
Raisya membuka matanya dengan perlahan, hawa dingin membuat wanita cantik itu terusik. Netra hijaunya mengedar, menyapu seluruh kamar mewah itu, seingga netranya terpaku pada lengan kekar yang melingkar indah di pinggangnya.
Sedikit dengusan ia keluarkan. Tangan rampingnya perlahan menyingkirkan lengan kekar itu. Namun, gerakan tangannya terhenti ketika mendengar gumaman dari pemilk lengan itu.
“Maaf...”
Raisya mentap wajah Farel yang terlelap itu dengan pandangan rumit. Sedikit rasa iba mulai ia rasakan namun, secepat itu pula ia tepis. Kali ini ia harus fokus tujuan utamanya.
Beberapa tenaga ia kerahkan untuk lepas dari jerat lengan itu. Meskipun Farel tertidur tapi kekuatan dari lengannya tidak main-main.
Raisya bangkit, ia butuh udara segar. Kakinya membawanya ke arah balkon, menatap angkasa yang masih sedikit gelap, karena matahari yang terlihat malu-malu di ufuk timur.
Netra hijaunya menatap angkasa yang entah mengapa terlihat sangat indah itu. Meskipun waktu sudah menunjukan angka lima namun, masih terlihat sedikit bayangan bintang di atas sana.
“Semua akan baik-baik saja.” Raisya menengadahkan kepalanya ke atas dengan menutup mata. Indra penciumanya mengendus hawa sejuk. Bau-bau dedaunan basah dan embun menyeruak ke hidungnya. Bahkan nafas wanita itu terliha mengeluarkan asap.
Merasa sudah cukup, Wanita itu melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya akhir-akhir ini cukup lelah, bukan hanya tubuh tapi pikiran juga.
*****
Raisya menatap beberapa pakaian yang menurutnya cocok digunakan untuk lari pagi. Netranya terhenti pada celana dengan bahan spandex warna abu-abu dengan kaos berwarna baby pink lengan panjang.
Merasa cocok segara wanita itu mengganti pakaiannya dengan cepat. Tanganya mengambil gawai dan handsat. Memasukannya kedalam kantung baju, kemudian berjalan dengan riang menuruni tangga.
Mansion itu terlihat sangat sepi, hanya para pengawal yang masih setia berdiri dengan wajah yang terlihat menahan kantuk.
“Maaf, Nyonay, anda mau kemana?”
Raisya menghentikan lagkahnya, menatap datar pengawal yang bertanya dengan wajah menunduk.
“Saya mau lari pagi,” Raisya menjawab dengan datar.
Terlihat beberapa penawal yang saling melirik. Mereka bingung bagaiamana harus betindak. Apa mereka harus melarang Nyonya, atau mengizinkan?
__ADS_1
Raisya yang melhat raut bingung mereka memutar mata malas. Bagiamana bisa hanya hal sepele mereka bingung menyikapi. Apa sbegitu kejamnya Farel?
“Sudah, saya mau pergi. Jika yang kalian takutkan Farel, saya berani menjamin untuk semua ini. Jadi kalau Farel menghukum kalian, kalian bisa langsung lapor, dan saya akan menghadapi amukan Farel sendiri. Jadi kalian, cepat menyingkir dari hadapanku,” Raisya berucap dengan nada dingin di akhir kalimatnya.
Mereka semua yang mendengar nada dingin itu bergidik ngeri. Entah mengapa mereka merasa Nyonya barunya sangatlah cocok dengan atasanya. Sama-sama dingin, dan datar. Dengan serentak mereka menepi, memberikan jalan untuk Raisya.
Raisya dengan cepat berjalan tanpa melirik mereka semua yang menatapnya. Hari ini dia ingin mengembalikkan mood serta stamina. Ia akan mencoba hidup seperti dulu, meskipun sekarang semuanya telah berubah.
****
Farel mengernyit, merasakan sesuatu yang telah hilang dari rengkuhannya. Tanganya mengais-ngais, mencari sosok yang dapat ia rengkuh dan ia rasakan kehangatannya.
Hawa dingin memebuat Farel semakin berusha menggapai selimut untuk menutup tubuhnya serta merapat dalam dekapan, namuan hawa dingin dari kasur sebelahnya membuat netranya membola seketika.
Farel terhenyak kaget, matanya berpenjar, mencari Raisya yang telah meninggalkannya dalam tidur.
Kaki kekarnya bergegas, berjalan dengan cepat, membuka setiap tempat, seperti kamar mandi, ruang pakaian, bahkan ruang santai. Namun, semua kosong. Rasa takut bercukul kuat di dadanya, membuat nafasnya tidak beraturan.
