Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
122. Menyesal


__ADS_3

Max terdiam, tubuhnya kaku. Tidak memilih cinta? Bukankah, dia mencintai Farel?


“Apa maksudmu?” Max bertanya dengan nada bergetar, sedangkan Salsha masih menangis dengan tergugu.


Salsha masih enggan menjawab pertanyaan Max, hatinya terlalu sakit saat mengingat kenangan bersama dengan laki-laki itu. Terlebih, ia sendiri yang membuat kenangan mereka menjadi rusak.



Max yang melihat keterdiaman Salsha dengan tangisan yang tak henti merasa kesal. Laki-laki itu dengan cepat menggoncang tubuh Salsha, mebuat tubuh yang sudah ringkih terlihat sangat menyedihkan.


“Apa maksudmu? Katakan!” Max menatap Salsha dengan wajah yang sudah merah padam.


“AKU MENCINTAIMU!” Suara keras itu menggema di seluruh ruang yang terlihat tamaran itu. Sedangkan tubuh Max semakin kaku, pernyataan inilah yang telah lama ia tunggu. Kenapa baru sekarang ia mendengarnya?


“Tapi semua itu tidak penting lagi. Cintaku bukan apa-apa. Biarkan aku menanggung semua kesalahanku sendiri.” Salsha melanjutkan kalimatnya dengan nada lirih, sangat lirih, hampir seperti orang putus asa.


Max terdiam, tubuh laki-laki itu seperti terhempas, melayang jauh dari kenyataan.


****


Prang!


Salsha terlonjak, ingatan tentang pertemuannya dengan Max dan ungkapan segala perasaan yang telah ia pendam bertahun-tahun hilang. Mata saunya mentap gelas yang sudah pecah.



Wanita itu diam, membiarkan pecahan dan air membasahi lantai. Melihat pecahan itu, mengingatkan tentang dirinya saja. Itulah dia, sesuatu yang telah rusak, dan memberi efek buruk bagi saiapa pun yang mendekat.


Brak!


Dobrakan pintu itu membuat Salsha terkejut. Terlihat jelas di sana sang ayah yang terlihat sangat murka. Wanita itu mengernyit, merasa bingung dengan tatapan yang diberikan.


Plak!


Tamparan itu menjadi sambutan pertama yang diberikan Tuan Dawal. Sedangkan Salsha tetap diam. Mungkin semua sudah terbongkar, dan ia harus menerima segala kebohongan yang telah ia buat.


“Apa benar semua ini?” Pria paruh baya itu melempar seluruh foto bukti perselingkuhan Salsha.


Salsha diam, tapi mata wanita itu menatap lembaran-lembaran dengan datar. Tidak ada apa pun yang ia rasakan kecuali rasa menyesal. Tidak ada lagi dendam, ia terlalu lelah.

__ADS_1



Tuan Dawa yang melahat keterdiaman sang anak semakin geram. Anakanya telah membuat ia semakin murka.


“Dasar! Anak tidak tahu diri.”


Brak!


Salsha tetap diam, meskipun tubuh ringkihnya terjerambat ke bawah akibat dorongan yang diberikan sang ibu.


“Harusnya kau sadar diri. Jika bukan karena Farel, kau tidak akan pernah menjadi seperti sekarang, begitu pula dengan keluarga kita. Kau, dasar! Anak tidak tahu diuntung!”


Makian itu membuat hati Salsha sakit. Inlah yang membuatnya lebih memilih Farel di banding Max, cinta pertamanya. Bersama Farel, ia merasakan apa itu kasih sayang, sedangkan bersama Max, ia tidak mendapatakannya sama sekali. Ia lelah,bolehkan ia istirahat?



Tuan Dawal yang melihat sang Istri kalap dengan mendorong tubuh sang anak diam. Laki-laki itu terlalu enggan untuk menolong anaknya yang mempermalukan dirinya itu.


“Kenapa kau berubah?” Tuan Dawal bertanya dengan lirih, sedangkan istrinya tetap memasang wajah gahar dengan mata yang melotot tajam.


Slsha tetap diam, bahkana saat beberapa pecahan gelas itu telah menembus tubuhnya. Tidak ada ringisan sama sekali yang ia keluarkan. Ia terlalu mati rasa.


