
Raisya menatap tercengang hidangan yang tersaji di atas meja. Bagaimana bisa koki menyiapkan makanan berlebihan seperti ini. Ia sudah bilang, cukup siapkan Nasi gooreng dan roti. Tapi lihat sekarang, segala jenis makanan terhidang di sana. Dari bubur, roti panggang, roti isi, ham, burger, nasi goreng, salad, kacang-kacangan, dan masih banyak lagi. Bahkan matanya terasa berat untuk melihat.
“Sayang, kenapa kau hanya berdiri.” Farel mengernyit menatap Raisya yang terlihat tercengang.
Raisya yang mendengar panggilan itu mentap Farel canggung. Sungguh ia belum terbiasa dengan sikap Farel.
“Ekhm, aku hanya kaget melihat makanan yang terlalu banyak ini.”
Farel tersenyum melihat Raisya yang sudah mau berbicara dengannya. Sepertinya sikap lembutnya berhasil mengetuk hati Raisya.
“Duduklah!” Farel mempersilahkan Raisya duduk. Ia menarik kursi agar mempermudah Raisya. Sikapnya benar-benar gantle, tidak seperti beberapa hari yang lalu.
Raisya menggigit bibir dalamnya merasa bingung dengan perubahan Farel yang mengejutkan.
“Terimakasih.”
Farel tersenyum melihat Raisya yang terlihat gelisah itu. Seingatnya dulu, jika kau bersikap lembut terhadap wanita, dan wanita itu terlihat gelisah maka itu tandanya wanita itu menyimpan rasa padamu atau merasa tidak nyaman dengan sikpamu. Satu hal yang diyakini Farel, Raisya menyimpan rasa untuknya. Pasti!
Raisya sungguh merasa tidak nyaman dengan sikap Farel kali ini. Ia merasa berhadapan dengan orang berbeda. Dadanya berdebar, dan ia yakin debaranya karena rasa terkejut.
Para pelayan yang melihat intraksi atasanya tersenyum canggung. Banyak dari mereka yang merasa tercengang dengan sikap lembut Farel. Farel yang selalu bersikap datar, dan cendrung kasar, kini terlihat lembut dan sangat perhatian. Apakah ini the power of love? Jika seperti itu, mereka berharap tuanya selalu mencintai nyonya barunya ini.
“Makanlah ini.” Farel mengambil sepiring salad dan makanan yang terlihat aneh serta asing untuk Raisya.
Raisya menjilat bibirnya yang tiba-tiba kering. Farel yang melihat itu tergoda untuk membantu melembabkan bibir Raisya. Sekuat hati Farel menahan dorongan birahinya itu.
Raisya menggaruk tengkuknya membuat leher jenjangnya terekspos. Sungguh pemandangan itu termasuk pemndangan yang indah dan mematikan untuk Farel.
“Terimakasih.” Raisya menerima makanan itu dengan canggung.
Farel berdahem, mencoba menormalkan pikiranya dari bibir dan leher jenjang Raisya. Dalam hati ia mengutuk senjatanya yang tegang di saat yang tidak tepat. Mengapa senjatanya sangat murahan jika berhadapan dengan Raisya?
Farel yang melihat Raisya makan salad dengan lahap tersenyum Tapi senyumnya tidak bertahan lama ketika melihat sudut bibir Raisya yang terkena noda mayonis. Ia meneguk ludah kasar. Dengan pelan bangkit.
“Raisya.” Panggil Farel lirih.
__ADS_1
Raisya menatap bingung Farel yang berdiri di sampingnya tiba-tiba. Rasa takut datang dengan sendirinya, tapi sekuat tenaga ia mencoba tenang.
Farel yang melihat tatapan sayu Raisaya semakin meneguk ludah kasar. Dengan cepat ia menyambar sudut bibir Raisya dan menyesap pelan.
Raisya yang terkejut menjatuhkan sendok di tangan kananya. Sedangakan para pelayan yang melihat adegan plus-plus itu menunduk dengan wajah yang merah padam.
Farel berdahem canggung. Ia tersadar telah membuat pertunjukan yang luar biasa di depan para pelayan. Matanya menatap Raisya yang melotot horor.
Melihat sudut bibir Raisya yang basah bekas salivanya, tangan kekarnya tergerak untuk menghapus lembut.
“Maafkan kelancanganku. Di pojok bibirmu ada mayonis, dan aku berniat untuk membersihkanya. Tapi___” Farel menelan kata-katanya. “Semua terjadi di luar kendali.” Farel berucap gugup dan kembali ke tempatnya.
