
Salsha meraung dengan keras, tangan rampingnya menutupi seluruh wajahnya. Pemandangan itu sungguh membuat siapa pun iba. Kini wanita itu terlihat seperti seorang protagonis yang tertindas dan butuh pelindung serta sandaran.
“Menangislah sepuasmu.” Farel mendekat mengelus lembut bahu Salsha yang bergetar.
Salsha yang merasa berhasil menghentikan tangisannya. Tanganya yang menutup seluruh wajahnya ia urai, membuat wajahnya yang memerah disertai lelehan air mata terlihat jelas.
“Kau percaya padaku kan? Aku tidak mungkin sengaja melakukan semua ini, dan aku tidak mungkin menghianatimu.” Salsha mendongak.
“Menangislah sepuasmu, karena sebanyak air mata yang kau keluarkan tidak akan membuatku simpati atau percaya, tapi tangisanmu membuat ku muak, dan semakin mengenalmu, kalau kamu hanyalah wanita bermuka dua.” Farel menyentak tangannya yang menyentuh bahu Salsha. Mata coklatnya menatap tangannya dengan jijik, seakan tanganya telah menyentuh ribuan kuman. Perlahan ia mengambil sapu tangan di sakunya dan menggosok tanganya dengan kuat, kemudian membuang sapu tangan itu ke tong sampah.
Farel menatap datar Salsha. Pemandangan Salsha yang menagis membuatnya tersentuh, tapi itu dulu sebelum ia mengetahui kebusukan wanita di depannya itu. Sekarang ia hanya bisa menatap datar wanita itu dengan menahan rasa muak di dadanya.
Salsha yang melihat tindakan Farel menutup mulut tidak percaya. Bagaiamana bisa laki-laki itu bersikap seakan-akan ia sebuah kuman.
“Farel__” panggilnya lirih dengan mata yang kembali berkac-kaca.
Farel yang melihat Salsha yang kembali menangis mengetatkan rahangnya. Ia semakin muak dengan wanita di depannya itu.
“Jangan menangis. Kau tahu aku MUAK.” Farel menekan kata ‘muak’.
Salsha menggelengkan kepala tidak percaya. Air mata terjatuh semakin banyak, kini bukan air mata buatan, tapi air mata ini sungguh keluar dari lubuk hatinya terdalam. Sungguh ia sangat mencintai laki-laki di depannya itu.
“Tidak-tidak, jangan berbicara seperti itu Farel, sungguh itu sangat menyakitkan.”
“Aku bilang jangan menangis, kau paham tidak dengan bahasa manusia.” Farel berteriak. Sungguh kesabarannya sangat di uji.
Gara-gara wanita di depanya ia harus bertengkar dengan Maria, dan gara-gara wanita di depannya ia harus meninggalka Raisya di tengah jalan yang sepi. Sungguh, jika ia tahu di sini hanya ada drama memuakan, ia tidak akan datang.
“Farel, kenapa kau berubah?” Salsha menatap Farel dan menagis dalam diam. Kini wanita itu tidak terisak lagi namun, matanya tetap mengeluarkan air mata tanpa suara.
Farel terkekeh. “Aku berubah? Kau tahu, aku tidak pernah berubah.”
“Farel yang ku kenal tidak mungkin bersikap seperti ini kepadaku. Sebanyak apa pun kesalahan yang ku perbuat pasti kau akan memaafkanku.” Salsha menatap Farel sendu.
__ADS_1
“Kau lupa, Farel yang kau kenal tidak pernah memafkan sebuah kebohongan, terlebih penghianatan,” Farel berucap dengan nada sinis.
Deg!
Salsha menegang. Mendengar kata kebohongan dan penghianatan membuat air matanya terhenti dalam sekejap. Perasaannya berubah menjadi takut.
“Apa maksudmu? Aku tidak pernah berbohong, atau pun menghianatimu. Kalau yang kau maksud kejadian dulu, bukankah aku sudah menjelaskannya, dan kau sudah memaafkanku.” Salsha menelan ludah gugup.
Farel mengubah wwjahnya menjadi datar. “Ayo kita bercerai.”
Salsha menatap Farel tidak percaya. Cerai? Satu hal yang tidak pernah ia inginkan, bahkan dalam mimpi sekalipun. Ia hanya ingin menikah dengan Farel, terlebih dengan kekurangannya itu, ia bisa memnuhi kebutuhan biologisnya dengan Max. Terdengar egois, tapi itulah dia.
“Tidak, jangan pernah katakan cerai. Aku mengaku salah tidak cerita tentang pemerkosaan itu dari awal, aku mohon maafkan aku, tapi jangan pernah kau ucapkan kata perceraiaan.” Salsha mencoba meraih tangan Farel. Namun, Farel dengan cepat memundurkan tubuhnya, menghindar dari sentuhan itu.
“Kau masih tidak menyadari kesalahanmu, dan kau masih mau melanjutkan drama murahanmu itu. Pemerkosaaan? Apa bisa dimaksud pemerkosaan jika dilakukan berkali-kali, dan dalam keadaan sadar.”
