaknya.


Bahkan Ibunya tidak menanayakan apa permasalahan yang sedang menimpanya sekarang. Mereka hanya berpikir bagaiamana cara mengembalikan perusahaan seperti dulu.


“Ma, kau harus sabar.”


Salsha sedikit tersenyum, ia merasa dunia tidak terlalu kejam, ia masih memilki ayah yang selalu menerimanya. Tidak seperti ibunya yang selalu menuntut kesempurnaan, tanpa tahu apa yang ia rasakan.


“Bagaimana aku bisa sabar Pah. Menantu kita tiba-tiba menarik semua infestasi. Papa tahukan, kita sudah merancang semuanya dengan baik, termasuk pernikahan mereka agar perusahaan kita semakin sejahtra, tapi lihat sekarang.”


“Sabar Mah, kita harus bicara baik-baik, tidak perlu menggunakan emosi.”


“Terserah, urusi saja anak kesayanganmu itu. Mama mau istirahat dulu.” Wanita paruh baya itu melenggang meninggalkan sepasang ayah dan anak yang terlihat sendu.


“Apa yang terjadi?”


Salsha mendongak, menatap ayah kandungnya yang menunduk dan memegang bahunya dengan lembut.


“Aku, aku sudah bercerai dengan Farel Pa.”


Deg!


Ayah Salsha tercekat, fakta itu benar-benar mengejutkan laki-laki paruh baya itu. Dalam otak tuanya sibuk berpikir, apa yang terjadi dengan pernikahan anaknya, kenapa bisa sampai memutuskan hal yang sangat fatal tanpa pemberitahuan apa pun?


“Kenapa bisa bercerai?”


Salsha terdiam, bingung bagaiamana harus menjelaskan kebenaran. Wanita itu ingin berkata jujur, tapi rasa takut menyerangnya. Ia takut, ayahnya akan membencinya karena sikap biad\*b yang telah ia lakukan.

__ADS_1


“Aku... aku... aku tidak bisa memilki anak lagi Pa.” Salsha menunduk, enggan menatap wajah sang ayah.


“Apa maksudmu?”


“Sebenarnya, Salsha mengalami keguguran, keguguran itu membuat rahim Salsha rusak Pa.”


Laki-laki paruh baya itu terdiam, merasa shock dengan fakta baru yang di ketahui. Setelah perceraian, kini laki-laki paruh baya itu harus menerima satu hal yang membuatnya hancur. Jika rahim nakanya rusak, itu artinya anaknya benar-benar sudah hancur.


“Bagaiamana bisa kau keguguran, bahkan aku sebagai Papamu tidak mengetahui kehamilanmu? Dan sekarang kau memberikan fakta tentang keguguran?”


“Maafkan aku Pa, sebenarnya Salsha memang tiadak ingin memberi kabar kepada siapa pun sebelum Farel mengetahuinya. Papa tahukan, kalau kami sudah menanti sebuah anak dalam pernikahan.”


Pria paruh baya itu tetap diam. Bingung bagaiamana harus bertindak.


“Di mana Farel sekarang, Papa harus menemuinya. Jika alasannya menceraikanmu karena rahimmu yang rusak, bukankah banyak cara untuk menyembuhkan?”


“Farel sudah menikah lagi Pa.” Cicit Salsha pelan. Demi apa pun, setiap kata yang diucapkan Salsha adalah sebuah dusta, dan semua itu membuat wanita itu merasa sangat bersalah. Ia ingin terbebas dari yang namanya sebuah kebohongan, tapi mengapa, semesta seakan tidak mengizinkannya untuk terlepas dari yang namanya bohong? Apa ini yang di sebut dengan sekali bohong, kau akan tetap berbohong.


“Apa maksudmu?” Laki-laki paruh baya itu melotot.


“Farel sudah menikah, bahkan Farel juga menjalin hubungan sebelum pernihakan kita resmi bercerai.”


Salsha tercekat. Tenggorokan wanita itu terasa kering. Ingin sekali ia mengatakan jika bukan hanya Farel yang berselingkuh, tapi ia juga. Tapi rasa takut akan ditinggalkan sang ayah membuat ia harus melanjutkan dramanya.


