
Raisya menatap pintu kaca itu dengan khawatir. Logikanya seakan hilang ketika mendapt kabar kondisi Jhonatan yang menurun. Ia meras bersalah. Selama dua bulan ini keadan memaksanya untuk bersembunyi, bahkan dari jhonatan sekalipun.
Rasa takut ketahuan Farel seakan hilang dalam sekejap. Keadaan jhontan adalah proritas utamanya. Bahkan ia pergi tanpa membawa gawai dan benda penting lainya. Di sakunya hanya ada beberapa ratus ribu. Paling parah ia tidak memberi kabar untuk Zakiel jika ia keluar rumah.
Dentingan pintu membuat ia mengerjap dan spontan berdiri. Di sana terlihat jelas wajah lelah Jams yang membuat rasa takut semakin menjalar dan besar.
“Bagaimana keadaanya?”
“Mari ikut saya. Saya akan menjelaskan seluruh kondisi Jhontan.”
Raisya menganggukkan kepalanya dan mengikuti James dari belakang.
Cklek!
“Silahkan duduk.” James menunjuk kursi di depannya.
Raisya mendudukkan tubuhnya, kemudian menatap James dengan rasa cemas yang tidak bisa ia tutupi.
“Pasien mengalami kejang. Mungkin ini salah satu efek dari cangkok jantung dan pendarahan otak.”
Raisya mengernyit tidak faham dengan penjelasan James. “Bukanya oprasinya lancar?”
“Oprasinya bisa dikatakan lancar juga bisa dikatakan gagal. Melihat keadaan Jhonatan yang ternyata menolak untuk menerima jantung buatan itu. Ia membutuhkan jantung asli.”
Rona kebahagian dua bulan yang sempat ia rasakan seakan runtuh dalam sekejap mendengar penuturan James. Bagaimana bisa kemalangan selalu menimpanya? Tidak bisakah tuhan memberi ia sedikit waktu untuk bernafas lega, merajut kebahagian dengan kekasaih hatinya. Meskipun Jhontan koma, ia sudah merasa cukup baik, asalkan Jhontan tidak meninggalkanya.
“apa yang harus saya lakukan?”
James menatp iba Raisya. Ia ikut merasakan perasaan sedih itu. Bahkan ia yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan Jhontan ikut sedih melihat kondisinya yang tib-tiba menurun.
“Kita harus melakukan oprasi lagi. Tapi terlalu tinggi resikonya.”
Raisya menegang. Apa maksud dari ucapan James?
“Jika setelah oprasi Jhontan tetap menolak jantung itu, ia akan mengalam gagal jantung, dan tidak bisa melakukan oprasi lagi dalam waktu dekat. Melihatnya yang sudah melakukan oprasi sebanyak dua kali dengan jarak waktu yang relatif singkat.”
Nafasnya tercekat, matanya memerah, dan wajahnya semakin pucat. Bagaiman ini?
“Maafkan saya sebelumnya. Sebenarnya potensi hidup pasien sangatlah rendah, tapi entah mengapa pasien bisa bertahan sejauh ini. Mungkin dia masih tidak rela meninggalkan seseorang yang berharga di dunia.”
Raisya memjamkan matanya, ingatan tentang janji Jhonatan yang akan kembali kepadanya dalam keadaan apa pun terlintas. Apakah Jhonatan berusaha memenuhi janji itu.
__ADS_1
“Apakah saya harus menyerah?” Raisya bertanya dengan wajah penuh frustasi.
James mengernyit mendengar pertanyaan Raisya. “Mengapa harus menyerah? Hay, lihatlah tekad Jhonatan. Seharusnya kau harus lebih semangat dan pantang menyerah.”
“Tapi pasti ia kesakitan?” Raisya menatap kosong James.
“Rasa sakitnya setara dengan besarnya cinta, rasa sabar, dan kesetian yang kau berikan.”
Kesetian? Apakah ia bisa disebut setia jika tubuhnya saja sudah dijamah orang lain?
“Kau harus berpikir positif, dan yakin.”
Raisya menjilat bibir atasnya, tekadnya bulat. “Lakukan oprasiny segera, saya akan mengurus administrasinya secepat mungkin.”
James memandang Raisya yang berdiri menundukkan badanya, kemudian berbalik arah untuk keluar.
****
“Berapa jumlah keseluruhanya?”
“Semuanya satu milyar.”
Raisya terdiam mendengar penuturan pegawai di depanya. Satu milyar? Uangnya pas. Tapi ia akan semakin kesulitan untuk membayar lunas hutangnya nanti.
“Bagaimana nona? Apakah anda ingin menyelesaikan pembayaranya sekarang juga?”
“Iya. Saya akan segera mentransfernya.”
