
Raisya menatap Jhonatan yang sedang berusaha melangkah dengan pelan. Senyum lembut wanita tu sunggingkan tiap Jhonatan berhasil mengambil langkahnya.
Pria bermata biru itu menggertakkan gigi dengan kuat. Rasa linu dan sakit di kakinya begitu mengganggu. Namun, melihat binar bahagia dari Raisya, orang yang dicintainya, membuat ia mengabaikan rasa sakit itu, dan berusaha tetepa untuk melangkah.
Peluh sebesar biji jagung terlihat dkening putih Jhonatan. Raisya yang melihat usaha luar biasa Jhonatan tidak bisa menahan rasa haru di dadanya.
Tangan wanita itu terulur, seakan menyambut kedatangan Jhonatan yang beberapa langkah lagi akan sampai di depannya.
Jhonatan dengan sekuat tenaga berusaha menampilkan senyum di anatar rasa ngilu di kakinya. Namun, rasa, tepat sebelum kakinya melangkah ia tersandung dengan kakinya sendiri, membuat tubuhnya oleng kebelakang dan siap untuk membentur keras dan dinginnya lantai.
Raisya yang melihat kejadian itu dengan cepat melangkah, menggapai tubuh kekar itu, membuat tubuh mereka berdua menempel.
Jhonatan mengerjap, melihat wajah Raisya dari dekat membuatnya mengingat masa-masa waktu mereka masih bersama.
Keinginan untuk mencium bibir Raisya menyeruk. Namun, sekuat tenaga Jhonatan menepis pemikiran itu. Ia mencintai Raisya, yang artinya, ia harus menghargai keputusan Raisya yang hanya menganggapnya sebagai kakak sekarang.
“Kau tidak apa-apa?” Raisya bertanya dengan raut khawatir.
Melihat wajah pucat Jhonatan ditambah tatapan miris di sana tak mampu membuat wanita itu tenang. Tangan rampingnya sekuat tenaga menahan bobot tubuh Jhonatan. Posisi yang kan membuat siapa pun salah paham.
“Ya, aku tidak apa-apa.” Jhonatan tersenyum lembut.
Raisya yang melihat senyum itu terlihat lega. Dengan pelan ia menuntun Jhonatan untuk berbaring di brangkar. Namun, tepat setelah membaringkan Jhonatan, Raisya yang ingin berdiri, tubuhnya tertarik kedepan karena rambut panjangnya yang menyangkut di kancing baju laki-laki itu.
__ADS_1
Jhonatan yang melihat Raisya yang kesusahan menarik rambutnya berinisiatif untuk membantu. Persentuhan dua tangan itu memercikan aliran listrik di hati mereka. Jhoanatn mendongak, mencoba menatap wajah Raisya. Namun, melihat Raisya yang sama-sama mendongak membuat Jhonatan menelan ludah kasar.
“Bolehkan?” Jhoantan bertanya dengan menjilat bibir atasnya.
Raisya mengernyit, mencoba memahami maksud dari ucapan Jhonata. Sedangkan Jhonatan yang melihat keterdiaman Raisya menganggap Raisya menerimanya. Dengan pelan laki-laki itu mendekatkkan wajahnya, berusaha menggapai bibir Raisya.
Namun, Raisya yang kemudian memahami maksud dari pertanyaan Jhonatan menagalihka pandanganya, membuat gerakan Jhonatan terhenti hanya beberapa senti dari wajahnya.
Tangan Raisya dengan cepat melepaskan rambutnya, kemudian angkit sedikit menjauh dari Jhonatan
Jonatan yang menyadari penolakan Raisya tersenyum miris. Raisya benar-benar sudah tidak mencintainya lagi. Hatinya patah namun, ia tidak bisa melakukan apa pun.
“Maafkan aku,” Jhonatan berujar lirih.
Raisya berdahem canggung. Kalau boleh jujur, ia sangat merindukan Jhoanatan, cintanya tetap sama, mungkin. Namun, keputusan yang sudah dibuatnya membuat ia harus bisa menjaga batasan. Meskipun ia tidak bersama Farel, ia pun enggan bersama Jhonatan. Ia terlalu kotor.
“Tidak apa-apa.” Raisya tersenyum tipis. “Apa masih sakit?” Raisya mengelus lembut kaki Jhonatan.
“Syukurlah. Mungkin ini terakhir aku bisa ke sini.” Raisya menundukkan kepala.
Jhonatan yang pura-pura terlihat biasa saja tidak bisa menahan rasa terkejutnya mendengar penuturan Raisya.
“Kenapa?” Jhonatan bertanya dengan wajah terluka.
“Sudah ada yang akan menggantikanku.” Raisya tersenyum lembut. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ada sedikit getaran di dalam netra hijau.
Bagaiaman pun, Raisya telah menghabiskan puluhan tahun bersama Jhoantan. Jhonatan sudah ia anggap sebagai kaka, kekasih, dan orang tua keduanya. Jhonatan segalanya untuknya. Namun, Jhonatan berhak mendapatkan keluarga aslinya, bersama mereka dan terbebas dari masalahnya.