Beberapa pelayan yang mendengar teriakan Farel terhenyak, bahkan para pengawal yang berdiri di depan sampai terlonjak kaget.
“Raisya, di mana kau?” Farel berterika frustasi. Tanganya menjambak rambutnya dengan kuat.
Laki-laki itu berdiri di depan dapur. Berharap sosok yang ia cari sedang berada di sana sekedar untuk mengisi perut, mengingat kebiasaan wanitanya yang selalu lapar di waktu yang tidak menentu.
Para pengawal segera berlari untuk menghadap Farel. Terlihat kegugupan di wajah mereka semua.
“Maafkan saya Tuan. Nyonya tadi pagi keluar___”
Sebelum pengawal itu menyelesaiakn ucapannya, Farel segera menarik kerah pengawal itu dengan kencang. Matanya melotot marah dengan wajah yang memerah.
“Apa yang kau katakan Breng**k, Raisya keluar? Raisya pergi meninggalkanku, dan kalian diam saja? Hah!” Farel memperkuat tarikannya membuat pengawal itu tercekik dan kesulitan bernafas.
Pengawal lain yang melihat tindakan anarkis Farel menelan ludah gugup. Kejadian pembantingan Andres terlintas di otak mereka. Dengan pelan mereka mendekat, mencoba menjelaskan semua kejadian dengan detail.
__ADS_1
“Maaf Tuan, Nyonya sedang lari pagi.”
Wajah yang mengeras itu terlihat sedikit mengendur. Dengan kasar Farel menyentak tanganya dari kerah pengawal itu. Netra coklatnya menatap pengawal yang mengkonfirmasikan keberadan sang wanita dengan penuh tuntutan.
“Jelaskan!” titah Farel tegas.
Pengawal itu dengan hati-hati menjelaskan semua kejadian pagi hari tadi tanpa menambahi atau pun menguranginya. Rasa gugup dan takut terlihat jelas di wajah mereka semua.
“ ..... Maafkan kami Tuan. Tapi kami tidak berani mencegah keinginan Nyonya.” Pengawal itu menunduk ketakutan.
Farel memejamkan matanya erat, mencoba menghalau rasa takut, khawatir, cemas, dan marah secara berlebihan itu.
“Hmm, pergi,” Farel berucap dengan datar. Dagunya menunjuk arah keluar, seakan mempersilahkan mereka untuk pergi.
Mereka yang mendapatkan perintah dari Farel sempat tidak percaya. Apa mereka akan di bebaskan tanpa mendapatkan hukuman dengan mudah?
Farel yang melihat tatapan tidak percaya dari bawahanya mendengus kesal. Matanya menajam, menyorot mereka satu persatu. Mereka yang melihat sorot tajam itu meneguk ludah kasar dan dengan cepat berjalan meninggalkan dapur.
Farel menatap mereka dengan datar. Merasa hanya dirinya sendiri di ruang itu segera ia mengusap wajahnya dengan kasar. “Raisya, kau membuatku gila.”
****
Raisya beralari dengan riang. Peluh membasahi kening mulusnya namun, ia tak merasakan lelah sedikit pun.
Segarnya udara, ditambah indahnya pemandangn membuatnya semakin bersemangat untuk menjelajah.
Tatapan matanya mengedar, menatap sekeliling. Ia baru sadar jika tempat yang ia singgahi berada di tempat yang terpencil, hal ini dapat ia simpulkan dari minimnya penduduk. Bahkan terlihat jelas rumah-rumah berjajar itu terlihat kosong, dan hanya beberapa yang berpenghuni.
Rasa curiga mulai merasuki otaknya. Pikiran negativ tentang Farel yang sudah membeli seluruh rumah dan mengisinya dengan orang-orang suruhanya tiba-tiba terlintas di otaknya.
Namun, pikiran itu segera ia tepis. Meskipun Farel terlihat sangat-sangat gila dan masih banyak keburukan lainya, tapi ia yakin Farel tidak akan melakukan hal yang di luar batas.
Asik dengan memandang sekitar tempat, tubuh Raisya tersandung batu yang entah mengapa bisa tepat berada di depanya. Karena rasa terkejut, serta keseimbangannya yang oleng membuat tubuhnya terjerambat kedepan. Merasa akan mendapatkan rasa sakit yang teramat segera wanita itu memejamkan mata dan bersiap menerima rasa sakit itu.
“Kau tidak apa-apa Nona?”
__ADS_1
Raisya mengerjap, merasakan lengan kuat yang menahan beban tubuhnya. Matanya menatap polos laki-laki yang terlihat menawan namun, tidak asing itu menatapnya dengan penuh kekhawatiran.