“Iya.”


“Brengsek! Kita harus memberikan pelajaran untuk anak itu.”


Salsha terdiam. Bukan seperti ini yang wanita itu inginkan. Ia ingin, ayahnya hanya bersimpati kepadanya, tanpa menuntut balas apa pun. Jika semua itu terjadi, ia takut, Farel akan membalasnya lebih kejam lagi. Bagaiamana pun, ia kenal dengan Farel. Farel tidak akan main-main dengan orang yang berani mengusiknya, terutama mengusik Istri barunya itu.


****


Sudah hampir dua minggu Raisya menikmati negara penuh salju itu. Matanya mentap jalanan dari sudut jendela. Terlihat indah namun, ia merasa ada yang kosong.


“Apa yang kau lihat?” Farel memeluk erat pinggang kecil itu dari belakang.

__ADS_1


Raiya tersenyum, wanita itu mendongak mentap laki-laki tampan yag tersenyum lembut ke arahnya.


“Aku hanya melihat jalanan”


“Apa yang kau lihat dari jalan itu? lebih baik kau menatap wajah tampanku saja.” Farel mencebikkan bibir, memasang wajah seimut mungkin.


Raisya yang melihat itu memutar matanya malas, wanita itu degan cepat melepaskan lilitan di pingganya dan menatap Farel datar.


“Kenapa aku harus menatap wajahmu itu. Kau tahu, melihat wajahmu setiap hari itu tidak baik.”


Farel melotot tidak terima. “Apa maksudmu tidak baik, kau tahu melihat wajah tampan itu sangat baik untuk kesegaran jiwa dan raga, terlebih menatap ketampananku.” Farel menaik turunkan alisnya.


“Oh, benarkah? Kalau begitu aku lihat bule-bule di sini saja, pasti banyak yang tampan dan menggoda iman__ auch.” Raisya terpekik kaget saat tiba-tiba Farel mengangkat tubuhnya.


“Bilang sekali lagi, mau aku hajar mulutmu itu?”


“Kenapa kau ingin menghajar mulutku? Mulutku berbicara sesuai dengan saran yang kau berikan. Bukannya kau bilang melihat orang tampan__ hmmp.” Raisya menggelengkan kepalanya saat tiba-tiba Farel memasukan sesatu ke mulutnya.


Mata wanita itu menatap sinis ke arah Farel. “Kau gila, bagaiamana jika aku tersedak?” Raisya memukul dada Farel.


Farel hanya tertawa, ia sengaja memasukan makanan kemulut Raisya agar idak melanjutkan ucapan yang membuat ia naik darah. Kenapa ia tidak menghajar bibir itu dengan ciuman? Jawabannya tidak, ia terlalu kapok. Ingatan tentang Raisya yang menggigit bibirnya sampai berdarah membuat laki-laki itu bergidik ngeri.



Niat hati ingin membuat wanita itu jera, malah dirinya sendiri yang jera. Bagaiamana tidak, bekas gigitan itu sampai sekarang malah menjadi sariawan, membuat laki-laki itu kesusahan untuk makan atau pun minum.


“Sudah, turunkan aku, aku mau minum!” Raisya bersungut dengan penuh amarah. Tenggorokan wanita itu terasa serat, terlebh kue kering yang sudah masuk ke mulutnya sangat enak, membuat ia enggan untuk memutahkannya. Jadi pilihan terbijak adalah mengambil air untuk melicinkan tenggorokan.


Farel semakin tertawa keras. Melihat pipi Raisya yang semakin hari semakin berisi membuatnya ingin menggigit habis bulatan itu.


“Hay, kau tuli? Turunkan aku.” Raisya menatap garang Farel.


“Kenapa harus turun? Jika kau hanya ingin minum, aku bisa membawamu kesana tanpa harus membuat kakimu capek berjalan.”


“Terserah! bawa aku ke saan, dan cepat berikan aku air putih sebelum aku mati kehausan.”

__ADS_1


Deg!


Mendengar kata mati membuat langkah kaki Farel terhenti. Wajah tampan itu terlihat pucat, seakan kematian memang sedang berada di depannya.


__ADS_2