Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
99. Dendam


__ADS_3

Salsha merasa semua gelap. Peluh penuh membasahi keningnya. Dorongan dan rasa dingin yang ia rasakan hanya mampu ia balas dengan lenguhan panjang dengan mata berkaca-kaca.



Ceklek!



Sosok laki-laki dengan wajah yang tertutup masker hitam memasuki kamar itu dengan pelan. Tatapan itu terlihat sangat nanar. Seorang wanita tanpa sehelai benang sedang di rundung sekumpulan hewan menggonggong.


“Tolong...” Salsha berujar lirih di antara kesadarannya yang sudah diambang batas.


Laki-laki itu terlihat iba, dengan cepat ia mengambil selimut untuk menutupi tubuh telanjang itu dan memberikan kode untuk membawa hewan-hewan yang masih berusha menjangkau tubuh terbungkus selimut itu.



Sedangkan Salsha hanya mampu melihat sosok terbungkus pakaian hitam memasuki kamar itu dan menyelimuti tubuhnya. Sayup-sayup ia bisa mendengar gumaman pria itu yang semakin membuat dendamnya bertambah besar.


“Sungguh, Tuan Farel sangat kejam.”


Air mata wanita itu tanpa bisa dicegah meluncur dengan sendirinya. Mendengar nama laki-laki yang dicintai adalah dalang kehancuran hidpnya membuat ia putus asa. Kepalannya semakin berkunang, bahkan kegelapana mulai melahapnya.



Biarkan saja ia kalah saat ini. Biarkan saja ia terlihat menyedihkan, tapi ingat! seorang Salsha Dawal tidak akan membiarkan orang yang menghancurkannya hidup penuh ketenangan.



Jangan ditanya tentang cinta, hatinya sudah mati rasa tepat saat Farel melakukan hubungan intim dengan penuh gairah bersama selingkuhannya, dan membuatnya di jamah oleh puluhan binatang menggonggong itu.


****


Max menatap tumpukan dokumen berwarna kuning yang tertumpuk rapi di mejanya. Matanya terlihat berkilat menandakan ia sedang merencanakan sesuatu yang sangat besar.


“Drama berbau bawang merah akan segera kita lihat. Ah, lebih seru lagi jika ditambah dengan sedikit bumbu darah.”


*****


Farel menatap Raisya yang masih terkulai lemas dengan cairan infus yang menempel di tangan kiri.


“Kau harus sembuh sayang.” Farel mengelus lembut surai coklat itu.


Tatapan teduh itu dengan cepat berubah menjadi gelap. Amarah membeludak di dadanya. Dalam otaknya sudah tersusun rapi strategi untuk memberi pelajaran Salsha. Namun, bukan sekarang. ia harus memastikan semua aman, termasuk keselamatan Istrinya ini.



Farel menatap sekilas Raisya, kemudian mendaratkan satu kecupan di kening, berlanjur ke bibir pucat itu.

__ADS_1



Kaki kekarnya berjalan menuju ranjang kecil yang sudah tersedia di dalam sana. Dengan pelan, laki-laki itu menggeret, mendekatkan ranjang itu agar bisa menempel sempurna dengan ranjang wanitannya. Ia tidak ingn berjauhan.



Farel membaringkan tubuhnya, terlihat wajah lelah dari sana. Tanganya mengelus surai coklat itu dengan pelan, sampai kantuk mulai menyerang, dan membuat tangannya terkulai di atas kepala Raisya.



Waktu berjalan dengan cepat. Matahari yang terlihat jauh di sana mulai terlihat, menunjukan tanda-tanda kehadirannya dan menyapa dunia dengan ceria.


Ceklek!


Perawat yang berniat melakukan cek rutin pagi terenyuh melihat pemandangan di depannya. Meskipun perawat itu tidak tahu apa yang terjadi dengan pernikahan pertama laki-laki kaya itu, tapi ia bisa melihat tatapan cinta dan ketulusan dari laki-laki untuk wanita bersurai coklat.



Niat awal untuk melakukan tugasnya tergantikan dengan wajah yang mulai bersemu merah. Perawat muda itu perlahan berjalan dengan menutup pintu pelan. Membiarkan dua sejoli yang saling meregut kehangatan.



Farel yang mendengar suara pintu tertutup dengan cepat membuka mata. Siluit perawat muda terlihat dari sana. Menghela nafas lega, segera laki-laki itu mengalihkan pandagannya untuk menatap sosok wanita yang ia cintai sedang menutup mata dengan damai.




Terlihat mata wanita itu yang mengedip beberapa kali, mengundang tatapan penuh binar dari Farel.


“Farel.” Raisya bergumam dengan lirih, tepat saat matanya menatap wajah Farel yang terlihat sangat dekat itu.


Farel tersenyum, mengangguk dengan cepat dengan mata yang memerah. Ke khawatiran tentang kehilangan Raisya hilang dalam sekejap setelah mata itu terbuka.


