Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
61. Garis Dua


__ADS_3

Salsha menggenggam erat benda kecil berwarna putih itu. Wajah yang sudah pucat semakin pucat.


“Tidak, ini tidak mungkin.” Salsha menggeleng dengan kuat.


Sekali lagi matanya menatap dengan teliti dua garis merah yang ada di benda itu. Tanganya dengan gemetar menjatuhkannya.


“Pasti ada yang salah.” Salsha menutup matanya rapat mencoba membenarkan apa yang ia pikirkan.


Tangan rampingnya mengambil satu benda yang serupa dengan benda yang terjatuh itu, tapi masih tersegel rapi.


Dengan tangan yang gemetar, ia memasukan benda itu kedalam tabung kecil yang berisi air seni.


“Aku yakin kali ini pasti negativ.” Salsha menatap benda itu yang masih berdiri di dalam tabung.


Terdengar sedikit getaran dalam suara itu. Rasa takut akan fakta buruk yang ia terima membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Empat benda yang sama dengan garis yang sama pula terlihat teronggok di bawah kakinya. Namun, ia tetap tidak percaya.


Ting!


Salsha menatap jam tangan di tangan kirinya yang berbunyi. Sudah lima menit, tandanya hasil dari benda itu akan terlihat.


“Jika yang kelima tetap sama apa yang harus aku lakukan?” Salsha menutup rapat kedua matanya. Tanganya dengan pelan meraih benda itu.


Deg!


Dua garis merah, yang artinya ia benar-benar hamil. Salsha membanting semua barang yang ada dalam Toilet. Sampho, sabun, sikat, dan lainnya terlihat mengenaskan.


“Argh! Sialan.” Salsha menunduk. Tubuhnya ambruk dengan tangan yang mencengkram erat kepalanya.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Salsha bertanya dengan dirinya sendiri.


Perlahan suara isak tangis terdengar jelas dalam keheningan kamar mandi itu. Beruntung tidak ada satu orang pun yang ada di dalam ruangan.


“Aku tidak bisa menerimamu.” Salsha mencengkram erat perutnya.


Meskipun janin dalam perutnya adalah darah dagingnya, tapi janin itu akan menjadi penghalang dan perusak pernikahannya dengan Farel.


“Maafkan aku, aku harus melenyapkanmu sebelum semua orang tahu.” Salsha mengelus lembut perutnya setelah memberikan cengkraman. Bibirnya menyunggingkan senyum layaknya psikopat.


Salsha dengan perlahan bangkit, berjalan meninggalkan kekacauan yang telah ia buat. Tatapanya mengedar keseluruh kamar mewahnya. Sepi, dan itu menjadi keuntungan tersendiri untuknya.


Tangan rampingnya meraih tas kecil yang ia letakkan di atas nakas. Membuka sebentar tas itu, sekedar mengecek isi di dalamnya.


Salsha tersenyum, merasa semua sudah aman segera ia melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah itu. Tujuanya kali ini Apotik, ia ingin membeli obat peluruh kandungan.


*****


Max menjalankan mobilnya dengan gelisah. Seharusnya ia baru pulang besok setelah menyelesaiakan tugasnya. Namun, rasa khawatir akan keadan Salsha membuatnya tidak bisa tenang, dan memilih untuk meninggalkan pekerjaanya.


Mobil hitam itu memasuki pekarangan rumah mewah yang sudah ia tinggali bersama dengan wanitanya. Rumah mewah itu terlihat sepi. Hanya ada satpam yang menjaga.


Mereka sengaja hanya memperkejakan beberapa orang saja, hal itu dilakukan untuk mengantisispasi bocornya hubungan gelap yang telah mereka jalin itu. Status mereka yang sama-sama model membuat mereka harus berhati-hati dan menjaga sikap.

__ADS_1


“Siang Tuan.”


Max hanya mengangguk dan menyerahkan kunci mobilnya. Tatapnya mengedar, memandang suasana asri dari pepohonan yang sengaja ia tanam di sekitar.


“Maaf Tuan, Nona Salsha tadi keluar.” Satpam itu memberanikan diri untuk berbicara. Selain menjaga keamanan rumah, satpam itu juga diharuskan melapor seluruh keadaan rumah dan gerak-gerik Semua penghuni rumah.


Max yang sudah berjalan menghentikan langkah kakinya. Dengan cepat ia balikkan tubuhnya untuk menatap Satpam itu.


Satpam itu yang melihat tatapan tajam dari Max meneguk ludah kasar. Ia tahu jiwa humoris Max hanya untuk menutupi kekejaman laki-laki itu. Laki-laki itu sebenarnya tak lain seperti Monster menyeramkan.


“Apa yang kau katakan?”


Satpam itu mundur satu langkah, berusaha menjaga jarak.


“Nona Salsha keluar Tuan,” ucapnya dengan gugup.


“Kau sudah bosan dengan hidupmu? Sudah ku bilang, jangan biarkan Salsha keluar, kau tahu Salsha sedang tidak sehat.” Max mendesis tajam.


Satpam itu semakin menunduk bingung. Ia akui ia memang salah telah membirkan Salsha keluar dari pengawasanya. Tapi ia bisa apa? Ia hanya seorang Satpam, apakah ia punya hak untuk melarang Salsha, yang tak lain atasanya untuk keluar.


“Maafkan saya Tuan.”


“Dasar tidak berguna.” Max berjalan meninggalkan bawahanya itu dengan kesal.


