Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
142. Bayi botak


__ADS_3

Raisya mengelus perutnya yang terlihat sangat besar. Bahkan wanita itu sekarang terlihat kesulitan untuk melangkah.


“Sayang.”


Panggilan itu membuat Raisya yang hendak berdiri mendongak, matanya menatap Farel yang memakai apron berwarna kuning.


“Kenapa tidak memanggilku,” gerutu Farel dengan tangan yang sudah menuntun Raisya.


Raisya yang mendapatkan perhatian seperti itu merasa tersentuh, terlebih melihat wajah Farel yang terlihat sangat kelelahan.


“Terimaksih.”


Farel yag terfokus untuk menata tempat duduk Raisya menghentikan kegiatannya. Mata coklatnya menatap Raisya dalam, kemudian senyum tipis terukir di bibirnya.


“Kenapa harus beterimakasih? Semua yang aku lakukan itu wajar, kau sedang mengandung anakku, dan sudah sepatutnya aku selalu menjaga dan mengutamakanmu.” Farel berjongkok, tangan kekarnya menarik kaki Raisya yang terlihat membengkak.


Raisya yan melihat tindakan Farel tersenyum. Farel yang tengah fokus memijat kakinya membuat ia merasa menjadi wanita paling beruntung.


“Apakah sakit?” Farel bertanya dengan tanan yang masih memijat pelan kaki Raisya.


Raisya yan mendenar pertanyaan itu menusap lembut rambut Farel, membuat laki-laki itu mendongak. “Tidak, hanya pegal saja.”


Farel yan mendengar jawaban itu menatap Raisya penuh khawatir. “kalau kau merasa pegal, panggil aku, kalau kau butuh apa pun juga panggil aku. Jangan tanggung sakitmu sendirian. Ini anak kita, jadi sudah seharusnya aku juga ikut merasakan kesusahanmu.”


Raisya tersenyum. “Iy__ akhhh.” Pekikan itu membuat Farel yang berjongkok segera berdiri. Mata coklatnya terlihat sangat khawatir.


“Raisya, sayang, kenapa?” pertanyaan dengan nada cemas itu tidak mendapatkan jawaban apa pun.


Raisya semakin mencengkram erat bahu Farel, membuat Farel semakin meringis.


“Sayang, kamu ngompol?” Farel melototkan mata saat matanya melihat cairan bening yang mengalir di bawah kakinya, sedangkan Raisya yang mendengar pertanyaan Farel semakin mengeratkan cengkramanya, membuat fokus Farel teralih, dan ikut merintih kesakitan.


“Waktunya melahirkan,” Raisya berucap dengan nafas yang sudah tidak beraturan.


Farel yang mendengar penuturan itu terkejut bkan main. Bahan mulut laki-laki itu sudah terbuka dengan lebar.


Raisya yang sejatinya sudah merasakan rasa sakit dua hari itu semakin kesal melihat tingkah bodoh Farel.


“FAREL!”


Farel yang mendengar teriakan tu terkejut. Tangannya gemetar hebat, bahkan laki-laki itu seperti orang linglung.


“Sayang, tahan, aku akan memanggil Ricard.”


Tepat setelah mengatakan itu, Farel berjalan dengan cepat ke arah nakas untuk mengambil gawai. Sedangkan Raisya hanya mengabaikan tindakan Farel. Wanita itu sibuk mengatur pernafasanya, bahkan tak jarang wanita itu juga mengejan.



Farel yang melihat tindakan Rasya melototkan mata. Setahunya dari buku, orang yang melahirkan itu butuh bimbingan dokter, seperti metode mengejan. Tapi kenapa istrinya itu melakukan sendiri.


“Sayang, tahan , jangan mengejan dulu.” Farel berteriak, memperigati Raisya untuk tidak melakukan tindakan gegabah.

__ADS_1


Raisya yang memang sudah merasakan sesuatu yang ingin mendesak keluar mengabaikan terikan itu, wanita itu berulang kali mengatur nafasnya, dan merubah posisinya menjadi lebih nyaman.



Tubuh Farel semakin gemetar. “Ricard, cepat bawa dokter ke sini. Aku mau melahirkan!” teriak Farel dengan cepat dan tegas, bahkan laki-laki itu tidak menunggu jawaban dari Ricard, dan langsung mematikan panggilan.


Tut!


Di sisi lain, Riacrd yang menerima panggilan dan mendengar perintah mutlak Farel mengerutka alis, merasa bingung dengan maksud atasannya itu.


“Apa Tuan Farel bisa melahirkan? Jika iya, di mana keluarnya sang bayi?” Ricard menggaruk tengkuknya, merasa bingung dengan maksud sang atasan.


“Ah, apa pun itu, sebaiknya aku segera menghubungi dokter kandungan.”


(kembali ke Raisya)


“Ahhhh, uhhhhh. Huffffft.”


Farel yang mendengar itu dengan cemas berjalan mendekat, bahkan laki-aki itu tidak bisa mengontrol rasa takutnya.



Raisya masih saja fokus untuk mengeluarkan sang jabang bayi. Meskipun tanpa bantuan sang dokter, ia yakin bisa melewati semuanya.


“Sayang, kenapa itumu seperti itu?” Farel bertanya dengan wajah horor. Melihat pasangan juniornya yang terlihat membengkak, bahkan terdapat robekan di sana.