“Apa maksudmu Farel?” Salsha menatap Farel terkejut.
Salsha semakin menegang. Tidak? Tidak mungkin Farel tahu semuanya.
“Farel, kau__”
“Tidak uasah membuat drama, atau apa pun itu. Cukup kau tanda tangan, dan semuanya selesai. Aku tidak akan membuat namamu tercoreng karena skandalmu. Aku akan tutup mulut mengenai kehamilanmu itu.” Farel menatap Salsha serius.
Salsha yang melihat tatapn serius Farel terkekeh, kemudian tertawa keras namun, dengan air mata yang bercucuran keluar.
“Semua itu karenamu.” Salsha berteriak keras.
Farel terdiam, meskipun ia membenci teriakan, tapi kali ini ia harus mengakui kesalahannya. Ia akui, ia juga ikut berperan dalam masalah perselingkuhan Salsha.
“Andai kau bisa mencukupi kebutuhan biologisku, aku yakin semua ini tidak akan terjadi.” Salsha menatap tajam Farel. Matanya memerah, terlihat jelas keputus asa-an di sana.
“Ya, maafkan aku. Setelah mendengar kata maaf dariku apa kau sudah puas? Untuk menebus semua kesalahanku, mari kita bercerai, dan kita mulai hidup baru. Setelah itu anggap kita tidak saling mengenal.”
__ADS_1
“Hahahahaha, semudah itu, kau kira dengan menceraikanku aku bahagia. Hanya kau, kau Farel kebahagianku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, bahkan aku sanggup melakukan apa pun untuk tetap bersamamu.” Salsha berteriak kencang. Wajah cantik itu terlihat sangat menyedihkan.
Salsha sudah megorbankan segalanya untuk tetap bersama Farel, bahkan ia rela menggugurkan bayi dalam kandunganya, dan kini ia hampir kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ibu lagi.
“Hubungan kita tidak sehat. Kita menikah tapi kita tidak bisa mencukupi kebutuhan satu sama lain. Jadi solusi terbaik adalah perceraiaan.”
“Tidak akan.” Salsha menatap tajam Farel. “Lagi pula, jika kita bercerai apa kau yakin kau bisa mendepatakan wanita lagi, meskipun kau menikah aku yakin wanitamu akan selngkuh, sama sepertiku. Setidaknya aku mencintaimu, sedangkan wanita di luar sana belum tentu.” Salsha menatap Farel remeh. Mengingat Farel yang impotent, siapa pun istrinya pasti tidak akan bertahan lama.
Farel yang mendengar pernyataan Salsha tertawa sinis. Kini semua kedok wanita itu terlihat jelas. Bahkan Salsha bisa dikatakan wanita paling menjijikan dari yang paling menjijikan.
“Kau yakin? Ah, tidak tahukah kau, kalau akau bisa melakukan s*x. Ah, pasti tidak tahu. Kau tahu, senjataku ternyata hanya mau berdiri dan memasuki lubang suci dan lubang pilihan, tidak seperti lubangmu, lubang murahan.” Farel menatap remeh Salsha.
Wajah wanit itu memerah. Lubang murahan? Bahkan ia hanya berhubungan badan dengan Max. Sungguh kata-kata itu menyinggung harga dirinya sebagai wanita. Dan Farel mengatakan jika ia bisa melakukan s\*x, jadi di sini bukan hanya dirinya yang berhianat.
“Kau melakukan itu dengan orang lain?” Salsha menatap Farel dengan sorot kecewa.
Farel hanya mentap datar Salsha. Ia enggan untuk menjawab pertanyaan itu. meskipun laki-laki itu ingin sekali mengumbar hubungannya dengan Raisya, tapi ia tidak bisa. Jika sampai nama Raisya masuk dalam pembahasan ini, ia yakin Raisya akan dinilai jelek di mata semua orang, terlepas apa pun alasannya.
“Jawab aku Farel?” Salsha berteriak melihat keterdiaman Farel.
Farel megangkat sebelah alisnya, tangan kekarnya mengelus dagu. “ Bagaiaman bisa aku tahu jika senjataku bisa berdiri tanpa melakukan s*x. Jadi tidak perlu penjelasan yang panjang. Yang harus kau tahu, aku akan segera mengurus perceraiaan kita.” Fael melenggang pergi, meninggalkan Salsha yang terkejut dengan pernyataanya.
“Breng**k, kau bajingan Farel. Tidak akan ku biarkan kau menceraikanku, dan wanita jala*g it, siap-siap saja akan ku hancurkan dia.”
Salsha berteriak, tanganya menjambak rambutnya frustasi. Sedangkan di tempat lain terlihat laki-laki dengan jas abu-abu tersenyum lebar melihat kehancurannya.
“Ini baru permulaan.”
______
Wah, aku suka gaya Farel 😁😁😁
Terimaksih sudah membaca 😍😘😘
__ADS_1