
“aku akan menghancurkan siapa pun yang memisihkan kita. Aku akan mengahncurkan dunia. Akan ku buat dunia juga berduka seperti aku yang berduka karena kehilanganmu!”
Tenggorokan Raisya tercekat. Netra hijaunya menatap lurus netra Farel yang menyorotnya penuh obsesi dan ketakutan. Perkataan Jesika terngiang dengan jelas di kepalanya.
“Farel, itu bukan cinta!” Raisya menundukkan pandanganya.
“Apa maksudmu bukan cinta?” Farel menyorot tidak suka Raisya. Ia paling tidak suka jika perasaanya diragukan, terlebih perasaanya dengan Raisya.
“Menurutmu apa itu cinta?” Raisya mengabaiakan.
Farel terdiam, ia tidak tahu apa itu cinta? Ia hanya tahu rasa takut kehilangan dan kenyamanan untuk Raisya, dan jantung berdebar.
“Aku tidak tahu. Tapi yang pasti aku selalu takut kau pergi dariku, menghilang dari pandanganku, dan jauh dari jangkauanku. Aku selalu nyaman bersamamu, dan aku selalu__ berdebar.” Farel memelankan suaranya saat berkata berdebar.
Raisya mentap Farel dengan alis terangkat, tapi wajahnya tetap datar. Helaan nafas ia keluarkan.
“Bagaimana jika aku tidak merasakan seperti apa yang kau rasakan? Bagaiaman jika aku ingin selalu pergi darimu, ketakutan saat berada di dekatmu, dan meras tidak nyaman.”
Deg!
Farel mentap tajam Raisya. Tanganya semakin mengepal erat, membuat darah mulai berjatuhan dari sana, tapi ia abaiakan.
“aku tidak akan membiakanmu pergi dariku. Apa pun alasanmu, akan ku buat kau selalu berada di sampingku, bila perlu aku akan patahkan kedua kakimu!”
Raisya menatap tidak percaya Farel. Dasar laki-laki gila. Mematahkan kaki?
“Kau tidak mencintaiku! Tapi kau terobsesi memilikiku!”
“Aku mencintaimu, dan aku ingin memilikimu!” Farel menggertakkan giginya mencoba menahan emosinya.
“Jika kau mencintaiku, mengapa tidak kau coba membuatku menghilangkan alasan kepergianku! Kau malah mengambil keputusan dengan memaksaku, bahkan dengan teganya ingin mematahkan kakiku.”
“aku mencintaimu, sebab itulah aku ingin mengikatmu.”
“Tapi kau tidak memikirkan perasaanku!” Raisya menatap tajam Farel.
Farel tercekat, jantungnya berdegup dengan kencang.
“Aku__ aku__”
“Jika kau mencintai seseorang, maka hal pertama yang harus kau lakukan adalah membuatnya nyaman, mencintainya dengan tulus, dan tidak menghalangi kebahagiannya.” Raisya menatap lurus Farel.
Farel menundukkan pandanganya sejenak, kemudian menatap Raisya dengan tajam.
__ADS_1
“Bagaiaman jika yang membuatmu bahagia itu dengan pergi jauh dariku? Apa aku harus membiarkanmu pergi? Hanya orang bodoh yang membiarkan orang tercintanya pergi!” Farel mendesis tajam.
“Jika seperti itu, kenapa kau tidak berusaha membuatku tetap tinggal di dekatmu? Bukan dengan memaksaku, tapi dengan mencoba memahami keinginanku.”
Farel terdiam, ia mulai mencerna ucapan Raisya.
“Kau selalu ingin pergi dariku. Bagaiaman aku harus memahaminya?”
“Kau tahu alasan aku ingin pergi jauh darimu?”
“Karena kau memiliki seorang kekasih. Kau mencintai orang lain.” Farel menahan rasa sesak di dadanya saat mengatakan semua itu.
Mata Raisya membola mendengar pernyataan Farel. Bagaiaman bisa Farel mengetahui ia memiliki kekasih? Apa Farel tahu tentang Jhonatan?
“Kekasih?”
“Iya, aku tahu kau memiliki kekasih. Bahkan dulu kau kabur bersamanya, dan foto di hp mu sudah menjelaskan semuanya. Kau mencintai Zakiel Balawel.” Farel menatap Raisya dengan tatapan terluka.
Raisya yang hampir terkena serangan jantung akibat pernyataan Farel menghela nafas lega, tapi ia mengernyitkan alis, merasa bingung dengan kesalah pahaman itu.
Memang di hp-nya terdapat foto kebersamaanya dulu dengan Jhonatan, mungkin Farel merasa foto di hp-nya itu Zakiel, mengingat wajah Zakiel dan Jhonatan yang sama hanya berbeda dari warna mata saja.