Raisya yang mendengar pertanyaan Farel semakin menggertakkan gigi. Wanita itu mengkode Farel untuk mendekat. Farel yang paham dengan permintaan sang istri segera mengikutinya.


Raisya menghiaraukan segela teriakan sakit Farel, wanita itu tetap fokus untuk menggigit tangan Farel, membuat jeritan Farel membahana, bahkan ia yang melahirkan saja hanya mengeluarkan suara kecil, nyaris tidak terdengar.


“Sayang, jangan gigit lenganku, nanti gigimu luka. Gigit ini saja.” Farel dengan wajah memerah menyerahkan telapak tangannya.


Raisya yang melihat itu tanpa pikir panjang langsung menggigitnya, kemudian terdengar suara teriakan Farel yang lagi-lagi mengisi kegaduhan di kamar mewah itu.


“Hufttt, huuhhhhhh, ahhhhhh.” Raisya mengeluarkan nafas panjang. Wajah wanita itu terlihat memerah, terlebih saat merasakan robekan di bawah sana semakin besar dan panjang.


Farel yang melihat itu menangis, mata coklatnya melihat ujung kepala yang terlihat di pangkal paha sang Istri.


“Farel, pegang bayi kita.” Raisya berkata di tengah-tengah kesakitan. Di otak wanita itu hanya ada satu, keselamatan sang bayi.


Sedangkan Farel yang mendengar itu dengan tangan gemetar menaruh kedua tangannya tepat di bawah, seakan siap menerima sang anak.



Raisya yang melihat posisi Farel, melanjutkan tugasnya yang tinggal sedikit lagi. Dengan mengatur nafas beberapa kali, Raisya mengejan. Farel yang melihat darah yang menetes, bahkan sudah membasahi tangannya menangis hebat tanpa suara. Beberapa detik kemudian, bayi mungil yang masih berbalut darah jatuh tepat di kedua tangannya.


“Oek, oek.”


“Sayang, bayi kita. Putra kita.” Farel menatap bayi merah itu dnegan air mata yang sudah tidak berhenti.


Raisya yang melihat itu tersenyum. Namun, pandangan wanita itu mulai berkabur. Perlahan gelap mulai menyapa, membuat Farel berteriak histeris, dibarengi dengan datanganya dokter wanita yang terlihat cemas.

__ADS_1


***


Farel menatap bayi yang terlihat lelap itu dnegan sedih. Maria yang melihat kesedihan cucunya membuang muka, kemudian menahan nafas. Dengan penuh keyakinan, wanita tua itu mendekat.


“Tenang, semua akan baik-baik saja.”


Farel yang awalnya menatap sang putra, mengalihkan pandangannya. Matanya tampak memerah.


“Nenek janji?”


“Nenek tidak bisa berjanji, tapi kamu harus percaya.” Maria mengelus lembut pundak Farel.


Farel yang sudah tidak kuasa menahan tangisannya akhirnya menumpahkan semua di pundak Maria.


“Aku gagal Nek. Andaikan Farel menyiapkan semuanya, menyuruh dokter untuk tinggal di mansion ini Raisya tidak akan mengalami hal buruk seperti ini.”


“Farel, kau harus tenang. Masih ada Putramu yang membutuhkanmu. Raisya hanya pingsan dan kekurangan cairan. Kita doakan saja, semoga Istrimu baik-baik saja.” Maria menepuk pundak Farel, berharap sang cucu bisa mengendalikan perasaanya.


Ceklek!


Farel segera menuraikan pelukannya. Masih dengan mata basah, laki-laki itu berjalan mendekat ke arah sang dokter.


“Bagaiamana keadaan Istriku?”


“Syukurlah, Nyonya hanya pendarahan ringan, untuk masalah dehidrasi, saya sudah memberikan infus untuk Nyonya.” Dokter itu tersenyum.


Farel yang mendengar penuturan itu tersenum lega. Kaki kekarnya berjalan memasuki kamar pribadinya. Mata coklatnya semakin deras mengeluarkan air, melihat sang wanita tergolek lemah dengan infus yang menempel di tangan kiri.


“Sayang, terimakasih.” Farel mengecup puncak kepala Raisya.


Beberpa menit kemudian, terlihat Raisya yang mengedipkan mata beberapa kali, kemudia mata hijau itu terbuka sempurna.



Farel yang melihatnya tidak bisa menahan lauapan rasa bahagia, bahkan mata laki-laki itu lagi-lgi mengeluarkan air mata.


“Sayang.”


Raisya yang mendengar suara lirih yang tak asing lagi tersenyum. “Farel, di mana anak kita?”


“Ini anak kalian.”


Raisya dan Fare segera mengalihkan pandangan, mata mereka menatap sosok Maria yang membawa buntalan hijau dengan pnuh binar.


“Putraku.” Raisya mengulurkan tangan, matanya tidak lepas dari sosok mungil yang sekarang sudah berada di pelukannya.


Farel yang melihat pemandangan itu tersenyum lebar. Tangannya tanpa bisa di komando mengelus lembut kepala botak bayinya itu.


“Kenapa anak kita tidak memilki rambut, apa kita beri nama dia ipin.” Celetuk Farel polos.


Celetukan itu mengundang tatapan sangar dari dua wanita berbeda umur, membuat Farel yang ditatap mengerut takut, kemudian menggaruk tengkuk dan menunjukan cengiran polos.

__ADS_1


__ADS_2