
Jesika terlihat resah menunggu Raisya di depan Cafe, tempat yang sudah mereka sepakati. Berkali-kali mata sipitnya memandang jam tangan yang berada di tangan kirinya. Dia sudah mengatur pertemuan antara Raisya dengan *dia*.
“Nyonya, di mana kau?” Jesika menggigit kukunya panik.
Jika bukan sekaranag, ia ragu bisa mengatur pertemuan Raisya dengan *dia*. Mata sipitnya semakin menyipit melihat *dia* yang terlihat mulai bangkit dari sana.
“Bagaimana ini?”
Jesika memutar otak, berusaha mencari solusi terbaik untuk permasalahan kali ini. tapi semua seakan buntu ketika mata sipitnya melihat *dia* yang berlari kearah sosok yang ia curigai mempunyai hubungan gelap dengan *dia*.
“Apa kecurigaanku semua benar?” Jesika bertanya dengan dirinya sendiri. Rasa tidak percaya akan fakta yang ia terima membuatnya ia kebingungan.
“Jika mereka memiliki hubungan gelap, aku jadi ragu rencana Nyonya akan berhasil.”
Jesika menutup matanya frustasi. Mata sipitnya melihat mereka berdua yang berjalan memasuki mobil hitam. Dengan cepat tanganya mengambil gawai untuk memotret plat mobil itu.
“Aku akan menyelidiki semuanya terlebih dahulu.” Jesika menatap hasil jepretan dalam gawaianya. Tekatnya sudah kuat untuk mengungkap tuntas hubungan mereka berdua yang sangat mencurigakan itu.
“Jika semua kecurigaanku benar, aku yakin ini semua akan menjadi skandal besar. Aku harap Nyonya tetap kuat.”
Jesika berjalan meninggalkan tempat itu. Pikiranya kini tertuju pada Raisya. Apa yang menjadi penyebab Raisya tidak bisa datang menemuinya, bukankah ia yang paling antusies dalam rencana ini.
Jesika merasa ada yang tidak beres. Kaki kecilnya segera melangkah pergi menuju mobil, ia harus menyelesaikan masalah *dia* dulu. Setelah semua bukti terkumpul, dia akan menemui Raisya.
Sepanjang perjalanan, mata Jesika tidak bisa tenang. Ia menatap seluruh penjuru agar mendapatkan jejak yang bisa dijadkan bukti. Mata sipitnya terhenti ketika melihat CCTV yang berada di ujung jalan.
“Sepertinya aku harus membobol CCTV banyak kali ini." Jesika berujar mantap.
Tangan rampingnya mengambil laptop kecil yang ia selipkan di dalam tas hitamnya itu. Tanganya dengan lihai bergerak cepat di ats keyboard.
“Sepertinya keahlianku memiliki kemajuan. Bahkan aku bisa membobol seluruh CCTV di negara ini. Sekarang mari kita coba membobol CCTV luar Negri.”
Terlihat layar laptopnya yang berputar cepat, memunculkan angka-angka yang membuat alisnya mengkrut. Beberapa menit kemudian, muncullah beberapa video yang membuatnya tercengang dan tidak percaya.
“Aku tidak menyangka hubungan mereka sudah sejauh itu. Jika seperti itu spertinya semuanya akan lebih sulit lagi.” Jesika menutup matanya tidak percaya.
Adegan 21\+ terpampang jelas di video itu. Bahkan terlihat jelas mereka berdua melakukannya bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.
__ADS_1
Tangan rampingnya dengan cepat menyimpan seluruh video itu menjadi satu file, mengurutkan dari tanggal pertama sampai tanggal terakhir. Bahkan ia juga memasukan video mereka yang berlatar bukan di indonesai.
“Aku harus segera menemui Nyonya.”
****
Raisya menangis di bawah guyuran sower. Sudah hampir setengah jam ia mengguyur tubuhnya. Ia merasa jijik.
Sedangka Farel terlihat mondar-mandir di depan pintu kamar mandi. Ia ingin sekali mendobrak pintu itu tapi ia takut membuat Raisya semakin marah.
“Arghhhhh.”
Farel berjingat kaget mendengar teriakan di dalam kamar mandi itu. Rasa khawatir membumbung tinggi di hatinya. Ia takut Raisya melakukan hal nekat seperti dulu.
“Raisya, maafkan aku. Pukul aku saja, jangan kau menyiksa dirimu seperti itu.” Farel berbicara lirih dibalik pintu yang tertutup rapat itu.
Raisya mengangkat keplanya, badanya terasa dingin. Tubuhnya menggigil. Tangan ramping itu terlihat mengepal kuat, bahkan giginya terdengar bergemeletuk, bukan hanya karena rasa dingin, tapi karena amarah.
Ceklek!
Farel mengangkat kepalnya mendengar pintu kamar mandi terbuka.
