Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
62. Kecewa


__ADS_3

Max menendang apa saja yang ia lihat. Sepanjang kaki melangkah terdengar bantingan barang pecah.



Aura mencekam terlihat jelas dari Max. Wajah yang memerah, tatapan yang tajam, dan jangan lupakan tangan yang mengepal membuat siap pun yang melihat pasti langsung paham.


Brak!


Max membanting pintu kamar dengan kuat. Pandangan matanya terlihat mengedar, mengabsen sekeliling kamar. Sunyi, dan sepi.



Kaki kekarnya melangkah tegas memasuki kamar mandi. Tanganya mengepal kuat meliht kamar mandi yang sudah kacau. Tumpahan sampo, sabun, dan alat-alat mandi lainya adalah tangkapan permata matanya.



Dengan perlahan Max melangkah, membelah antara lengketnya lantai dengan pelan. Matanya menajam melihat benda yang asing baginya, tapi ia mengetahui fungsinya bercecer di sekitar dengan keadaan mengenaskan.



Max berjongkok, mengambil satu benda berwarna putih itu. Matanya melebr melihat garis dua di sana.


“Jadi kau benar-benar hamil?” Max menggenggam erat benda itu.


Ctak!


Bunyi patahan terdengar nyaring, benda kecil itu terbelah menjadi dua dalam sekali genggam.


“Argh, breng**k.”


Max bangkit keluar dari kamar mandi itu. Tatapanya menajam melihat Salsha yang tidak menampakkan batang hidungnya. Bahkan ia sudah menunggunya hampir satu jam setelah kepergianya dari Apotik.



Pikiran buruk tentang Salsha yang tega membunuh anak yang tidak bersalah itu mulai bersarang di otaknya, emmbuat dadanya tiba-tiba merasa sesak.


“Tidak, aku yakin Salsha tidak akan sekejam itu untuk membunuh anak kita. Bagaiaman pun, janin itu darah dagingnya sendiri.” Max berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Senyum lembut terlihat dari wajahnya. Bayangan tentang mereka yang akan melangsungkan pernikahan, dan memiliki keluarga bahagia membuat ia senang.


****


Salsha menatap obat dalam genggamanya. Rasa gugup mulai merayap di hatinya. Ada setitik getir yang ia rasakan, membuat ia sedikit goyah untuk melenyapkan janin tak berdosa itu.


“Maafkan aku, tapi aku tidak punya pilihan. Aku hanya ingin mengandung anak Farel.” Salsha mengelus lembut perutnya.


Cintanya untuk Farel membuta ia buta. Bahkan dengan tega melenyapkan janin tak berdosa dalam kandunganya. Namun, ia tetap seorang ibu, yang pasti merasakan rasa sakit melihat darah dagingnya yang akan ia lenyapkan.



Netra hitam itu tertutup dengan cairan bening yang menetes di setiap pojok matanya. Tanganya dengan gemetar membuka bungkus obat.



Masih dengan mata yang terpejam, Salsah tanpa pikir panjang menelan butiran obat itu tanpa rasa ragu lagi.


“Maafkan aku.” Salsha menggumam tidak jelas.


Netra hitam itu terbuka, kernyitan di dahinya terlihat jelas. Wajah cantik itu semakin pucat di tambah titik-titik keringat yang muncul di dahi.

__ADS_1



Tangan rampingnya meremas perutnya erat. Rasa sakit mulai ia rasakan, menjalar, menusuk tanpa ampun punggungnya. Perut bawahnya terasa mengencang seiring rasa sakit yang ia rasakan.


“Argh, kenapa sakit sekali?” Salsha terengah-engah di antar rasa sakit yang ia rasa.


Matanya mulai berkunang seiring dengan gumpalan darah yang keluar diantara kakinya. Wajah kaget terlihat jelas dari sana. Dengan gemetar ia menatap tepat di bawah kakinya. Tubuhnya mengejang hebat, perasaan bersalah bercampur dengan sakit membuat ia ambruk.



Salsha berusaha tetap sadar, di antara rasa sakit ia tetap memaksakan matanya tetap terbuka, menghindarai hal-hal yang tidak diinginkan. Tanganya dengan gemetar meraih gelas berisi air yang sengaja ia sediakan di samping nakas. Perlahan tanganya menggapai gelas itu. Namun, semua tidak semudah yang ia kira.


Prang!


Salsha menatap pecahan gelas itu dengan nanar. Ia butuh air putih sekarang. Tenggorokanya terasa kering, wajahnya terlihat sangat basah, percampuran antara air mata dan juga keringat.


“Apakah ini takdirku?” Salsha bertanya dengan dirinya sendiri di sela-sela kesadaranya yang mulai menipis.


Brak!


Terlihat jelas sosok laki-laki tampan yang berlari dengan wajah penuh peluh.


“Breng**k! Apa yang kau lakukan Salsha?”