Pegawai itu tersenyum ramah. Ia sudah mengenal baik Raisya. Perjuangan Raisya menunggu kesembuhan tunanganya dari koma menjadi trending topik semua pegawi rumah sakit. Meskipun baru beberapa bulan, mereka semua sangat mengaggumi kesetian Raisya.
“Baik, saya doakan pasien cepat sembuh Nona.”
Raisya tersenyum menatap pegawai itu, kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Tujuanya kali ini kembali ke rumah untuk mengambil buka tabunganya.
*****
Zakile merasa khawatir melihat rumah yang kosong. Persaanya yang sempat ia anggap perasaan cinta itu berubah seiring waktu menjadi rasa sayang kepada adik. Ia bertekat kuat untuk menjaga dan membuat Raisya tersenyum.
“Lo kemana Sya?” Zakiel mondar mandir di depan pintu rumah.
Netra hitamnya menatap jalanan, berharap menemukan sosok berambut coklat, dan bermata hijau di sana. Decakan ia keluarkan ketika matanya menatap matahari yang semakin menyingsing ke barat. Ia risau.
Tap.. Tap.. Tap....
Zakiel segara mencari sumber suara itu. Helaan nafas lega ia keluarkan ketika melihat Raisya yang berlari memasuki rumah tanpa menyapanya terlebih dahulu. Apa yang terjadi?
__ADS_1
Raisya membongkar lemarinya, mencari-cari buku tabungan yang ia selipkan di lipatan pakaian. Netra hijaunya berhenti pada kertas dengan ukuran sedang itu. Segera ia raih dan berusaha keluar lagi.
“Tunggu, Lo mau kemana?” Zakiel mencekal lengan Raisya.
Raisya terlonjak kaget, ia tidak sadar jika ada Zakiel di sana. “Gue ada urusan.” Raisya mencoba melepaskan cekalan di tanganya.
“Urusan apa? Raisya gue khawatir sama lo. Please kasih tahu gue.”
“Gue harus transefer uang secepatnya.”
Zakile mengernyit mendengar penuturan Raisya. “Kalo lo Cuma mau transfer uang, dari sini juga bisa. Lo mau transfer berapa? Sini gue bantuin.”
“Gue mau transfer satu milyar.”
Zakile menatap raisya terkejut. Untuk apa uang sebanyak itu? Apa yang sedang terjadi sebenarnya?
“Lo__”
“tunggu Kiel, lo jangan banyak tanya dulu. Gue gak punya banyak waktu. Lo bisa apa gak?”
Zakiel tersadar, kemudian menganggukkan kepalanya. Beberapa menit kemudian terdengar notifikasi yang menandakan transfer berhasil. Raisya menghembuskan nafas lega melihat masalah pembayaran lancar.
“ini.” raisya menyerahkan buku tabunganya.
Zakiel mengernyit bingung dengan tindakan Raisya. “....”
“Ini untuk ganti uang lo. Thanks ya, besok-besok gue mau buat M-Banking aja biar gak susah buat transfer.”
“Ya elah, santai aja. Apa pun masalah lo, gue siap bantu. Untuk masalah uang, lo simpen aja. Bukanya lo bilang lo dikejar rentenir dan mau dijadikan istri bangkot tua, kalo gak bisa ngelunasin utang lo?”
Raisya meringis mendengar perkataan Zakiel. Ia memang megatakan kebohongan itu, tapi ia tidak bermaksud apa-apa. Ia hanya tidak siap membuka aibnya.
“Makasih banget, tapi gue mau lo nerima ini. Cukup lo bantu gue. Gue juga bentar lagi dapat bayaran dari buku selanjutnya, terus penerbitan gue juga sudah seperempat jalan. Jadi gue gak terlalu bingung masalah uang.”
Bohong. Raisya berbohong masalah itu. Uangnya habis tak tersisa, tapi ia tidak ingin menyeret Zakiel yang hanya orang asing ke dalam masalah hidupnya yang terlalu rumit ini.
Helaan nafas kasar Zakiel keluarkan. Tangannya menerima buku yang di sodorkan Raisya. Ia tidak terlalu percaya ucapa Raisya, tapi ia bisa apa jika Raisya menolak bantuanya.
“Lo jangan ngerasa sungkan sama gue. Gue udah nganggep lo sebagai adik, sama seperti Riel.”
______
Malam semua pembaca setia wanita simpanan. Author kembali membawa kabar kelanjutan cerita Raisya dan Farel. Yang pengen menghujat Farel sini merapat 😂😂😂
__ADS_1
Yang pengen kasih saran Raisya yuk sini merapat juga 😂😂😂
Jangan lupa Vote, komen, dan follow ya 😍😍😍