Kakinya melangkah dengan cepat, tangan kekarnya meraih hendle pintu mobil, membukanya dengan kasar dan memasukinya.


Max menggeram, entah mengapa ia merasa gelisah. Pikiran tentang kesehatan Salsha yang jauh dari kata baik-baik saja mengganggu pikiranya, membuatnya menerka-nerka apa yang terjadi.


Perlahan laki-laki itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Mata hitamnya fokus menatap setiap jalan yang ia lalui. Tatapanya terhenti ketika melihat mobil yang sangat ia kenali berhenti di depan apotik.


Max menatap sosok wanita cantik yang sangat ia kenali keluar dari Apotik dengan meneteng kresek putih yang entah apa isinya. Max tetap diam di tempat, menunggu wanita itu pergi.


Lima menit berlalu, mobil itu terlihat sudah berjalan jauh. Max dengan pelan membuka pintu mobl dan memasuki Apotik.


“Permsi mbak.” Macx menyapa penjaga apotik itu.


Penjaga Apotik yang melihat kedatangan sosok model terkenal menutup mulut terkejut. Bagaiamana bisa ia berjumpa dengan sosok idolanya tanpa harus mengeluarkan biaya banyak.


Max ang melihat tatapan terpesona dari penjaga apotik itu merutuki kebodohanya. Ia terlalu ceroboboh, sehingga melupakan masker dan penutup kepala.


“Mbak.” Max memanggil sekali lagi, berharap penjaga itu tersadar.


“Oh, iya, Maaf Kak. Ada yang bisa saya bantu?” Penjaga itu tersenyum malu.


“Bisakah saya tahu apa yang sudah dbeli wanita bermasker tadi?” Max bertanya langsung tanpa harus basa-basi.


Penjaga itu yang mendengar pertanyaan sang idola mengernyit alis bingung. Perempuan bermasker? Otaknya mencoba berpikir dengan kuat, mengingat kembali siapa saja wanita bermasker yang datang ke situ. Mengingat memakai masker adalah hal lumrah sekarang, ditambah keadaan yang mengharuskan mereka selalu menggunakan masker membuat ia sedikit kesulitan.


Dengan canggun penjaga itu menjawab. “Maaf Kak, tapi sedari tadi semua yang ke sini memakai masker. Saya juga pakai masker.” Tunjuknya tepat di wajah.


Max merutuki kebodoanya. Bagaiaman bisa ia hanya menyebutkan ciri-ciri umum seperti itu.

__ADS_1


“Maksud saya, wanita dengan dres berwarna hijau tua yang barus saja keluar dari sini, mungkin sekitar lima menit.”


Penjaga itu menyipitkan matanya, mencoba mengingat-ingat kembali. Beberapa menit kemudian, ia menepuk kening pelan.


“Oh, saya tahu, mbak yang tadi.”


“Iya, wanita yang tadi. Apa yang sudah wanita itu beli?” Max bertanya dengan raut serus.


Penjaga itu mengernyitkan alis, merasa bingung dengan ekspresi serius Max. “Maaf kak, tapi saya tidak bisa membocorkan hal-hal seperti itu.” Penjaga itu tersenyum canggung.


Max menggeram, merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan wanita itu.


“Saya mohon.” Max menyatukan kedua tanganya, kemudian menunjukan wajah yang terlihat menyedihkan tapi bagi penjaga itu malah terlihat menggemaskan.


Penjaga itu merasa bimbang. Bagaiaman ini? ide licik muncul di kepalanya. Mungkin ia bisa membocorkannya kali ini dengan sedikit imbalan.


“Ekhm, saya akan kasih tahu informasi mengenai wanita tadi, tapi saya minta bayaran.” Penjaga itu tersenyum misterius.


Max dengan cepat menganggukkan kepalanya. Tangan kekarnya mengeluarkan dompet yang ia taruh di dalam saku.


“Segini, apa sudah cukup?” Max mengulurkan stumpuk uang berwarna merah.


Penjaga itu menggeleng dengan kuat. “Tidak, saya tidak butuh uang Kak, tapi saya ingin foto dengan Kakak sebagai bayaranya.”


Max menghela nafas panjang, dengan cepat ia menganggukkan kepalnya. Penjaga itu yang melihat persetujuan Max segera keluar dari pembatas, kemudian mendekat dan melakukan beberapa pose foto


“Terimakasih Kak.” Penjaga itu tersenyum malu-malu.


Max hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. “Cepat katakan.”


“Baik Kak, wanita itu membeli ini.” Penjaga itu menunjukan bungkus obat.


Max mengenyit melihat nama obat yang sangat asing baginya. Penjaga itu yang melihat tatapan bingung Max segera menjelaskan.


“Obat itu berfungsi untuk menggugurkan kandungan.”


Deg!


Max menggeram mendengar ucapan pegawai itu. Tanpa menunggu lama segera ia meninggalkan Apotik, memacu mobilnya dengan cepat.


“Jadi kau benar-benar hamil, dan sekarang kau ingin menggugurkan anakku. Tidak akan ku biarkan.” Max mencengkram setir erta.


_______


Terimakasih sudah membaca,,,


Terimakasih juga sudah support dan setia sama Author


Gimana part ini?


Maaf ya kalau feel_nya kurang 😢

__ADS_1


Jangan lupa vote, komen, like, dan follow😘😘😘


__ADS_2