Max, laki-laki yang memaksa mendobrak apartemen Salsha. Melihat kondisi Salsha yang jauh dari kata baik-baik saja membuat jantungnya bergemuruh. Rasa takut, khawatir, dan benci menucuat dari dadanya.



Bayanagan tentang keluarga bahagia lenyap dalam sekejap ketika matanya menatap bungkus obat dan keadaan Salsha yang tergeletak dengan gumpalan darah di antaranya.



“Kalau sampai terjadi sesauatu dengan anakku, aku tidak akan pernah memaafkanmu.”


Salsha yang masih setengah sadar mendengar sayup-sayup suara Max. Rasa bersalah mulai merongrong hatinya. Namun, semua terlambat, dan ia tidak menyesalinya sama sekali.


***


“Dokter, tolong saya.” Max berteriak panik.


Rumaha sakit itu terlihat sunyi, mungkin karena jam yang menunjukan tengah malam. Kegaduhan yang di buat Max membuat beberapa perawat yang melihatnya tercengang.



Seorang laki-laki dengan perawakan yang luar biasa namun, wajahnya tertutup rapat sedang mengangkat seorang wanita dengan darah yang mengalir deras ke bawah.



Pemandangan mengerikan itu membuat beberapa perawat berlari menuju ke arah Max, tak lupa membawa brankar.



Max dengan pelan meletakkan tubuh Salsha di sana. Tanganya gemetar, rasa takut mulai mendominasi.



Para perawat segera mendorong brankar dengan cepat. Max hanya menatap nanar Salsha yang di bawa menjauh. Tanganya mengepal erat, membuat otot-ototnya menonjol, memperlihatkan urat birunya di antara kulit putih.

__ADS_1



Matanya menagkap tangan dan pakaianya yang di penuhi darah Salsha. Wajah tampan itu terlihat putus asa.


***


Raisya terdiam menatap Farel yang tertidur. Entah mengapa setelah Farel mengatakan akan menceraikan Salsha ia merasa tidak tenang.


Bayangan buruk selalu menghantuinya, membuat ia tanpa sadar mulai merasakan takut yang berlebihan. Ia takut ia menjadi sasaran nanti. Terlepas Salsha yang menyebabkan perceraiaan itu terjadi, tapi ia tidak bisa lepas tangan, ia juga bersalah.


“Tuhan maafkan aku.” Raisya bergumam lirih.


Netra hijaunya menatap sekeliling, kamar mewah itu terlihat sunyi. Perlahan ia bangkit. Kaki jenjangnya membawanya keluar menyusuri lorong yang terlihat sepi. Setiap langkah yang ia lalui tidak membuat ia tenang, rasa khawatir cukup mendominasi.


“Nyonya.”


Raisya terperanjat mendengar panggilan itu. Tanganya memegang dadanya yang berdegup kencang. Dengan perlahan ia membalikkan badanya untuk menatap gerangan pemilik suara.



Jesika menatap Raisya dengan alis mengernyit. Apa yang di lakukan Raisya tengah malam seperti itu, berjalan seperti orang putus asa?


“Apa kau baik-baik saja.” Jesika mendekat. Tanganya terulur memegang bahu ramping Raisa.


Raisya yang mendapatkan sentuhan itu tersadar dari pemikiranya. Setelah melihat Jesika, entah mengapa ia memiliki banyak pertanyaan dan permintaan.


“Ya, aku baik-baik saja.” Raisya tersenyum.


Jesika menatap senyum Raisya aneh. Senyum itu seperti senyum yang penuh dengan beban.


“Kau tidak bisa tidur?” Jesika berusaha mencairkan suasana. Melihat senyum itu membuatnya tertarik untuk menghibur Raisya, atau menolongnya.


“Eh, iya. Aku tidak bisa tidur.” Raisya terkekeh kecil.


“Bagaiamana dengan segelas Matcha?”


“Oh, tidak buruk. Ayo.”


Beberapa menit kemudian terlihat meja kecil itu sudah terisi dengan dua gelas Matcha dan satu piring kue kering. Raisya yang hanya menatap gelas itu tanpa menyentuhnya membuat Jesika berdahem canggung.


“Apa ada masalah?” Jesika tersenyum lembut.


Raisya mengangkat kepalnya, menatap lurus Jesika yang memandangnya lembut. “Tidak, hanya saja, ada bebrapa hal yang mengganjal.”


“Oh, Ya, apa itu?” Jesika mengangkat sebelah alisnya merasa penasaran dengan pernyataan Raisya.


“Siapa kamu sebenarnya?” Raisya menatap lurus Jesika.


Jesika yang medengar pertanyaan itu menegang. Siapa dirinya? Apa Raisya mengetahui sesuatu tentangnya?


_______


Kasian Max 😭😭😭


Terimakasih sudah membaca,,


part selanjutnya i. Allah bakal lbih seru,,, ditunggu kelanjutanya ya😘

__ADS_1


Mungkin ada yg mau disampaikan buat Salsha, Max, Farel, atau Raisya,,,


__ADS_2