Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
126. Pembalasan


__ADS_3

Farel menatap mereka berdua dengan datar. Tatapan matanya menyiratkan sebuah dendam yang sangat besar, seakan-akan dengan dendam itu mampu membuat kedua pasangan paruh baya itu meninggal.


“Dari mana kau mendapatkan ini semua?” Tuan Lawson bertanya dengan mata bergetar.


Farel menyeringai, masih enggan untuk menjawab pertanyaan tidak berbobot itu. Sedangkan wanita paruh baya itu masih tidak sanggup berdiri.


“Farel!” Pria paruh baya itu berteriak kencang.


Farel mengerjap, baru kali ini ia mendengar nama sucinya dipanggil oleh manusia biadab itu.


“Oh, kau memanggil namaku?”


Pria paruh baya itu semakin menggeram marah, dengan cepat beranjak, kemudian tangan tuanya ingin menarik kerah Farel. Namun, gerakannya terhenti karena halangan dari Ricard.


“Saya harap anda menjaga jarak dengan Tuan saya.” Ricard menghadang tubuh tua itu. Nada datar sarat akan peringatan ia lontarkan.


Beberapa pengawal yang memang sudah berdiri di setiap ujung ruangan bergerak dengan cepat, menodongkan pistol ke arah Ricard.



Sedangkan Farel masih tetap tenang, meskipun matanya melihat sang Asisten terancam.



Suasana semakin menegang, kedua belah pihak terlihat tidak ingin mengalah sama sekali. Ricard yang masih bersikukuh menghalangi jalan pria paruh baya itu, dan para bawahan yang sudah mengelilingi ujung kepala laki-laki itu dengan pistol.


“Farel, sialan!”


“Sekali lagi aku tekankan! Jangan pernah mengusik keluarga Wiratman. Satu lagi, jaga wanitamu itu!” Farel menatap sinis kedua pasangan paruh baya itu.


Tuan Lawson yang mendengar penuturan Farel merasa bingung. Kenpa ia harus menjaga Istrinya itu?


“Apa maksudmu?”


Farel menyeringai, matanya menatap sekliling dengan malas. Beberapa pengawal terlihat masih menodongkan senjata, decakan kasar ia keluarkan, sebagai peringat untuk mereka segera membebaskan diri.


__ADS_1


Tuan Lawson yang paham maksud dari decakan itu sgeera memberi kode untuk anak buahnya, kemudian berjalan kembali ke tempat duduk.


“Sekarang jawab apa maksudmu?” Pertanyaan itu keluar lai dari mulut tuanya.


Farel menyeringai, sedangkan wanita paruh baya itu merasa merinding di sekujur tubuh.


“Sayang__”


“Diam! Aku tidak ingin mendengar suaramu saat ini!” Bentakan itu membuat gerakan wanita tua seketika hilang. Terlihat wajah pucat pasi di seluruh wajah tuanya.


“Ha ha ha ha, sebenarnya kau memungut ja*ang itu di aman?” Farel bertanya dengan tawa yang masih menggelegar.


Wajah Tuan Lawson terlihat sangat tidak sedap dipandang. Ia memang menikah lagi setelah kematian Istrinya, dan yang pasti, alasan pernikahan keduanya karena wanita itu pandai dalam hal memuaskan.


“Apa maksudmu? Cepat katakan, tidak usah basa-basi!”


“Oh, ternayata ada yang tidak sabar menetahui wujud bangkai.” Farel menusap dagunya dengan wajah yan terlihat seakan penuh penasaran. “Coba kau buka map itu, aku yakin semua pertanyaanmu akan terjawab.” Farel menunjuk Map yang masih dipegang erat oleh Istri Lawson.


“Berikan!” Tuan Lawson menatap tajam Istrinya.


“Tidak, sayang. Ini tidak penting. Jangan dengarkan Cucu kurang ajarmu itu.” Rayu wanita itu.


Dengan cepat Tuan Lawson menarik map itu, dan membacanya dengan kasar. Baru di halaman pertawa, wajah tuanya terlihat mengeras. Bahkan tangan yang sudah keriput itu juga mengepal.


“Sia*an!”


Plak!


Suara taparan itu menggema di seluruh ruang, membuat siapa pun yang mendengar pasti akan merasa ngilu.



Farel yang merasa muak memilih untuk bangkit, dari pada ia melihat pertunjukan yang tidak ada manfaatnya sama sekali, lebih baik menyelesaikan satu permasalahan lagi.