“Rais_”
“stop! Aku tidak ingin mendengar suaramu!” Raisya berjalan menuju ke ranjang. Ia luruhkan tubuhnya di sana. Mengubur dirinya di dalam selimut yang tebal, menghiaruakn rambutnya yang masih basah itu.
Farel tercekat mendengar penolakan itu. Hubungan mereka yang sudah membaik kini harus hancur gara-gara sifat binatangnya. Harusnya ia lebih bersabar dan bisa berpikir secara tenang.
Kaki kekarnya melangkah mendekat ke arah ranjang, membuat suara berderit akibat beban tubuhnya.
Raisya mengabaiakn keberadaan Farel di sisinya. Ia mencoba menghilangkan bayangan pelecehan yang ia terima.
__ADS_1
“Sayang, maafkan aku.” Farel menundukkan kepalnya.
Raisya yang mendengar kat-kata maaf dari mulut laki-laki itu mersa muak. Matanya semakin erat terpejam.
Tangan Farel dengan pelan berusaha menyentuh tubuh Raisya. Raisya yang merasakan sentuhan tiba-tiba di bahunya membuka mata seketika, kemudian bangkit menatap tajam Farel.
“Ku bilang jangan menyentuhku! Kau tuli, hah?” Raisya berteriak dengan mata memerah.
Farel tercekat, hatinya terasa hancur mendengar ucapan Raisya. Tubuhnya meluruh tepat di bawah Raisya, bersimpuh di bawah ranjang seakan meminta pengampunan.
“Maafkan aku, pukul saja aku, lakukan apa pun yang kau mau. Tapi ku mohon jangan membenciku atau berniat jauh dari ku.” Farel mengiba di bawah sana.
Raisya menangis mendengar penuturan Farel. Segampang itukah ia menebus kesalahanya. Apa dengan ia memukulnya, menghukumnya bayangan pelecehan dan hancurnya perasaannya bisa kembali seperti sedia kala? Apakah ia bisa hidup seperti wanita normal lainya tanpa bayangan yang mengerikan?
“Apakah dengan meminta maaf semua akan selelsai?” Raisya bertanya dengan mata memerah.
Farel menangis dalam diam. Sungguh ia menyesal melakukan semua itu, tapi ia tidak bisa mengulang waktu. Ia hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan ke khilafan.
“Maafkan aku, aku khilaf.”
Raisya terkekeh sinis. Khilaf?
“Hah, Khilaf? Kalian para laki-laki selalu menutup kesalahan kalian dengan kat-kata Khilaf. Khilaf itu hanya sekali bukan berkali-kali. Kau ingat berapa kali kau melakukan kesalahan yang sama? Hah?”
“Kau tahu apa perbedaan hewan dengan manusia?”
“Manusia selalu menggunakan akal dan hati nuraninya untuk melakukan apa pun. Sedangkan hewan hanya mengutamakan nafsunya. Kau! Lebih buruk dari hewan!” Raisya membuang muka saat mengatakan kata hewan. Ada rasa tidak tega, tapi itulah kenyataan. Manusia yang melakukan pelecehan itu lebih buruk daripada hewan.
Jika hewan melakukan hal tercela itu karena tidak memiliki akal, lantas mengapa manusia bisa melakukan hal seperti itu saat sadar dan memiliki anugrah akal yang luar biasa. Bukankah artinya manusia hanya sekumpulan makhluk hidup yang berkedok makhluk berakal?
Farel merasa tertohok dengan ucapan Raisya. Lebih buruk dari hewan? Hatinya teriris. Sungguh kata-kata itu sangat tajam, setajam pedang yang menusuk tepat di jantungnya. Ia mersa kesakitan, lebih sakit lagi saat kata-kata itu keluar dari orang yang kita cinta.
“Biarkan aku pergi.” Raisya menundukkan kepalanya enggan menatap Farel. Tapi dapat dilihat jika ia menangis. Bahkan air matanya terjatuh membasahai selimut yang menjadi penutup sebagian tubuhnya.
Farel menegang mendengar perkataan Risya. Ia yang awakanya bersimpuh langsung berdiri dan memandang Raisya tajam.
“Lebih baik kau mencaci maki aku seperti hewan dari pada meminta untuk pergi dari sisiku. Bencilah aku sepuasmu, abaiakan aku semamumu, tapi aku tidak akan pernah mengizinkan atau pun membiarkanmu pergi jauh dari ku, meskipun itu maut aku akan tetap melawanya.” Farel dengan amarah yang membeludak keluar meninggalkan Raisya yang menangis semakin keras.
__ADS_1
Mendengar kata pergi membuat amarahanya bergejolak. Farel tidak marah mendengar caci maki yang dikeluarkan Raisya, tapi ia marah, takut, dan khawatir saat mendengar kata pergi. Kali ini, ia harus menambah penjagaan untuk wanitanya.