Raisya masih belum bisa mencerna dengan situasai yang menimpanya. Sungguh kejadian yang luar biasa. Bagaiman bisa ia beralibi membersihkan bibir hanya untuk mendapatkan sebuah ciuman. Jika caranya untuk membersihkan bibir yang terkena noda dengan mencium, berapa bibir yang sudah ia bersihkan? Sekali baji\*\*an tetap baji\*\*an.
Melihat ada celah untuk mendekati Raisya, Jesika langsung beraksi. Tangan rampingnya meraih sendok yang terjatuh itu. Namun, sebelum ia bangkit, ia membisiskan sesuatu.
“Nyonya, dia sedang di luar negri. Jadi kita harus menunda rencana kita. Saran saya, Nyonya harus mengambil kepercayan Tuan, agar anda bisa bebas sementara.”
Tepat setelah ucapanya selesai Jesika bangkit undur diri. Meninggalkan Raisya yang mencoba memahami maksud dari ucapan Jesika. Mengambil kepercayaan untuk mendapatkan kebebasan? Hmmm sepertinya tidak terlalu sulit.
Ia hanya perlu berpura-pura menerima Farel, dan tersenyum. Tapi bagaiman jika Farel meminta berhubungan badan? Sungguh ia belum siap.
“Apakah luka di lehermu masih terasa?” Farel bertanya setelah menelan suapan terakhirnya itu.
Raisya yang mendapat pertanyaan tiba-tiba mengerjapkan mata. Berdahem sebentar dan tersenyum lembut. “Ya, sekarang sudah tidak sakit.”
Farel terpana melihat senyum lembut Raisya. Selama bersamanya Raisya tidak pernah menunjukan senyum itu. Apakah ia sudah mendaptakan hati Raisya sekarang?
__ADS_1
Farel berdahem, mencoba menetralisir rasa senang yang membuncah di hati. Ia tidak boleh terlalu percaya diri. Ia harus membuktikan benar-benar jika Raisya juga mencintainya.
“Apakah luka itu sudah boleh terkena air?” Farel bertanya dengan menggaruk tengkukya.
Raisya mengernyit mendengar pertanyaan aneh Farel, ia merasa muak dengan basa-basi yang sangat sudah basi itu.. Kenapa juga Farel harus bertanya seperti itu. Untuk melancarkan rencananya ia harus tetap berpura-pura.
“Iya, luka ini sudah bisa terkena air.” Raisya tersenyum dengan tangan yang memegang bekas luka itu.
Mata Farel berbinar mendengar jawaban dari Raisya. Ia menjilat bibir atasanya, dan mengangkat kedu tangan di atas meja. Tatapnya lurus menatap manik hijau Raisya.
“Kalo begitu, mari kita habiskan sore nanti untuk berenang bersama.” Farel tersenyum dengan lebar. Bahkan matanya terlihat menyipit sangking lebarnya senyum itu.
Sejenak Raisya terpesona melihat senyum yang terlihat luar biasa itu. Bukan hanya Raisya, tapi seluruh pelayan yang melihat. Bahkan tak jarang pipi mereka memerah.
Raisya mencoba berpikir secara logis. Ia tidak boleh terjerumus dengan permainanya sendiri. Ia juga tidak boleh terhanyut dengan perannya. Dan yang terpenting ia tidak boleh jatuh cinta!
“Oh, baiklah. Tapi aku tidak punya baju renang.” Raisya mencba mencari alasan untuk menolaknya.
Farel tersenyum mendengar jawaban Raisya. Ia sudah menyiapkan semuanya bahkan pakaian renang untuk Raisya.
“Jangan khwatir. Aku sudah menyiapkan bikini yang seksi untukmu.” Farel berkedip di akhir kata.
Wajah Raisya memerah, ah bukan hanya Raisya tapi semua orang yang di sana. Mereka berpikir jika atasanya sungguh luar biasa dalam merencanakan sesuatu.
Raisya merasa semua ini adalah jebakan. Ia menjilat bibir gusar, pandangannya menyapu segala arah mencoba mencarai alasan baru.
“Aku tidak biasa memakai pakaian seperti di depan umum.” Raisya tersenyum canggung. Tangan rampingnya menyelipkan rambut coklatnya.
“Tidak perlu malu. Aku sudah melihat semuanya, bahkan mencicipinya tanpa terkecuali. Dan di sana, nanti hanya akan ada kita berdua.”
Para pelayan yang mendengar ucapan fulgar Farel terbatuk. Mereka semua tersedak dengan ludah masing-masing. Sungguh luar biasa atasanya, bibirnya benar-benar pandai untuk merayu.
Raisya mengepalkan tangan erat mendengar penuturan santai Farel. Wajahnya tetap menampilkan senyum canggung untuk mempermudah rencananya, tapi tidak dengan hatinya yang sudah berteriak jijik.
“Ok, baiklah.”
__ADS_1