
Raisya mematut dirinya di dalam cermin besar. Bayangan sosok wanita engan rambut colat dan mata hijau terlihat sangat bersisnar, jangan lupakan perutnya yang sedikit mennjol membuat kesan seksi bagi wanita itu.
Farel yang hendak memamsuki kamar terkejut, matanya tidak bisa berkedip untuk mengalihkan pandangan dari sang wanita. Dengan pelan laki-laki itu mendekat, tepat ke arah sang wanta, kemudian memberikan kecupan hangat di ppi kiri.
Cup!
Raisya yang asih asyik dengan bayangannya sendiri terkejut, terlebih saat merasakan pipinya yang sudah basah. Dengan sebal, wanita itu membalikkan mata untuk memberikan delikan tajam bagi sang suami.
“Kau__ hmmpp.”
Farel yang melihat Raisya, tidak sabar untuk meraup bibir yang terlihat bergerak menggoda. Dengan gesit, bibir seksinya memagut dan membelai dengan lidah, membuat suara decapan mulai terdengar di seluruh ruang kamar.
Ceklek!
“Rais__ astaga, apa yang kalian lakukan?”
Raisya yang terhanyut dengan cumbuan Farel mengerjap, kemudian dengan cepat mendorong dada sang suami. Sedangkan Farel yang merasa terganggu mendeik sebal, terlebih melihat sang nenek yang terlihat terkejut di tengah-tengah pintu.
“Ck, Nenek, kau sangat menyebalkan.” Grutu Farel dengan keras.
Maria yang masih terkejut segera menatap Farel tajam. Kaki tuanya melangkah dengan anggun, kemudian tanpa basa-basi, tanagnnya mulai menarik kuping sang cucu.
“Awwww, Nek, apa yang Nenek lakukan? Aww,” Farel memekik, bahkan tubuh laki-laki itu sudah membungkuk untuk mengikuti tarikan dari Maria.
“Kau, dasar Cucu mesum. Lihat perbuatanmu, kau membuat cucu menantuku berantakan.” Maria melepas dengan kasar jeweran di kuping Farel. Mata tuanya menatap bibir Raisya yang sudah membengkak, dengan beberapa pewarna bibir yang sudah beralih ke sudut lain. Bahkan sanggulan yang sudah di tata rapo oleh penta rambut itu terlihat mencuat ke sana sini.
Maria mendekat ke arah Raisya, membuat wanita hamil itu gugup. “Ya ampun Nak, bagaiamana ini?” Tangan tua itu terlihat menyentuh rambut berantakan Raisya.
Raisya yang menyadari kesalahannya itu menggigit bibir bawah, ia juga bingung harus bagaiamana. Mata hijaunya tanpa sengaja enatap Farel yang terlihat kesal.
“Semua ini, karena Farel Nek.” Raisya menunjuk Farel, sedangkan Farel hanya bisa menelan ludah kasar, melihat tatapan kesl Raisya, ditambah tatapan horor Maria membuat nyali laki-laki itu semakin ciut.
“Nek__”
“Keluar dari sini.” Maria menatap sinis Farel
Farel yang mendapatka pengusiran seperti itu melototkan mata, merasa tidak terima dengan tindakan Maria yang terlihat semena-mena.
__ADS_1
“Tapi__”
“Jangan banyak alasan. Acara kalian tingal beberapa jam lagi, dan kau hanya akan mengacaukannya jika berada di sini. Oh, ya, sekalian panggl perias taidi untuk ke sini,” Maria berucap dengan nada tegas.
Farel yang mendapatkan perintah seperti itu hanya bise mengerucutkan bibir. Ia paham betul tujuan Maria itu baik. Jika tetap berada dala satu ruanan denan raisya, ia yakin bukan menjadi acara resepsi, tapi malah menyamban anak.
“Baiklah.” Dengan lesu, Farel beranjak pergi meninggalkan dua wanita dengan usai yang berbeda-beda.
***
Sudah tiga jam berjalan, tepat setelah Farel meninggalkan kamar. Kini laki-laki itu menatap para tamu yang terlihat sudah sangat banyak memenuhi aula mansion. Laki-laki itu sengaja tidak menyewa hotel. Toh, mansionya tidak kalah dengan hotel, atau bahkan bisa di sebut lebih mewah.
Beberapa kolega pria itu terlihat menyapa, dan Farel hanya menanggapi dengan datar. Laki-laki itu sedang dirundung keresahan. Tidak melihat sang istri tiga jam, membuat energi dalam tubuhnya seperti terkuras.