“Apa kau tidak mencintaiku lagi?” Jhonatan bertanya dengan nada getir. Menatap Raisya dengan pandangan penuh luka.
Raisya menahan nafas, mencoba sekuat tenaga menutupi perasaanya yang kacau. “Maafkan aku.” Raisya menunduk, menyembunyikan tetesan bening yang keluar dari matanya.
Jhonatan terkekeh hambar. “Aku menghargai keputusanmu tentang hubungan kita. Aku hargai perasaanmu yang sudah tidak lagi bersamaku, tapi aku tidak sanggup kalau kau menghilang dari hidupku.”
__ADS_1
“.....”
“Seperti katamu dulu. Kita masih bisa bersama sebagai Kakak berAdik. Aku menerima, aku menerima semuanya! Tapi kenapa kau tidak cukup menyiksaku. Mengapa kau harus menyiksaku dengan menjauh?” Jhonatan mendongak, menatap Raisya yang tetap menundukkan kepalanya.
“Jawab Raisya? Apa tujuanmu? Jika kau menyembuhkan ku, kemudian menjauh dariku, lebih baik, kau biarkan aku mati. Labih baik, kau biarkan aku, dan tidak usah berkorban untuk kesembuhanku.”
Jhonatan tidak bisa menahan bendungan air matanya. Tidak cukupkah ia menahan perasaanya? tidak cukupkah ia melihat Raisya yang bersanding dengan pria lain? tidak cukupkah Raisya hanya menganggap dirinya sebagai kakak?
Untuk apa ia di hidupkan jika hanya untuk melihat kekasih hatinya kesakitan? Untuk apa ia diizinkan menghirup udara jika hanya untuk melihat kekasihnya menghancurkan harga dirinya? Untuk apa? Untuk apa ia hidup jika tidak bisa berbuat apa pun untuk membantu kekasih hatinya?
“Maaf, maafkan aku. Benci aku sesukamu. Maafkan aku yang telah melukai hatimu. Tapi ini semua aku lakukan untuk kebaikan kita semua.” Raisya mendongak. Wajahnya terlihat kacau.
“Kebaiakan seperti apa? Kebaiakan seperti apa yang kau maksud?”
“Maaf, kau akan tahu nanti. Tapi aku mohon, jangan pertanyakan alasanku lagi saat ini.” Raisya menunjukkan wajah mengiba.
Jhonatan membuang muka. Enggan menatap wajah Raisya yang terlihat sangat kacau dengan linangan air mata. Ia tidak akan sanggup melihat kekasih hatinya seperti itu.
“Baikalh, jangan temui aku lagi. Jangan urusi aku lagi. Aku harap kau selalu bahagia. Namun, kau harus ingat. di sini.” Jhonatn menunjuk dadanya. “hanya akan ada namamu. Kau harus ingat, akan aku lakukan apa pun untuk kebahagianmu, meskipun harus ku bayar dengan nyawaku.” Jhonatan menyorot tegas Raisya.
“Tidak, jangan lakukan itu. Kalau kau ingin aku bahagi, maka kau harus berbahagia juga, Karena bahagiaku melihatmu tersenyum, meskipun bukan bersamaku.” Raisya mencoba tersenyum lembut, tapi senyum yang wanita itu keluarkan malah terlihat menyedihkan.
“Bagaiamana aku bisa bahagia jika kebahagianku ada bersamamu?” Jhonatan menyorot sendu Raisya.
“Sudah, jangan teruskan pembahasan ini. Kau harus ingat, aku tetap menyanyangimu, meskipun sebagai Adikmu.” Raisya tersenyum lembut. Kemudian tanganya menyentuh dada. “Di sini ada namamu, khusus untukmu, siapa pun tidak bisa memasukinya atau pun memilkinya. Kau punya tempat tersendiri untukku Kakak.” Raisya mengusap lembut wajah Jhonatan yang basah.
Jhonatan menggigit kedua bibirnya. Mendengar panggilan itu membuatnya yakin jika Raisya sudah tidak memilki rasa untknya.
“Kalau kau menganggapku sebagai Kakak, berarti kau harus menjawab pertanyaan Kakakmu ini.” Jhonatn mencoba tersenyum meskipun hatinya terluka.
“Ya, bertanyalah Kak.”
“Apa kau mencintai dia?”
“Dia?”
“Dia, Farel Wiratman.” Jhonatn menekan rasa sakit di hatinya sekuat tenaga. Bersusaha terlihat sebagai Kakak yang ingin mengetahui kisah percintaan adiknya.
Raisya menahan nafasnya. Wanita itu terlihat bingung bagaiamana harus menjawabnya.
__ADS_1
“Aku__”
“Sudah, tidak perlu dijawab. Kakak akan selalu mendoakan kebahagianmu.” Jhonatan menyela perkatan Raisya. Laki-laki itu tidak akan pernah sanggup mendengar jawaban dari Raisya. Biarlah Raisya mencintai laki-laki lain, asalkan ia tidak pernah mendengar penuturan cinta Raisya di depannya sendiri, ia akan merasa baik-baik saja.