“Aku tidak tertarik melihat adegan kekerasana di sini. Ingat! aku tidak memberi kesempatan kedua.” Farel berucap dengan datar, kemudan bangkit dan melangkahkan kaki meninggalkan ruangan terkutuk itu.


Wanita paruh baya itu terlihat berteriak kesakitan. Bukan hanya tamparan yang diberikan Lawson, tapi juga tendangan, bahkan jambakan.

__ADS_1


“Farel! Aku tidak akan membiarkan semuanya berjalan dengan mulus! Kau sudah menghancurkanku, maka sekarang giliranmu hancur!” Wanita itu berteriak kuat di sela-sela menahan tendangan dari Lawson.


Gerakan Farel terhenti, kemudian berbalik menatap mereka dengan tatapan tajam. “Tuan Lawson, saya peringatkan, jaga wanitamu! Jangan biarkan ia bertindak di luar batas! Atau kalian akan mendapatkan hasil dari semua perbuatan ini.”


“Aku tidak perduli! Kau harus hancur!”


Plak!


“Dasar, wanita tidak tahu diri! Akan aku tunjukan apa itu neraka!” Tuan Lawson menampar kuat wajah Istrinya. Membuat wajah yang penuh make up itu bercampur dengan darah.


Farel hanya terdiam, menatap mereka dengan pandangan bosan. “Oh, ya. aku juga datang untuk membalas perbuatan biada\*mu itu. Aku di sini mewakili anak-anak yang sudah menjadi korbanmu.” Tepat setelah mengatakan itu, Farel berbalik.



Laki-laki itu mengabaikan segala teriakan kesakitan dan umpatan dari istri Lawson. Tekatnya sudah bulat untuk membalsa wanita itu. Oh, bukan hanya wanita tua itu, tapi juga pasangannya, Tuan Lawson.



Mereka sebenarnya sama-sama pasangan menjijikan. Yang satu hobi mencabuli anak kecil, dan yang satu hobi sekali menyiksa dan merampas harta. Bukankah, akan lebih baik lagi jika ia mengirimkan mereka berdua sama-sama ke neraka?


“Tuan, panti asuhan itu sudah di sergap. Dan mereka yang masih tersisa sudah dikirim ke tempat yang anda siapkan.” Ricard menunjukan tablet yang di dalamnya terlihat jelas kerusuhan dan bukti dari penyergapan yang sudah ia susun. Semuanya berjalan lancar.


Tempat penjualan manusia, yang berkedok panti asuhan itu sudah habis, bahkan orang yang bertanggung jawab pun akan ikut habis.



Panti asuhan itu hanya menerima anak di usia lima sampai sembilan tahun, dan mereka semua akan di kirim untuk menjadi pemuas nafsu bagi pedofil di luar sana, termasuk Istri Lawson. Pemilik, dan penikmat penghuni panti asuhan itu.


“Bagus! Buat mereka merasakan balasan yang lebih menyakitkan. Kirimkan ke negara XXX, jadikan mereka budak se*s di sana. Dan satu lagi, jangan biarkan polisi mengendus semua ini. Buat bukti jika mereka semua hilang karena bunuh diri. Dan yang pasti, kau jangan lupakan wanita tua itu. Ia yang harus pertama kali merasakan apa itu namanya pembalasan sebenarnya.” Farel menjelaskan dengan tenang.


Ricard yang memang sudah tahu dari awal rencana Tuannya tetap merasa merinding. Ingatan tentang tempat para pela\*ur yang melayani dua puluh empat jam non stop di negara XXX membuat bulu kuduknya merinding. Bahkan tempat itu, menerima semua jenis makhluk hidup. Tak jarang mereka membawa ular saat ingin menyewa budak di sana, bahkan banyak juga yang meninggal tepat setelah mereka melayani para tamu.


“Baik, Tuan.” Ricard menganggukkan kepala.


Mungkin memang benar, hukuman yang cocok bagi manusia seperti itu bukan di kantor polis. Masuk penjara merupakan hukuman paling ringan, apalagi hukuman mati. Tidak, itu semua masih dibilang tidak adil.


__ADS_1


Mereka dengan kejam merampas hak manusia, menjadikan pemuas nafsu d saat umur yang masih terbilang belia. Bahkan mengambil organ tubuhnya saat dirasa sudah tidak berguna. Kematian terlalu ringan, dan penjara terlalu mewah. Yang pasti, mereka juga harus merasakan bagaiamana jika posisi anak kecil itu di balik menjadi posisi mereka?


__ADS_2