“Maaf, Tuan. Apa anda butuh sesuatu?”
Farel menatap sosok Ricard yang terlihat menawan malam ini, pandangan seperti menilai laki-laki itu torehkan, seakan melihat apa yang membuat asistennya itu terlihat berbeda.
“Tuan__”
“Kau sedang berkencan?” Farel bertanya dengan tangan yang mengelus dagu.
Ricard yang mendengar pertanyaan itu mengangkat wajahnya seketika. Wajah yang biasanya terlihat datar, kini berubah menjadi merah padam.
“Ekhm, ya sepeti itulah Tuan.”
Jawaban dengan nada malu-malu itu membuat Farel mendengus. “Untunglah, kau masih normal,” Farel berucap dengan nada datar.
Ricard yang mendengar ucapan dengan nada datar itu melotot tidak terima. Belum sempat bibirnya terbuka, satu tangan yang melingkar di pinggangnya membuat tubuh laki-laki itu menegang.
“Sayang.”
Panggilan dengan nada lembut itu membuat mata Farel melotot, terlebih melihat sosok wanita dengan rambut pirang dan mata madu yang menempel bak lintah di tubuh Ricard.
__ADS_1
Ricard yang mendapatkan sentuhan tiba-tiba menegang. “Oh, kenalkan dia atasanaku, Tuan Farel Wiratman.” Ricard memperkenalkan Farel kepada pasanagnnya malam ini dengan sopan.
Farel yang melihat itu berdahem, beruaha menghilangkan keterkejutannya. Sedangkan wanita itu hanya mengangkat alis, seperti menilai sosok Farel didepannya itu.
“Oh, jadi kau atasan yang tidak tahu diri itu?”
Pertanyaan dengan nada datar dan menohok itu membuat Ricard dan Farel melototkan mata.
“Ariana, jangan seperti itu.”
Bisikan pelan, tapi tetap bisa di dengar oleh Farel itu mengundang tatapan sinis.
“Cih, jadi seperti itu?” Farel menatap datar Ricard, sedangkan yang ditatap semakin menelan ludah dengan kasar.
“Tidak Tuan, tidak seperti itu.” Ricard dengan cepat menjawab. Biar bagaiaman pun, ia tahu bagaiaman temprament sang atasan. Jangan pernah menyinggung jika masih ingin umur panjang.
Sauara bisik-bisik mulai terdengar, membuat atensi ketiga manusia itu teralihkan. Farel yang penasaran mengalihkan pandangan, mata coklatnya embulat degan sempurna, melihat sang wanita yang berdiri di atas tangga.
Tanpa membuang waktu, Farel berjalan mendekat ke arah tangga untuk menyambut sang wanita. Gaun putih yang melekat di tubuh wanitanya membuat ia benar-benar geram. Bagaiamana bisa, wnaitanya memakai baju seperti itu. Punggung mulusnya yang terbuka sempurna, jangan lupakan bahu mulusnya juga. Bahkan ia yakin, sudah banyak laki-laki yang sudah mimisan karena melihat pemandangan indah itu.
“Sayang, kenapa kau memakai gaun ini?” Farel berbisik pelan. Ingatannya melayang pada tiga jam yang lalu. Ia sadar, pakain yang dipakai sang wanita tidak seterbuka ini, tapi apa sekarang? kenapa bisa terbuka sekali.
Raisya yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa mengulas senyum tipis. Tangannya menyentuh lengan Farel yang sudah siap menyambutnya.
“Gaun ini pemberian seseorang.” Raisya berbisik pelan dengan kaki yang melangkah pelan menuju tempat khusu yang telah disediakan.
Farel yang mendengar penuturan itu mengangkat sebelah alisnya, merasa penasran dengan siapa pemberi gaun ini.
“Siapa orang itu? jangan bilang ini pemberian Jhoantan lagi?” Farel bertanya dengan menahan geram. Bahkan laki-laki itu terlihat sudah mengetatkan rahang. Meskipin Jhonatan telah meninggal, ia tidak bisa menampik rasa cemburu di hatinya.
Raisya yang mendengar nama Jhonatan di sebut dalam pembahasan menghentikan langkah, wanita itu menahan nafas sejanak mengingat Jhonatan yang telah pergi. Farel yang menyadari kesalahannya dengan cepat menggenggam lembut tangan sang wanita.
“Maafkan aku.” Bisiknya pelan tepat di telinga sang wanita.
__ADS_1
Raisya hanya mampu mengulas senyum tipis. “Bukan, gaun ini bukan dari Jhonatan, tapi dari ibumu, Tamara Lawson.”