“Iya, sayang. Ini aku, ada yang sakit?” Farel bertanya dengan lembut.


Raisya tersenyum. Melihat tatapan khawatir itu membuat hatinya menghangat. Dengan pelan ia menggeleng, meskipun wanita itu terlihat meringis di akhir gelengannya.


“Apa ang terjadi?” Farel bertanya dengan nada penuh kekhawatiran. Melihat wajah meringis Raisya membuat jantungnya berdetak dengan gila ketakutan.


“Tidak, hanya pusing saja.” Raisya memegang sudut kepalannya.


Mendengar kata pusing semakin membuat Farel kelabakan sendiri. Terlihat, laki-laki itu dengan cepat bangun dan menekan tombol darurat beberapa kali.



Sedangkan Raisya yang melihat tingkah Farel hanya enggelengkan kepala saja.

__ADS_1


“Farel, aku tidak apa-apa.”


“Apanya yang tidak apa-apa, kau kesakitan Sayang.” Farel menggeram marah. Ia paling tidak suka jika melihat Raisya menutupi sakitnya, atau menahan sesutu tanpa melibatkannya di dalam sana. Meskipun hanya masalah kecil atau sakit ringan, ia ingin Raisya selalu mencarinya, bersandar, dan hanya bergantung dengannya, sehingga wanita itu tidak akan pernah memilki pemikiran untuk meninggalkannya, seperti dirinya sekarang, kedepan, dan selamanya.


Ceklek!


Jesika memasuki ruang rawat itu dengan nafas terengah. Mata sipitnya menatap dua sejoli yang terlihat sedang beradu argumen itu.


“Raisya.” Jesika memanggil dengan lirih.


Raisya yang awalnya hanya terfokus Farel langsung menolehkan kepalannya, menatap sosok wanita bermata sipit yang berkaca-akaca di sana. Senyum lembut ia berikan sebagai sambutan.



Farel yang melihat perhatian Raisya teralihkan menggeram malas, terlebih matanya menatap Jesika yang sudah berdiri di depan pintu. Rasa bencinya terhadap wanita itu semakin kuat. Benar-benar menyebalkan.


Jesika berjaaln dengan pelan, melewati Farel yang menatapnya tajam. “Kau, apa yang sakit.” Tangan ramping itu hendak membelai wajah Raisya, lagi-lagi suara digin menghentikan langkahnya.


“Jaga batasanmu! Kau dilarang menyentuh Istriku!” Farel menekan setiap ucapannya.


Jesika memutar matanya malas. Sungguh mantan atasannya itu sangat-sangat menyebalkan.


“Maaf, Tuan Farel. Jika saya tidak boleh menyentuh Istri anda, bagaiamana bisa saya memeriksa keadaan Nyonya saat ini?” Jesika mendongak, menatap tajam Farel.


Biarlah dia di bilang kacang lupa kulit. Apa boleh buat. Ia sangat menyayangi Raisya, dan laki-laki itu dengan kurang ajarnya memberikan batasan untuk hubungan mereka.


“Kau hanya boleh menyentu saat melakukan tugasmu! Jangan ambil kesempatan!”


“Dari mana aku mengambil kesempatan itu?”


“Kau hampir menyentuh wajah Istriku!”


“Hey, dia temanku. Jadi wajar saja jika aku menyentuhnya.” Jesika menatap tajam Farel.


“Hanya aku yang boleh menyentuh Istriku!” Farel menekan setiap perkataanya, membuat Jesika ternganga tidak percaya dan Raisya menutup mata kesal.


“Kalian bisa diam tidak?” Raisya bertanya dengan nada dingin.


Terlihat mereka berdua mengatupkan bibir rapat. Farel segera mengubah wajahnya menjadi cemberut, membangun image yang selalu ia tampilkan saat bersama dengan Raisya.


“Dia yang memulai Sayang.” Farel mendekat ke arah Raisya, berusaha mencari perhatian dan pembelaan dari sang wanita.


Jesika membuka mulut tidak percaya. Dimana nada datar, dingin, dan tajam itu. kenapa sekarang hanya terihat aura manja, manis, dan sedikit menggemaskan? Benar-benar menjijikan.


“Farel, dia temanku, jadi kau harus terbiasa melihat aku bersamanya. Lagipula dia juga perempuan.”


“Tidak, kau tidak butuh teman, kau hanya butuh aku, begitupula aku. Dan lagi, aku cemburu! Meskipun dia perempuan, tapi dia berpotensi untuk merebutmu dariku.” Farel berucap dengan mata berkaca-kaca. Laki-laki itu terlalu sempurna memainkan perannya, membuat siapa pun yang melhatnya akan iba, tapi tidak dengan wanita bermata sipit itu, wanita yang sudah merasakan dan melihat sendri kejamnya laki-laki itu saat menyiksanya dulu. Ia yakin, semua hanya sandiwara untuk semakin mengikat temannya itu.

__ADS_1


__ADS_2