“Kau tidak usah berbohong! Aku bisa menerima semua itu asalkan kau tetap bersamaku, dan meninggalkan lak-laki itu.”
Raisya semakin tercengang dengan ucapan Farel. Lak-laki egois ini benar-benar.
“Bagaimana bisa kau ingin hidup dengan ku tapi membiarkan hatiku hidup bersama laki-laki lain?” Raisya menatap Farel tidak percaya.
“Aku_ aku_ aku merasa kau tidak akan bisa mencintai laki-laki seperti ku.”
“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? emang kau laki-laki seperti apa?”
“Aku pemaksa egosi, arogant. Dan yang paling penting aku hampir dua kali melecehkanmu.” Farel berucap dengan lirih.
“Jika seperti itu, mengapa kau tidak berusaha untuk berubah menjadi laki-laki yang lebih baik lagi agar aku bisa mencintaimu?”
Farel mengangkat kepalanya, menatap raisya dengan mata yang berbinar.
“Jika aku berubah, apa kau bisa mencintaiku? Apa kau tidak akan pernah meninggalkan ku?”
“Mungkin.” Raisya menjawab dengan sedikit ragu.
__ADS_1
Farel menundukkan kepalanya melihat keraguan di mata hijau itu.
“Kau ragu?”
“Kau tahu Farel, mungkin aku akan mudah mencintaimu saat kau tidak memiliki status seorang suami.”
Deg!
Fakta tentang stausnya membuat Farel tersadar. Ingatanya kembali tentang percakapan Raisya dengan Jesika yang mengatakan kalau Salsha selingkuh.
“Statusmu lah yang membuatku tidak akan pernah bisa mencintaimu. Aku tidak akan pernah mau bersama laki-laki beristri. Aku tidak ingin menjadi sebab kehancuran hubungan seseorang, terlebih hubungan pernikahan.”
“Raisya___ apa benar Salsha selingkuh?” Farel mengutarakan pertanyaan yang keluar dari jalur pembahasan mereka.
Deg!
Raisya menatap Farel kaget. Bagiaman bisa Farel tahu kalau Salsha selingkuh? Raisya segera menormalkan wajahnya, tersenyum lembut.
“Menurutmu? Apa mungkin Salsha, wanita berpendidikan sepertinya, dan sangat mencintai suaminya selingkuh?”
Farel yang mendengar pernyataan Raisya mulai ragu. Apa ia salah dengar? Sedangkan ia jelas mendengar percakapan Raisya dengan Jesika di balkon kamar mereka, tapi mengapa respon Raisya seperti itu.
“Itu_ itu tidak mungkin.” Farel menjawab dengan sedikit ragu. Meskipun Salsha pernah menghianatinya dulu, tapi Salsha sudah berubah. Mungkin yang dibicarakan Jesika itu Salsha waktu dulu.
Raisya yang mendengar jawaban dari Farel mencoba tersenyum. Entah mengapa ia merasa sakit mendengarnya. Ah, mungkin rasa sakit yang ia rasakan karena rasa ibanya. Jika Farel beranggapan Salsha tidak akan selingkuh, maka ia tidak akan pernah membongkar perselingkuhan Salsha. Biarkan Farel mengetahuniya sendiri. Ia cukup menjadi pengamat.
“jika tidak mungkin, kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku hanya memastikan sesauatu.” Frel menelan ludah kasar. Tenggorokanya terasa kering, terlebih melihata tatapan yang tidak biasa dari Raisya. Farel merasa Raisya menyembunyikan sesuatu.
“Apa semua sudah pasti?”
“hmm, mungkin.”
Raisya tersenyum tipis, kemudian ia bangkit meninggalkan Farel yang hanya bisa terdiam menatapnya. Sebelum kaki ramping itu menaiki tangga Raisya membalikkan tubuhnya.
“Aku doakan kau cepat mengetahui semuanya, dan semoga saat itu kau tidak terlambat.” Raisya pergi menuju kamrnya. Ia melangkah dengan anggun tanpa menoleh kebelakang lagi sekedar melihat keadaan Farel yang terlihat bingung itu.
“Aku harus menyelidiki semuanya. Aku rasa ada yang tidak beres. Apa benar Salsha selingkuh? Jika iya, maka aku tidak akan berpikur dua kali untuk menceraikanya.” Farel menatap lurus tangga mewah itu dengan tajam.
Tangan kekarnya meraih gawai, mencoba menghubungi detektif terpercayanya untuk menyelidiki semuanya, tentang Salsha, terlebih Jesika yang terlihat mencurigakan itu.
“Aku akan segera mengetahui kebenaranaya.”
__ADS_1