“Bahkan, kau dengan tidak punya hatinya melenyapkan anak kandungmu sendiri.” Wanita paruh baya itu berucap dengan sinis. Rasa kecewa kedua orang tua itu semakin tinggi, saat mengetahui fakta tentang itu. sedangkan Salsha yang mendengarnya terdiam, dengan sudut mata yang sudah mengeluarkan cairan bening.


Ternyata ia sama saja dengan orang taunya. Terlalu egosi hanya untuk kepentingan masing-masing. Tapi ia lebih parah, bahkan berani melenyapakan nyawa tidak berdosa hanya untuk menuruti segala obsesi, sedangkan orang tuanya tetap membiarkan ia bernafas, meskipun harus menjadi bonek mereka semua.


****


Para awak media di gemparkan dengan fakta perselingkuhan Salsha dengan laki-laki yang belum diketahui siapa namanya. Banyak beberapa oknum yang memberikan argumen masing-masing.Tak jarang mereka menyebut nama Max alexis.



Setelah berita perselingkuhan itu, ternyata masih ada berita yang lebih menggemparkan. Ada salah satu akun tanpa nama memberikan fakta tentang Salsha yang sengaja menggugurkan bayi hasil perselingkuhannya itu. Mereka semua semakin gempar ketika melihat kedua orang tua sang model terkenal itu bungkam. Bahkan, mereka dengan cepat meyerbu rumah sakit yang menjadi tempat wanita itu di rawat dulu.



Max diam, menatap beberapa hujatan netizen untuk wanita itu. seharusnya ia merasa senang, tapi perasanya semakin kacau. Ada rasa iba yang terselip di dadanya. Sedengkan Roy yang menjadi pelaku dari semua kekacauan hanya diam. Sebenarnya, laki-laki itu merasa kasihan, tapi apa boleh buat. Semua ia lakukan atas perintah sang atasan.


“Kenapa kau menyebarkan berita ini?” Max bertanya dengan nada tajam.

__ADS_1


Roy yang mendengar pertanyaan bernada tajam itu terkejut. “Maaf, Tuan, bukankah anda sendiri yang memberi saya perintah untuk menyebar berita itu?” Alex menjawab dengan hati-hati.



Ia masih ingat bagaiamana Tuannya telah merencanakan semua dengan matang. Bahkan Tuannya itu juga sudah memberikan aba-aba sebelum ia menyebar semuanya, tapi kenapa, Tuannya sekarang terlihat sangat kecewa.



Max menggeram, ia menutup mata kesal. Setelah ungkapan perasaan Salsha membuat otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia merasa semua ini salah, tapi tidak bisa melakukan apa pun.


“Argh!” Max berteriak dengan tangan yang menjambak rambutnya.


Roy yang melihat tingkah Max mengerjapkan mata dan menelan ludah gugup. Entah kenapa, laki-laki itu merasa setelah pertemuan Max dengan Salsha laki-laki itu berubah. Apa terjadi sesuatu? Apa pun itu, ia hanya berharap, semoga Max sadar.


***


Tamara Lawson, menatap anak sulungnya dengan datar. Wanita itu duduk menyilangkan kakinya, memperlihatkan hampir separuh pahanya. Penampilan wanita yang sudah berkepala lima itu tidak sesuai dengan umurnya.


“Hentikan semua ini!” Farel berucap dengan nada datar, tapi penuh penekanan.


Tamara tertawa keras. Ketamakan yang dimilki wanita itu menghilangkan belas kasihannya untuk sang putra.


“Kenapa aku harus menghentikannya, anakku?” Tamra bertanya dengan nada angkuh.


Fare meggeram marah, bahkan terlihat jelas rahang laki-laki itu terlihat mengeras. “Kau akan tahu, bagaiamana anak yang paling kau kasihi itu menunjukan kasih sayangnya.” Farel menatap Tamara dengan penuh seringai.


Tamara mengangkat sebelah alisnya, merasa bingung dengan maksud ucapan sang anak. Sedangkan Farel semakin tersenyum lebar, mata itu menunjukan penuh binar.


“Ricard!” Farel memanggil asistennya yang berdiri di samping sofa yang ia duduki.


Ricard dengan cepat membungkukan tubuh, menyerahkan map yag sudah ia siapkan jauh-jauh hari.



Tamara yang melihat itu merasakan firasat buruk. Entah apa itu, terlebih melihat wajah penuh binar Farel.


_______


Terimakasih sudah membaca,, jangan lupa kasih bintang 5, favorit, like, vote, dan komen ya,,

__ADS_1


Author double up hari ini


__ADS_2